NovelToon NovelToon
Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Obsesi / Beda Usia / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:262.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: unchihah sanskeh

Damian yang mulai menutup diri setelah memilih pergi dari rumah. tiba-tiba mengetahui bahwa ayahnya telah “membeli” seorang pengantin untuk merawatnya. Gadis pengantin tersebut bernama Elia yang merupakan siswinya di sekolah. Elia muncul di depan pintunya, dan menyatakan bahwa Dia dikirim oleh ayah Damian untuk menjadi pengantinnya.

Elia terpaksa menerima takdirnya sebagai istri yang tak di inginkan oleh Damian, demi membantu orang tuanya yang memiliki hutang dengan keluarga Toma.

"Namaku adalah Elia. aku disini untuk menjadi pengantinmu." ~Elia

"Aku adalah Gurumu." ~Damian

Menjadi seorang pengantin 18 tahun untuk gurunya sendiri, apakah Elia mampu mencairkan jiwa gunung es suaminya?

ig : unchiha.sanskeh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebahagiaan di Sandaran

Aku duduk di depan beranda rumah, sambil menunggu kepulangan Elia. ada perasaan bimbang dan risau, karena aku khawatir pada hubungan kami sekarang. meski Elia mengatakan tak apa, tetapi aku memahami jauh di lubuk hatinya...

dia begitu terluka.

Ah, berulang kali ku pandangi langit jingga yang begitu merona, sebuah keharmonian alam yang sangat ku sukai. hujan yang turun sepanjang hari telah reda dan langit kembali cerah. burung-burung mulai terbang berebut posisi di kabel listrik. tetapi, hembusan angin yang memukul pepohonan yang penuh tetesan air membuat aroma hujan yang telah reda tetap bertahan sepanjang senja, seakan alam masih ingin menyegarkan diri lewat udaranya yang dingin dan basah.

sempat melamun beberapa kali, akhirnya Elia yang ku nantikan datang. dia begitu bercahaya, bahkan dari kejauhan, nampak samar-samar ku dapati senyumnya yang menyatu dengan suasana di lembayung senja.

"Kamu sudah pulang?!"

"Maaf, aku pulang terlalu sore Pak Damian. tadi Ummi menawariku untuk makan karamel susu dulu dan aku tidak enak kalau menolak, maaf ya pak!"

aku hanya bisa diam, diam mematung. padahal hanya berpisah setengah hari, tetapi rasanya kami telah berpisah untuk beberapa tahun dalam jarak beratus-ratus kilometer, sehingga rasa rinduku ini begitu memuncak, mendobrak-dobrak ingin di curahkan kepada pemiliknya.

"Pak Damian sudah makan?"

aku menggeleng.

"Tunggu sebentar, biar aku ganti pakaian dan buatkan sup pangsit kesukaan pak Damian, ya?!"

dia masuk dengan langkah tergesa-gesa sambil mengangkat kaki bergantian karena melepas sepatu.

sambil tersenyum simpul, Aku bergegas mengikutinya.

...****************...

Setelah selesai makan malam, Aku duduk di kursi makan, ku pandangi pula Elia yang berdiri di depan wastafel sedang mencuci piring. ingin sekali rasanya ku dekati tapi tak pula ku dapati keberanian.

Namun, akhirnya setelah melewati berbagai macam perdebatan batin, ku beranikan membuka mulut untuk menawarkan bantuan pada Elia.

"Apa ada yang bisa ku bantu Elia?"

dia menoleh, aku memandangnya dan dia pun memandangku, kedua mata kami saling bertemu. lalu dengan wajahnya yang teduh, kedua ujung bibir Elia melengkung ke atas membentuk senyuman.

"Tidak, sebentar lagi selesai. Pak Damian sudah mau menemaniku di dapur saja sudah menyenangkan aku, jadi semangat untuk bersih-bersih."

terpesona aku, senyumannya laksana panah Cupid yang terpanah tepat langsung ke jantung ku, membuatku jadi lemah tak berdaya karenanya.

"Aku sudah melihat nilai latihan mu tadi, nilai sejarah mu sudah naik sedikit." kataku kembali.

"Terima kasih, ini semua berkat pelajaran tambahan dan bahan ajar yang di berikan pak Damian."

"Nanti aku berikan lagi bahan ajar di mata pelajaran yang lain. tetapi Sepertinya hari ini istirahat saja dulu, lagi pula kamu sudah belajar bersama teman. kalau belajar terus hanya mendatangkan setres!"

Dia mengerucutkan bibirnya kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.

"Hmm.. baiklah Kalau begitu aku mau merapikan kasur agar kita bisa segera tidur."

dia mengibas-ngibaskan tangannya, agar cepat mengering, kemudian cepat-cepat berjalan menuju kamar.

namun tepat di depan muka pintu, ku hentikan dia. apapun yang ada dalam pikiranku saat itu, aku hanya ingin memperpendek jarak diantara kami yang terasa begitu jauh dan dingin.

"Elia?!"

