NovelToon NovelToon
Upstage My Heart

Upstage My Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romansa / Showbiz / Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: meongming

Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Cowok Populer

Keesokan harinya di sekolah, Lyla tidak melihat Noah, tapi begitu jam makan siang tiba, suara riuh dari aula klub teater membuatnya berhenti di depan pintu.

Dan di sana… Noah sudah lebih dulu datang. Duduk santai di kursi, memegang naskah, seolah tak ada yang terjadi kemarin.

“Hay, Lyla,” sapa Noah tanpa menoleh.

“kamu udah sembuh?” Tanya Lyla.

" Iya, karena sudah di jenguk kamu" Noah tersenyum.

" Hm.." Jawab Lyla pendek 

Noah menoleh, senyum menggoda muncul di wajahnya.

“Kamu marah?”

“Enggak.”

“Yakin?”

“Sudah kubilang enggak!”

Lyla buru-buru memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Noah terkekeh pelan, lalu berdiri dan mendekat dua langkah.

“Kalau begitu… jangan kabur lagi setelah pulang sekolah nanti.”

“Kenapa?”

Noah menatapnya dengan pandangan lembut tapi sulit dibaca.

“Soalnya aku belum sempat bilang terima kasih dengan benar.”

Jantung Lyla langsung berdebar tak karuan.

**

Lorong sekolah langsung dipenuhi suara tawa dan langkah kaki siswa yang berhamburan keluar dari kelas. Lyla berjalan di antara kerumunan bersama dua temannya, memeluk buku di dada, senyum kecil terselip di bibirnya.

Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti.

Di ujung koridor, seseorang berdiri menunggu.

Noah.

Dengan seragam agak berantakan dan ransel tersampir di satu bahu, ia menatap ke arah Lyla dan melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.

Mata Lyla membulat. "Noah?! Astaga… dia ngapain di sini?!" Gunamnya 

Teman di sebelahnya langsung berbisik pelan,

“Itu… Noah dari klub teater, kan?”

Teman satunya menimpali,

“Iya deh kayaknya, dia nyapa kamu ya Lyla?"

Wajah Lyla seketika memanas. Ia mencoba tersenyum canggung.

“Ah… itu cuma..”

Belum sempat ia beralasan, Noah sudah melangkah mendekat.

"Hai, Lyla,” sapa Noah santai, suaranya cukup keras untuk membuat beberapa siswa menoleh.

Lyla membeku di tempat. Tatapan dari segala arah membuat jantungnya berdetak makin cepat. Ia buru-buru menghampiri Noah, lalu berbisik dengan nada panik, "Noah… ayo ke sana dulu, yuk.”

Noah menatapnya dengan ekspresi bingung tapi tersenyum lembut. “Oke.”

Tanpa sadar, Lyla menarik lengannya pelan dan membawanya pergi melewati lorong yang semakin riuh. 

Di belakang mereka, dua temannya masih menatap dengan wajah penuh tanda tanya.

“Serius itu Noah nyapa Lyla?”

“Iya, dan Lyla malah narik dia gituan!”

“Lyla kan bagian dari klub teater tapi aneh juga yah tadi? jangan-jangan mereka…”

Bisik-bisik itu mengiringi langkah mereka sampai ke halaman belakang yang sepi.

Begitu sampai di sana, Lyla langsung melepaskan genggaman tangannya perlahan. Napasnya sedikit terburu, pipinya masih merah muda.

“Noah…” ucapnya pelan, matanya menunduk."Kamu nggak perlu menunggu aku di depan kelas. Aku… malu, soalnya banyak yang lihat.”

Noah tertawa kecil, suaranya lembut.

“Aku cuma mau ngajak pulang bareng. Nggak apa-apa, kan?”

Lyla menggigit bibir bawahnya.

“Aku tahu… tapi kalau teman-teman lihat, nanti mereka bisa salah paham.”

Noah menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum.

“Kamu ini selalu khawatir hal kecil, ya.”

Lyla menunduk makin dalam.

"Aku cuma… nggak biasa diperhatikan.”

Senyum Noah melembut. Ia menunduk sedikit, matanya mencari pandangan Lyla yang terus bersembunyi.

“Kalau begitu… mulai sekarang, aku yang akan terbiasa memperhatikan kamu.”

Wajah Lyla langsung memerah seketika.

“Jangan bilang hal seperti itu, Noah…” ucapnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

Noah tertawa lembut, menatap Lyla yang masih menunduk malu sambil memainkan ujung rambutnya.

Mereka berjalan beriringan melewati gerbang sekolah, sinar sore menyorot lembut di antara pepohonan. Langkah Noah santai, sementara Lyla masih menunduk sedikit, mencoba menenangkan debar di dadanya yang belum juga reda.

“Aku janji mau traktir kamu, kan?”

suara Noah memecah hening, nada suaranya ringan tapi hangat. “Sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah jenguk aku waktu itu.”

Lyla menoleh sekilas, matanya membulat kecil.

“Kamu masih ingat itu…?”

Noah terkekeh.

“Tentu aja. Aku nggak mungkin lupa.”

