Dira, Luna dan Nisa adalah tiga gadis yang bersahabat, mereka berteman sejak SMA.
Dira adalah seorang gadis yang bar-bar sering berantem dengan teman kampusnya. Tetapi dia gadis yang cukup mandiri walaupun terbilang dari keluarga yang berada.
Luna sejak kecil adalah anak yang paling memprihatinkan, dia tinggal bersama ibunya di rumah yang sangat sederhana, bahkan untuk mencukupi kebutuhannya ibunya harus berjualan makanan. Luna gadis yang pintar bisa masuk kampus terbaik di kota itu dengan bantuan beasiswa.
Nisa adalah gadis yang ceroboh, tukang makan, kalau bicara asal benar.
Buat Nisa yang penting ada makanan semua beres.
Arkan dan Elang siapa ya mereka????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Happy Reading ❤❤❤
Flashback
Dira sudah lama mengenal Elin, dia bertemu di jalan saat pulang kerja. Dira menolong Elin, saat Elin sedang di kejar oleh preman yang meminta uang.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Dira.
"Aku baik-baik saja! tetapi uang ku di ambil oleh mereka!" ucap Elin, dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah ikhlasin!" ucap Dira.
"Adik-adik ku makan apa! kenapa orang itu tega!" ucap Elin.
"Maksudnya?" tanya Dira.
Elin bercerita soal kehidupannya pada Dira, bahkan Dira juga di ajak ke panti itu. Semakin hari mereka semakin akrab, hingga pada suatu hari Elin bilang sangat benci dengan orang kaya karena masa lalunya. Itu alasan Dira menyembunyikan dia siapa, karena setau Elin, Dira hanya seorang pelayan cafe yang baik hati. Dira juga tidak pernah menceritakan kehidupannya pada Elin, takut menyinggung.
Dulu Elin adalah anak orang kaya yang di buang, demi harta mamahnya rela membuang Elin sejak berumur lima tahun, jadi dia masih mengingat kejadian itu, tetapi dia sudah lupa siapa orang tuanya.
###
Setelah Elin pergi berkerja, Dira menyusul Ibu Mia untuk melihat anak-anak. Mereka sudah semakin berkembang dan tambah pintar. Dira ikut bermain dengan anak-anak itu, bagi Dira sangat menyenangkan.
"Dira, kamu sudah makan?" tanya Ibu Mia.
"Sudah, bu!" jawab Dira singkat.
"Kamu tidak ingin makan bareng kita lagi?" tanya bu Mia.
"Boleh, bu!" ucap Dira sambil tersenyum.
Ibu Mia meminta Dira untuk menjaga anak-anak sebentar, karena akan menyiapkan makan siang untuk mereka semua. Setelah selesai ibu Mia memanggil Dira dan anak-anak, lalu mereka makan bersama. Selesai makan Dira berpamitan untuk pergi ke kampus.
####
Luna, Nisa dan Elang sedang duduk-duduk di taman kampus.
"Dira hari ini kemana ya?" tanya Nisa.
"Iya, dari tadi tidak kelihatan! mungkin sibuk!" ucap Luna.
"Aku yang rumahnya dekat saja tidak tau!" sahut Elang
"Kakak ganteng, kan dekat rumahnya sama Dira! kenapa tidak berangkat bareng?" tanya Nisa.
"Dira mana mau!" jawab Elang singkat.
"Kalau aku jadi Dira, sudah aku suruh antar jemput!" sahut Luna.
"Boleh, besok pagi aku jemput kamu, Luna!" ucap Elang, dia benar-benar akan menjemput Luna.
"Tidak, Elang! aku hanya bercanda!" jelas Luna.
"Aku juga mau, kakak ganteng!" ucap Nisa, melihat ke arah Elang.
"Kalian ribut apaan sih?" tanya Dira, yang tiba-tiba datang.
"Ini dia yang kita cari!" ucap Luna.
"Mereka rebutan aku, Dira!" ucap Elang, dengan pd nya.
"Kaya tidak ada yang lain, kalian rebutan Elang!" ucap Dira.
"Nyatanya kalian pada tidak punya pacar!" sahut Elang, tidak terima dengan ucapan Dira.
"Kita cari yang setia, putih, ganteng, mapan setidaknya seperti Pak.... ucapan Luna terpotong, dia tidak melanjutkan ucapannya.
"Pak... Siapa Luna?" tanya Dira.
"Luna suka sama bapak-bapak! hahaha.... Elang menertawakan Luna.
"Aku tau!" ucap Nisa, Luna langsung membungkam mulut Nisa dengan tangannya.
"Kalian malah tertawa!" ucap Luna, lalu mengambil tas yang di taruh di sampingnya.
"Mau kemana, Luna?" tanya Dira.
"Kantin!" jawab Luna singkat.
