Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.
Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Perbedaan yang Terlupakan
Bright mulai berjalan pelan menuju singgasana ayahnya beriringan dengan setumpuk ingatan masa kecilnya. Setiap langkah seakan membawanya kembali menyusuri jejak-jejak masa lalunya bersama ibunda tercinta.
Di mulai ketika ibunya selalu membawanya menjauh dari para prajurit, bangsawan dan pejabat yang tampak berkeliaran di sekitar mereka. Saat ia selalu bertanya-tanya tentang sosok ayahnya. Hingga saat ibunya menceritakan asal usul dirinya, serta penyebab ibunya rela melepaskan status ratu dan meninggalkan saudara kembarnya di istana. Semua itu masih terekam dengan baik karena ia memang memang memiliki ingatan yang kuat.
Hari ini akan menjadi momen bersejarah baginya karena semua tokoh-tokoh yang pernah diceritakan ibunya telah bersemuka dengannya. Dari tempatnya berdiri sekarang, ia bisa melihat dengan jelas sosok ayahnya yang begitu terhormat dengan gelar besar yang tersemat padanya.
Kepala Bright lantas tertunduk penuh hormat saat langkah kakinya berhasil membawanya berhadapan dengan raja, ratu dan ibu suri.
"Hormat saya kepada Yang Mulia Raja, Permaisuri dan ...."
Seiring dengan ucapannya yang terhenti sesaat, suara Alone mendadak berdengung di telinganya.
'Karena ibu suri sangat memanjakan pangeran, maka pangeran pun sangat sayang padanya. Hanya pangeran Julian yang berani memanggil ibu suri dengan sebutan nenek.'
Bright mengangkat kepalanya dengan perlahan, lalu menoleh ke arah ibu suri Anne sambil melebarkan senyum.
"Nenek ...."
"Kukira kau sudah melupakan nenekmu ini!" cetus ibu suri Anne dengan wajah memberengut."
"Mana mungkin! Aku malah membawakan buah tangan untuk Nenek." Bright lalu berbalik ke belakang dan mengambil kotak kayu berbentuk segi empat yang sedari tadi dibawa oleh Ciro. Ia kemudian menyerahkan kotak itu pada ibu suri Anne.
Seakan tak sabar, ibu suri Anne langsung membuka kotak kayu itu. Mulutnya setengah terbuka saat melihat sebuah kalung bermatakan batu amber.
"Aku memesan kalung ini pada seniman yang ada di kota tersebut. Semoga Nenek menyukainya," tutur Bright dengan senyum yang mengembang.
"Jadi kau hanya membawakan buah tangan untuk nenekmu saja?" tanya raja Balden sambil menatap sungkan ke arah ratu Stephanie yang sedari tadi hanya bergeming tenang di posisi duduknya.
Menoleh ke arah ayahnya dan juga ratu, kata-kata alone kini kembali membanjiri saluran telinganya.
'Menurut beberapa orang istana, pangeran Julian hampir jarang berinteraksi dengan ratu Stephanie. Bahkan di beberapa momen acara sakral kerajaan, pangeran Julian seakan menganggap ratu tidak ada. Sikap dingin pangeran ini karena ia mengetahui diam-diam ratu mengumpulkan dukungan kaum cendekiawan untuk anaknya, pangeran Flynn.'
Menanggapi protes ayahnya, Bright pun tersenyum sambil berkata, "Tidak. Aku juga membawakan kalung serupa untuk calon istriku."
"Benarkah itu?" tanya ibu suri Anne dengan raut senang.
"Ya, Nenek. Siapa lagi yang pantas mendapatkan buah tangan dariku selain nenek kalau bukan calon istriku," ucap Bright sambil menoleh ke arah ratu Stephanie.
Mendadak tatapan penuh dari sang pangeran, membuat sudut-sudut bibir ratu membentuk lengkungan kecil. Meski begitu, ia bertanya-tanya maksud dari tatapan pria itu. Pasalnya, sejak beberapa tahun terakhir ini, Julian tak pernah mau bertatapan dengannya. Namun kali ini, pria itu menatapnya dengan tajam seolah hendak memulai genderang perang.
"Tunggu, kenapa suaramu berubah? Suaramu terdengar lebih berat dari biasanya," ujar ibu Suri secara tiba-tiba.
"Iya, ada apa dengan suaramu?" Ternyata raja pun ikut menyadarinya.
