"Aku hanyalah wanita biasa yang tak rela suamiku berpoligami"-Maryam Azzahra-
Poligami menjadi penyebab renggangnya ikatan suci pernikahan antara Maryam dan Faiz. Sampai suatu saat Damar Langit datang membawa getaran lain di hati Maryam yang membuatnya bimbang antara bertahan dan melepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Jayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Akan Kembali
Maryam merenungi setiap kata yang diutarakan Langit sore tadi.
Apa pria itu sakit? Dia terus berusaha mengejarku, tidak ada angin atau hujan. Maunya apa dia itu?
Maryam membenarkan ucapan Langit jika ia harus keluar dari bayang Faiz secepatnya. Rumah dan mobil, keduanya pemberian Faiz. Akan sangat tidak pantas jika ia masih menggunakan semua fasilitas itu.
Maryam mondar-mandir sambil berpikir, mencari celah dari semua permasalahannya.
Rumah dan kendaraan bisa aku cari lagi. Mungkin sementara aku harus cari kontrakan dulu. Biar kendaraan aku naik taksi atau ojol pun jadi.
Niatnya semakin mantap saat Anindya menunjukan apartement disebelahnya yang kosong. Harganya pun tidak terlalu mahal, ia juga bisa berangkat bersama Anin naik motor maticnya.
"Oke Nin, nanti besok kita bicarakan di kantor ya." Maryam mengakhiri pembicaraannya dengan Anindya lewat sambungan teleponnya.
Ia sedikit lega untuk masalah tempat tinggal sudah terselesaikan. Sekarang giliran mengurus perceraiannya dengan Faiz. Lebih cepat lebih baik.
Bel rumahnya berbunyi beberapa kali, Maryam turun ke lantai bawah untuk melihat siapa yang datang malam-malam seperti ini.
"Mas faiz," ucap Maryam sedikit terkesiap dengan kedatangan Faiz.
"Maryam,"
"Masuk Mas." ajak Maryam. Faiz pun mengekor Maryam dari belakang.
"Aku ingin istirahat di kamar. Kamu temani ya," pinta Faiz tanpa menunggu jawaban Maryam. Pria itu perlahan menaiki anak tangga menuju ke kamar mereka.
Faiz menautkan pandangannya pada dua buah koper besar milik Maryam. Pakaian Maryam sebagian sudah berpindah ke dalam koper itu dengan posisi lemari masih dalam keadaan terbuka.
"Maryam, kamu mau kemana?" tanya Faiz keheranan.
"Aku mau pindah dari rumah ini Mas," jawab Maryam mantap.
"Apa pindah?" Faiz terkesiap mendengar penuturan Maryam. Ia menggeleng cepat menolak keputusan istrinya itu.
"Iya Mas, lebih baik untuk aku pindah secepatnya. Tidak baik jika aku diam di rumah ini,"
"Kenapa harus pindah, ini rumahmu. Ini rumah kita Maryam," Faiz mengguncang bahu Maryam dengan kuat.
"Ini bukan lagi rumahku ketika kita resmi bercerai nanti Mas,"
"Apa cerai? Maryam kamu jangan gegabah kalau bicara! Kita tidak akan bercerai. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu!" rahang Faiz mengeras seketika. Matanya merah menahan amarah. Mana mungkin ia melepaskan Maryam.
"Kenapa Mas? Aku sudah tidak sanggup lagi menjalani pernikahan ini. Aku bukanlah wanita kuat dan penyabar. Sudah cukup bagiku mengalah," Maryam memejamkan matanya. Ia tak sanggup memandang wajah Faiz yang seakan memelas.
"Tapi Mas mencintaimu Maryam, Mas tidak bisa hidup tanpamu," lirih Faiz menghela tubuh Maryam agar mendekat padanya.
"Tolong Mas, jangan seperti ini. Akan sulit bagiku jika Mas terus bersikap mengulur hatiku. Jika Mas memang mencintaiku, Mas tidak akan mungkin tega menduakanku. Apalagi menikahinya," isak Maryam memukul dada Faiz.
"Mas terpaksa menikahinya, itu semua keinginan Ayah. Mas tidak bisa menolaknya, orang tua Kanaya punya pengaruh kuat terhadap kedudukan Ayah. Jadi Ayah juga tidak bisa menolaknya. Percayalah Maryam," bujuk Faiz. Pria itu tidak menyerah untuk membuat Maryam berubah pikiran.
"Apa Mas memikirkan perasaanku saat itu? Apa Mas ingat padaku saat mengucap ijab dengannya? Kenapa Mas? Kenapa Mas tidak meminta ijinku terlebih dahulu?" segelontor pertanyaan yang selama ini tertanam di dalam dada Maryam ia ungkapkan di depan pria yang menorehkan luka itu. Luka yang akan sangat lama untuk sembuh, entah tidak bisa sembuh.
"Tentu saja Mas ingat,"
"Kalau Mas ingat padaku, kenapa Mas lalukan. Kalau Mas cinta padaku alasan apapun tidak akan bisa membuat Mas berpaling dengan menikahinya. Lalu kenapa Mas bisa mempunyai anak dengannya? Kalau bukan cinta lalu apalagi?" ujar Maryam setengah berteriak.
