Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Meninggal.
...~•Happy Reading•~...
...°~Sebulan kemudian~°...
Ambar baru saja tiba di restoran, sudah berganti pakaian dan mulai bekerja seperti biasanya. Merapikan dan menata ruang makan restoran. Setelah semuanya rapi, Ambar mengambil ponsel untuk menghubungi Seni. Dia biasa menanyakan kondisi rumah dan terutama Juha.
Namun Ambar sangat terkejut melihat ada banyak panggilan tidak terjawab dari Seni. Dia segera menghubungi Seni.
"Hallo Seni, ada apa? Tadi Ibu sedang bekerja, jadi ponsel ada di dalam tas." Ambar menjelaskan dengan hati cemas dan was-was.
"Syukur, Ibu sudah telpon. Bapak sakit, Bu. Sekarang ada di Rumah Sakit.... Karna Ibu ngga bisa dihubungi, saya minta tolong tetangga dan mereka antar ke sini." Seni sedang panik, berusaha menjelaskan dan menyebut nama rumah sakit.
"Sekarang Ibu ke sana. Apa Juha ada bersamamu?" Ambar ingat putranya.
"Iyaa, Bu. Saya dan Juha ada di Rumah Sakit." Jawab Seni.
"Baik, tunggu Ibu di situ.." Ambar segera mengakhiri pembicaraan, lalu menuju ke ruang kerja Sari untuk minta izin pulang.
Setelah mendapat ijin, Ambar mengganti pakaian seragam dan langsung pesan ojol dari restoran ke Rumah Sakit. Walaupun sangat jauh, dia tidak mau pesan mobil. Karena khawatir macet dan lama sampai di Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan, hati Ambar was-was. Apa yang sedang terjadi? 'Selama ini Mas Rulof sehat-sehat saja, karena dari kantor ada chek up rutin. Apa aku lalai dan sudah mengabaikan dia?' Ambar membatin dengan khawatir.
Ketika tiba di Rumah Sakit, Ambar disambut pelukan dan tangisan Juha. Ambar memeluk dan mengelus punggung putranya untuk menenangkan
Seni menceritakan apa yang terjadi, lalu menunjuk Pak Tony tetangganya yang bantu mengantarkan.
Ambar melihat Pak Tony dan istri ada dalam ruang tunggu. Dia segera mendekati mereka dan mengucapkan terima kasih. Bu Tony, menguatkan Ambar dengan mengelus lengannya.
"Ibu, ini dompet bapak. Tadi Pak Tony sudah pakai kartunya untuk mendaftar. Nanti Ibu urus selanjutnya." Seni menjelaskan. Ambar menerima dompet dari tangan Seni.
"Baik, Seni. T'rima kasih. Tolong pegang Juha, Ibu mau mengurus sisanya." Ambar pamit kepada Pak Tony dan istri, lalu meninggalkan mereka.
Ambar teringat Inge, kakak Rulof. Dia langsung kirim pesan kepada Inge. Tidak lama kemudian, Inge menelpon.
"Ada apa dengan Rulof dan kenapa dia bisa sakit?" Tanya Inge terkejut.
"Kalau Kak Inge mau tau lebih jelas, datang saja ke Rumah Sakit. Karena sekarang saya mau urus administrasi." Ambar segera mengakhiri pembicaraan, karena ada hal yang lebih penting yang harus diselesaikan.
Ketika membuka dompet Rulof untuk mengambil kartu identitasnya, Ambar terkejut. Di dalam dompetnya hanya ada ktp, kartu asn yang masih baru dan beberapa lembar uang Rp. 50.000,- dan Rp. 100.000,-.
Ambar kembali mendekati Seni untuk berbicara dengannya. "Seni, tidak ada ATM dalam dompet bapak?" Tanya Ambar pelan. Seni mengeleng.
"Baiklah, kalau begitu. Tolong jaga Juha, ya." Ambar kembali berjalan ke bagian administrasi. Ambar segera mengurus administrasi Rulof, dan kembali ke ruang tunggu.
Setelah sampai di ruang tunggu, sudah ada Inge dan suaminya. "Apa yang kau lakukan kepada adik saya? Kau sengaja tidak mengurusnya bukan?" Tanya Inge, sambil mengoyang tubuh Ambar.
"Tante Inge, lepaskan Mama Juha. Nanti Mama Juha sakiiit." Juha berteriak, sambil menangis dan menarik tangan Inge. Melihat putranya menangis, Ambar menepis tangan Inge dengan kasar dari lengannya lalu memeluk putranya.
"Kak Inge, seharusnya berdoa untuk kesembuhan Mas Rulof yang lagi kritis, bukan bikin ribut di tempat ini." Ambar, mulai emosi melihat kelakuan Inge. Padahal Rulof sedang kritis di ICU.
