Menjadi pengantin yang tak direstui membuat Aiza dan Akhmar harus berperang dengan perasaan masing- masing meski sebenarnya saling cinta. Bahkan Akhmar bersikap dingin pada Aiza supaya Aiza menyerah dan mundur dari pernikahan, tapi Aiza malah melakukan sesuatu yang tak diduga. Membuat Akhmar menjadi takluk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sindiran Menantu
“Hei, lain kali, kalau pagi hari, kamu jangan mendekam saja di kamar. Kamu harus menyelsaikan pekerjaan dapur! Awas saja kalau suatu saat nanti kamu jadikan anakku ini pembantu yang harus melayani makanmu!” tegas Ismail.
Akhmar mengangkat wajah, menatap Ismail dengan tenang. Kata- kata Ismail benar- benar membuat nafsu makannya lenyap. Namun ia tetap terlihat rileks. Mengunyah nasi dengan santai.
“Asal kamu tau, perempuan itu dinikahi bukan untuk dijadikan pembantu. Perempuan dinikahi untuk dijadikan istri, yaitu pasangan hidup, bukan untuk dijadikan pembantu yang harus melayanimu." Ismail mengunyah nasi. Setelah menelan, ia meneguk air mineral. “Jadi bedakan antara status istri dan pembantu.”
Akhmar mendengarkan saja apa yang dikatakan mertuanya tanpa sedikit pun menyelanya.
"Kewajiban seorang suami itu mencari nafkah. Dan maksud nafkah di sini adalah di luar dari kewajiban yang tiga. Tiga hal yang wajib kamu penuhi untuk istrimu adalah menyediakan pakaian, tempat tinggal, juga makan untuk istrimu. Dan yang dimaksud makan adalah makanan matang, bukan bahan mentah dan kamu suruh istri memasak untuk dijadikan masakan matang, itu keliru. Jadi jangan beranggapan kalau kamu sudah memenuhi kewajiban mu itu sebelum kamu memenuhi tiga hal penting itu. Penuhi kebutuhan putriku di luar dari yang tiga hal itu. Berikan uang untuk keperluannya perawatan, bedak, tas dan lain sebagainya, ini di luar materi yang tiga perkara tadi." Ismail berbicara dengan intonasi tinggi.
Akhmar masih diam, mengunyah nasi dengan tenang.
"Jangan pula putriku kau jadikan pembantu, kau suruh masak, mencuci, mengepel, menyetrika baju, membereskan rumah, mengurus anak, dan semua kegiatan rumah tangga lainnya. Itu pekerjaan pembantu, jangan kau limpahkan pada putriku. Putriku hanya bertanggung jawab menjaga nama baikmu, menjaga hartamu, menyediakan minum untukmu, mentaati perintahmu pada kebaikan, melayani di atas ranjang, mengurus anak- anak, itu pun kalau ada," sambung Ismail. "Selebihnya, bukan tanggung jawab Aiza! Kalau kamu nggak mau mencari babu, maka jangan serahkan pekerjaan rumah pada istri. Kamu lakukan sendiri pekerjaan itu! baik mencuci baju, menyetrika, dan lain sebagainya."
"Makasih abah udah memberiku ilmu tentang ini." Pandangan Akhmar kemudian beralih ke wajah Qanita. "Umi, sejak kemarin aku nggak melihat pembantu di sini. Apakah umi mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri?"
Nah loh, kena skak. Perkataan Akhmar berhasil membuat mertuanya itu terdiam seribu bahasa.
Mendengar pertanyaan bernada sindiran itu, muka Ismail langsung memerah, salah tingkah diiringi emosi. Ia sedikit menunduk dan pura- pura menyendok nasi. Dasar mantu, beraninya melawan mertua dengan cara sindiran halus begini.
"Akhmar, kamu makan yang banyak ya, jangan sungkan. Ini kan rumah kamu juga sekarang, ambil lagi ikan pepesnya, enak kan? Itu masakan Aoza loh," ucap Qanita berusaha mengalihkan pembicaraan. Sejak tadi suaminya terus saja menyudutkan Akhmar, ia tidak ingin lagi mendengar pembicaraan yang dapat menyudutkan sepihak.
Akhmar langsung menaruh garpu di tangannya itu ke piring. Ia meneguk minum.
"Kok garpunya diletakkan? Ikannya masih ada, ayo lanjutkan!" Qanita menatap sepotong ikan pepes yang baru dicuil sedikit di piring Akhmar.
"Aku nggak bisa memakannya. Aku mencium aroma amis. Maaf." Akhmar bangkit berdiri meninggalkan meja makan.
Deg! Jantung Aiza seperti berhenti berdetak melihat ikan pepes ditinggalkan begitu saja. Padahal sejak tadi Akhmar terlihat lahap menyantap ikan itu, tidak ada protes apa pun mengenai ikan yang sudah dia nikmati, tapi kenapa mendadak nggak mau makan setelah Qanita mengatakan bahwa itu adalah ikan hasil masakan Aiza? Suer, Akhmar ngajakin perang.
Meski demikian, Aiza tetap menampilkan senyum. Keceriaan di wajahnya tidak memudar. "He heee... Apa Aiza lupa kasih jeruk nipis pas nyuci ikan tadi ya? Ya udahlah, nggak apa- apa. Jadi pengalaman."
Qanita tersenyum menatap senyuman putrinya.
Ismail cepat- cepat menyelesaikan makan.
Aiza menelan nasi dengan sulit, lehernya seperti tercekat. Ia pun menyudahi makan meski nasi di piringnya belum habis. Ia secepatnya menumpuk piring milik Akhmar di atas piring miliknya untuk menutupi sisa makanan di piringnya supaya Qanita tidak melihatnya.
Selera makan musnah. Ambyar seperti hati Aiza. Ia cepat- cepat membawa piring ke westafel dan mencucinya.
Tega banget Akhmar ngatain ikannya amis setelah tahu bahwa itu adalah hasil masakan Aiza. Akhmar sepertinya berbalik membenci Aiza, pria itu tidak lagi mencintai Aiza seperti dulu.
Aiza mengangkat sisa ikan pepes bekas Akhmar yang tidak habis tadi, lalu menciumnya. Tidak amis. Malah harum, aromanya lezat, bikin nafsu makan naik.
Fix, Akhmar sedang berusaha menyakiti Aiza doang.
Gemas, Aiza melempar ikan ke arah kucing di luar. Rejeki kucing.
***
Bersambung