Kemuning seorang gadis kecil murid sekolah dasar di desa yang cukup makmur. Dia diasuh oleh kakek dan neneknya.
sehari-hari dia sering dibully oleh teman-temannya di sekolah karena lahir tanpa ayah dan ibunya adalah bekerja sebagai TKW di Korea Selatan.
Ibunya pulang dalam keadaan hamil tanpa suami. Setelah melahirkan beberapa bulan kemudian ibunya kembali bekerja di Korea dan sejak saat itu Kemuning tumbuh besar dalam pengasuhan kakek dan neneknya.
Bagaimana Kemuning menghadapi bullian dari teman-temannya? Bagaimana nasib Kemuning di masa depan dengan labelnya sebagai anak Haram?
ikuti keseruan kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Soehardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Ibu-ibu yang mengantar sekolah TK di hari pertama pada berbisik-bisik dan semua mata mengarah kepada Kemuning dan ibunya.
“Itu anak haram dari Korea sekarang sudah besar. Tidak mirip ibunya kayak anak keturunan Cina ya matanya sipit, kulitnya putih.” Kata salah satu dari mereka.
“Cantik sih cantik tapi sayangnya anak haram” kata Ningsih ibunya Erni.
“Nak nanti jangan dekat-dekat sama anak yang matanya sipit itu ya, dia anak haram” kata Ningsih kepada anaknya.
“Anak haram itu apa bu?” Tanya Erni anaknya.
“Anak haram itu anak yang tidak punya ayah.” Jawab ibunya.
Ibu-ibu yang lain juga mewanti-wanti anaknya untuk tidak dekat-dekat dengan Kemuning.
Tibalah saatnya murid-murid TK berbaris sambil bernyanyi. Kemuning menirukan gerakan ibu guru dengan gembira. Bertepuk tangan sambil menggoyangkan kepalanya dan berderap maju memasuki kelasnya.
Saat pelajaran mewarnai peralatan sekolah milik Kemuning lah yang paling bagus diantara milik teman-teman sekelasnya. Anak-anak yang lain pada melihatnya dan merengek minta dibelikan krayon seperti milik Kemuning.
Hari pertama ibu-ibu masih diperbolehkan masuk ke dalam kelas menemani putra putrinya yang tidak mau ditinggal oleh orang tuanya.
Begitu juga saat istirahat dan semua anak memakan bekal mereka. Tumbler dan kotak makan Kemuning menarik perhatian teman-temannya karena paling bagus. Pakaian yang dikenakan Kemuning juga paling bagus dan hal ini membuat iri ibu-ibu yang mengantarkan anaknya.
Akhirnya jam sekolah berakhir Santi membonceng anaknya dengan motor matic n-max barunya. Lagi-lagi membuat ibu-ibu yang lain pada sinis karena hanya Santi lah yang memiliki motor matic jenis yang paling bagus di desa itu dan merupakan idaman para istri.
Sampai rumah Erni tantrum minta beli krayon seperti milik Kemuning. Ibunya lelah membujuknya karena untuk membeli alat tulis yang lengkap dan mahal harus ke kota besar. Di desa hanya ada krayon kotak kecil itu pun sudah ibunya belikan yang terbaik.
Akhirnya Ningsih minta diantarkan oleh suaminya ke kota untuk mencari apa yang diminta oleh anaknya.
“Benar-benar menyusahkan saja si anak haram itu. Pamer krayon segala jadinya aku harus mencari krayon seperti punya nya.” Ningsih menggerutu sambil naik di boncengan motor suaminya.
Akhirnya Ningsih menemukan krayon yang dimaksud tapi tetap saja tidak ada yang sebagus milik Kemuning. Terpaksa dia membelinya karena itu sudah yang paling bagus dan lengkap.
Kemuning selalu menjadi pusat perhatian karena lebih fashionable dibandingkan dengan anak-anak desa setempat. Murid laki-laki suka bermain dengan Kemuning yang tidak cengeng dan suka main bola, memanjat dan tidak lelah berlarian kesana kemari berkejar-kejaran dengan teman-temannya. Selain itu Kemuning tidak pelit berbagi makanan buatan ibunya yang pandai membuat kue.
Tapi ibu-ibu mereka tetap memasang wajah sinis terhadap ibunya Kemuning.
Santi cuek saja di beri sikap sinis oleh ibu-ibu yang penting dia tidak mencari masalah.
Ada salah seorang anak yang menarik perhatiannya dari awal masuk. Anak ini diantar oleh seseorang yang langsung pergi begitu anaknya masuk ke halaman sekolah. Ibu gurulah yang menghampiri dan mengajaknya masuk. Mungkin ibunya sibuk sehingga tidak sempat menungguinya. Tetapi orang itu seperti asing di desa itu.
Dia bernama Tiara anak pendiam yang kadang hanya melihat temannya makan. Santi sering mendekatinya dan menawarkan makanan. Anak kecil itu menatapnya dengan ragu tetapi akhirnya dia menerima kue dan susu kemasan kecil pemberian Santi. Lama kelamaan dia mulai berani bergabung dengan Kemuning dan teman-temannya. Tetapi anehnya dia selalu menunggu lama orang yang menjemputnya sekolah.