NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Arina telah kembali ke manor beberapa jam yang lalu. Keputusan akhir dari pertemuan di istana adalah mengirimnya ke Asterra bersama Panglima Darius Bellatrix dan beberapa ratus prajurit di bawah komando sang panglima.

Keputusan itu sesuai dengan rencananya.

Mereka akan berangkat keesokan pagi. Raja juga mengizinkannya membawa beberapa orang dari manor. Tanpa ragu, Arina memilih Saiph dan Alhena, dua orang yang paling ia percayai.

Setelah menyiapkan seluruh barang yang akan dibawa, Arina segera beristirahat.

Malam semakin larut.

Saat Arina terlelap, jendela kamarnya perlahan terbuka tanpa suara.

Sesosok bayangan berjubah hitam melompat masuk ke dalam kamar dengan gerakan yang nyaris tak terdengar. Tudung hitam menutupi seluruh wajahnya.

Orang itu berhenti di sisi tempat tidur. Tatapannya tertuju pada wajah Arina yang tampak tenang dalam tidurnya.

Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya. Di sana tergenggam sebilah belati yang ujungnya berlumuran racun berwarna kehijauan.

Tanpa ragu, ia mengayunkan belati itu lurus ke arah dada Arina. Namun, sesaat sebelum mata pisaunya menyentuh kulit Arina—

Wussh!

Cahaya ungu terang tiba-tiba memancar dari tanda bulan sabit di atas dada Arina.

Ledakan energi itu melesat begitu cepat hingga menghantam belati tersebut.

Trang!

Belati terpental dari genggaman si penyusup dan jatuh ke lantai marmer, memecah kesunyian malam.

Arina sontak membuka mata. Dalam satu gerakan, ia langsung duduk tegak di atas tempat tidur.

Sementara itu, penyusup berjubah hitam tidak mencoba mengambil kembali belatinya. Ia segera melompat keluar melalui jendela yang sebelumnya telah dibukanya dan menghilang ke dalam kegelapan malam.

"Nona! Apa Anda baik-baik saja?"

Suara para penjaga terdengar dari balik pintu kamar.

Tatapan Arina masih terpaku pada jendela yang terbuka lebar. Angin malam berembus masuk, membuat tirai dan rambut ungunya berkibar pelan.

"Ya, aku baik-baik saja," jawabnya tenang.

Ia mengangkat tangan dan menyentuh tanda bulan sabit di atas dadanya. Masih terasa panas.

Arina kemudian menoleh ke cermin di dekat tempat tidur. Wajahnya tampak lebih pucat daripada biasanya.

Kekuatan dari tanda itu baru saja aktif secara otomatis untuk melindunginya. Setiap kali energi tersebut keluar dalam jumlah besar, tubuhnya akan kehilangan banyak tenaga, dan wajahnya akan berubah pucat seperti sekarang.

Arina turun dari tempat tidur.

Ia memungut belati yang tergeletak di lantai, lalu berjalan perlahan menuju jendela.

Matanya menyapu pekatnya langit malam, berusaha menemukan jejak penyusup yang telah menghilang.

"Siapa yang mengirimmu...?" gumamnya. Jemarinya menggenggam gagang belati itu semakin erat. Tatapan birunya perlahan berubah lebih dingin.

Ada seseorang yang ingin menyingkirkannya. Dan untuk saat ini Arina belum bisa menduga siapa yang

Arina menutup kembali jendelanya, lalu kembali tidur tanpa memikirkan lebih jauh tentang penyusup sebelumnya.

...\=\=\=...

Keesokan paginya, Arina bersama Saiph dan Alhena berangkat menuju istana untuk bertemu dengan Panglima Darius sebelum melanjutkan perjalanan ke Asterra.

Arina mengenakan pakaian perjalanan berwarna putih dengan potongan sederhana. Rambut ungunya diikat tinggi agar tidak mengganggu selama perjalanan. Di belakangnya, Saiph membawa sebuah peti kayu berukuran besar yang berisi berbagai perlengkapan dan obat-obatan, sementara Alhena berjalan tenang dengan kepala sedikit tertunduk.

Kelompok yang aneh.

Begitulah yang terlintas di benak banyak orang saat melihat ketiganya melintasi halaman istana.

Seorang lady bangsawan.

Seorang prajurit.

Dan seorang pelayan.

Perpaduan yang tidak biasa.

