"Kau bebas untuk berkencan dengan siapapun. Tetapi jika kau sampai hamil, maka secara otomatis kau tidak akan mendapatkan apapun setelah perceraian terjadi."
Evelyn Valencia Ariesandy terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Gavin Rafael Adhitama, Presiden direktur dari Natama group, yang terkenal di Asia. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua keluarga besar.
Namun suatu hari, Evelyn mendapatkan kejutan di saat-saat pernikahan kontraknya akan berakhir hanya dalam hitungan bulan saja.
Ia hamil.
Apa yang akan dilakukan Evelyn untuk menutupi kehamilannya dari Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: ketegangan yang mendebarkan
"Selamat malam, Ayah." Shopia menyapa ayah Gavin dengan nada stabil, tanpa ada getaran sedikitpun.
Darren terdiam sejenak. Ia menatap Shopia dengan tatapan yang mengintimidasi wanita dihadapannya itu. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detik jam besar di sudut lorong.
Semua mata kini tertuju pada Shopia yang masih mempertahankan kontak mata dengan sang penguasa rumah.
"Kau bicara seolah-olah kau setara dengan putraku, Evelyn." desis Darren dengan nada merendahkan yang sangat kental.
"Saya bicara sebagai istrinya, Ayah. Seseorang yang ia percayakan untuk berdiri di sini saat dia tidak bisa." jawab Shopia tenang. Ia memberikan senyum tipis yang sopan.
"Tolong hentikan, Sayang. Jangan merusak acara makan malam ini dengan ucapamu yang menyakitkan itu!" pinta Ivana, menatap lirih kearah suaminya yang selalu bersikap sinis pada menantu tertuanya itu.
Ia lalu berjalan ke arah Shopia, menuntunnya ke arah ruang makan yang berada di sisi lain rumah ini.
Darren tampak diam selama beberapa detik, menatap punggung Shopia yang perlahan menjauh. Ia kemudian mendengus, merasa mulai kehilangan kendali ketika melihat sikap menantunya yang seakan tak pernah kenal takut itu.
Sesampainya di ruang makan, Shopia sempat merasa takjub melihat tatanan ruangan yang terlihat mewah dan indah.
Meja panjang dari kayu mahoni yang dipoles hingga mengilap seperti cermin itu membentang di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi-kursi berbalut beludru yang tertata rapi.
Di atasnya, barisan alat makan perak murni dan gelas kristal yang tipis memantulkan cahaya dari lilin yang menyala di tengah meja.
"Silahkan duduk, Shopia." ucap Ivana memecah kesunyian, suaranya terdengar terlalu ceria untuk suasana yang begitu mencekam.
Shopia duduk di kursi yang berada di sisi kiri, di samping kursi tengah yang selama ini selalu kosong. Sementara Darren duduk di kursi utama, diapit oleh Ivana, Sabine, Kevin dan si kecil Zayn di sisi kanan—sebuah barisan keluarga yang tampak solid.
Bibi Almira, yang sedang membantu pelayan menyajikan hidangan di atas meja, sesekali melirik ke arah Shopia dengan tatapan prihatin. Ia tahu persis bagaimana perlakuan ayah mertua Evelyn kepada wanita itu selama ini.
Melihat bagaimana sikap Shopia yang terlihat tegar, seakan mengingatkannnya pada sikap Evelyn yang persis sama. Ia yakin, penyamaran Shopia kali ini juga akan berhasil seperti sebelumnya.
"Ayo, Evelyn. Cobalah sup krim nya, mumpung masih hangat." ucap Ivana, mencoba untuk mencairkan suasana yang kembali suram.
"Iya, Ibu." sahut Shopia lalu menyuapkan sesendok sup ke mulutnya. Makan malam berlangsung sejenak dengan damai.
"Katakan padaku," Darren tiba-tiba meletakkan sendoknya dengan dentingan keras yang bergema di seluruh ruangan. "Di mana suamimu? Apakah Gavin sudah merasa begitu tinggi hingga kursi di rumah ayahnya tak cukup layak untuknya?"
