Dijebak oleh kakak tiri dengan seorang pemuda pada malam ulang tahun teman. Siapa sangka, orang yang satu kamar dengan dia ternyata seorang tuan muda yang paling berpengaruh di kota itu.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? Ikuti terus kelanjutan kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Merlin terlihat memikirkan apa yang Dicky ucapkan barusan. Hatinya membenarkan dan ingin sekali menyetujui apa yang Dicky tawarkan padanya saat ini. Meski sebenarnya ... ada rasa kecewa yang entah mengapa bisa muncul di sana.
"Apakah hubungan pertemanan tidak akan saling merugikan, Dicky? Karena dalam hubungan pertemanan, tidak akan ada yang namanya dimanfaatkan."
Dicky terdiam. Matanya menatap lekat wajah Merlin. Perlahan, dia coba untuk mencerna setiap kata yang Merlin ucapkan barusan.
Kata itu terdengar seperti sindiran halus buatnya. Sindiran yang mungkin hanya bisa dirasa oleh orang yang benar-benar peka akan sebuah ungkapan hati seseorang saja.
Dicky mengukir senyum kecil di sudut bibirnya.
"Aku janji tidak akan, Lin. Tidak akan ada kata dimanfaatkan untuk hubungan pertemanan yang akan kita jalani kelak."
"Kalau pun ada yang merasa dimanfaatkan, itu hasil dari kesepakatan yang sama-sama kita setuju."
"Maksud kamu?"
Dicky menarik napas panjang. Lalu melepaskan napas itu dengan berat. Dia alihkan pandangan matanya dari Merlin yang berada di hadapannya saat ini.
"Sebelumnya, aku minta maaf. Aku yakin, kamu pasti memikirkan alasan dibalik pernikahan yang kita lakukan, bukan? Karena pada kenyataannya, diantara kita berdua, tidak terjadi apapun malam itu. Kita juga tidak dekat, tidak saling kenal malahan. Meski satu sekolah, tapi kita tidak satu kelas."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin bilang, aku memang memanfaatkan kamu dengan cara mengajak kamu menikah. Aku menjadikan kamu istriku karena ingin lepas dari wanita yang mamaku pilih untuk aku nikahi. Aku tidak suka dengan jodoh pilihan mama. Gadis itu terlalu ... sulit untuk aku jelaskan. Yang jelas, kita menikah karena saling ingin memanfaatkan."
"Aku .... "
"Sudah, tidak perlu membahas soal itu lagi. Setidaknya, kita sama-sama tahu, kalau kita sama-sama membutuhkan."
"Bukan membutuhkan. Tapi saling memanfaatkan."
"Anggap saja saling membutuhkan. Karena aku butuh pertolonganmu untuk lepas dari perjodohan yang mamaku buat. Sedangkan kamu, butuh pertolonganku untuk lepas dari keluargamu yang ... yah, sepertinya aku tidak pantas mengucapkan kata-kata buruk itu."
Merlin tertunduk. Perasaan malu tiba-tiba menyusup masuk ke dalam hatinya saat Dicky mengatakan soal keluarga. Bagaimana tidak? Jika ingat akan keluarga, maka dia ingat lagi dengan sikap serakah yang papanya lakukan. Menjual dirinya dengan harga dua puluh milyar pada keluarga Prasetya. Benar-benar tidak punya malu.
Seakan tau apa yang Merlin rasakan. Dicky langsung berusaha mencairkan suasana yang sedang kaku akibat kata-kata yang tidak sengaja dia ucapkan tadi.
Namun, belum sempat Dicky berucap, Merlin sudah duluan mengucapkan kata-kata.
"Maaf Dicky. Soal ulah keluargaku pada keluarga kalian, aku akan berusaha membayar apa yang telah papaku ambil padamu dengan cara menyicil. Untuk itu, izinkan aku bekerja agar aku bisa menghasilkan uang."
"Apa? Bekerja? Menghasilkan uang? Kamu yang benar saja, Lin."
"Kenapa? Aku akan bekerja untuk mendapat uang. Tolong jangan hina atau buli aku lagi. Meski gaji yang akan aku dapatkan tidak seberapa, tapi setidaknya, aku tidak akan jadi beban buat kamu nantinya."
Dicky tersenyum. "Ya Tuhan ... aku tidak akan hina kamu, apalagi buli kamu, Merlin. Aku hanya tidak percaya dengan apa yang kamu ucapkan barusan. Kamu ingin bekerja? Apa kamu lupa, kalau kamu itu seorang siswa, bukan mahasiswa."
"Kenapa kalau aku siswa? Apa ada yang salah dengan niat aku ingin bekerja?"
"Tidak ada yang salah. Hanya saja, kerja apa yang bisa kamu lakukan? Juga ... bagaimana kamu bisa membagi waktumu untuk belajar dan bekerja. Ya tuhan ... yang benar saja."
Merlin terdiam. Kata-kata yang Dicky ucapkan tidak mampu ia jawab sekarang. Karena memang, dia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu.
