NovelToon NovelToon
Bukan Bujang Desa Biasa

Bukan Bujang Desa Biasa

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:220.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Kim99

“Menikahlah denganku, Kang!”

“Apa untungnya untukku?”

“Kegadisanku, aku dengar Kang Saga suka 'perawan' kan? Akang bisa dapatkan itu, tapi syaratnya kita nikah dulu.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehilangan

Sekitar 15 menit kemudian, Naura menggeliat karena posisi tidurnya membuat dia tidak nyaman.

Kepalanya menoleh ke samping dan dia melihat kursi kemudi kosong. Dia yakin mereka belum sampai karena dia masih melihat hamparan kebun teh.

"Kang Saga ke mana?" gumamnya dan saat dia melihat ke depan, mata Naura menyipit. "Orang-orang itu lagi?"

Karena khawatir Dia sudah akan keluar, tapi ... Kepalanya kembali menoleh, dia memperhatikan betul apa yang dilakukan Sagara. Tidak dipukul seperti sebelumnya, Sagara malah terlihat seperti orang yang sedang dibujuk.

"Mereka ngobrolin apa sih?"

Naura benar-benar sangat penasaran, tapi kalau dia keluar, Sagara akan menyadarinya dan mereka pasti akan berhenti mengobrol, jika seperti itu, ya percuma saja dong.

"Udahlah, terserah mereka aja."

Dia baru akan kembali memejamkan mata saat dia menerima sebuah pesan dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan teman gibahnya.

"Ra, kamu benaran mau nikah sama Kang Sagara? Enggak takut sama dia? Katanya dia bukan orang baik, lho. Aku denger kalau dia itu suka banget nyulik para perempuan di desa ini, kayak ... Orang-orang yang udah ketemu sama dia lenyap gitu aja."

Sesekali dia mengulang membaca chat dari Wulan, memastikan kalau matanya tidak salah. Kemudian dia melirik lagi ke depan, saat ini Sagara tampak marah kemudian berbalik dengan wajah dingin dan Naura, dia pura-pura tidur kembali.

Blam!

"Astaghfirullah!"

Perempuan itu terperanjat, dia menoleh ke samping, menatap Sagara dengan mata berkilat marah. Sebetulnya masih pura-pura baru bangun, tapi kagetnya betulan.

"Akang kenapa?"

"Sorry," ucapnya tanpa menjawab lebih. Mobil di depan sudah melaju berlawanan arah dengan mereka, sedangkan Sagara, dia Masin diam, tampak sedang menenangkan dirinya.

"Akang baik-baik aja kan? Barusan dari mana? Pipis sembarangan? Enggak takut icibos dilahap babi hutan?"

Ya Tuhan .... Sagara menoleh kemudian menatap Naura dengan tatapan tajam. Sumpah demi apa dia ingin menggetok kepala Naura tapi ....

"Akang ngelap icibos enggak pake daun pulus kan? Aman? Atau mau saya periksa? Kenapa muka Akang kayak gitu? Akang enggak diusap setan?"

"Bisa diem enggak?!"

"Enggak...."

"Naura!"

"Enya Akang, aku diem."

Naura merengut kemudian duduk tegap sambil melipat tangan di depan dada, bibirnya komat-kamit tak karuan, membuat Sagara menghela napas.

Sampai Sagara membawa Naura ke depan rumahnya, Naura masih diam, tak satu patah katapun keluar dari mulutnya. Dan ketika dia hendak membuka pintu mobil Sagara menahan pergelangan tangannya.

"Sorry, saya enggak masuk bentak kamu."

Mata Naura berputar malas, dia menepis tangan Sagara lalu mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu di sana.

"Enggak aku maafin, lagian yang bikin marah kamu siapa, kenapa aku yang dibentak. Dasar kodok kecengklak!"

Naura menunjukkan layar ponselnya kepada Sagara, setelah beberapa saat, dia kembali mengetikan sesuatu.

"Aku terima permintaan maafmu, tapi inget, Kang. Mahar minta tanah yang banyak! Enggak usah anter aku ke rumah, nanti kucing aku alergi liat kamu!"

Tanpa sadar, Sagara menarik ujung bibirnya, dia melihat punggung Naura yang mulai menjauh.

Bocah itu sangat menyebalkan, bocah kematian yang mulutnya sangat berbahaya. Dia aneh tapi lucu, dan tingkah Naura membuat dia merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.

.........

"Ya Allah, Teh. Kenapa baru pulang atuh, Ibu dari tadi nungguin Teteh," ucap Nanda sambil menyambut Naura.

Perempuan itu tampak cemas sedangkan Naura memiliki ekspresi sebaliknya.

"Enggak usah galak-galak sama Nanda, Teh. Dia cuma khawatir, tadi dia udah masak air buat kamu mandi. Dia baik lho sama kamu, jangan gitu atuh," kata Bu Windi.

Raka yang sedang berbaring di sofa beranjak, tak enak dengan situasi saat ini.

"Ke mana, Dek?" tanya Naura.

