Menceritakan seorang pemuda bernama Darren yang kehidupannya tampak bahagia, namun terkadang menyedihkan dimana dia dibenci oleh ayah dan kakak-kakaknya karena sebuah pengakuan palsu dari seseorang.
Seseorang itu mengatakan bahwa dirinya sebagai pelaku atas kecelakaan yang menimpa ibunya dan neneknya
Namun bagi Darren hal itu tidak penting baginya. Dia tidak peduli akan kebencian ayah dan kakak-kakaknya. Bagi Darren, tanpa mereka dirinya masih bisa hidup bahagia. Dia memiliki apa yang telah menjadi tonggak kehidupannya.
Bagaimana kisah kehidupan Darren selanjutnya?
Yuk, baca saja kisahnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kini Darren sudah berada di ruang tengah. Dia tidak sendirian, melainkan bersama ayah dan keenam kakak-kakaknya.
Gilang dan Darka duduk di samping kanan dan kiri Darren. Keduanya menatap khawatir adiknya yang saat ini tengah melamun.
Bukan hanya Gilang dan Darka saja yang tampak khawatir terhadap Darren, melainkan ayah dan keempat kakak tertuanya juga menatap dirinya khawatir.
[Brengsek! Kau benar-benar brengsek, Riyo! Selama kau tinggal disini, aku tidak pernah bersikap buruk padamu walau aku tidak menyukai kehadiranmu di rumah ini]
[Aku memang marah atas keputusan ayahku yang membawamu tinggal disini dengan alasan membalas budi atas meninggalnya ayahmu karena menyelamatkan ayahku]
[Namun kau menggunakan kesempatan ini untuk membuatku tampak buruk di hadapan ayahku dan kakak-kakakku. Kau bertindak sesuka hatimu dengan selalu mencari masalah denganku hingga berakhir aku yang disalahkan]
Deg..
Erland dan keenam putranya terkejut mendengar ucapan isi hati Darren. Mereka menatap kearah Darren dengan air mata mengalir membasahi pipinya, terutama Erland dan keempat putra tertuanya.
"Sayang," lirih pelan Erland.
"Ren," lirih keempat kakak tertuanya.
Mereka semua menangis karena telah melakukan kesalahan terhadap Darren. Dan itu semua demi membela Riyo.
Darren memejamkan matanya. Dan detik itu juga tiba-tiba terlintas kejadian masa lalu dimana ibunya yang sedang berhadapan dengan Riyo. Dengan kata lain, ibunya dan Riyo sedang berdebat.
Darren kemudian membuka matanya. Dan detik itu juga, air matanya mengalir membasahi pipinya. Tatapan matanya memerah dan juga tajam. Tersirat kilat kemarahan disana.
Melihat Darren yang tiba-tiba menangis, ditambah tatapan mata Darren yang memerah membuat Erland dan keenam putranya tampak khawatir dan juga takut, apalagi ketika melihat tatapan tajam Darren yang menurut mereka tak biasa.
"Aakkhhh!"
Tiba-tiba Erland dan ketujuh putranya dikejutkan dengan suara teriakan dari arah dapur. Mereka semua langsung berdiri dan melihat kearah dapur.
Terlihat seorang pelayan wanita berlari menuju ruang tengah dengan wajah ketakutan.
"Tu-tuan!" pelayan wanita itu berucap gugup. Tubuhnya tampak bergetar.
"Ada apa?" tanya Erland.
"Itu... Itu Bibi Diah tiba-tiba pingsan di dapur. Dari mulutnya keluar busa."
Seketika Erland dan ketujuh putranya membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari pelayan wanita itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Davin.
"Kata Bibi Lani, Bibi Diah mengambil dua botol susu pisang milik tuan muda Darren yang hendak dibuang secara paksa. Ketika Bibi Lani menegurnya, Bibi Diah tidak peduli dan langsung meminum susu pisang itu langsung di hadapan Bibi Lani."
"Kenapa Bibi Diah bisa mengambil susu pisang itu padahal susu pisang itu harus dibuang?" tanya Davin lagi.