Bright terdiam seketika. Dari seluruh usaha yang Alone lakukan untuk membuatnya semirip mungkin dengan Julian, ternyata ada satu hal yang terlupakan dan tak mungkin bisa ditiru, yaitu suaranya. Ia bahkan tak pernah mendengar suara asli dari saudara kembarnya itu.
Ketiga orang agung itu masih memusatkan atensi pada Bright. Keheningan pun mendadak menyelimuti ruangan itu kala Bright masih bergeming.
Bertepatan dengan itu, seseorang mendadak bersuara dari arah belakang. "Pangeran sempat terkena peradangan jangka panjang yang memengaruhi perubahan pita suaranya. Maaf baru melaporkan pada Anda, Ibu suri."
Bright langsung menoleh ke belakang untuk melihat seseorang yang baru saja berbicara itu. Ingatannya langsung sinkron saat memandang pria yang juga menatapnya dengan penuh arti.
Dia pasti Barry Claney, ayah Alone yang menjabat sebagai dokter kerajaan sekaligus pengasuh pangeran Julian.
Menyambut ucapan Barry, Bright pun berkata, "Itu benar Nenek. Kurasa karena di wilayah itu memiliki polusi yang cukup tinggi dari asap pabrik sehingga mengiritasi saluran pernapasanku. Bukankah begitu, Dokter Claney?"
Barry mengangguk membenarkan. Keduanya kembali bersitatap penuh arti.
"Jadi kau sempat jatuh sakit di sana? Pantas saja tubuhmu jadi sedikit kurus." Ibu suri menatap Bright dengan penuh kekhawatiran sambil membelai sisi wajahnya. "Ternyata firasatku benar saat itu, makanya aku mengutus dokter Claney untuk menyusulmu ke sana agar bisa melihat keadaanmu. Ini semua salah nenek karena mengirim kau di tempat yang terkenal dengan asap pertambangannya."
"Dibanding aku yang hanya sebulan, nenek dan Yang Mulia Raja bisa membayangkan bagaimana penduduk di sana harus bertahan hidup selama bertahun-tahun dengan udara yang telah tercemar."
Ucapan Bright membuat mata ratu Stephanie memicing. Sekian lama tak berucap, akhirnya ratu Stephanie mengeluarkan suaranya sambil menyesap teh dengan tenang.
"Sungguh luar biasa pangeran mendadak bisa memikirkan nasib rakyat di wilayah itu. Sepertinya Anda sangat berbaur dengan masyarakat di sana," ucapnya dengan lambat-lambat sambil melempar senyum khasnya yang elegan.
"Tentu saja. Aku hampir tak ingin pulang jika tak mengingat ada segelintir orang yang mungkin akan mengincar posisi putra mahkota," balas Bright sambil membalas tatapan sang ratu.
Sekali lagi, tatapan itu membuat ratu Stephanie merasa tak nyaman. Di lain sisi, pembicaraan ini membuatnya semakin tertarik.
"Kelihatannya pangeran pulang dengan membawa segudang cerita yang menarik. Kenapa tidak bercerita tentang pengalaman pangeran selama berada di sana sembari menikmati secangkir teh bersama kami?" ajak ratu Stephanie.
Barry langsung menyela permintaan sang ratu, "Maaf, Yang Mulia, pangeran baru saja pulang dari perjalanan panjangnya. Sebaiknya izinkan dia beristirahat lebih dulu untuk menstabilkan tenaganya."
"Benar juga. Cepat kembali ke paviliunmu. Pokoknya seharian ini kau harus beristirahat dan jangan ke mana-mana apalagi sampai keluyuran di luar istana," titah ibu suri pada Bright.
"Baik, Nenek!"
Bright kembali menoleh ke arah Barry. Sekali lagi, ayah Alone kembali menyelamatkannya untuk tak berlama-lama dengan ketiga orang itu. Namun, ketika hendak melangkah pergi, seseorang yang berpakaian hampir serupa dengannya, memasuki ruangan itu bersama para pengawalnya. Kehadiran pria itu, memaksa ingatannya untuk mencocokkan wajah dan nama yang telah tercatat rapi di otaknya.
Flynn! Dia pasti pangeran Flynn!
.
.
.
Like dan komeng
kenapa ga langsung aja, Barbara ini anunya gitu
pastinya luar dalam dilayani🤭
Bgmn y Bright memperlakukan Barbara serba salah y......