Mereka akan berangkat menggunakan Portal Sihir Kerajaan untuk menghemat waktu. Jika menempuh perjalanan dengan kereta kuda, mereka membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk mencapai Asterra.

Begitu tiba di Lapangan Portal Sihir, pandangan Arina langsung tertuju pada sosok yang sama sekali tidak ia duga akan berada di sana.

Putri Vega.

Sang putri mengenakan zirah putih kebiruan yang dihiasi lambang bintang keluarga Fomalhaut. Rambutnya diikat rapi, sementara sebilah pedang pendek tergantung di pinggangnya. Penampilannya lebih menyerupai seorang komandan lapangan daripada putri kerajaan.

"Salam hormat, Yang Mulia Putri."

Arina membungkukkan badan, diikuti Saiph dan Alhena.

"Ayahanda memintaku ikut mengawasi seluruh perjalanan ini agar berlangsung sesuai prosedur," kata Putri Vega tersenyum hangat.

Arina mengangguk pelan.

"Senang dapat melakukan perjalanan bersama Yang Mulia."

"Jangan terlalu formal," ujar Putri Vega sambil terkekeh pelan. "Selama perjalanan ini, anggap saja kita rekan kerja."

"Baik, Yang Mulia."

Sebelum percakapan mereka berlanjut, suara berat Panglima Darius menggema di seluruh lapangan.

"Cukup berbincangnya."

Semua orang langsung menoleh kepadanya.

"Kita berangkat sekarang. Ada masalah yang jauh lebih penting menunggu kita di Asterra."

Para penyihir kerajaan yang telah bersiap di sekeliling lapangan segera mengangkat tongkat sihir mereka secara bersamaan.

Lingkaran sihir raksasa yang terukir di permukaan tanah mulai memancarkan cahaya biru keputihan. Ratusan simbol kuno bermunculan satu per satu, berputar perlahan mengikuti aliran mana yang memenuhi udara.

Beberapa detik kemudian, sebuah gerbang cahaya menjulang di tengah lingkaran sihir.

Portal menuju Kota Asterra akhirnya terbuka.

Wussh...

Aliran energi berputar cepat mengelilingi rombongan.

Arina merasakan tubuhnya seolah kehilangan pijakan. Pemandangan di sekelilingnya berubah menjadi lautan cahaya yang berputar tanpa henti. Tidak ada rasa sakit, hanya sensasi ringan seakan seluruh tubuhnya ditarik melewati ruang yang tak kasatmata.

Beberapa detik kemudian, cahaya itu perlahan memudar.

Kakinya kembali menapak tanah.

Arina membuka mata.

Pemandangan yang menyambutnya sama sekali berbeda dengan ibu kota Regulus.

Langit Asterra tampak kelabu meski matahari bersinar terang. Udara dipenuhi aroma obat-obatan yang bercampur dengan bau kayu yang dibakar. Jalanan batu yang biasanya ramai kini nyaris kosong.

Tak terdengar suara pedagang. Tak ada anak-anak yang berlarian. Bahkan kicauan burung pun seolah menghilang.

Hanya angin yang berhembus pelan, menerbangkan dedaunan kering di sepanjang jalan.

Beberapa puluh meter dari lapangan portal, gerbang kayu raksasa berdiri tertutup rapat. Di atas tembok kota, sejumlah prajurit berjaga dengan wajah letih. Sebagian mengenakan kain putih yang menutupi mulut dan hidung mereka.

Di bawah gerbang, hanya beberapa warga yang masih tampak sehat membantu para penjaga membagikan makanan dan air kepada keluarga pasien yang dikarantina.

Wajah mereka dipenuhi kecemasan.

Seorang pria paruh baya membawa sekarung gandum dengan langkah gontai. Seorang wanita tua membagikan ramuan herbal kepada para penjaga. Sementara beberapa pemuda sibuk membakar pakaian dan peralatan milik para korban di sebuah lubang besar di luar tembok kota.

Suasana kota itu sunyi.

Sunyi yang terasa menyesakkan.

Seluruh Asterra benar-benar berada dalam kondisi kritis, menunggu apakah wabah ini akan berakhir... atau justru menghapus kota itu dari peta Elarion.

Arina memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapan birunya menangkap setiap detail.

Tidak ada kepanikan.

Itu berarti orang-orang yang masih sehat telah menerima pelatihan dan tetap menjalankan tugas mereka.

Namun, jumlah mereka terlalu sedikit.

Jika wabah ini terus menyebar, tak lama lagi tidak akan ada lagi orang yang mampu menjaga kota.

