NovelToon NovelToon
Pesona Almira

Pesona Almira

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Nay Lissa

Almira merupakan abdi ndalem yang memiliki kepribadian ganda, kadang dirinya bersikap seperti preman karena dulunya di merupakan preman jalanan dan terkadang dia bersikap lemah lembut. Ia menikah dengan seorang Gus yang mana awalnya menjadi pembicaraan di keluarga suaminya karena Almira hidup sebatang kara. Dan Gus itu pun menerimanya hanya karena keterpaksaan dari orang tuanya. Bagaimana perjalanan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nay Lissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman

"Maafkan atas sikapku kepadamu kemarin." Ucap Almira tulus.

Di bawah pohon mangga sepasang insan duduk menikmati hembusan angin yang bersemilir.

" Sudahlah lupakan semua itu! Bagaimana keadaanmu sekarang?" Almira merasa aneh dengan sikap Agam.

"Baik."

Tidak ada pertengkaran di antara mereka, hanya suara daun yang berjatuhan akibat terjangan angin.

Apa yang terjadi dengannya? Tutur katanya lebih halus di bandingkan hari biasanya, batin Agam.

" Kamu nggak sakit kan?" Tanya Agam tiba-tiba sambil memegang kening wanita di sampingnya.

"Apaan sih!" Almira langsung menyingkirkan tangan Agam dari keningnya "Gue baik-baik saja." Jawabnya sewot.

"Syukurlah, aku kira kamu kemasukan jin di sini." Ucap Agam asal yang langsung mendapat hantaman tangan Almira di lengan kanannya.

Ternyata mereka masih sama, jika tidak ada pertengkaran di antara mereka pasti tidaklah seru. Namun kali ini sedikit berbeda, mereka bertengkar tanpa menunjukkan wajah kebencian.

"Teman?" Agam mengulurkan tangan persahabatan kepada istrinya itu.

"Teman??" Almira masih belum paham dengan perkataan suaminya itu.

" Mari kita berteman!" Ajak Agam tulus.

"Dengan satu syarat."

"Syarat?" Ternyata tak mudah mendapatkan pertemanan dari wanita disampingnya, padahal semua santri ingin berteman dengannya apalagi santri putri, mereka malah berlomba-lomba mencari perhatiannya.

" Kamu tidak boleh menghukumku seenak jidatmu lagi. Bagaimana?" Agam langsung mengangguk.

"Oke, teman." Almira menyebut uluran tangan dari pria yang telah menjadi suaminya itu.

"Hahaha... kamu beneran mau menjadi temanku?" Agam malak tertawa tak henti.

"Sialan! Jadi Lo cuman pura-pura?" Merasa di ermainkan Almira langsung pergi meninggalkan Agam sendirian.

Di tengah perjalanan, Almira masih menggerutu atas sikap Agam, dirinya hampir tertipu dengan pertemanan palsu yang di tawarkan pria itu kepadanya.

Mana mungkin dia mau berteman denganku.

"Dari mana neng?" Tanya Mbok Mi yang melihat Almira baru masuk dari pintu belakang pesantren.

" Biasalah mbok, dia lagi ketemuan sama masnya." Sahut Qila pellan yang langsung mendapat tatapan maut dari Almira.

Beruntung telinga Mbok Mi agak rewel jadi hanya Almira saja yang mendengarnya. "Lagi cari angin mbok. Ndalem sudah pulang mbok?" Tanya mengalihkan pembicaraan.

" Belum mbak."

Pagi ini memang mereka sangat santai apalagi jika ndalem pergi. Masak sudah selesai semua, baik masak untuk ndalem dan juga masak untuk para santri.

"Mbak minta lauk santri putra!" Seorang abdi ndalem putra menghampiri Qila.

" Ini!" Qila memberikan dua wadah besar yang berisi mie yang telah di olahnya tadi pagi.

Setelah mendapatkan lauk, abdi ndalem itupun pergi. Almira, Qila, dan Mbok Mi kembali ke pekerjaannya yaitu meratapi nasib mereka masing-masing di depan gudang pesantren.

" Qil! Pergi yuk!" Ajak Almira yang mulai boring.

"Ke mana? Sebentar lagi anak-anak pulang kos." Jawab Qila lembek.

"Iya juga sih."

Almira akhirnya memutuskan untuk pergi ke koperasi pesantren membantu Salwa dari pada di sini tidak memiliki kegiatan. Biarlah Qila dengan dunianya sendiri.

" Asal, beliin es krim dong!" Pinta Almira ketika melihat kotak es krim.

"Aku aja nahan beli es krim, kamu malah minta beliin." Ucap Salwa sedikit tidak jelas karena giginya sakit kebanyakan makan es krim.

" Sal! sebaiknya kamu istirahat di pondok aja, biar saya yang jagain koperasinya!" Almira tak tega melihat sahabatnya yang sakit masih saja jaga koperasi.

"Beneran kamu? Kan nggak tau harganya." Salwa sedikit ragu.

"Harga? ya udah kalau gitu kamu istirahat di sini aja, nanti kalau saya nggak tau harganya bisa langsung nanya kamu." Salwa hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Almira yang begitu enteng.

"Ya udah aku di sini, tapi kamu jangan berisik!" Pinta Salwa yang langsung rebahan di karpet yang sudah tersedia di koperasinya.

"Insya Allah." Almira membereskan barang yang berantakan sebelum ada pelanggan yang datang agar terlihat rapi.

