Ayunindya, gadis yang hanya bekerja sebagai pembantu di keluarga Wiliam. Kecantikannya mampu membuat anak dari majikannya itu jatuh hati padanya. Tapi sayang, keluarga Wiliam yang menjunjung tinggi nama baiknya membuat Affandra Wiliam mengubur rasa cintanya.
Hingga akhirnya, Affandra dijodohkan dan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Namun, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dipernikahannya. Affandra kecewa dengan sang istri.
Aileen, istri dari Affandra telah menanam kebencian untuk suaminya. Dirinya yang tak lagi suci membuat Affandra kecewa, tepat di malam pengantinnya.
Malam pengantin yang harusnya berakhir bahagia pada Affandra tapi nyatanya tidak, hingga ia mabuk berniat melupakan semuanya. Karena pengaruh alkohol ia malah melakukan keselahan, di mana ia malah menghabiskan malam pertamanya dengan Nindya, pembantu yang ia cintai sejak dulu.
Lalu, bagaimana dengan kisah rumah tangganya?
Akankah Affandra tanggung jawab pada Ayunindya gadis yang ia rampas mahkotanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Ibu dan anak itu kembali masuk ke rumahnya.
"Nisa sama Panji kemana, Bu?" tanya Nindya sembari merangkul lengan sang ibu.
"Main di rumah tetangga, suamimu sudah berangkat?"
"Iya, dia ke kantornya."
"Apa dia akan kembali?"
Nindya menggelengkan kepala, dan wajahnya terlihat sendu.
"Kamu kenapa? Bukan cuma kamu yang menjadi istrinya, ingat pesan Ibu ya? Selama suamimu tidak menghubungimu, kamu jangan menghubunginya lebih dulu. Ibu takut kamu ada masalah dengan tuan Wiliam."
"Iya, Bu. Aku tahu itu."
Nindya sadar akan hidupnya sekarang, ia hanya istri kedua. Walau bagaimana pun Aileen yang lebih berhak, selagi pernikahan mereka masih berlangsung ia tak akan berani untuk mendekati suaminya sendiri. Tapi ia percaya pada suaminya, ia akan menunggu dengan sabar hingga waktunya tiba.
"Bu, apa Ibu menerima pernikahan ini?"
"Selagi kamu bahagia, Ibu dukung. Tapi ingat satu hal, jangan membuat masalah. Biarkan suamimu menyelesaikan urusannya dengan istrinya."
* * *
Andra sudah berada di kantor cabang, di perusahaan itu memang sedang ada kendala. Semua barang gagal ekspor, dan ia belum tahu apa penyebabnya. Kini ia sedang menunggu pekerjanya datang untuk memberikan laporan akibat gagalnya barang yang sudah di packing.
Hingga kemudian, staff datang membawa file laporan di packing.
Andra nampak serius membaca dan mengamati. Ada beberapa barang rijek yang lolos ke bagian packing, dan itu ditemukan oleh buyer saat pengecekan pics bye pics.
Andra menghela napas, barang rijek tentu akan berakibat patal untuk ke depanya. Bisa-bisa, buyer mencabut semua barang yang akan diproduksi di perusahaan garment yang masih terbilang baru itu.
"Roy, selidiki kenapa barang rijek sampai lolos ke bagian packing?" suruh Andra.
"Baik, Tuan."
Andra merasa ada yang tidak beres di sini. Padahal, semua barang dicek satu persatu. Bahkan sebelum barang masuk ke bagian packing, para QC pun sudah mengeceknya. Ia rasa ada yang mencoba mensabotase semua barangnya.
Lalu, Andra meminta satu pics barang yang rijek. Ia mengecek sendiri bagian mana yang rijek.
"Roy, lihatlah. Bukankah ini jejak gunting?" Andra memperlihatkan produksi berupa baju itu kepada Roy. "Ini bukan rijek bahan, Roy."
Roy pun melihatnya dengan teliti.
"QC produksi suruh kumpul semua di ruang meeting," kata Andra pada salah satu pegawai di sana.
"Baik, Tuan." Staff itu pun undur diri dari hadapan atasannya.
Tak lama dari situ, Wiliam sudah sampai bersama menantunya. Semua para karyawan menunduk dan memberi hormat pada atasannya. Dengan gagah, pria paruh baya itu berjalan memasuki area kantor. Meski sudah berumur, wajah tampannya masih terlihat. Wajah sang anak pun mewarisinya.
