Karin Emira Brisia adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang ceria. Namun di malam itu, hidupnya hancur seketika saat bertemu dengan CEO yang dingin.
CEO itu menyeretnya ke sebuah kamar dan mengambil sesuatu yang paling berharga darinya. Akhirnya, Karin di usir dari rumahnya sendiri dan melakukan kawin kontrak.
Ig : @reinata_r
Untuk readers tersayang
Jangan lupa boom like dan vote nya yah, dan masukkan ke list favorite kalian. Selalu beri dukungan buat author yah...
Gomawo chingu 💞💞💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diperiksa
°°°~Happy Reading guys.....
Setelah beberapa menit berlalu, Marcel pun mulai jengah menunggu Karin yang masih membisu dibelakangnya.
" Apa yang kamu lakukan sebenarnya sih...? ".
Dengan paksa, Marcel membalikkan badannya menghadap Karin tanpa permisi. Tak perduli apakah Karin sudah selesai atau masih setia dengan acara ganti bajunya.
" Resletingnya macet... " Jawab Karin, tangannya masih setia menjangkau resleting di belakang punggungnya yang masih saja ngambek.
Marcel mendekati Karin yang masih sibuk, tangannya hendak menyambar resleting itu namun tertahan saat Karin memalingkan punggungnya dari Marcel.
" Apa yang kamu lakukan... " Protes Karin.
" Apa kamu ingin mempertontonkan punggung jelekmu itu pada orang lain? "
Dengan terpaksa, Karin akhirnya berbalik. lebih baik meminta bantuan pada laki-laki itu dari pada punggung nya di lihat orang lain
Glekk....
Sepersekian detik laki-laki itu terpaku.
"sudah belum?" Karin nyerocos tak sabar, membuat Marcel berdecak kesal. tak sabaran sekali gadis itu.
" Tuh...., udah. " Ketus Marcel setelahnya.
Kemudian laki-laki itu pun mengintruksikan orang-orang yang telah menunggunya itu memasuki ruangan.
Reihan menjadi orang pertama yang memasuki kamar Karin, disusul seorang laki-laki dengan balutan jas putih berusia pertengahan abad di belakangnya.
" Selamat malam tuan Marcel, ada yang bisa saya bantu? " Tanya dokter itu ramah.
" Tadi dia terjatuh, cepat periksa pergelangan kakinya... " Ucap Marcel dengan nada dinginnya.
" Baik tuan "
Dokter pun mendekati Karin yang masih terduduk di atas ranjangnya, mulai memeriksa keadaan pergelangan kakinya yang sudah memerah dan mulai bengkak.
" Keadaan pergelangan kaki nona tidak terlalu parah, jadi saya hanya akan memberikannya obat pereda rasa nyeri dan membalutnya dengan perban agar melindungi kakinya dari cedera yang lebih parah" Lapor dokter.
Dokter itu pun segera mengoleskan sesuatu cairan yang agak kental ke pergelangan kaki Karin yang masih membengkak, kemudian membalutnya dengan perban yang sudah ia siapkan sebelumnya untuk berjaga-jaga.
" Sudah selesai tuan " Lapor dokter itu yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.
" Terima kasih dok... " Ucap Karin yang di balas dokter itu dengan senyuman.
" Untuk mempercepat penyembuhannya, nona tidak boleh melakukan aktivitas-aktivitas berat yang dapat membebani kaki anda, dan saat berbaring nona harus memberi bantalan penyangga pada kaki nona " Ucap dokter menjelaskan panjang lebar.
" Baik dok.... "
Dokter telah selesai memeriksa keadaan Karin, membuatnya harus segera enyah dari mansion itu dan kembali ke sangkarnya dengan diantar Reihan.
Hingga di ruangan itu hanya menyisakan Marcel dan Karin sebagai penghuninya. Tiba-tiba....
Kruuuk kruuuuk.....
Terdengar bunyi yang sangat nyaring berasal dari salah satu perut mereka, menandakan cacing-cacing di dalam perutnya sudah kehabisan stik makanannya.
Marcel mengedarkan pandangannya ke wajah Karin yang tampak menahan urat malunya.
" Kamu lapar? " tanya Marcel.
Karin hanya nyengir, mengembangkan senyum lebarnya sembari mengangguk ringan, tak kuat menahan urat malunya yang sudah sangat menonjol.
" Sial...., Wahai perut, kenapa kamu membuatku sangat malu.... " Batin Karin
" Pelayan.... " Panggil Marcel setengah berteriak, membuat beberapa pelayan di luar kamar Karin sigap mendatangi tuannya.
" Ada yang bisa saya bantu tuan? " Salah satu pelayan membuka suara.
" Buatkan bubur, lalu bawa kemari... " Perintah Marcel.
" Baik tuan "
Pelayan itu pun segera berhamburan keluar ruangan, segera menyiapkan bubur permintaan Marcel.
🍁🍁🍁
Reihan yang sudah berhasil mengantar dokter sampai muka mansion, akhirnya kembali ke kamar Karin yang kemungkinan besar masih menyimpan Marcel di dalamnya.
Reihan langsung memasuki kamar Karin, dan tebakannya benar bila Marcel masih berada di dalamnya. Selain itu,
Ada dua pelayan yang sedang menyajikan makanan untuk Karin.
Kedua pelayan itu menyiapkan meja kecil di atas ranjang Karin, sehingga Karin bisa dengan leluasa memakan makanannya dari atas ranjangnya dengan posisi duduk.
Kedua pelayan itu pun undur diri begitu menyelesaikan tugasnya.
" Makanlah... " Ucap Marcel.
Karin mulai menyendoki bubur yang tersaji di mangkuknya. Karena masih mengeluarkan kepulan asap, ia meniup ringan bubur itu sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya.
" Han, ikut aku... "
" Baik tuan... "
Marcel beranjak dari duduknya, kemudian melenggang keluar dari kamar itu diikuti Reihan.
Klantang......
Suara benda jatuh terdengar dari balik punggung Marcel, memaksanya menghentikan langkahnya yang sudah di ambang pintu keluar.
Marcel membalikkan badannya, dilihatnya Karin yang masih terduduk itu sedang memiringkan badannya ke bawah hingga mendekati lantai, tangannya berusaha meraih sendok buburnya yang entah kenapa bisa terjatuh di lantai.
" Apa yang kamu lakukan? " Tanya Marcel yang sudah berjongkok di bawah Karin dan memungut sendok yang belum sempat di raih tangan Karin.
" Maaf, tadi tanganku kram.... " Karin kembali menegakkan badannya, ingin merampas sendoknya dari Marcel.
" Ini sudah kotor "
" Han, suruh pelayan ambil sendok yang masih bersih. Dan kamu tunggulah aku di ruanganku... " Perintah Marcel.
" Baik tuan.... "
Sepeninggalan Reihan, seorang pelayan pun mengantarkan sendok ke kamar Karin dan langsung undur diri begitu berhasil menyerahkan sendok itu ke tangan Marcel.
__________
Hi readers tersayangkuhh....
Selalu dukung author yeeeee
love you, muachhhh....😘
tapi cba penulisan nya jangan kbnyakan nya 🙏🙏🙏