"Itu... Itu Bibi Lani menaruhnya di lantai. Dengan kata lain, Bibi Lani membuang susu-susu itu dengan membuang isinya satu persatu. Melihat apa yang dilakukan oleh Bibi Lani, Bibi Diah langsung mengambil dua botol susu pisang itu."
[Dasar bodoh. Kenapa tidak dihancurkan sekaligus dengan cara dibanting? Ini malah dibuang isinya satu persatu]
[Sial! Aku meminta Bibi Lani untuk membuang semua susu pisangku itu karena sudah disuntik sesuatu oleh Riyo karena ingin membunuhku. Apesnya, malah Bibi Diah yang menjadi korbannya]
Deg..
Erland dan keenam putranya membelalakkan matanya terkejut ketika mendengar ucapan isi hati Darren. Mereka melihat kearah Darren dengan ekspresi marah. Setelah itu, mereka saling memberikan tatapan masing-masing.
"Apa? Riyo menyuntikkan sesuatu ke dalam semua botol susu pisang Darren?"
Erland dan keenam putranya berucap di dalam hatinya. Mereka benar-benar terkejut mengetahui fakta tersebut.
"Jadi ini alasan kamu, Nak meminta Bi Lani untuk membuang semua susu pisang kesukaanmu itu?" batin Erland dengan tatapan matanya menatap kearah putra bungsunya itu.
"Brengsek kau, Riyo!" batin Davin dan Andra.
Sementara untuk kakak-kakak Darren yang lain mengepal kuat tangannya. Mereka tak terima apa yang telah dilakukan oleh Riyo.
"Jonathan!" Erland memanggil Jonathan kepercayaan keamanan rumahnya.
Detik kemudian..
"Iya, tuan!"
"Tolong kamu ke dapur. Periksa Bibi Diah!"
"Apa yang terjadi, tuan?"
"Bibi Diah keracunan."
"Buruan, Paman!" seru Darka.
"Ach, baiklah!"
Jonathan pun langsung pergi ke dapur, diikuti oleh pelayan tersebut.
Beberapa detik kemudian..
"Tuan!"
"Bagaimana?"
Jonathan langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Jadi, maksud kamu...."
"Bibi Diah sudah meninggal, tuan!"
Erland dan keenam putranya terkejut. Mereka tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
Sementara Darren, dia tampak marah saat ini. Terlihat kedua tangannya mengepal kuat.
"Perintahkan beberapa anggota kamu untuk menguburkan jenazah Bibi Diah di tempat pemakaman," ucap Erland.
"Baik, tuan!"
Ting..
Tong..
Ting..
Tong..
Seketika mereka dikejutkan dengan suara bell rumah.
Mendengar suara bell rumah berbunyi, Jonathan langsung berlari menuju ruang tamu.
"Ren, kita duduk ya!" Gilang berucap sembari membantu adiknya untuk duduk.
Darren melihat kearah kakaknya. Kemudian dia tersenyum.
"Kakak akan ambilkan kamu minum."
Setelah mengatakan itu, Darka langsung pergi ke dapur untuk mengambil minuman untuk adiknya.
Setelah kepergian Darka ke dapur, tiba-tiba terdengar suara beberapa orang.
"Selamat sore, Erland!" sapa ketujuh sahabat-sahabatnya sembari melangkah menuju ruang tengah.
Mendengar suara sapaan dari ketujuh sahabat-sahabatnya membuat Erland langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan putra-putranya, kecuali Darren.
Ketujuh sahabat-sahabatnya Erland sekaligus ayah dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren datang bersama istri dan putra-putranya.
^^^
Kini semuanya sudah duduk di sofa ruang tengah. Mereka berbincang-bincang dan mengobrol sejenak sebelum membahas apa yang akan mereka bahas dengan Darren.
Sementara Darren, dia sejak tadi memperhatikan interaksi ayahnya dan para ayah dari ketujuh sahabat-sahabatnya dan juga mendengar obrolan mereka tanpa ekspresi sama sekali. Bahkan sesekali tatapan mata Darren melihat kearah Satria, Rama dan Danar bergantian.
