Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Untuk menghadapi Nindi, menghindar sepertinya bukan cara yang tepat. Nindi tetap saja berulah, bahkan sekarang memfitnah suaminya.
Meski belum bertanya pada suaminya, Afifah merasa yakin, jika ini hanya akal-akalan Nindi saja. Firasatnya sangat yakin jika suaminya tidak melakukan hal seperti yang dituduhkan Nindi.
Setelah shalat ashar, mamah Ajeng mengingatkan Afifah untuk segera bersiap, bidan desa biasanya membuka praktik di rumahnya sore hari.
Afifah menyusuri jalan ditemani mamah Ajeng. Rumah bidan hanya berjarak sekitar seratus meter dari rumah mamah Ajeng. Setelah melakukan pendaftran, Afifah menunggu antrian dipanggil untuk pemeriksaan, masih ada sekitar tiga orang yang sedang mengantri sebelum Afifah.
Mamah Ajeng menemani Afifah masuk ke ruang pemeriksaan. Bidan yang berusia pertengahan tiga puluh tahun, mempersilahkan Afifah dan mamah Ajeng duduk.
"Apa sudah di testpack?" Bu bidan bertanya setelah Afifah menceritakan keterlambatan haid yang di alaminya dan selera makan yang tiba-tiba menurun.
"Belum, bu. Rencananya mau beli testpack besok , tapi kata mamah saya, di sini ibu menjual testpack juga."
Bu bidan lalu menyodorkan strip testpack dan cup kosong untuk menampung air seni pada Afifah, dan memintanya mengecek sekarang di kamar mandi. Bu bidan juga menerangkan sedikit penggunaan pemakaian, agar tak salah celup.
Afifah bergegas menuju kamar mandi yang ada di belakan ruang praktek, Afifah menjalankan sesuai intruksi yang bu bidan katakan. Setelah di tunggu beberapa saat, Afifah melihat hasilnya.
Afifah kembali ke ruang praktik, dan menyerahkan strip testpack nya pada bu bidan. Bu bidan mengamati sebentar, lalu tersenyum memberi selamat pada Afifah atas kehamilannya.
"Tapi di strip tersebut, hanya garis pertama yang berwarna merah, garis satunya lagi hanya samar saja bu."
"Hal seperti ini memang sering terjadi bu, bisa karena rendahnya kadar hormon kehamilan atau human chorionic gonadotropin (hCG), karena usia kehamilan yang masih muda, nanti seiring bertambahnya usia kehamilan, hCG ibu akan bertambah pula. Untuk lebih meyakinkan, ibu bisa melakukan test dengan USG di rumah sakit.
Tanggal berapa hari pertama haid terakhir ibu?"
Afifah nampak berfikir untuk mengingat, tanggal haid pertama bulan kemarin. Setelah Afifah mengingatnya, bidan memperkirakan usia kehamilan Afifah masuk minggu ke 6.
Afifah diminta berbaring, untuk pemeriksaan perut, dengan meraba perut bagian bawah. Menurut bu bidan kantung rahim Afifah memang sudah teraba.
"Untuk keluhan mual dan muntah, itu biasa terjadi pada awal trimester pertama, karena perubahan hormon. Makan apa saja yang bisa dimakan, jika nasi belum bisa masuk, bisa diganti dengan sumber karbohidrat lainnya seperti roti, singkong, ubi dan makanan lainnya.
Susu kehamilan boleh diminum, boleh tidak jika makanan yang dikonsumsi sehari-hari sudah memenuhi sumber makanan bergizi yang dibutuhkan tubuh."
Bu bidan membekali Afifah dengan vitamin dan obat pengurang rasa mual, yang diminum jika mual muntah semakin sering terjadi. Afifah meminta strip testpack kehamilannya, untuk diperlihatkan pada Yuda dan sebagai kenang-kenangan. Setelah melakukan pembayaran, Afifah dan mamah Ajeng pamit pulang.
Mamah Ajeng memberi selamat pada Afifah dan mendoakan kehamilannya sehat dan selamat, serta menyuruh Afifah untuk segera memberitahu Yuda.
Afifah akan memberitahu Yuda, nanti saat Yuda pulang saja. Kepulangan Yuda nanti akan mendapat kabar baik dan kabar buruk.
¤¤FH¤¤
Mamah Ajeng terdiam, memikirkan sesuatu. Selepas shalat isya, Afifah sudah memberitahukan tentang kabar yang pak Arif sampaikan siang tadi.
Mamah Ajeng memberi saran, agar menemui Nindi secara langsung, dan mencari tahu kebenaran berita kehamilannya. Menurut mamah Ajeng, bisa saja ini hanya akal-akalan Nindi untuk menjebak Yuda agar menikahinya.
Kalaupun kehamilan Nindi benar adanya, Afifah jangan langsung percaya, jika anak yang dikandung Nindi adalah anak Yuda. Nindipun tak bisa minta dinikahi Yuda, karena tak boleh menikahi wanita yang sedang hamil. Mamah Ajeng akan menemani Afifah saat nanti bertemu Nindi.
