Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Mencari dalang
Suasana hilir yang tadinya sendu kini berganti riang, matahari bersinar lebih cerah dan bunga-bunga ditaman bermekaran dengan indah. Rona duduk termenung seperti biasa di jendela ruang kerjanya sembari menyeduh kopi hangat menatap sekitar.
Balutan baju tidur masih ia kenakan dengan sebuah syal yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding jendela dan memejamkan matanya. Menikmati sinar cahaya menembus jendela tersebut, cahaya itu cukup menyilaukan namun ia menikmatinya.
Kicauan burung bagai melodi yang merdu, senandung berhasil membawa ketenangan pada dirinya di pagi itu. Sebuah ketukan terdengar dari balik pintu, keheningan terpecahkan sejenak.
Seseorang lelaki memasuki ruangan dengan langkah maju mendekatinya. Lelaki itu menatap Rona yang bersandar sambil memejamkan mata tersebut. Diambilnya gelas yang ada di genggaman Rona lalu diletakkan di antara tapak jendela tersebut.
“Kau sudah bangun?” Tanya Nathan dengan suara lembut.
Angin saat itu berhembus lebih pelan dari biasanya, tatapan mata Nathan menatap lekat wajah putih pasir Rona. Ketenangan seakan menjadi senjata utamanya dalam keheningan yang sangat damai tersebut.
Rona membuka matanya dan menatap Nathan.
“Yah aku sudah bangun.” Rona bangkit dan berdiri lalu mengambil cangkirnya kembali ke kursi kerjanya memakai kacamata dengan lensa lonjong.
Rona melirik ke arah bawah, langkah kaki Nathan mendekatinya. Terlihat dari bawah kolong meja kerjanya. Rona memalingkan wajahnya ke arah kertas yang menumpuk diatas meja kerjanya, seolah menganggap lelaki itu tidak ada di ruangannya.
Banyak hal yang terasa janggal setelah kehadirannya, banyak potongan puzzle yang seolah menyatu satu demi satu membentuk sebuah potongan yang mengarah kepadanya.
“Rona, kau tak menghiraukanku ya?” Tanya Nathan sambil duduk di sofa depan meja kerja Rona.
Rona hanya terdiam tanpa kata dan sibuk memeriksa pekerjaannya, menandatangani, mencoret dan menstempel beberapa dokumen.
Suasana begitu dingin, dalam pikir Rona ia dan kakaknya menjadi tawanan orang asing yang sempat ia kenal lama. Beberapa pengawal sibuk kesana dan kemari menjaga kediaman itu. Kejadian itu sudah seminggu berlalu namun lelaki itu belum juga pergi, jawaban atas kejadian lalu juga belum terdengar jelas akan siapa dalang dan motif penyerangan terhadap mereka. Membuat Rona sedikit jengah dan merasa sebagian hidupnya diatur oleh orang luar.
Dia memikirkan banyak hal belum sampai memberitahukan isi kepalanya kepada Emily. Percakapannya dengan Emily seakan dibatasi oleh seseorang yang ada di hadapannya ini.
Rona melirik sekilas dan menatap tenang lelaki tersebut, suara gadis dari luar terdengar setelah ketukan pintu.
“Tuan dan Nona, nona Emily sudah menunggu di ruang makan untuk sarapan pagi ini.” Ucap Lily pelayan Emily.
“Baiklah. Ayo Rona.” Nathan berdiri dan mengajak Rona segera menemui kakaknya.
“Saya permisi dulu tuan dan nona.” Lily undur diri dari ruangan tersebut.
“Pergilah terlebih dahulu, aku akan menyusul.” Pinta Rona sambil melepas kacamatanya dan memijat bekas sanggahan kacamatanya tersebut.
“Kau tidak ingin berbicara padaku?” Tanya Nathan berjalan kedepan dan menoleh kearah Rona.
Rona mengepalkan kedua tangannya diatas meja sebagai penyangga dagu dari kepalanya. Rona menyentuh jam tangan yang ada di tangannya.
“Sudah seminggu namun laporan tentang kejadian waktu itu belum terdengar ditelingaku.” Tegas Rona dengan tatapan tajam pada Nathan.
Dalam hati Nathan, baru kali ini ia melihat sisi lain gadis tersebut. Tatapan mata tak bergeming, tidak ada rasa takut. Hanya tatapan tajam yang mencari jawaban atas kejadian yang belum sempat ia sampaikan.
Bagi Nathan butuh waktu lama menjelaskan kepada gadis itu namun sepertinya ia melakukan sedikit kesalahan perihal tentang kepercayaan.
