Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. PWB
...~•Happy Reading•~...
Kepala sekolah bertanya sambil menatap Hernita, karena tidak percaya Hernita dari sekolah swasta terkenal dan unggulan, juga rebutan para orang tua konglomerat dan pejabat mau pindah ke sekolah mereka yang tidak terlalu terkenal.
"Ada apa dengan..." Kepala sekolah tidak melanjutkan pertanyaannya tentang sekolah pelita, lalu mengangkat tangan dan mengibaskan. "Lupakan yang mau saya tanyakan..."
"Bapak tidak salah dengar. Saya serius mau pindah ke sini, tapi ada beberapa syarat yang mau saya ajukan." Ucap Ceska serius setelah melihat respon positif kepala sekolah terhadap maksud pindah Hernita .
"Baik, duduk di situ, lalu katakan syaratnya." Kepala sekolah bersedia mendengar syarat yang diajukan Hernita, karena sudah tahu prestasinya.
"Terima kasih, Pak." Ceska duduk serius di depan kepala sekolah. "Yang pertama, saya bisa terima beasiswa dari sekolah ini."
"Yang kedua, saya bisa ikut kompetisi olimpiade matematika mewakili sekolah harapan. Untuk ikut kompetisi, saya bersedia diseleksi sebagai peserta." Ceska tidak mau ada pikiran negatif terhadap Hernita. Sehingga dia ajukan untuk ikut seleksi peserta.
"Yang ke tiga, saya satu kelas dengan calon peserta sekolah harapan. Agar mudah belajar dan persiapkan diri di waktu luang." Ceska mengajukan itu, karena belum tentu di sekolah harapan ada kelas unggulan seperti di sekolah pelita.
Kepala sekolah mencatat semua yang dikatakan Ceska untuk dipelajari. "Itu saja, Pak." Ceska berhenti setelah merasa apa yang diminta sudah mencangkup yang diperlukan Hernita.
"Baik. Kita bahas satu per satu syarat yang kau minta. Mengenai beasiswa, sekolah ini punya beasiswa buat murid yang berprestasi. Jadi kalau kau menunjukan prestasi, kami akan berikan."
Kepala sekolah membaca catatan. "Kedua untuk ikut kompetisi, akan kami berikan. Tapi tidak perlu seleksi, karena kami sudah lakukan seleksi peserta. Kami hanya kirim satu peserta, karena hanya satu yang masuk kriteria. Yang lain angkanya sangat jauh di bawah nomor urut satu. Jadi kami putuskan hanya satu yang diutus"
"Jadi kalau kau mau, kau bisa masuk untuk penuhi kuota. Karena peserta yang ikut maksimal dua orang."
"Sebentar, Pak. Jadi tidak ada seleksi lagi? Maaf kalau saya minta diseleksi, agar tidak ada pandangan miring kepada bapak." Ucap Ceska cepat.
"Nanti kami pertimbangkan itu. Yang penting kau sudah ada untuk penuhi kuota sebagai team. Karena ada banyak perubahan dalam kompetisi kali ini."
"Mengenai sekelas dengan peserta, itu mudah. Karena kami ada kelas unggulan, tapi tidak banyak murid di kelas itu...." Kepala sekolah menjelaskan syarat sekolah agar murid bisa duduk di kelas unggulan.
"Baik, Pak. Terima kasih." Ceska sangat lega mendengar penjelasan kepala sekolah.
Ceska menambahkan beberapa hal kecil tentang rencananya, bukan sebagai syarat. Hanya minta dukungan, sebelum kompetisi dimulai.
"Kapan kau mulai masuk sekolah di sini? Agar kami bisa atur ulang jadwal peserta kompetisi."
"Sekarang bisa, Pak. Kalau bapak ijinkan saya masuk kelas seperti ini." Ceska menunjuk pakaiannya.
Hal itu membuat kepala sekolah tercengang. 'Pasti telah terjadi hal yang luar biasa di pelita, hingga Hernita tinggalkan sekolah.' Kepala sekolah membatin, tapi diam tidak bertanya lebih lanjut.
Kepala sekolah melihat kemeja seragam sekolah pelita di balik jaket Hernita. "Kalau begitu, tunggu sebentar. Saya akan telpon TU untuk bawa seragam untukmu." Kepala sekolah segera telpon petugas Tata Usaha, setelah minta ukuran pakaian yang dikenakan Hernita.
~▪︎▪︎~
Setelah Hernita mengenakan seragam SMA Harapan, kepala sekolah mengantar dia ke kelas dengan semangat dan harapan yang mulai bersinar di hati.