Mamah Ajeng meminta Afifah untuk jangan terlalu memikirkan masalah tentang Nindi, agar tidak mempengaruhi kehamilannya dan perbanyak berdo'a meminta ditunjukan kebenarannya.
Afifah merasa tenang setelah menceritakan masalahnya saat ini. Afifah akan menemui Nindi besok lusa, agar masalahnya cepat beres. Masalah ini tak bisa didiamkan, karena menyangkut, nama baik suaminya.
Afifah kembali ke kamarnya, menunggu telepon dari Yuda. Setiap malam sebelum tidur, Yuda memang selalu menghubungi dirinya. Untuk malam ini, Afifah harus memahan diri untuk menceritakan berita kehamilannya, karena ingin memberi kejutan nanti saat suaminya pulang, dan masalah baru yang ditimbulkan Nindi, tak ingin suaminya kepikiran dan mengganggu konsentrasinya bekerja serta belum jelas kebenarannya.
Sambil menunggu telepon dari suaminya, Afifah membuka halaman pesan pada pak Arif dan mulai mengetik pesan, memberitahukan jika dia akan ke rumah pak Arif besok lusa, dan pak Arif diminta agar memghubungi Nindi supaya bisa datang juga ke rumah pak Arif dan membicarakan pengakuan Nindi.
Tak lama pak Arif membalas pesan Afifah, menyatakan kesediaannya membantu Afifah menyelesaikan masalah ini, tak lupa pak Arif memberikan dukungannya kepada Afifah dan Yuda.
¤¤FH¤¤
Nindi berbaring di atas kasur tipisnya, dia tersenyum sendiri, membayangkan rencananya kali ini pasti akan berhasil.
Nindi menghubungi seseorang, meminta dibuatkan bukti kehamilan palsunya, karena pasti Yuda dan Afifah akan memintanya.
Tak apa harus mengeluarkan lagi sejumlah uang, karena nanti hasilnya lebih dari yang dia keluarkan saat ini. Mengapa ide kehamilan itu tak terpikir oleh Nindi sejak dulu, Andai dari dulu, Nindi mengaku dihamili Yuda, pasti saat ini, Yuda sudah menikahinya.
Nindi mengedarkan pandangannya melihat kamar kostannya yang sempit, Nindi senang, karena akan segera meninggalkan kostan sempit ini, dan secepatnya, dia akan tidur nyaman di tempat tidur yang empuk, tak seperti kasur tipisnya saat ini.
Ponsel Nindi bergetar, menandakan ada pesan masuk. Ternyata pesan dari pak Arif yang mengabarkan jika besok lusa, Afifah akan datang ke rumahnya. Pak Arif meminta Nindi untuk meluangkan waktunya, datang ke rumahnya juga, untuk membicarakan pengaduan Nindi kemarin.
Nindi langsung membalas jika dirinya pasti datang.
Nindi tersenyum bahagia, sudah membayangkan besok dirinya akan bertemu dengan Yuda, pujaan hatinya.
¤¤FH¤¤
Tuan Andi sudah tidur, Yuda segera mematikan lampu utama kamar tuan Andi, dan menggantinya dengan lampu tidur yang temaram. Yuda bergegas meninggalkan kamar tuan Andi, dan kembali ke kamarnya, karena tak sabar ingin segera menghubungi istrinya.
Yuda segera melakukan panggilan video, Afifah yang memang sedang menunggu telepon dari suaminya, langsung menekan tombol hijau di layar ponselnya, begitu ponselnya berdering.
Yuda sangat merindukan Afifah. Setiap melihat Afifah di layar ponselnya, entah kenapa wajahnya seakan memancarkan aura yang berbeda.
Afifah meminta ijin pada Yuda pergi ke kota menemani mamah Ajeng berbelanja. Yuda memberinya ijin. Afifah meminta maaf dalam hati karena berbohong mengenai alasannya pergi ke kota. Saat ini yang terpenting, Afifah tetap meminta ijin ketika hendak keluar rumah.
Afifah yang belum meminum susu hamilnya karena masih panas, menyimpannya di meja samping tempat tidurnya.
Saat Afifah berganti posisi duduk, kamera ponsel Afifah sekilas mengarah ke susu. Yuda yang melihat ada susu di atas meja, heran, karena setahunya, Afifah tak pernah minum susu sebelum tidur.
"Adek minum susu sebelum tidur?"
Afifah yang tak menyangka jika suaminya melihat ada susu di atas meja, sedikit gelagapan.
"I.. iya, mas. Tadi adek tiba-tiba pengen minum susu."
Sebenarnya Yuda masih penasaran, karena selama menikah, Afifah sangat jarang minum susu, karena tak begitu menyukainya. Mungkin sekarang Afifah sudah menyukai susu, Syukurlah.
BERSAMBUNG
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.