"Sudahlah, Merlin. Kamu belajar saja yang fokus. Kejar cita-citamu. Jangan pikir soal uang atau materi yang lainnya. Karena semua itu, aku yang akan menanggungnya mulai dari sekarang. Bagaimanapun, kamu adalah istriku. Istri itu tanggung jawab suami."
"Cih ... bicaramu seperti pak ustad saja."
"Biarlah. Karena aku masih ingat kata-kata yang pak penghulu ucapkan sebelum menikahkan kita."
"Ah, sudah-sudah. Jangan bahas soal itu lagi, Dicky," ucap Merlin dengan wajah merona.
"Kenapa? Apa ada yang salah?"
"Tentu saja ada. Mereka pikir, kita benar-benar menikah seperti pasangan pada umunya. Mereka tidak tahu, kita menikah hanya sebatas .... "
Ketukan di pintu menahan ucapan Merlin. Perhatian keduanya langsung teralihkan pada pintu tersebut.
"Biar aku saja yang buka."
"Tidak perlu, biar aku saja. Kamu siap-siap, karena kita akan berangkat sebentar lagi."
Dicky lalu beranjak menuju pintu. Sedangkan Merlin, dia masih diam di tempatnya berada, sambil Melihat Dicky berjalan menuju pintu masuk apartemen tersebut.
Dicky kembali dengan Hero yang mengikuti dirinya dari belakang. Di tangan Hero terdapat sebuah kantong yang entah apa isinya.
"Kamu belum bersiap-siap? Kita akan berangkat sekarang. Hero sudah datang."
"Apa yang harus aku siap-siapkan? Aku tidak punya apapun di sini."
"Oh iya, lupa."
"Hero, berikan padanya."
Tanpa menjawab ucapan Dicky dengan kata-kata, Hero langsung menyerahkan kantong plastik yang ada di tangannya.
"Ini, nona muda."
"Apa ini?" tanya Merlin sambil menerima kantong itu dengan wajah penasaran.
"Lihat saja."
"Maaf jika itu tidak cocok buat kamu. Setidaknya, kamu bisa pakai itu sebelum kita berangkat ke mall sebentar lagi," ucap Dicky yang langsung menjawab apa yang Merlin tanyakan pada Hero.
Merlin membuka kantong tersebut. Ternyata, isinya adalah set peralatan kecantikan. Ada bedak, lipstik, dan macam-macam peralatan yang lainnya.
Ketika melihat isi dari kantong tersebut, Merlin tertegun untuk beberapa saat. Lalu kemudian, dia mengangkat wajahnya untuk melihat Dicky dan Hero secara bergantian.
"Ada apa, nona? Apa ada yang salah?"
"Kenapa, Lin? Apa itu terlalu murahan. Maaf, aku yang meminta Hero membelikan itu di kedai terdekat yang bisa ia temui. Jika memang tidak cocok, tidak usah dipakai. Hero bisa pergi lagi untuk beli yang baru di lain tempat. Tapi ... kita akan kesiangan sampai ke mall. Karena aku yakin, kamu tidak mungkin keluar tanpa memakai bedak atau peralatan kosmetik yang lainnya, bukan?" Dicky berucap panjang lebar menjelaskan.
"Benar, Nona muda. Saya bisa pergi lagi sekarang juga. Nona hanya perlu mengatakan ke mana saya harus membeli dan apa yang harus saya beli. Saya jamin, semua yang nona inginkan akan saya dapatkan tanpa ada kurang satupun."
Merlin tersenyum menanggapi ucapan kedua laki-laki yang ada dihadapannya saat ini. Mereka berdua seperti sedang membujuk atau berusaha menyenangkan hati seorang putri saja. Hal yang sama sekali tidak ia butuhkan sebenarnya.
"Kenapa senyum, Lin? Adakah yang lucu?"
"Ada."
"Apa?"
"Kalian berdua."
"Kenapa memangnya?"
"Karena kalian terlihat sedang ketakutan," ucap Merlin sambil beranjak meninggalkan keduanya.
nikah muda ny
dpt jodoh putri cengeng lagi 😁😁😁
siapa dia...
wlu pun kau serang nyonya,
tapi kau terlalu Egois, ingin ter lalu mengatur hidup nak mu
picik sekali pemikiran mu
toh yg buat kepurltusan dan bunuh diri kan adek mu sendiri.
tich dicky blom nogmong ke adk mu.
kenapa hrs dicky yg di salah kan atas kematian ny .
uang 20 M, gak ada apa2 ny buat mereka...
ah..awaq wong misqin iki 100 rebu sdh sangat berarti 😁😁😁
klu hdp Meelyn bakal sengsara
dasar emak sana anak sama aja.
sama2 gak tau diri
ini lg papa Merlyn kok bisa nuta y mata hati ny, pada anak kandung Sendiri
target ny salah sasaran ..😀😀😀
malah bunuh diri 😱