Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Kontrak
"Baik."
Jawaban Kai datang begitu cepat hingga Keira berharap suara klakson menelannya.
"Tunggu. Aku belum selesai berpikir."
"Tapi kamu sudah selesai bicara."
Pria itu menghabiskan gigitan terakhir jagungnya, membuang tongkol ke tempat sampah, lalu mengangkat ransel kecil. Seolah pindah ke rumah perempuan asing adalah keputusan paling biasa di dunia.
"Aku cuma menawarkan sementara," kata Keira. "Satu malam. Mungkin dua."
"Sementara berarti tidak selamanya. Aku paham."
Pengemudi mobil online membunyikan klakson lagi. Keira memijat pelipis.
"Masuk dulu. Kita bicarakan aturan di rumah. Kalau aku berubah pikiran, kamu pergi."
Kai membukakan pintu belakang untuknya. "Kamu selalu mengundang orang sambil mengancam?"
"Aku baru hampir dijual pacarku sendiri. Hari ini bukan waktu yang tepat untuk menguji keramahan."
Senyum tipis di wajah Kai hilang. "Benar. Maaf."
Perjalanan ke Tangerang Selatan memakan waktu hampir satu jam karena lalu lintas sore. Kai tidak banyak bertanya. Dia hanya memastikan kaki Keira tidak tertekan tas, lalu meminta pengemudi menurunkan suhu pendingin ketika wajah Keira memucat.
Apartemen Keira berada di lantai sembilan sebuah gedung sederhana. Begitu pintu terbuka, ruang tamu kecil langsung terlihat sampai dapur. Ada satu kamar utama, satu ruang sempit yang selama ini dipakai menyimpan koper, serta balkon selebar dua langkah.
Kai berdiri di dekat rak sepatu, memandang sekeliling.
"Kecil," kata Keira lebih dulu. "Kalau tidak cocok, hotel banyak."
"Hangat."
Keira tidak siap dengan jawaban itu. Dia berpaling dan mengambil jas hitam yang sudah dicuci dari sandaran kursi.
"Ini milikmu."
Kai menerima jas itu, tetapi matanya tertahan pada perban di kaki Keira. "Kamu seharusnya duduk."
"Ini rumahku. Aku tahu kapan harus duduk."
"Baik, Bu Pemilik Rumah."
Keira menunjuk ruang penyimpanan. "Kamu bisa tidur di sana. Ada kasur lipat. Kamar utama wilayahku. Dapur boleh dipakai. Jangan menyentuh barang kerja, jangan membawa siapa pun, dan jangan masuk tanpa mengetuk."
"Biaya?"
"Apa?"
"Listrik, air, internet, cicilan apartemen. Aku tidak tinggal gratis."
Keira menyilangkan tangan. Setidaknya pria itu tidak berniat menjadi beban. "Kita bahas kalau kamu masih di sini minggu depan."
Kai mengeluarkan ponsel layar retaknya. "Ada masalah lain. Pengelola gedung mencatat tamu yang menginap. Tetangga juga akan bertanya."
"Aku tidak peduli omongan tetangga."
"Kamu pilot yang sedang bermasalah dengan atasan. Wenny atau Revan hanya perlu satu foto untuk membuat cerita baru."
Kalimat itu menghentikan Keira.
Dia membayangkan pesan di grup kerja, bisik-bisik di ruang kru, dan Teguh menggunakan seorang pria asing di apartemennya sebagai alasan tambahan untuk menjatuhkannya.
"Lalu maumu apa?"
Kai duduk di seberang meja makan kecil. "Kita buat perjanjian. Enam bulan."
"Enam bulan? Aku baru mengenalmu dua hari."
"Karena itu perlu perjanjian."
Kai menjelaskan bahwa dia datang dari Surabaya dan berencana menetap di Jakarta untuk mencari pekerjaan tetap. Kamar sewa jangka panjang yang dia incar hanya menerima penghuni berkeluarga, sementara tinggal sebagai tamu pria di apartemen Keira akan menimbulkan masalah yang sama.
"Kita gunakan status nikah siri," katanya. "Upacara privat, tanpa pencatatan di Catatan Sipil. Hubungan itu tidak memberi kita status pasangan yang diakui negara, hak waris, atau hak atas harta satu sama lain. Di antara kita, ini murni kerja sama."
Keira menatapnya lama. "Kamu membicarakan pernikahan seperti sedang menyewa mobil."
"Kamu lebih suka kita pura-pura pacaran?"
"Aku baru saja putus."
"Itu sebabnya aku tidak menawarkan pacaran."
Keira mengambil bantal sofa dan melemparkannya. Kai menangkapnya tanpa kesulitan.
"Aku serius," kata Keira.
"Aku juga."
Kai menaruh bantal kembali. "Enam bulan. Aku membayar setengah biaya rumah. Kita tidak mencampuri urusan pribadi atau perasaan masing-masing. Tidak ada kontak fisik tanpa izin. Kalau salah satu merasa tidak aman, perjanjian selesai. Setelah enam bulan, kita berpisah tanpa tuntutan."
Keira menatap tagihan cicilan apartemen yang terselip di bawah mangkuk buah. Setelah skorsing, tunjangan terbangnya bisa hilang. Setengah biaya rumah akan membantunya bertahan tanpa meminta uang Meilin.
Tetapi menikah, meski hanya secara siri dan tanpa kekuatan hukum penuh, bukan keputusan kecil.
