Jalan Kehidupan yang tak pernah Terduga seakan membuatku mendapat kenyataan Yang Tak pernah aku sangka.
pertemanan yang ku kira Biasa, nampak berbeda kala Cinta hinggap diantara kita.
sialnya aku tak pernah menyadari dan baru ku ketahui kala kau telah pergi.
dulu aku tak pernah memikirkan akan hadir cinta diantara kita, dengan status kita yang berbeda.
kau seorang gadis manis se elok bunga, sedang aku seorang Duda yang terluka.
dinama kala ketulusan menghancurkan segalanya. terombang - ambing sendiri dalam sepi hingga aku berjumpa seorang wanita yang setara. lalu singgah dan ingin menetap, namun memudar kala suatu fakta yang membuat semua sirna.
semua salahku, dan semua karenaku.
aku yang larut dalam kecewa pada diri ini, memilih pergi meninggalkan rumah yang selama ini menemani lukaku seorang diri.
akan tetapi dari tempat baru inilah semuan berawal, dari sebuah kota di pulau seberang.
cinta yang dulu belum selesai, kini harus bertemu meminta pertanggung jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author_Karbitan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepikiran
Setelah aku terbangun dari sebuah mimpi Buruk, Aku tak bisa memejamkan mata kembali hingga pagi menjelang.
Di malam yang dingin dan gelap sunyi, aku termenung dalam sebuah pikiran yang tertuju pada dua orang yang menjadi problematika dalam diri hingga terbawa ke alam mimpi.
Kepulan asap yang keluar dari mulut dan hidung seakan menjadi saksi, bahwa saat ini pikiranku kalut dengan sebuah mimpi yang baru saja aku alami.
Dea..... ada apa denganmu?
Aku masih kepikiran tentang arti sebuah mimpi yang nampak jelas begitu sangat nyata.
Apakah dia mengalami hal yang sama dengan mimpi yang ku alami? atau hanya sebatas halusinasiku saja malam ini.
Dalam duduk dengan sepi seorang diri, aku masih menebak - nebak apa yang sebenarnya terjadi.
Sebab dari yang dia katakan sebelumnya, dia merasa tak bahagia hidup bersama dengan suaminya.
Lalu ? kenapa harus mengadu padaku ?
Di lain sisi, mbak Winda seakan ada disana raut wajah yang sedih serta tak ada senyuman walaupun hanya setipis tisu saja, wajahnya menggambarkan sebuah kesedihan yang tertahan untuk di ungkapkan, dia bahkan tak menghiraukan diriku kala ada di depannya.
Sungguh mimpi yang sangat Aneh dan membingungkan sekali rasanya.
" akkhhh...... Bodo amat lah "
Tak mau larut dalam sebuah mimpi yang begitu menyiksa pikiranku, aku mencoba mengambil Hp dan membuka sosmed untuk pengalihan pikiran yang rumit karena sebuah mimpi yang begitu membingungkan.
Jam menunjukan pukul 04.00 pagi, sayup - sayup suara adzan subuh berkumandang.
Orang lain mungkin sudah bangun untuk melaksanakan kewajibannya, sementara aku masih berusaha untuk tidur dengan badan terasa sakit semua.
Efek dari lari paksa kemarin di tambah dengan tidur yang terganggu serta terjatuh dari atas ranjang seakan membuatku mendapatkan nyeri pada persendian.
aku tertidur cukup lama, hingga akhirnya terbangun kala matahari telah bersinar dengan panas teriknya.
gegas aku bangun dari atas tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka serta membersihkan badan yang lengket karena sedari kemarin aku tak menyentuh air sama sekali.
Rasa pegal - pegal seakan menyelimuti seluruh tubuhku yang mungkin saja lelah dengan apa yang terjadi kemarin hari.
Bayangkan saja.... Aku yang jarang bahkan tidak pernah olahraga harus di paksa berlari keliling lapangan sebanyak 50 kali tanpa alas kaki.
Di tambah dengan panasnya aspal yang seakan membakar telapak memberikan sensasi panas serta efek samping yang terjadi hari ini.
selepas mandi aku memutuskan untuk mencari makan di luar saja, sebab kemarin dan hari ini aku tidak memasak karena lelah yang seakan menghinggapi diriku.
Sebelum berangkat cari makan siang, rasanya tidak pas memulai hari tanpa ngopi dahulu sambil menghisap sebatang Nikotin untuk mencari referensi tentang rencana yang akan aku jalani hari ini.
Kopi hitam sudah tersedia di atas meja, dengan kepulan asap yang masih menyala diatas gelasnya.
Ku ambil sebatang rokok kretek dari dalam wadahnya, kemudian ku bakar untuk menghisap nikotin di dalamnya.
Slurrppp..... akkkhhhhh...... jiamput tenan.
Ucapku kala menyeruput kopi yang cukup pahit namun nikmat nan buat tenang.
Ku hisap rokok dalam - dalam, lalu ku hembuskan asapnya ke atas, seraya menenangkan diri yang di hantam oleh stres karena kehidupan yang tak bisa aku pahami saat ini.