Lyla menggeleng cepat, senyum gugup terlukis di bibirnya.

“Tapi… kamu nggak perlu repot. Aku jenguk kamu karena memang aku mau, bukan karena mau ditraktir.”

“Terlambat,” sahut Noah sambil tersenyum jahil. “Aku udah niat dari awal.”

Ia menunjuk ke arah minimarket kecil di seberang jalan.

“Ayo, kita beli sesuatu. Aku pengen nyoba roti yang katanya enak banget itu.”

Lyla menatap tempat yang ditunjuk, lalu kembali pada Noah.

"Roti aja?”

“Roti, atau apa pun yang kamu mau. Asal jangan nolak.”

Nada suaranya terdengar seperti bercanda, tapi matanya benar-benar lembut saat menatap Lyla.

Lyla akhirnya tertawa kecil, suaranya pelan tapi jernih. “Baiklah… tapi cuma kali ini, ya.”

“Deal.”

Noah tersenyum puas, lalu berjalan lebih dulu sambil mendorong pintu minimarket. Lyla mengikutinya, masih dengan senyum malu di wajahnya.

Suara bel pintu berdenting pelan saat mereka masuk. Aroma roti hangat dan kopi instan memenuhi udara.

Noah mengambil keranjang kecil, lalu menoleh sambil tersenyum.

“Kamu pilih dulu, aku traktir semua.”

Lyla menggembungkan pipinya pelan, setengah bercanda. 

“Kamu pikir aku mau borong, ya?”

Noah tertawa.

"Kalau iya pun, aku nggak keberatan.”

Lyla cepat-cepat memalingkan wajahnya, pipinya kembali memanas.

“Jangan bilang hal seperti itu sembarangan…”

Noah hanya tersenyum... kali ini tanpa menjawab apa pun.

Setelah membayar di kasir, mereka keluar membawa dua kantong kecil berisi roti dan minuman. Udara sore terasa sejuk, langit berwarna jingga lembut, dan angin yang lewat membuat rambut Lyla sedikit berantakan.

"Di sana aja, yuk,”

Noah menunjuk ke bangku panjang di bawah pohon dekat minimarket.

Lyla mengangguk pelan, duduk di ujung bangku sementara Noah duduk di sebelahnya agak dekat, tapi masih menyisakan sedikit jarak.

Ia mengeluarkan roti dari kantong dan menyerahkannya pada Lyla.

“Ini buat kamu. Katanya yang rasa krim ini enak.”

Lyla menerima dengan dua tangan, matanya menatap roti itu seolah sedang menatap sesuatu yang sangat penting.

“Terima kasih…” ucapnya pelan, lalu tersenyum malu.

Noah membuka rotinya juga, lalu menggigit sedikit. “Hm, beneran enak.” Ia menatap Lyla.

“Cobain deh.”

Lyla menggigit pelan. Krim manisnya meleleh di lidah, dan entah kenapa pipinya terasa makin panas.

“Iya… enak banget,” jawabnya cepat, tanpa berani menatap Noah.

Noah menatapnya sambil tersenyum kecil.

“Kamu selalu kayak gitu, ya. Kalau senang pasti langsung nyengir kecil gitu.”

Lyla spontan menoleh dengan mata melebar.

“Hah? Aku… gitu, ya?”

“Iya. Lucu.”

Noah tersenyum lagi, nada suaranya lembut tapi cukup untuk membuat Lyla salah tingkah total. Ia buru-buru menunduk, menggigit rotinya lagi hanya untuk menutupi wajahnya yang memerah.

“Jangan bilang hal seperti itu…” gumamnya pelan.

“Tapi itu benar,” sahut Noah ringan.

Mereka terdiam sejenak. Hanya suara mobil lewat dan angin sore yang menari di antara dedaunan.

Lyla akhirnya menatap Noah sekilas.

“Kamu tuh… selalu ngomong hal-hal yang bikin orang susah tenang.”

Noah tertawa kecil, matanya melirik ke arah Lyla dengan lembut.

“Mungkin karena aku nggak mau kamu tenang kalau itu artinya kamu pura-pura nggak peduli padaku.”

Lyla terdiam, bibirnya terbuka sedikit, tapi tak ada kata keluar. Hanya jantungnya yang berdetak kencang dan senyum kecil yang akhirnya muncul tanpa sadar, sore itu, rasanya waktu ikut melambat Manis, sederhana, tapi cukup untuk membuat Lyla sulit berhenti tersenyum

“Lyla…” suara Noah terdengar lebih pelan kali ini, sedikit ragu.

Lyla menoleh perlahan. “Hm?”

Noah menunduk sebentar, jari-jarinya menggenggam plastik roti yang sudah kosong. “Aku… sebenarnya lagi kepikiran sesuatu.”

“Kepikiran apa?”

Ia menghela napas pelan, lalu menatap Lyla dengan senyum kecil yang agak gugup.

“ Soal tawaran… dari agensi aktor.. itu .”

1
StellaY
semangat terus thor💪
meongming: yesss💪💪
total 1 replies
StellaY
uwu banget😍😍
meongming: seneng ada yang suka 🤩 makasih dukungan mu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!