“Benar, aku belum mengetahui siapa dalangnya. Jadi..”
“Baiklah, sore nanti angkat semua pengawalmu dari kediaman ini.” Rona langsung berdiri melewati Nathan.
Tangan Rona ditarik oleh lelaki itu. Langkah kaki Rona terhenti, gadis itu menatap lekat Nathan.
“Aku hanya sedang berusaha melindungi kalian!” Ucapnya sambil menatap mata Rona.
Rona melepaskan tangan Nathan.
“Nathan, kau tidak perlu repot menjagaku dan kakak ku. Jauh sebelum kau ada dan kembali kesini kami baik-baik saja. Jadi jangan merasa jika hubunganmu baik dengan kakak kau seakan menjadi kepala keluarga di keluarga White.” Rona berlalu dan bergegas berjalan keruangan makan.
“Ah sial. Aku tak bisa membocorkan rahasia negara.” Nathan memegang kepalanya menepuknya agak keras.
Lelaki itu mengikuti dengan cepat langkah kaki Rona menuju ruang makan. Terlihat Emily sedang menyeduh teh hangatnya, terlihat beberapa hidangan telah tersusun rapi diatas meja. Cuma makanan rumahan biasa namun dengan menu lengkap.
“Maaf telah membuatmu menunggu kak.” Rona langsung duduk di kursinya dan meletakkan serbet di atas pahanya.
“Makanlah. Kalian datang bersamaan?” Tatto Emily menatap Nathan yang baru saja duduk setelah Rona.
“Ya aku memanggil Rona dari ruang kerjanya.” Ucap Nathan tersenyum tipis kepada Emily.
“Benarkah Rona?” Tanya Emily menanti jawaban Rona namun gadis itu hanya mengangguk.
Rona sangat tenang memakan makanannya, ia seakan menunggu lelaki itu mengatakan pada Emily akan angkat kaki dari rumah tersebut. Ya mungkin bahasanya sedikit kasar untuk mengangkat kaki. Namun itu hanya ungkapan hatinya.
Sekilas Rona mengingat kata-kata Dean tadi malam sebelum lelaki itu pergi, ia memberikan kertas bertuliskan tentang pekerjaan Nathan dan apa yang terjadi pada dirinya hingga mereka terlibat.
Malam itu, Dean menyatakan bahwa Rona harus hati-hati pada siapapun.
“Rona bacalah, mungkin ini hanya kekhawatiranku saat mendengar kau terluka bersama kakakmu. Berhati-hatilah terhadap banyak orang, jangan sampai terluka.” Dean mencium kening Rona malam itu untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi lagi.
Rona membaca catatan yang diberikan Dean kepadanya, ia menyadari betapa sayangnya lelaki itu terhadapnya. Perasaan kesal dan Rindu selama ini hilang sekejap. Rona membaca beberapa lembar kertas yang diberikan Dean.
“Pembelian tambang Ilegal? Maksudnya tambang yang ada di balik bukit diujung Desa?” Gumamnya.
Rona masih bertanya-tanya menyatukan keping demi keping jawaban yang seolah menjadi garis penghubung dari pertanyaan dari jawaban yang ingin didapatkan.
Keheningan terpecah. Rona tak mendengar panggilan Emily yang sedari tadi memanggilnya.
“Rona kau sakit?” Tanya Emily, gadis itu menggenggam tangan Rona dan menatap segaris panjang bekas luka di dahi Rona.
“Maaf kak, banyak hal yang terjadi belakangan ini. Mungkin aku sedang tidak fokus.” Rona meletakkan sendok dan garpu yang ia genggam erat ke atas meja dan mengambil serbet di pahanya lalu mengelap lembut bibirnya.
“Kau tidak usah ke stand biar aku dan Nathan saja.” Emily melirik Nathan yang hanya mengangguk.
“Baiklah, mungkin aku harus ke suatu tempat dan… Nathan bukannya kau akan pergi hari ini?” Tanya jelas Rona menatap lelaki itu.
Dalam hati Rona, akankah benar lelaki itu akan pergi dari sini. Memang benar ia merawat kakak selama beberapa hari ini, namun motifnya terlalu janggal untuk tunangan kecil yang sudah lama putus lalu setelah dewasa tinggal dalam satu atap, lagi-lagi Rona menggeleng kepalanya.
Emily menatap Nathan begitu juga Rona menanti jawaban lelaki itu. Bibir Nathan seakan kaku beberapa saat tanpa jawaban.
“Sebenarnya aku…”