Mereka semua mengikuti Luna ke kantin, sekarang Nisa juga sudah tidak memesan makanan banyak karena takut sakit perut lagi.
"Aku sekarang sudah tidak kerja!" ucap Dira, tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Luna dan Nisa secara bersamaan, kalau Elang biasa jadi pendengar setia mereka bertiga.
"Papah sudah tidak mengizinkan aku kerja!" ucap Dira.
"Lagian orang tua punya usaha juga tidak di bantuin, malah kerja di tempat orang!" omel Elang.
"Sok tau, Elang!" sahut Dira.
"Namanya juga tidak mau jadi beban orang tua!" sahut Luna.
"Kakak ganteng, kenapa tidak berkerja juga?" tanya Nisa.
"Kalau sudah lulus, aku kerja!" jawab Elang.
"Aku pulang duluan!" pamit Dira.
"Kita belum selesai makan, Dira!" ucap Luna.
"Dira, makanan kamu buat aku, ya!" kata Nisa.
Dira hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka, yang sedang makan di kantin.
***
Di depan kampus Dira sedang menunggu angkot, tetapi tak kunjung datang. Ada sebuah mobil yang berhenti di depan nya, siapa lagi kalau bukan pak Arkan.
"Dira, mau kemana?" tanya Arkan.
"Pulang!" jawab Dira, singkat.
"Bareng, yuk!" ajak Arkan
"Boleh, tetapi turunin di depan rumah!" ucap Dira.
Arkan mengangguk lalu, membukakan pintu mobil untuk Dira. Dari kejauhan Luna, Nisa dan Elang melihat Dira pulang bareng pak Arkan.
"Aku tidak salah lihat kan?" tanya Nisa.
"Kamu lihat apa?" tanya Luna.
"Dira masuk mobil pak Arkan!" ucap Nisa.
"Ayo, kita ikuti!" ucap Elang.
"Ikut?" tanya Luna.
"Kakak ganteng, mau ikuti mereka?" tanya Nisa.
"Tidak, maksud ku ayo kita pulang!" ucap Elang, dengan gugup. Padahal dia sangat penasaran akan pergi kemana mereka? ngapain? dan lain-lain, itu yang saat ini sedang Elang pikirkan.
Di perjalanan Arkan mendapat telepon dari orang kantor, meminta Arkan agar segera datang ke kantor.
Setelah sampai di kantor Arkan mengajak Dira untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Dira, kamu tunggu di sini sebentar!" ucap Arkan.
"Jangan lama-lama kak!" ucap Dira.
"Iya!" ucap Arkan, lalu pergi ke ruangan lain di mana orang yang mencarinya berada.
Wanita cantik berwajah bule masuk ke dalam ruangan Arkan, dia adalah Laura sekertaris Arkan di kantor.
"Anda siapa? kenapa di ruangan pak Arkan?" tanya Laura.
"Dira!" ucap Dira.
"O... aku kira kekasihnya!" ucap Laura, sinis.
"Kalau iya, kenapa?" kata Dira, melihat ke arah wanita bule itu.
"Cantik sekali wanita ini, aku ngaku kekasih kak Arkan aja, biar dia cemburu," ucap Dira dalam hati.
"Kenapa, melihat ku seperti itu?" tanya Laura.
"Aku tidak melihatmu, aku lihat itu!" tunjuk Dira, kebetulan di belakang Laura berdiri ada sebuah jendela dan nampak ada seseorang sedang lewat.
Kemudian Laura pergi begitu saja, dia hanya mengambil berkas di meja Arkan.
"Lama sekali kak Arkan!" gerutu Dira, lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
Laura memberikan berkas yang dia ambil ke Arkan.
"Pak, kenapa kekasih bapak tidak di ajak kesini?" tanya Laura, sambil memberikan berkas tadi ke Arkan.
"Kekasih?" tanya Arkan, bingung.
"Itu yang ada di ruangan bapak!" ucap Laura.
"Kalau saya ajak, nanti bikin tidak konsentrasi!" ucap Arkan.
Arkan mulai menjelaskan tentang pekerjaannya, dengan cepat agar dia bisa cepat pulang. Beruntung mereka sudah paham berkerja dengan Arkan. Setelah selesai dia kembali ke ruangannya.
"Ayo kita pulang, Dira!" ajak Arkan.
"Kakak, lama sekali!" ucap Dira.
"Ini sudah cepat, baru juga tiga puluh menit!" kata Arkan.
Sebelum sampai di rumah Arkan mengajak Dira untuk makan di cafe. Saat sedang makan Dira melihat Elin lalu Dira ingin menyapa Elin, tetapi dia ingat sesuatu sehingga tidak jadi.
...❤❤❤❤...
baik benar jadi teman❣️❣️❣️❣️
masih z suka menyalahkan orang lain 🙄🙄🙄🙄