Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.
Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.
Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.
sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 Anggur dan Jamur
Aku berjalan mendekat dari ambang pintu gerbang halaman, udara sore masih menempel di wajahku.
Degup jantung dari kamar tadi belum sepenuhnya reda, tapi tatapan Raka yang terus menunggu membuatku tak bisa lagi bersembunyi.
Langkahku maju sedikit lagi, seperti roda sepeda Dimas yang berputar perlahan "Ka…" suaraku nyaris bergetar, "aku sebenarnya lagi nyiapin sesuatu."
Raka menoleh penuh, senyumnya tipis, matanya menyelidik dengan lembut. "Sesuatu buat festival?"
Aku menelan ludah, bayangan plastik bening di kamar kembali muncul di kepalaku. "Iya, tapi bukan hal biasa. Ini masih rahasia."
Tatapan Raka berubah, ada keheranan yang bercampur dengan rasa ingin tahu. Aku meremas ujung bajuku, lalu menghembuskan napas panjang.
"Di kamar, aku buat baglog. Sekarang mulai hidup. Aku takut kalau orang tua tahu. Tapi aku ingin kamu tahu dulu."
Hening menyelimuti halaman. Angin sore membawa aroma rumpun bambu di seberang jalan, membuat kata‑kataku terasa semakin nyata.
Raka menatapku lama, lalu tersenyum tipis. "Jadi kamu tanam jamur untuk festival?"
Aku mengangguk, wajahku memanas. "Aku mau buat sekala besar, tapi bapak gak setuju."
Aku menunduk sebentar, merasakan panas di pipi yang tak bisa kusembunyikan.
Kata‑kata itu akhirnya keluar, dan sekarang aku menunggu bagaimana Raka akan menanggapinya.
Ia menghela napas ringan, lalu menatapku lebih dalam. "Aku bisa ngerti kenapa bapak nggak setuju. Jamur itu, orang tua pasti khawatir soal kebersihan, soal bau. Tapi kalau buat festival-." suaranya menggantung, seakan memberi ruang untukku.
"Nggak!" Aku sontak menaikkan suara, mataku ikut kaget menyesali kata yang terlanjur keluar. "Bapak, nggak pernah marah ke aku, Ka."
Suara pintu kayu berderit lagi dari dalam rumah. Aku menoleh, dan melihat bapak keluar, langkahnya mantap tapi ada berat yang samar.
"Mira," panggilnya, suara rendah tapi jelas.
Aku tersentak, tubuhku kaku di dekat gerbang. Raka menoleh sebentar, lalu menahan tatapannya padaku, seakan ikut merasakan ketegangan yang tiba‑tiba muncul.
Bapak berjalan mendekat, matanya menyapu halaman, lalu berhenti tepat di hadapanku. "Tolong jemur kain tadi di kursi. Ibu bilang masih lembap."
Aku menelan ludah, dada berdegup lebih keras. Kata‑kata itu sederhana, tapi tatapan bapak terasa lebih berat dari sekadar urusan kain.
Aku mengangguk cepat, mencoba menahan suara agar tidak bergetar. "Iya, Pak." jawabku singkat.
Bapak tidak berkata apa‑apa lagi, hanya menepuk bahuku sebentar sebelum berbalik menuju kursi di teras.
Langkahnya mantap, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang lebih berat di balik gerakan sederhana itu.
Aku berjalan ke kursi, meraih kain yang masih basah, lalu membawanya keluar halaman. Angin sore menerpa wajahku lagi, membawa aroma bambu dan tanah lembap.
Jemariku bergetar saat mengibaskan kain, seakan setiap gerakan itu adalah ujian untuk menutupi rahasia yang masih berdenyut di dalam kamar.
Raka berdiri tak jauh dariku, matanya mengikuti setiap gerakanku. Ada tatapan yang tidak ia ucapkan, seolah ia tahu bahwa kain yang kujemur hanyalah alasan bapak untuk mendekat, bukan tujuan sebenarnya.
Aku menatap kain yang terentang di tali jemuran, air menetes perlahan ke tanah. Dalam tetesan itu, aku melihat bayangan plastik bening di kamar, benang putih yang merayap, dan titik‑titik kecil yang mulai tumbuh.
Bapak berhenti di ambang pintu, menoleh sebentar ke arahku. Tatapannya singkat, tapi cukup untuk membuat dadaku kembali berdegup.
Ia lalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan aku dan Raka di halaman yang terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Aku menarik napas panjang, lalu berbisik pelan pada Raka, "Kadang aku ngerasa… bapak kamu, tahu lebih banyak soal rahasia."
Raka mendekat sedikit, suaranya rendah. "Mungkin dia memang tahu. Tapi kadang orang tua memilih diam, bukan karena marah… tapi karena ada hal yang mereka simpan sendiri."
Aku menunduk, menatap jemuran yang bergoyang diterpa angin. Kata‑kata Raka terasa seperti kunci yang belum bisa membuka pintu, tapi cukup untuk membuatku sadar.
Rahasia jamurku bukan hanya milikku, melainkan bagian dari sesuatu yang lebih besar. Antara aku, bapak, dan Rerindang yang masih berdiri di bukit.
Dalam hati, aku berbisik, Rerindang, saksikan lah. Aku ingin rahasia ini tumbuh, bukan hanya untukku, tapi untuk mereka juga.