"Assalamu'alaikum." Seorang pelanggan anak perempuan mengenakan seragam sekolah menghampirinya. Jika dilihat dari wajahnya, anak itu sekitar kelas dua SD

"Wa'alaikumussalam. Mau beli apa dek?" Tanyanya ramah.

" Nggak mau beli."

"Nggak mau beli? Lah terus?" Anak itu langsung mengambil pena dan kertas yang ada di etalase.

Almira semakin bingung, ia hanya diam dari pada menegurnya terus nangis malah membuat dirinya repot.

"Mbak aku pinjem dulu, nanti aku kembalikan." Almira hanya mengangguk.

Pandangannya terus mengikuti bocah itu uang lari keluar dan bertemu dengan seorang pria yang wajahnya tak jelas karena tertupi beberapa orang yang ada di depan koperasi.

Anak itu kembali lagi dengan membawa kertas dan pena milik koperasi dan menyerahkan kepada Almira.

"Ini apa dek?" Bocah itu malah langsung pergi tanpa menjawab.

Penasaran, Almira langsung membuka kertas yang di lipat menjadi empat itu. Di kertas itu tertulis kata 'Teman' .

"Teman? Apa maksudnya?" Almira keluar mencari pria yang bersama bocah perempuan tadi. Tapi sudah tidak di temukan ya.

Apa mungkin ini dari Agam?

Ia kembali mengingat tadi pagi ketika bersama Agam. Agam ingin menjadi temannya tapi itu hanya gurauan.

"Mbak mau beli?" Seorang ibu-ibu membuyarkan lamunannya.

"Eh iya Bu, silahkan!" Almira masuk mengikuti wanita itu.

Wanita itu memilih sendiri barang yang ingin di belinya lalu, setelah itu menyerahkan kepada Almira.

"Mbak biasanya kemana mbak?"

"Lagi sakit Buk, ini sudah totalnya Rp 22.000." Almira menyerahkan barangnya.

Jika hanya belanja sabun dan yang sudah ada harganya itu mudah, tidak usah mengganggu Salwa. Lalu seperti bros, pelembab, dan berbagai bedak lainnya barulah Almira tidak tahu harganya karena tidak pernah membelinya. Kulitnya sudah putih sejak lahir sehingga tidak perlu tambahan krim pemutih.

"Mbak beli polpen hitek warna biru." Satu per satu anak sekolah berdatangan masuk ke koperasi.

"Al, bilangin jangan berisik!" Salwa mulai terusik tidurnya.

"Harap tenang di sini ada orang sakit!" Ucap Almira, yang langsung mendapat respon dari mereka dan bertambah semakin ricuh.

"Diaammm!!!" Akhirnya Salwa angkat bicara sambil memegangi pipinya. Nggak mungkin kan giginya sakit terus megang gigi di depan orang, nanti malah dikira jorok.

Seketika mereka langsung diam, hanya bersuara berbisik-bisik. Almira sendir kaget baru kali ini melihat Salwa teriak dan ternyata suaranya mengalahkan Mila.

"Mbak ini harganya berapa?" Tanya Fika dengan sepekan mungkin membuat Almira ingin tertawa.

"Biasa aja dek yang penting nggak rame! Itu dua ribu." Setelah mebeli es krim Fika langsung pergi. Begitu juga dengan yang lainnya.

" Sal! bedak ini harganya berapa?" Tanya Almira pelan takut membuat gigi Salwa tambah sakit kalau teriak.

"Apa mareknya?"

" nggak tau." Terpaksa Salwa harus membuka matanya untuk melihat barang yang ada di tangan Almira "Itu 24 ribu."

"Rp 24.000 mbak."

Ternyata menjaga koperasi tidak semudah apa yang ia pikirkan. Harus menghafal harga dan juga barang-barangnua agar bisa menjawab jika di tanyai pembeli.

1
lizam libanon
apa sih maksud dari kata "Sedikit" di paragraf ini?
Abel Yasmin
good
Eva Sri Wahyuni
ngakak wkwk
Widya Aza
🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak ya allah
Widya Aza
🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak ya allah
Widya Aza
ngakak ya allah 🤣🤣🤣🤣🤭
Har Tini
lanjut tjor baru MMpir👍
Nurul nurul
kapan mp nya??
Nurul nurul
kok agak aneh,klo Agam ngajar pagi bukannya sebelum berangkat seharusnya Almira dibangunin dulu
Nurul nurul
othor dari Tuban kah,berarti kita tetanggaan,aq Tuban rengel
Nurul nurul
pondoknya wilayah mana??ada Tuban...ada Bojonegoro...apa pondoknya wilayah Widang?Lamongan?atau mbabat...kan di mbabat ada ponpes terkenal,pondok langitan
Nurul nurul
mentang² istrinya mantan preman mau dijadikan ketua keamanan😂😂ada² aja lu gam
Nurul nurul
"Adam i'm coming"😂
Nurul nurul
pondoknya critanya asal mana ya,kok ada daerah Tuban juga...btw aq juga dari Tuban ,wilayah kecamatan Rengel
Nurul nurul
bukannya klo rebus telur itu pas airnya masih dingin,kok itu dimasukin pas udah mendidih
Nurul nurul
Thor,pake bahasa indo yg jelas napa,ada bahasa getek segala,kan bisa pake galah...untung aq Jawa,klo luar Jawa kn aq ngk faham
osie
semangat thor...
Ummi Alfa
Ibu tirinya koq gitu sih! ndak mencerminkan istri Kyai.
Ummi Alfa
Bener kata si Mbah kalo mereka mirip ternyata memang adik kakak.
Rini Apriyanti
Mentang2 istrinya preman, mau dijadikan ketua keamanan 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!