"Itu semua terjadi begitu saja, itu juga karena kewajiban Mas sebagai suami terhadap istri. Maryam, Mas mohon maafkan Mas. Mohon tarik keputusanmu untuk berpisah. Mas akan berbuat adil pada kalian berdua," pinta Faiz
"Adil? Aku tidak percaya Mas bisa adil. Di rumah Ayah saja Mas tidak pernah memperlakukanku dengan adil apalagi kalian akan punya anak. Bukannya adil pasti aku sudah ditendang duluan. Mas, jika Mas mengerti akan syariat bijaksana itu, Mas tidak akan pernah menikahinya. Aku tidak cacat, aku masih bisa melayanimu Mas. Tapi Mas tidak memberikan kewajibanmu padaku. Kalaupun Mas melakukan itu dengan sangat terpaksa, Mas akan memperlakukan dengan baik dan seadil-adilnya. Keputusanku sudah bulat Mas,"
Bagai petir di siang bolong, Faiz terdiam mendengar penuturan Maryam. Ia menyesali perbuatannya yang justru membawa rumah tangganya di ujung tanduk. Andaikan ia bisa menolak keinginan Gufron, pasti saat ini ia masih bisa mereguk kasih dengan Maryam. Jika kebersamaannya dengan Kanaya tak terjadi, mungkin rasa nyaman pada istri keduanya itu tidak akan pernah ada.
***
Kepergian Faiz menyisakan tangis mendalam bagi Maryam. Ia jatuh tersungkur menahan perihnya hati. Merelakan sang suami menjadi milik orang lain bukanlah perkara mudah. Maryam membulatkan tekadnya untuk tetap pada keputusannya. Berpisah.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, dimana kamar itu menjadi saksi bisu kehangatan sepasang suami istri memadu kasih. Hanya satu bulan dari setahun usia pernikahan mereka Faiz bisa setia. Selebihnya luka dan air mata.
Aku lelah, rasanya hati ini sudah tidak bisa menahan lagi. Rasaku sudah mati, aku akan melangkah sendiri tanpa ada yang menemani. Aku pergi dan tak'kan kembali.
***
Adam dan Ainun sedang berada di ruang keluarga, sepasang suami istri paruh baya itu sedang asik menonton acara favorit mereka di Tv.
Langit datang dengan wajah seriusnya hendak membicarakan hal penting dengan kedua orang tuanya.
Ia duduk di sofa sebelah tempat duduk Adam dan Ainun.
"Ada apa Nak? Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu katakan," tanya Adam pada putra sulungnya itu.
"Ehmm," Langit berdehem kecil. Ia mempersiapkan mentalnya untuk berbicara tentang niatannya itu. Hal pertama yang baru akan ia lakukan selama umur hidupnya.
"Ada apa? Kamu minta nikah ya," goda Ainun diiringi tawa Adam.
Wajah Langit tetiba bersemu merah mendengar penuturan sang ibu.
"Begini Pa, Ma. Langit ingin minta pendapat jika Langit mendekati Maryam. Apa Papa dan Mama setuju?" dengan satu kali tarikan nafas Langit mengutarakan maksudnya.
"Maryam?" tanya keduanya secara bersamaan.
"Iya,"
"Tapi Langit, Maryam kan sudah bersuami. Mana mungkin kamu menikahinya," ujar Ainun.
"Maryam sedang akan mengurus gugatan perceraiannya. Kalau statusnya sudah tidak bersuami lagi, Langit akan menikahinya. Apa Papa dan Mama tidak keberatan jika Langit menikah dengan seorang janda?"
Adam dan Ainun saling bertatapan satu sama lain.
"Papa tidak keberatan jika Maryam pilihan hati kamu. Terlepas dari statusnya sebagai janda nanti. Bagi Papa status janda itu bukan aib, asal kamu tidak mengganggu istri orang itu lebih baik bagi Papa," ungkap Adam jujur dari hatinya. Adam memang menyukai Maryam sedari awal mereka bertemu.
"Apalagi Mama, Mama setuju banget dengan keputusan kamu. Mama ingin menjadikannya menantu Mama. Tapi apa keputusanmu ini bukan karena Zoya?"
Langit menggeleng cepat
"Tidak ada hubungannya dengan Zoya. Ini murni dari hati Langit. Apa Papa dan Mama yakin dengan keputusan Langit? Papa dan Mama tidak menyesal jika nanti orang mencemooh keluarga kita?"
"Kenapa mereka mencemooh? Maryam itu perempuan baik-baik. Jangan dengarkan orang lain, dengarkan hati nuranimu sendiri Langit." ucap Ainun menambah kemantapan Langit untuk tidak menyerah mendapatkan Maryam.
***
Bersambung
...Berikan dukungan kalian dengan like, komen dan votenya ya....
penasaran akan mamfir
rela harga diri diinjak2
klu org SDH dak suka kenapa masih memaksakan diri?
laki2 macam apa
ayo Maryam cerai aja cari laki2 yg mencintaimu