Ambar mengajak Seni dan Juha keluar ruangan.
"Seni, kau pulang ke rumah dengan Juha, dan simpan semua yang penting dari kamar saya di kamarmu. Kunci mobil juga kau simpan di tempatmu." Ambar berkata serius. Seni mengangguk mengerti.
"Baik, Bu. Saya dan Juha naik ojek saja di depan Rumah Sakit biar cepat sampai rumah." Ambar mengangguk mengiyakan.
"Ok, hati-hati." Ambar mengelus lengan Seni dan mencium pipi Juha.
Tadi Ambar sudah berbicara dengan dokter tentang kondisi Rulof. Jadi ketika melihat sikap Inge, Ambar jadi khawatir. Oleh sebab itu, dia minta Seni pulang ke rumah untuk mengamankan barang-barang Rulof.
Pak Tony dan istrinya yang hendak pulang, tidak jadi pulang saat melihat sikap ipar Ambar padanya. Mereka tidak tega meninggalkan Ambar sendiri bersama iparnya. Mereka khawatir, jika Ambar ditinggal sendiri akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Ambar.
Ambar yang sudah kembali masuk ke ruang tunggu, langsung mendekati Bu Tony dan duduk di sampingnya. Sebab dia sudah melihat tatapan tidak suka Inge dan suami kepadanya.
Beberapa saat kemudian keluarga pasien Rulof Kardasa dipanggil dan diberitahukan bahwa Rulof sudah meninggal. Ambar langsung jatuh terduduk di lantai. Ibu Tony mengangkat dan memeluknya dan mengelus punggungnya.
Sedangkan Inge menangis histeris sambil memukul tembok. Ketika dilarang oleh security, dia duduk di lantai sambil menangis dan memukul dada suaminya yang mencoba menenangkan.
Pak Tony dan istri membantu Ambar untuk mengurus jenasah Rulof. "Pak Tony dan Ibu, tolong bantu saya, ya. Nanti semua ini selesai saya akan menyelesaikan dengan bapak." Bisik Ambar pelan kepada pasangan suami istri, sambil menahan rasa sedih dan malu.
"Iyaa, Bu Ambar. Nanti baru kita bicarakan, kami akan bantu." Pak Tony dan istri coba menenangkan Ambar.
"T'rima kasih, Pak." Ambar berkata sambil berurai air mata. kemudian menghubungi Seni.
"Seni, bapak sudah ngga ada. Tolong bersihkan rumah, ya. Jenasahnya akan dibawa pulang ke rumah. Jangan katakan apa-apa kepada Juha."
"Minta tolong Pak Syam keluarkan mobil bapak dan titip di halaman rumahnya, ya. Sedangkan kuncinya Seni simpan." Ambar coba kuat dan konsentrasi walau air mata membanjiri pipinya.
"Baik, Bu." Jawab Seni singkat.
Kemudian Ambar menghubungi pihak Gereja untuk memberi tahukan kematian Rulof.
"Baik, Bu Ambar. Kami turut berduka cita. Nanti kami kirim peti ke Rumah Sakit." Ucap pihak Gereja.
Ambar memberitahukan berita duka juga kepada kantor Rulof. Tidak lama kemudian pihak Gereja datang ke Rumah Sakit dan membantu Pak Tony untuk mengurus proses kepulangan Jenasah ke rumah.
Ambar masih shock, atas meninggalnya Rulof. Sehingga dia tidak bisa berpikir dengan baik, untuk mengatur segala sesuatu. Dia terus bersama Ibu Tony, karena Inge terus mengamuk.
Yang sangat mendukakan hati Ambar adalah karena ada rasa bersalah di hatinya. Karena belakangan ini, dia telah mengabaikan Rulof sebagai suaminya.
Setelah semua proses administrasi dan pembersihan jenasah telah selesai, mereka membawa pulang jenasah Alm. kerumah diiringi tangisan tertahan yang memilukan dari Ambar.
Saat tiba di rumah, kursi tenda sudah ada. Semuanya disiapkan oleh pihak Rt/Rw, karena Pak Tony sudah memberitahukan pihak Rt/Rw. Sehingga mereka bantu menyiapkan tenda, kursi, dll.
Ketika peti jenazah di bawa masuk ke dalam rumah, Juha menangis menjerit memanggil Papanya. Semua yang mengantar ikut menangis melihat dan mendengar tangisan Juha. Terutama Ambar, dia memeluk putranya dengan erat sambil menangis.
Sedangkan Inge duduk di lantai dan menangis menjerit sambil memanggil nama Rulof. Suaminya tidak bisa menenangkan, karena dia balik memukul suaminya.
Inge tidak bisa didiamkan, karena seperti orang yang kehilangan akal. Dia makin histeris ketika melihat jenazah Rulof di dalam peti.
...~●○♡○●~...