"Selamat datang di Asterra, Yang Mulia. Saya Edmund Spica, Wali Kota Asterra.”

Seorang pria paruh baya bergegas menghampiri rombongan. Pakaiannya tampak kusut, matanya dipenuhi lingkaran hitam akibat kurang tidur, sementara lencana berbentuk daun perak di dadanya menunjukkan identitasnya sebagai Wali Kota Asterra.

Ia membungkukkan badan dalam-dalam di hadapan Putri Vega, Panglima Darius, dan Arina.

"Terima kasih telah datang. Kami... benar-benar sudah mencapai batas kemampuan kami." Suara pria itu terdengar serak.

Di balik ketegaran yang berusaha ia tunjukkan, Arina dapat melihat satu hal yang tidak bisa disembunyikan.

Keputusasaan.

Jika bantuan kerajaan terlambat beberapa hari lagi, Asterra mungkin benar-benar akan kehilangan harapan.

Arina menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara memenuhi paru-parunya. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menangkap petunjuk melalui setiap embusan angin yang berembus di sekitarnya.

Ada aroma amis. Bau abu yang sangat samar. Dan... aroma busuk yang tidak seharusnya ada.

Tatapan Arina yang dingin berubah. Ini bukan wabah alami. Seseorang sengaja menciptakannya... lalu membawanya ke Asterra.

"Sebelum memasuki kota, semuanya kenakan pakaian pelindung!" perintah Panglima Darius dengan suara lantang.

Beberapa prajurit segera membuka peti-peti besar yang mereka bawa. Mereka membagikan pakaian pelindung kepada sesama prajurit, para penjaga kota, serta Wali Kota Edmund dan warga yang masih sehat.

Putri Vega mengenakan pakaian pelindungnya dengan sigap.

Arina memberi isyarat kepada Saiph dan Alhena untuk melakukan hal yang sama.

"Lady Wezen, ini pakaian pelindung Anda." Seorang prajurit menyodorkan satu set pakaian pelindung kepadanya.

"Tidak perlu." Arina menggeleng pelan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Edmund. "Ceritakan bagaimana wabah ini bermula."

Edmund menarik napas berat sebelum menjawab.

"Semuanya terjadi saat puncak musim panen bulan lalu, Lady. Para pekerja mulai tumbang satu per satu. Tubuh mereka membiru, lalu perlahan membusuk. Yang paling aneh... kulit warga yang meninggal berubah menjadi hitam pekat."

"Kau menemukan sesuatu, Lady Wezen?" tanya Putri Vega.

Sementara itu, Panglima Darius mulai mengatur pasukannya untuk memasuki kota, membantu para penjaga yang telah berjaga tanpa henti selama berminggu-minggu.

"Aku belum bisa menyimpulkannya, Yang Mulia," jawab Arina tenang. "Aku harus memeriksa para pasien terlebih dahulu."

Ia kembali menatap Edmund.

"Wali Kota, tolong antarkan aku menemui pasien yang baru terjangkit, pasien yang kondisinya mulai kritis, dan pasien yang berada di ambang kematian."

"Baik, Lady. Silakan ikuti saya." Edmund memimpin rombongan memasuki Asterra.

Mereka melewati jalan-jalan yang lengang sebelum tiba di sebuah pusat perawatan darurat yang didirikan di dekat tanah lapang kota. Bangunan itu dulunya merupakan aula pertemuan warga, tetapi kini telah dipenuhi ranjang-ranjang sederhana.

Di dalamnya terdengar batuk, rintihan kesakitan, dan langkah kaki para tabib yang berlalu-lalang tanpa henti.

Edmund berhenti di salah satu ruangan.

"Lady, ini pasien yang baru terjangkit pagi tadi."

Di atas sebuah ranjang kayu terbujur seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun. Wajahnya pucat, sementara kulit di kedua lengannya telah berubah menjadi kebiruan. Napasnya terdengar cepat dan berat, seolah setiap tarikan udara menguras seluruh tenaganya.

Arina menghampiri ranjang itu tanpa ragu. Ia berjongkok di sisi anak tersebut, lalu dengan hati-hati meraih pergelangan tangannya.

Dua jari Arina menempel pada nadinya.

Sementara semua orang menunggu, Arina memejamkan mata, merasakan denyut nadi sang anak dan mencoba menemukan sesuatu yang tersembunyi di balik wabah misterius yang sedang melanda Asterra.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!