Jika ku ingat hari kemarin, Aku bertanya - tanya dalam diri ini yang seolah masih penasaran dengan apa yang ku alami.
Pertanyaan dan opini yang masih sama dan sebuah tanda tanya besar menggantung di kepala.
Siapa mereka? dan mau apa mengejar ku sampai jauh?
Aku masih belum mendapatkan jawaban tentang apa yang aku alami.
Dimana sebelumnya aku tak pernah mempunyai masalah dengan orang lain.
Apakah ini adalah kerjaan Suami Dea?
Apa dia yang menyuruh orang untuk mencari dan mengejarku?
Tapi dia kan ada di kota sebelah yang jaraknya cukup jauh dari sini. dia juga tak akan tahu padaku, namun kalau memang dia yang melakukannya, untuk apa? aku sendiri saja tidak mengganggu istrinya.
Toh Dea walaupun sering menelpon tidak pernah aku tanggapi lagi.
Rasa penasaran masih menggantung di kepala, dan tiba - tiba HPku berbunyi kembali.
aku lihat di layarnya, nampak Dea kembali menelpon untuk kesekian kalinya.
Kembali ku abaikan telepon darinya, dan tak mau tambah pusing dengan apa yang terjadi, sebaiknya aku pergi ke warung saja untuk makan siang kali ini.
Hp segera aku chas karena baterai memang tinggal beberapa persen saja, lalu pintu aku kunci dengan langkah yang agak pincang karena memar, aku berjalan kaki menuju ke depan gang rumah.
" kamu Kenapa Yok ? kok jalannya begitu "
Tanya salah satu tetanggaku ketika aku melewati depan rumahnya.
" Gak papa kok bulek, cuma agak sakit aja kakiku "
jawabku tentang pertanyaannya.
" Kamu jatuh? "
" enggak kok "
" lalu kenapa "
" tadi cuma kepleset doang di rumah "
" oalah.... kirain jatuh dari motor, terus sekarang mau kemana ? "
" ini mau ke warung, laper "
" memangnya kamu gak masak hari ini ? "
" enggak Bulek, soalnya tadi jam 11 baru bangun "
" oalah.... Yok..... yok..... Makanya Nikah lagi toh biar ada yang ngurus kamu "
Sebuah perkataan dan ledekan yang sudah sangat familiar di telinga memang menjadi santapan bagiku sehari - hari.
Dan aku sudah kenyang dengan perkataan semacam ini.
aku hanya tersenyum mendengarkan apa yang tetanggaku ini katakan, dan lebih memilih tak menjawab daripada panjang lebar.
" Nanti ajalah Bulek, saat ini aku sedang mau makan dulu, lapar soalnya " sahutku.
lantas aku bergegas menuju ke warung yang biasa aku kunjungi hampir setiap hari, dengan menu makanan yang cukup sederhana serta porsinya lumayan banyak adalah pilihan yang tepat bagiku, tentu saja karena harganya cukup terjangkau plus bisa ngutang jika uangku kurang.
" mbok.... nasi pecelnya satu pake tempe goreng dan telur dadar ya "
Ucapku memesan makanan pada pemilik warung.
" Mau di tambah apalagi mas Rio ? "
Tanyanya
" sementara itu aja dulu mbok "
" kalau minumnya apa mas? "
" Air putih aja mbok "
" ya wes, silahkan duduk mas "
Ucapnya lantas Dia langsung menyiapkan pesananku.
Aku memilih tempat duduk yang ada di pojokan, walaupun saat ini tempatnya masih agak sepi karena belum jam makan siang.
Namun biasanya sebentar lagi pasti ada banyak karyawan pabrik yang datang karena bertepatan dengan jam istirahat dan makan siang.
Setelah menunggu beberapa saat, nasi pesananku sudah datang lengkap dengan air putih yang aku pesan.
" monggo mas " ucapnya saat menghidangkan makanan untuk ku.
" terimakasih mbok " sahutku.
Tanpa pikir panjang, lantas aku langsung menyantap hidangan yang ada di depanku.
Baru beberapa suapan yang masuk ke mulut, tiba - tiba Arif duduk di sebelahku dengan atribut seragam pabrik serta sepatunya.
Arif lantas mendengus dengan cukup kesal, dan ku lihat dia nampak lelah dengan apa yang dia hadapi saat ini, apalagi kalau bukan masalah yang dia miliki.
Siapa yang tak pusing jika harus menikahi seorang wanita yang masih belum jelas statusnya hanya karena dia sudah berisi terlebih dahulu.
" kenapa lagi Rip "
" ya masih seperti kemarin lah, pusing aku "
Ujarnya sambil meremas Kepalanya. Berbarengan dengan makanan yang ia pesan sudah ada di depan mejanya.
" makan dulu lah, jangan sampe karena kebanyakan mikir malah sampe lupa makan "
" ya kesini ngapain kalo gak makan, kau pikir cuma mau numpang neduh doang? "
" ya barangkali aja gitu "
Dia tak menjawab perkataan ku, lalu menyantap apa yang ada di depannya saat ini.