[Untuk apa kalian datang kemari jika ucapanku kemarin tidak kalian percayai]
Deg..
Semua orang yang ada di ruang tengah itu seketika terkejut ketika mendengar ucapan isi hati Darren. Yang paling terkejut adalah para orang tua dan para kakak dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren termasuk ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Aku bisa mendengar isi hati Darren," batin mereka masing-masing dengan tatapan matanya menatap kearah Darren.
[Tidak akan ada hasilnya sama sekali jika pada dasarnya kalian tetap pada keputusan yaitu memilih percaya dengan sahabat kalian itu]
Darren berucap di dalam hatinya dengan tatapan matanya menatap kearah Satria, Danar dan Rama bergantian.
[Sekali pun aku mengatakan yang sebenarnya, dari mana aku mengetahui tentang penandatanganan kontrak itu hingga berakhir aku meminta kalian untuk membatalkannya. Kemungkinan besar kalian semua tidak akan percaya. Secara kan aku ini anak pembunuh. Anak tidak tahu diri dan anak pembawa sial. So! Ngapain juga harus dipercayai setiap ucapannya]
Deg..
Mereka semua terkejut dan syok mendengar ucapan isi hati Darren yang menurut mereka begitu menyakitkan. Seketika hati mereka sakit dan perih, seolah-olah ada ribuan jarum menusuk hatinya.
Mereka semua diam dengan pikiran masing-masing, namun tatapan mata mereka menatap kearah Darren yang mana Darren juga tengah menatap mereka semua dengan diam.
"Apa tujuan kalian datang kemari?" Darren tiba-tiba bertanya.
"Maaf sebelumnya, Sayang!" seru Eric. "Kedatangan Paman dan yang lainnya kesini adalah untuk membahas masalah kamu yang tiba-tiba meminta ketiga kakak kamu yaitu Danar, Satria dan Rama untuk membatalkan penandatanganan kontrak itu." Eric berucap lembut.
"Iya, aku memang meminta mereka untuk membatalkan penandatanganan kontrak tersebut. Terus kenapa?" jawab dan tanya Darren dengan tatapan matanya menatap kearah Erick ayahnya Jerry.
"Tapi kenapa, Ren? Apa alasannya?" tanya Satria.
"Tidak ada alasan apapun. Aku meminta kalian untuk membatalkan penandatanganan kontrak itu karena aku mengetahuinya. Dan dari mana aku mengetahuinya, kalian tidak berhak untuk mengetahuinya."
"Satu hal lagi. Aku melakukan hal ini bukan untuk menghancurkan hubungan persahabatan kalian dengan sahabat kalian itu. Aku melakukan hal ini karena kalian sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri. Ayah kalian bersahabat dengan...." Darren seketika menghentikan ucapannya disertai dengan tatapan matanya menatap kearah ayahnya.
Sementara untuk Erland, seketika dia merasakan sesak di hatinya ketika melihat putra bungsunya yang tidak ingin menyebut kata ayahku untuknya.
Darren kembali menatap kearah Satria, Rama dan Danar. "Dan aku juga bersahabat dengan adik-adik kalian. Keluarga kita sudah sangat dekat layaknya keluarga kandung. Seharusnya kalian paham sampai disini."
Satria, Rama dan Danar hanya diam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren. Begitu anggota keluarganya.
"Keputusan ada di tangan kalian, ingin lanjut atau memilih percaya padaku. Yang jelas aku sudah mengingatkan kalian."
Darren langsung berdiri dari duduknya. Dia menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya itu.
"Alasan aku meminta kalian membatalkan penandatanganan kontrak tersebut adalah karena aku menyayangi kalian. Aku tidak ingin kalian menyesal nantinya setelah mengetahui alasanku meminta kalian untuk membatalkan penandatanganan kontrak itu."
Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi meninggalkan semua orang untuk menuju kamarnya di lantai dua.
Sementara keluarganya dan keluarga dari ketujuh sahabat-sahabatnya dan juga ketujuh sahabat-sahabatnya menatap kepergian Darren.
penasaran kelanjutannya
semangat
up lagi ya
kasian Darren
semangat trus kak