Ketika masuk kelas, semua murid berdiri memberi salam kepada kepala sekolah sambil melihat murid baru yang masuk bersamanya. "Ketua kelas, mana?" Tanya kepala sekolah sambil mengangkat tangan.
"Saya, Pak." Seorang murid pria berdiri sambil mengangkat tangan.
Hernita tertegun melihat murid yang mengaku ketua kelas. "Ok, Jefase. Ini murid baru di kelasmu. Namanya Hernita. Tolong berikan tempat duduk untuknya." Kepala sekolah langsung menyebut nama Hernita, agar tidak ada yang bertanya asal sekolahnya.
"Baik, Pak. Silahkan di sana." Jefase menunjuk salah satu meja kosong.
"Silahkan duduk di sana, karna sebentar lagi ada pelajaran kedua." Kepala sekolah mempersilahkan Hernita duduk.
"Terima kasih, Pak." Jawab Hernita, hormat.
Ceska tidak berkata apa pun, agar Hernita bisa beradaptasi dengan teman dan suasana kelas yang baru dengan caranya sendiri.
"Jefase, saat istirahat pertama, ke ruangan saya." Ucap kepala sekolah sebelum keluar dari ruang kelas.
"Baik, Pak." Jefase menjawab, tapi hatinya bertanya-tanya. Dia penasaran dengan murid baru yang diantar sendiri oleh kepala sekolah dan permintaan kepala sekolah untuk bertemu dengannya.
Jefase mendekati Hernita yang sudah duduk di kursi yang dia tunjuk. "Ini jadwal pelajaran hari ini. Kalau tidak bawa bukunya, bisa pinjam." Ucap Jafese, lalu tinggalkan Hernita. Murid lain tidak bisa bertanya lagi, karena guru yang akan mengajar sudah masuk kelas.
~▪︎▪︎~
Setelah istirahat Jefase menuju ruangan kepala sekolah. Tanpa dia sadari, Hernita berjalan di belakangnya. Ketika hendak masuk ruangan, dia terkejut melihat Hernita ada di belakangnya. "Kau juga diminta menghadap?"
"Iya." Jawab Hernita singkat. Dia menghindari bicara dengan Jefase yang terkesan dingin dan pendiam. Walau berbeda dengan sikap Lenox dan teman-temannya, Hernita tetap menjaga jarak. Agar dia tidak bermasalah dengannya, seperti dengan Lenox.
Tanpa bertanya lagi Jefase mengetuk pintu ruang kepala sekolah. "Kalian sudah datang. Silahkan duduk." Ucap kepala sekolah.
Jefase makin terkejut, kepala sekolah mempersilahkan mereka duduk. Karena kalau ketua kelas diminta menghadap, akan berdiri sambil mendengar berbagai pertanyaan atau wejangan.
"Jefase, saya minta ke sini karna ada yang mau dibicarakan dan bahas. Sekarang kau tidak sendiri ikut kompetisi. Hernita akan bersamamu, sebagai team..."
"Sebentar, Pak. Dia baru masuk hari ini dan langsung akan ikut kompetisi? Tanpa ikut seleksi?" Jefase menunjuk Hernita dengan telapak tangannya.
"Iya. Kita sudah adakan seleksi, jadi tidak akan adakan seleksi lagi. Waktu tinggal sedikit untuk kalian menyatukan visi dan cara komunikasi saat ikut sebagai team. Kalau untuk individu, kalian bisa sendiri."
"Saya mengajakmu bicara, agar ini tidak dipublikasikan. Kami akan daftar peserta di menit terakhir...." Kepala sekolah menjelaskan, karena menyetujui permintaan Ceska untuk mendaftar di menit terakhir. Agar nama Hernita tidak diketahui peserta lain, sebelum pendaftaran ditutup.
Hal itu membuat Jefase heran. "Apa sebelum ini kau pernah dengar nama Hernita?" Tanya kepala sekolah kepada Jefase yang menatap tidak mengerti.
"Hernita? Pernah. Sama Ibu Franceska. Beliau rencana mau menguji kami sebelum ikut kompetisi." Tiba-tiba Jefase seperti orang tersengat listrik, lalu melihat kepala sekolah dan Hernita bergantian.
"Maksud bapak, ini Hernita dari pelita?" Jefase bertanya kepada kepala sekolah.
"Iya. Kau mengerti sekarang?" Jawaban kepala sekolah membuat Jefase menggeleng kepala.
"Bapak membajak dia dari pelita untuk ikut kompetisi ini?" Jefase jadi berpikiran negatif terhadap kepala sekolah dan Hernita.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...