Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Bulan bersinar terang menerangi gelapnya malam.
Ziel dan timnya kini sedang berkumpul di restoran.
Restoran ini adalah langganan mereka yang biasa untuk berkumpul sebelum pulang kerja, restoran ini juga sangat dekat dengan kantor polisi hanya berjarak sekitar 150m.
Dinding-dinding benton di hiasi oleh wallpaper dinding yang berwarna coklat kuning cerah membuat suasana di restoran tampak hidup dengan di padukan cahaya yang memantul walpaper tersebut.
Di salah satu meja, ziel dan lainnya sedang menikmati makan malam bersama.
Saat ziel sedang makan di mangkoknya, aska tiba-tiba memberikan satu potong daging ke pada ziel.
"Ini untuk mu, kau memang hebat ziel, dapat mengetahui pembunuh yang sebenarnya!" Ucap aska sambil tersenyum.
"Tak perlu bicara seperti itu kapten, kau tau ini hal biasa bagiku'' jawab ziel sambil tersenyum.
Davis yang mendengar itu tersenyum sambil berkata; ''eee, kak ziel memang rendah hati,padahal menyelesaikan kasus yang agak sulit''
''ya iyala, gak kayak lo, makan mulu pikirannya'' sindir mika yang ada di samping davis.
''mendingan gue makan, lah elo beli novel mulu,di baca juga cuma sekali,trus jadi pajangan seumur hidup'' jawab davis tak terima sindiran mika.
di saat davis dan mika berdebat mereka tak melihat ekspresi dari tiga rekan mereka, mulai dari aksa memijit pelipisnya karena pusing, azri yang menghela nafas berat, dan ziel mengunyah makanannya sambil menampilkan raut wajah badmood.
ketiganya hanya diam mengamati keadaan,toh hal ini sudah biasa bagi mereka, bahkan yang membuat mereka heran bagaimana bisa dua orang ini selalu menemukan topik perdebatan dalam cela yang kecil sekalipun. hal ini membuat mereka menggelengkan kepala dengan heran.
mendengar jawaban davis raut wajah mika langsung kesal ''eh gue baca novel nambah pengetahuan ya,gak kayak lo nambah lemak''
sudut kanan bibir davis terangkat sambil menimpali mika ''eh gue nambah energi' gak kayak lo ngayal mulut kerjaannya!''
''apa lo_
''Mbak rani bilnya dong!!" Ziel berbicara sambil mengangkat tangannya memotong ucapan mika.
Rani seorang pegawai yang telah bekerja selama 3 tahun di restoran ini langsung menghampiri rombongan ziel sambil berkata "Oh ya totalnya ****".
Aska segera mengeluarkan uang seperti yang oas pada dompet nya. " makasih ya mbak!"
Setelah aska membayar tagihan dia, azri dan ziel berdiri untuk pergi dari restoran, sontak hal ini membuat davis dan mika bingung karena mereka belum mencicipi sedikit pun makanan yang ada di meja.
"Loh kaka ziel ini belum habis makanan nya" ucap davis karena memang makanan di meja masih banyak belum di makan.
Mendengarkan davis mika langsung menimpali "Iya kak ziel, kak aska dan azri kok udah mau pulang, aku belum makan"
"Gue udah makannya, kalian aja abisin ya" jawab ziel sambil pergi.
"Ya, kalian abisin tu makanan, bay bay jangan lupa pulang jangan malem-malem" tambah aska sambil mengikuti ziel.
"Loh, kak ziel, gur pulang ama siapa!" Teriak mika.
"Pulang sama davis!" Jawab ziel langsung menghilang dari restoran.
"Yah kak ziel" keluh davis.
Setelah kepergian ziel dan lainnya, davis dan mika saling menatap "elo sih" ucap mika.
"Lah napa nyalahin gue, loh yang salah" jawab davis.
"Ini semua salah lo" sarkas mika sambil mengunyah daging ayam di mulutnya.