"Apa kau baik-baik saja?" kataku seraya bangkit dari tempat duduk.

dia diam di depan pintu, ku perhatikan tangannya yang meremas bagian bawah pakaian tidur yang dia kenakan.

lantas setelah itu, dengan langkah pelan dan hati-hati ku peluk dia dari belakang dan ku lingkar kan tanganku di atas dadanya.

"Maaf..."

"Menyakitimu.. " kataku berbisik di telinganya.

"Pak Damian..."

"Aku.. "

"Tidak baik-baik saja!" ucapnya dengan suara pelan dan beruntun.

Aku hanya diam dan ku sandarkan kepalaku di bahunya, menggambarkan penyesalanku yang teramat dalam.

kemudian, ku raih kedua lengan atas Elia, sehingga tubuhnya berbalik menghadap ku.

sambil tersenyum, aku berkata; "Bunga itu. Kamu membuangnya tetapi kemudian kau putuskan untuk memungutnya lagi!"

lalu dia menaikkan kepalanya ke atas dengan mimik muka terkejut, "Pak Damian melihatnya?"

"Sudah ku katakan, aku selalu memperhatikan kamu."

kami saling melempar senyum dan hanyut dalam perasaan haru, ku benahi lagi rambut Elia yang sedikit berantakan, kemudian dia memelukku dan aku melingkarkan kedua tanganku pula di tubuhnya, kami pun kembali berpelukan.

"Jangan jauhi aku, Elia." kataku pelan.

...****************...

setelah merasa agak baikan, dan suasana hati kami jadi lebih tenang. aku dan Elia duduk berdua di beranda samping taman, menikmati panorama malam dengan bintang-bintang berlatar langit gelap.

sesekali dia menunjuk, ke arah langit. "Bintang itu paling terang!"

"bintang yang di sana sendirian!"

"Yang di sana itu, seperti rusa!"

Betapa syahdu nya, terlalu khidmat sampai kemudian tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di dadaku. membuat jantung ku berdebar hebat seperti mau copot.

"Ah, biar aku buatkan susu coklat panas dulu!"

katanya seraya berdiri, namun saat ku perhatikan tatapannya jadi sendu dan..

sambil memegangi kepalanya dia terjatuh kembali dalam pelukanku.

"Ka-kamu tidak apa-apa?" kataku sedikit gugup.

"Maaf, kepala ku sedikit pusing."

"Jangan memaksakan diri, aku tidak keberatan kalau kamu mau menyandar." timpal ku kembali sambil membuang muka, menyembunyikan wajahku yang nampaknya sedikit memerah karena terlalu gugup.

"Tetapi, Pak?"

"Kalau cuma sebentar saja tidak masalah, aku sanggup menunggu kamu menenangkan kepala, sebelum kita kembali ke kamar dan tidur."

dengan wajahnya yang berseri-seri, dia tersenyum sumringah. "Baiklah, sebentar saja!" katanya, kemudian menenggelamkan kepalanya kembali di dadaku.

Tenanglah Damian, masih belum waktunya. enam bulan lagi, enam bulan lagi. anggaplah sekarang kamu hanya tiang sandaran, hanya tiang. kataku dalam hati.

...****************...

Kemudian tak lama setelah itu, Elia kembali bangkit. dia mengangkat kepalanya dan memandangku begitu lembut.

"Berkat Pak Damian sekarang aku merasa jauh lebih baik."

Dasar! pembohongan yang begitu kolot. dia memuji ku seakan aku adalah dokter cinta yang mampu mengobati dan menghilangkan rasa sakitnya hanya dengan sebuah sandaran di dada.

tetapi, aku menyukainya...

"Aku buatkan Susu Coklat sebentar, ya! menikmati malam begini sangat cocok kalau sambil minum yang hangat-hangat." katanya.

Aku hanya diam, dan dia bangkit dari duduk kemudian berjalan kembali menuju dapur. Apa benar sudah mendingan?

baru aku mengalihkan pandangan, tetapi rupanya terdengar bunyi sesuatu yang jatuh berdekatan, tidak jauh dari beranda tempat aku dan Elia duduk.

"Hm?"

aku segera bangkit dan berlari menuju sumber suara, hingga akhirnya mataku terbelalak saat ku dapati Elia jatuh pingsan di depan kamar. segera ku hampiri dia dengan raut wajah cemas.

"Elia?"

"Elia?!"

"Bertahanlah,"

Sial, segera ku raih tubuh Elia dan ku gendong menuju kamar.

1
Siti Aisyah
Biasa
Siti Aisyah
Buruk
Yenni Ajah Lah
Lumayan
yuning
Luar biasa
yuning
Amanda cantik
yuning
novel nya bagus
yuning
mampir
lili
ayahnya Damian jahat bgt
lili
au aku manisnya kalian🥰🥰🥰
lili
aku marathon bacanya
lili
Amanda bener"ya ternyata picik dia
lili
suka"ceritanya
lili
Damian kamu hebat,bener"laki"sejati berani jujur dan tegas top dah. ..
lili
nekat bener Amanda TK tau malu padahal dah ditolak....damian
lili
wah suka dech pak Damian sudah mulai membuka diri semangat Damian...
lili
suka ceritanya
lili
suka karakter Elia ....
lili
ceritanya menarik
lili
melipir kesini.....
Ranie ELsya
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!