Rumah tangga yang hancur ibarat ranting yang patah.Takan bisa disambung kembali.
Begitupun hati seorang istri yang telah dipatahkan bahkan dihancurkan takan mudah untuk sembuh kembali.
Seorang istri dan seorang ibu akan tetap kokoh saat diuji dengan masalah ekonomi namun hatinya akan remuk dan hancur saat hati suaminya tak lagi untuknya..
apa yang tersisa?
rasa sakit, kekecewaan dan juga penyesalan.
Seperti halnya yang dialami oleh Arini dalam kisah yang berjudul " Ranting Patah "
Seperti apa kisahnya?
Akankan Arini bertahan dalam pernikahannya?
Baca selengkapnya!!!
Note: Dukung kisah ini dengan cara baca stiap bab dengan baik,like,komen, subscribe dan vote akan menjadi dukungan terbaik buat author.
Dilarang boom like ❌
lompat bab ❌
komentar kasar atau tidak sopan ❌
Terimakasih, sekecil apapun dukungan dari kalian sangat berati untuk author 🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
" Wah wah seru sekali sepertinya sampai Oma datang tidak ada yang menyambut?"
Semua orang tampak terkejut dan menoleh ke sumber suara.Entah sejak kapan Sri sudah berdiri diambang pintu dengan tas jinjing ditangan kanannya sementara tangan kirinya membawa paperbag besar.
" Oma"
" Ibu"
" Wah nyonyah besar sudah sampai ternyata." cicit Hans membuat sri mencebik.
" Masuk Bu,ibu lelah? Apa ibu mau teh hangat?" Arin menyambut sri dan membawanya masuk.
" Iya ibu cukup lelah tapi setelah melihat anak-anak, rasa lelah ibu hilang." Ucapnya.
Sri kemudian masuk dan duduk didekat anak-anak yang tampak sumringah melihatnya.
" Oma Oma nanti sore adek sama Kaka mau naik sepeda dan ayah juga." ucap Dinda dengan antusias.
" Oh ya,apa betul itu? Dinda Kaka lihat Oma bawa apa buat kalian?" Sri menunjukkan paperbag besar yang ia bawa pada Dinda dan Hanif.
Dua anak Arin menyambut dengan suka cita.Meteka bahkan berebut untuk mengambil nya dari Sri.
Dalam hati Arin bergumam.
" Ya Tuhan betapa baiknya ibu Sri pada dua anakku, apa bisa aku membalas kebaikan beliau.Bersama eyangnya dulu mereka tak pernah selepas itu saat tertawa.Tapi dengan ibu Sri mereka selalu bisa tertawa lepas.Inikah kebahagiaan yang selama ini aku rindukan.Astaga aku jadi dilema,mas Hans juga sangat menyayangi anak-anakku.Pantaskah aku menerimanya setelah semua ini? Rasanya aku hanya seperti seseorang yang tengah balas Budi, meksipun sebenarnya dalam hatiku mulai lagi tumbuh rasa cinta untuk mas Hans.Astag Arin inget kamu baru menyandang setatus janda."
Arin yang tersadar cepat-cepat menetralkan perasaanya.
" Ekheem,bikin teh ko melamun." Bisik Hans tepat ditelinga Arin.
Hembusan nafas Hans teras begitu hangat menyapu tengkuk leher Arin yang jenjang.
" Mas kamu ini mengagetkanku saja!" ketus Arin untuk menutupi rasa gugupnya.
Berada sedekat itu dengan Hans membuat Arin dag dig dug tak menentu.
" Rin, menikahlah denganku." bisinya lagi lebih dekat.
" Mas,apa kamu tidak mau ada ibu dan anak-anak." Ucap Arin tanpa sadar jika ibu Sri dan anak-anaknya sudah pergi sejak lama untuk mencoba mainan baru mereka dihalaman rumah.
" Biarin mereka melihat biar kita bisa langsung dinikahin." goda Hans.
" Mas!" Sentak Arin.
" Iya sayang." Hans semakin mendekat hingga tubuhnya menghimpit Arin pada meja dapur.
" Awas mas kamu ini sungguh tidak sopan!" Arin berbalik berniat untuk mendorong namun yang terjadi malah tubunya berhadapan langsung dengan Hans,saking dekatnya ia sampai bisa merasakan hembusan nafas Hans.
Keduanya kini saling berhadapan tak ada jarak sama sekali untuk menjadi sekat.Tumbuhnya bersentuhan,Hans dengan jahil semakin merapatkan dirinya.Arin yang terkunci hanya bisa diam dan pasrah dengan perasaan yang sudah tak menentu.
Sebagai wanita dewasa berdekatan seperti itu dengan lawan jenis membuat tubuhnya terasa menghangat.Apa lagi sebagai seorang janda Arin sudah lama tidak pernah sedekat itu dengan laki-laki.
" Rin!" bisik Hans.
" Mas tolong!" lirih Arin.
" Tolong apa,jangan banyak gerak Rin kalau tidak mau tubuh kita semakin bergesekan apa kamu tidak takut membangunkan sesuatu yang sudah sekian lama bertapa?" lirih Hans.
" Astaga,mesum sekali kamu mas." ucap Arin namun wajahnya tak bisa bohong, semburat merah dipipinya mewakili isi hatinya.
Berbeda dengan Arjun yang kini hanya bisa pasrah saat ibunya terus mendesak agar ia menjemput indah dirumahnya.
" Walau bagaimanapun dia sedang mengandung anak kamu Jun." kata pamungkas dari ibunya membuat Arjun patuh.
" Arjun pamit Bu!" ucapnya saat sudah siap pergi.
" Hati-hati Jun,ajak dia pulang bicara baik-baik jangan ajak dia ribut.Wanita hamil itu sangat sensitif perasaannya." ucap ibu Arjun kembali mengingatkan putranya.
Arjun hanya bisa diam namun ia tetap pergi,entah mengapa perasaannya begitu kacau.Mendadak ia teringat akan anak-anaknya.Tak bisa dipungkiri berada jauh dari anak-anaknya setelah sekian lama membuat hatinya gelisah menhan rindu.Namun ia tak tau Harus mencari kemana keberadaan Arini dan anak-anaknya.
Arjun dengan langkah gontai berjalan menuju kemobilnya.Tak selang beberapa lama terdengar deru mesin motornya yang menandakan Arjun sudah pergi.
Sepanjang jalan ia tak hentinya memikirkan anak-anaknya hingga tak sadar sudah sampai karna jarak rumahnya dengan indah hanya beberapa menit saja.
" Sepeda motor siapa ini?" batin Arjun saat melihat sepeda motor yang tampak asing baginya terparkir di halaman rumah istrinya.
Arjun turun dari sepeda motornya yang sengaja ia parkiran jauh dari halaman.Dengan langkah pelan Arjun mendekati pintu rumah istrinya, langkanya terhenti saat ia mendengar tawa yang tak asing lagi buatnya.
Deg
Griyuuut
Jantungnya seakan berhenti berdetak,tangannya mengepal erat saat ada suara lain yang ia dengar selain suara istrinya.
" Brengsek!" desisnya lirih.
Bersambung.....