Melihat itu davis sontak menutup hidungnya "gak usah ngegas ngapa, mulut lu bau jinggong"
"Memang mau lagi, ni ku kasih, hah!, hah" mika langsung menghembuskan hawa wanginya ke arah davis beberapa kali.
Davis langsung menghindari hembusan dari mika sambil mengambil satu potong daging ayam,langsung menyumpal mulut mika "Gak makasih, nih makan aja"
Mika yang menerima makanan itu langsung tersenyum dan menguyah makanan nya.
Davis terdiam saat melihat senyuman mika, rasanya ada kupu-kupu terbang di perutnya, 'ya ampun lagi-lagi' batin davis sambil memegang kepalanya seolah-olah terlihat frustasi padahal hatinya sedikit berbunga-bunga.
Mika yang melihat tingkah davis langsung bingung namun tak berhenti dari makannya.
***
Setelah mereka makan bersama, davis berdiri di luar restoran menunggu mika keluar dari toilet.
Mika yang telah keluar dari Restoran sedikit bingung dengan davis yang berdiri di restoran, 'ngapain nih orang, bukannya pulang malah cosplay jadi patung' batin mika bingung.
Dia langsung menepuk bahu davis "astaghfirullah!" Teriak davis saat merasakan sentuhan tiba-tiba dari bahunya.
Melihat reaksi davis mika mengerutkan keningnya sambil bertanya "Ngapain lo disini".
Davis langsung menoleh kearah mika dan memutar bola matanya " ya elah lo, ngagetin aja" ucap davis kesal.
Mendengar itu mika ikut memutar bola matanya dengan malas "Gitu doang kagett, lebay amat lo, gue tanya ngapain lo di sini!"
"Ya nunggu elo lah, kak ziel tadi bilang harus antar lo pulang"
Mika menaikan sudut kanan bibirnya seolah jijik "idih gak usah kalik, gue bisa pulang sendiri" jawab mika sambil berjalan meninggal davis.
Saat melihat mika yang hendak pergi davis langsung menarik lengan mika sambil berkata "Gak, gak lo ikut gue, entar lo ada apa-apa gue yang kena"
Mika langsung menghempaskan tangan davis "Ih apaan sih, lebay amat lu, lagian ya kita tu bedah arah pulang nya, etar lu minta upah 5 kali lipat lagi, jadi gak usah" ucap mika.
Mata davis berkedut saat mendengar pernyataan mika seolah menahan sesuatu "eh neng, gue punya banyak duit kalik, gak butuh duet receh lu,simpan aja!, rempong amat lo, tinggal naik juga!"
"Gue bilang ga, ya enggak!" Tolak mika lebih keras.
Namun, semua kata-kata mika di abaikan oleh davis, dia membuka pintu penumpang bagian depan dan mendorong mika untuk masuk ke dalam nya.
Mika awalnya tidak mau, namun, karena tenaganya kalah oleh davis dia langsung menurut 'toh tidak ada gunanya menghabiskan energi untuk Cecunguk satu ini' batin mika.
Setelah itu davis segera masuk ke tempat sopir di samping mika.
Dia kemudian menyalahkan mobil dan menoleh ke arah mika, di sana dia melihat mika yang tak menggunakan sabuk pengaman membuat davis hanya diam tampa menginjak pedal gas.
Mika yang awalnya diam saja merasa aneh, "jalan egek,ngapain kita diam di sini" ucap mika kesal pada davis.
"Sabuk pengaman lu tu pakek!" Jawab davis tanpa menoleh ke arah mika.
"yaelah rempong amat lo jadi manusia" keluh mika, namun tak ayal dia tetap memakai sabuk pengaman.
Setelah selesai memakai sabuk pengaman mika berteriak "Nih udah, jalan woy!"
"Gak, usah teriak, gue gak budek woy!" davis segera menginjak pedal gas meninggalkan pekarangan restoran bersama mika.