Shopia menghentikan gerakannya, namun ia tetap tenang. "Gavin sedang menyelesaikan urusan mendesak di kantor, Ayah. Dia menitipkan salam... "
"Salam?" Darren memotong dengan tawa sinis yang meledak. "Dia tidak pernah hadir, Evelyn. Bahkan sebelum kalian menikah. Setiap makan malam keluarga, kursi itu selalu kosong. Ini bukan soal pekerjaan, ini soal penghinaan. Dia sengaja mengirimmu ke sini hanya sebagai tameng untuk menunjukkan bahwa dia tidak lagi menganggapku sebagai kepala keluarga di rumah ini."
Darren berdiri, telapak tangannya menghantam meja hingga air di dalam gelas kristal milik Ivana bergetar hebat.
Sabine yang melihat kemarahan di mata ayahnya, memasang kembali earphone di telinga Zayn agar tidak mendengar keributan yang akan segera terjadi di ruangan itu.
"Aku yang membangun fondasi perusahaan itu! Aku yang memberinya nama besar itu! Tapi sekarang dia bersikap seolah raja yang tidak perlu lagi menyentuh tanah tempat ia berpijak." desis Darren dengan wajah memerah karena amarah yang tertahan. "Beritahu suamimu jika dia tidak bisa menghormati tradisi rumah ini, maka dia tidak pantas menyandang nama keluarga yang ada di belakang namanya."
Ivana mencoba menyentuh lengan suaminya. "Sayang, tolong, jangan rusak acara makan malam ini..."
"Diam, Ivana! Dia harus tahu bahwa rasa hormat tidak bisa dibeli dengan dividen saham." bentak Darren, matanya kini menatap tajam ke arah Shopia. "Dan kau, jangan berani-berani membelanya lagi dengan alasan 'sibuk' yang murahan itu."
Shopia menatap Darren tanpa berkedip sedikitpun. Keberanian wanita itu dalam mengunci pandangannya, membuat Darren merasa tertantang. Seolah-olah Shopia sedang menelanjangi egonya sebagai penguasa yang mulai kehilangan kendali atas putranya sendiri.
Jika kematian saja gagal menakutiku, apalagi hanya ego seorang pria tua yang ketakutan kehilangan kendali? Ini terlalu mudah. Batinnya sembari mempertahankan kontak matanya.
"Atau mungkin dia tidak datang karena alasan lainnya." Darren kembali duduk, namun auranya justru semakin menyesakkan. Ia mencondongkan tubuh, menatap perut Shopia yang rata dengan pandangan yang menghina.
Ah, ini dia. Kartu As yang sedari tadi dia simpan, akhirnya keluar juga. Batin Shopia tetap tenang meski Darren baru saja melemparkan penghinaan paling rendah dalam hidup Evelyn.
Seperti yang yang tertulis di dalam catatan yang diberikan kepadanya. Setiap tahun, ia selalu mendapatkan penghinaan seperti ini dari pria tua itu.
"Gavin tidak datang karena muak melihat rahimmu yang tetap kosong setelah dua tahun." ucap Darren dingin, setiap kata yang dijatuhkan seperti belati. "Satu-satunya tugasmu adalah memberikan penerus untuk keluarga ini, dan kau gagal total."
Ivana tersentak, wajahnya memucat. "Cukup! Ini sudah keterlaluan!"
"Keterlaluan? Yang keterlaluan adalah membiarkan nama keluarga ini mati di tangan wanita rendahan yang tidak bisa memberikan apa-apa!" Darren beralih menatap Shopia dengan mata berkilat penuh kebencian.
"Aku tidak peduli jika kalian memilih hidup di atap yang berbeda, tapi soal ahli waris, itu harga mati. Aku tidak akan menoleransi kegagalanmu dalam memberikan penerus bagi keluarga ini. Atau mungkin aku akan memastikan Gavin untuk mencari wanita lain yang lebih... fungsional ."