"Ke Masjid, Teh. Mau shalat Maghrib."

"Oh. Si Mocha sama si Mochi udah kamu kasih makan belum?"

"Udah, aku berangkat dulu, Teh, Bu."

"Heumm, pulangnya hati-hati, jangan main dulu, Dek!"

"Gimana nanti aja, Teh. Males aku di rumah."

Naura menghela bapas, sedangkan Nanda saat itu hanya bisa menuduk dengan wajah menyesal.

"Udah, Neng. Kamu enggak usah merasa bersalah atuh," kata Bu Windi sambil mengusap punggungnya. "Kamu masuk kamar gih, bentar lagi shalat Maghrib, kita berjamaah di rumah."

"Makasih, Bu."

Bu Windi hanya mengangguk kecil, dia memperhatikan betul saat Nanda masuk ke kamar dengan wajah sedih.

"Teh ...."

Bu Windi menghampiri anaknya. "Gimana kabar ibu yang tadi kamu tolong, dia enggak papa kan?"

"Aku belum dapet kabar, Bu," jawab Naura malas. "Aku mau liat si Mocha sama Si Mochi dulu."

Tanpa menunggu jawaban, Naura bergegas pergi ke belakang. Mereka memiliki area dapur kotor yang masih menggunakan tungku kayu, jadi kucing-kucingan ditaruh di sana.

Naura tampak tidak sabar untuk bertemu kucing-kucing itu, mereka yang menemani Naura saat melihat Satya dan Sarah sedang nganu.

"Mochaaaa, Mochiiii, mama pulang, Sayang." Dia tampak begitu bersemangat. Namun saat sampai di belakang, dia tidak melihat kucing-kucing itu, suaranya saja tidak ada, padahal biasanya mereka sangat berisik.

"Mochaaa, Mochiiii, ngeong. Ini Mama, Sayang."

Masih tidak ada jawaban, Naura menyelasar tempat itu, dia membuka kandangnya tapi juga tidak ada. Sampai ketika dia melihat sesuatu, dia berbalik dan membuka pintu menuju ke luar.

"Enggak, mereka baik-baik aja." Dia masih berusaha untuk bersikap tenang, tapi saat melihat apa yang ada di depannya, seketika Naura membeku. Matanya melotot dan mulai berkaca-kaca.

"Mochaaaa! Mochiiii!” pekiknya dengan lutut gemetar. Seketika tubuhnya luruh ke bawah, mendekati dua anak kucing itu. "Mocha, Mochi, ini Mama, Sayang. Mama pulang." Kedua tangannya mengepal, kepalanya tertunduk saat dia tidak melihat pergerakan dua anak kucing di dalam bak plastik besar yang biasanya digunakan untuk menyiram tanaman dan sayur di belakang rumah.

Dua anak kucing itu sudah terbujur kaku dan Naura benar-benar tidak bisa lagi mendengar suara mereka.

1
Ryan Dynaz
👍💜
Deswita
🙏💪
stnk
😄😄😄😄 si Naura rada2 memmang nih...
Ika Yanti Unyil
ceritanya keren thor
lain dari pada yang lainnya.alurya mengalir meski banyak misteri yang tersembunyi.
endingnya masih ada yang menggantung.mungkin kl ditambah bbrp part lagi masih ok.
terus semangat berkarya thor 🥰🥰🥰
Anita_Kim: Masyaallah, terima kasih, Kak🫶🏻
total 1 replies
sherly
alur ceritanya bagus dan buat gemeeess
sherly
hahaha dah buat zina masih ingat ngucap dia...
sherly
bodoh banget ceweknya...mau2nya dia disemak semak, dilosmen kek kurang modal ya Satya...
Sitirahma Dani
cerita2nya selalu seru untuk di baca,
s3lalu s3mangat ya kk untuk membuat cerita2 baru ...😍
Roesminie
karyanya sangat menyentuh, dan bisa jadi contoh dikehidupan nyata, lanjut 👍👍hebat aq suka
Eka ELissa
lok ada yg baru jgn lupa ksih notif ya Mak....jgn lupa...🌹
Athul Kuswatul Hasanah
Nana... ngajak nikah kaya mau ngajak bli cilok 😄😄😄
fitri
biar virallll🤭
fitri
ngakaknyaaaa aku ..😄😄😄
fitri
😄😄😄
Arin
/Heart/
ardan
bagus pisan novelna
Ary hartini
👍👍👍👍penutup yang sempurna...semoga nanti ada kisah baru lagi ...semangat dan sukses sll kak kim99
Anita_Kim: Aamiin, Kakak. Aamiin .... Terima kasih, ya🥰
total 1 replies
Sri Suryati
makasih Thor atas karyanya
Anita_Kim: Terima kasih kembali, Kak🙏🏻
total 1 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
berbahagialah Naura🥰🥰🥰
Anita_Kim: Aamiin
total 1 replies
iqha_24
tamat beneran nihh , 😅 makasih kak Kim.... C U 💖
Anita_Kim: Sama-sama ya, Kak🥰🤗♥️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!