"Kenapa aku?"
Kai tidak langsung menjawab. "Karena kamu menolong orang saat hidupmu sendiri sedang berantakan."
"Itu bukan bukti aku bisa dipercaya. Itu bukti aku ceroboh."
"Kalau begitu kita sama-sama ceroboh. Aku masuk mobil bersama perempuan asing semalam."
Keira tertawa pendek sebelum bisa menahannya.
Malam itu mereka menyusun tujuh pasal di laptop Keira. Durasi enam bulan. Pembagian biaya sama rata. Kamar terpisah. Privasi mutlak. Tidak membawa pasangan lain ke apartemen. Tidak menggunakan hubungan ini untuk mengambil harta atau membuat keputusan medis. Tidak ada paksaan dalam bentuk apa pun. Perjanjian dapat dihentikan jika salah satu melanggar batas keselamatan.
Di bagian paling bawah, Keira menambahkan satu kalimat.
Tidak boleh berbohong tentang hal yang dapat membahayakan pihak lain.
Kai membacanya dua kali.
"Ada masalah?" tanya Keira.
"Tidak."
Dia menandatangani dengan nama Kai. Keira menorehkan namanya di samping tanda tangan itu.
Keesokan paginya, mereka menjalani upacara agama privat yang telah disepakati. Seorang pemuka agama memimpin doa dan ikrar di hadapan dua saksi dewasa. Persetujuan keduanya ditanyakan secara terpisah. Atas permintaan Kaizan, data identitas lengkapnya diserahkan langsung kepada pemuka agama dan disimpan tertutup; di depan Keira dia tetap diperkenalkan sebagai Kai. Keira mengira itu satu-satunya namanya. Tidak ada keluarga, pesta, cincin, atau kamera.
Mereka juga tidak mengajukan pencatatan ke Catatan Sipil. Keira memastikan sekali lagi bahwa upacara itu tidak memberi mereka akta perkawinan, hak waris, atau status pasangan resmi di dokumen negara. Kai membenarkannya tanpa mengurangi keseriusan ikrar yang baru mereka ucapkan.
Status nikah siri itu menjadi pelindung sosial mereka, bukan jalan pintas menuju hak atas hidup satu sama lain.
Keesokan siangnya, sebuah koper hitam tiba bersama Kai. Keira tidak melihat kendaraan yang menurunkannya karena sedang mengganti perban di kamar. Ketika keluar, baju-baju pria itu sudah tersusun rapi di ruang sempit, kasur lipat terbuka, dan dua cangkir kopi hangat menunggu di meja.
"Kamu membuat kopi di rumahku?"
"Mulai hari ini aku membayar setengah listriknya."
Keira mengambil satu cangkir. "Jangan merasa berkuasa."
"Aku tidak berani, Bu Pemilik Rumah."
Menjelang sore, Keira mencoba menggulung kembali kasur lipat yang tidak terpakai. Perban di kakinya tertarik dan dia mendesis.
Kai mengambil gulungan itu dari tangannya. "Dokter menyuruhmu istirahat atau memindahkan gudang?"
"Ruang ini harus cukup untuk bernapas."
"Duduk. Aku yang bereskan."
Keira hendak membantah, tetapi Kai sudah memindahkan dua koper ke rak atas, membersihkan debu di sudut, lalu memasang seprai sendiri. Dia tidak membuka satu pun kotak milik Keira tanpa bertanya.
Saat Keira kembali dari kamar mandi, semangkuk sup hangat dan obatnya sudah diletakkan di meja.
"Aku tidak meminta ini."
"Benar. Kamu juga tidak meminta kakimu terluka. Makan."
Keira memegang sendok. Perhatian sederhana itu terasa asing setelah bertahun-tahun bersama pria yang bahkan lupa menanyakan apakah dia sudah mendarat dengan selamat.
Ponselnya berbunyi sebelum suapan pertama.
Sebuah surel dari bagian sumber daya manusia NusAir masuk. Keira membaca judulnya dua kali.
Pemberitahuan Pembebastugasan Sementara dan Evaluasi Restrukturisasi.
Di bagian bawah tercantum bahwa namanya sedang ditinjau bersama daftar pegawai yang terdampak efisiensi. Sampai pemeriksaan internal selesai, dia dilarang memasuki area operasional dan tidak menerima tunjangan terbang.
Sendok beradu dengan mangkuk.
"Masalah?" tanya Kai.
Keira mematikan layar. "Urusan kantor."
"Mereka menghukummu karena semalam?"
"Aku bilang, jangan mencampuri urusanku. Itu pasal ketiga."
Kai menatap ponsel yang kini terbalik di meja, lalu mengangguk. "Baik. Tapi supnya bukan urusan kantor. Habiskan."
Keira mendengus, namun mengambil sendok lagi.
Malam turun. Keira tertidur lebih awal karena obat dari rumah sakit. Pintu kamarnya tertutup rapat.
Kai berdiri di balkon, memastikan tirai tidak bergerak sebelum menghubungi sebuah nomor.
Panggilan dijawab pada dering pertama.
"Bos," suara Moreno terdengar pelan. "Saya sudah menunggu kabar Anda."
Nada santai Kai lenyap. Punggungnya tegak, tatapannya mengarah pada lampu Jakarta yang membentang jauh.
"Bekukan daftar PHK itu," perintahnya. "Ada satu nama di sana."