Suasana ruangan itu mendadak menjadi sangat suram. Shopia merasakan dadanya sesak, namun ia mengepalkan tangannya di bawah meja kayu yang dingin, menyembunyikan getaran amarahnya.
Jadi beginilah Evelyn diperlakukan selama ini?
"Ayah ingin seorang penerus atau sekedar alat investasi?" suara Shopia kini terdengar lebih rendah, setiap suku katanya bergetar oleh emosi yang tertahan.
"Aku ingin kepastian, dan kau hanya memberi kekosongan." balas Darren mutlak, mengakhiri perdebatan dengan tatapan yang memerintahkan Shopia untuk tunduk.
"Aku tidak butuh penerus, Ayah. Aku butuh seorang istri, dan aku sudah memilkinya."
Suara berat dan dingin itu memotong udara seperti silet, membuat Darren tersentak dan Ivana menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut. Di ambang pintu ruang makan yang megah, Gavin berdiri dengan setelan jas yang terlihat rapi, seakan ia memang telah mempersiapkan diri untuk hadir di acara ini.
Shopia terpaku, jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok pria yang merupakan suami dari saudari kembarnya itu, melangkah perlahan ke arahnya.
Gavin mengabaikan tatapan tajam ayahnya dan wajah pucat ibunya. Ia berhenti tepat di belakang kursi Shopia, lalu dengan gerakan yang sangat tenang namun posesif, ia meletakkan kedua tangannya di bahu Shopia.
Shopia tercekat saat merasakan sentuhan tangannya yang terasa dingin. Jantungnya memacu semakin cepat, berdentum keras di rongga dadanya. Ia berusaha keras untuk mengendalikan dirinya sendiri agar tidak gemetar di bawah tatapan Darren, sekaligus menyembunyikan keterkejutannya atas kehadiran pria yang seharusnya tidak hadir di sini.
"Gavin?" Darren mendengus, mencoba menguasai kembali keterkejutannya. "Akhirnya sang pangeran memutuskan untuk turun dari singgasananya."
Gavin tidak tersenyum. Matanya yang tajam mengunci tatapan sang ayah tanpa rasa takut sedikitpun. "Aku datang karena ku dengar ada seseorang yang sedang membicarakan rahim istriku seolah-olah itu adalah properti perusahaan."
Suasana yang tadinya panas kini membeku. Saat Gavin merunduk untuk membisikkan sesuatu yang menenangkan di telinga Shopia, indranya yang tajam menangkap sesuatu yang asing dari tubuh istrinya.
Kali ini bukan aroma Vanila yang selalu menusuk di penciumannya, melainkan aroma bunga yang segar dan elegan menyeruak dari ceruk leher Shopia.
Gavin tertegun sejenak, nafasnya tertahan di udara. Ia tidak segera bicara, melainkan menghirup aroma itu lebih dalam seolah sedang mencoba mengenali siapa sebenarnya wanita yang sedang ia peluk dari belakang.
"Wangi ini..." bisik Gavin, suaranya begitu rendah hingga hanya getarannya yang terasa di telinga Shopia. "Kau mengganti parfum mu?"
Shopia merasakan bulu kuduknya meremang. Jantungnya kini bukan lagi berpacu, berdentum semakin hebat. Ia melupakan detail kecil yang dituliskan oleh Evelyn, tentang parfum favoritnya—aroma vanila yang sengaja ia hindari karena tidak begitu suka dengan aromanya.
Dan kini, Gavin menyadari perubahan itu, detail kecil yang ia anggap remeh namun justru bisa meruntuhkan penyamarannya.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Apakah Gavin akan segera mengetahui jika wanita dihadapannya itu bukan istrinya?
Atau justru Shopia lagi-lagi bisa menyelamatkan penyamarannya.
Nantikan kelanjutan ceritanya ya teman-teman. 😄
Jangan lupa mampir dan dukung karya ku ini ya. Tinggalkan like dan juga komentar kamu di akhir bab.
Jangan lupa juga subscribe ❤️ biar selalu update bab terbarunya.
Sampai ketemu lagi di next episode. 🤗♥️🌷
Terima kasih.