Hingga akhirnya, mereka sampai di ruangan di mana Andra berada di sana.
"Daddy." Ucap Andra seraya bangkit dari duduknya.
Lalu, Aileen menghampiri Andra. Wanita itu langsung mencium pipi suaminya tanpa segan, bahkan di hadapan Wiliam pun ia berani memberikan ciuman singkat di bibir suaminya.
Mendapatakan ciuman itu, tentu Andra tak menyukainya. Ia paling tidak suka dengan wanita yang terlalu agresif, meski wanita itu adalah istrinya sendiri.
Wajah kesal Andra nampak terlihat di mata Wiliam.
"Ada apa? Apa ada masalah di kantor ini?" pertanyaan itu lolos dari Wiliam, karena ia begitu penasaran dengan mimik wajah anaknya.
"Iya, Dad. Barang yang diproduksi gagal ekspor, aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi." Baru kali ini perusahaannya mengalaminya, bahkan perusahaan lama adem-adem saja tanpa masalah. Tapi kenapa, perusahaan baru netas ini malah mengalami kendala yang menurutnya sangat beresiko bagi karyawan di sana.
"Lalu bagaimana solusinya?" tanya Wiliam.
"Kita harus memberikan bukti pada buyer, aku rasa ini bukan kelalayan karyawan, Dad. Ini pasti ada yang sengaja menjelekkan nama perusahaan kita."
Memang banyak saingan di dalam bisnis ini, kalau tidak hati-hati, perusahaan akan cepat gulung tikar. Padahal, niat Andra membuka cabang perusahaan di daerah sana ingin memakmurkan warga di sana.
Disaat pusing seperti ini, Andra lebih pusing dengan sikap istrinya yang selalu menempel seperti perangko. Ia begitu sulit untuk bergerak, karena istrinya itu duduk di sebelahnya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Pintu ruangan Andra diketuk oleh seseorang.
"Masuk," sahut Roy yang masih setia berada di sana.
"Permisi, Pak. Semua QC sudah berkumpul di ruang meeting," kata staff memberitahukan itu pada atasannya.
"Iya, sebentar lagi saya akan kesana," jawab Andra.
"Dad, aku meeting dulu sebentar," pamit Andra pada Wiliam.
"Iya," jawab Wiliam.
"Aku ikut," kata Aileen.
"Aku mau meeting, Ai. Bukan jalan-jalan, tunggu saja dengan Daddy di sini," kata Andra yang sedikit kesal dengan tingkah laku istrinya itu.
Mau tak mau, wanita itu pun menurut. Ia menunggu bersama Wiliam.
* * *
Perjalanan menuju ruang meeting.
"Tidak ada yang lucu!" cetus Andra pada Roy. Ia yakin kalau pria itu tengah menertawakannya.
Seketika, Roy membungkam mulutnya. Menurutnya seram juga saat melihat ekspresi bosnya yang sedang kesal pada istrinya.
"Nona Ai-," ucap Roy menggantung.
"Jangan membahasnya, ada yang lebih penting darinya," kesal Andra.
"Baiklah, aku tidak akan membahasnya." Roy mengunci mulutnya rapat-rapat.
Andra dan Roy pun sampai di ruang meeting. Para QC dan atasan yang lainnya sudah berkumpul di sana. Andra mulai membahas topik permasalahan. Panjang lebar ia membahas itu, hingga ia meminta pada karyawannya untuk terus berhati-hati dalam mengecek barang produksi. Bos mana pun akan marah jika pekerjaannya dalam masalah.
Andra sedikit murka di sana, 50 persen ia marah pada karyawannya karena kesalahannya. Tapi ia juga tak menyalahkan keselahan itu sepenuhnya. Namun, ia tetap akan mencari sumber masalah itu. Hingga akhirnya, rapat selesai.
Andra kembali ke ruangannya, setibanya di sana, ia tak melihat keberadaan Wiliam. Hanya sosok Aileen yang terlihat di sana. Ketika pintu terbuka, wanita itu yang tadinya sedang memainkan ponselnya pun menoleh. Ia menghentikan aktivitasnya yang sedang asyik dengan benda pipihnya.
Aileen berdiri lalu menghampiri suaminya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Sayang ..." Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di pundak Andra.
Andra mencoba melepaskan tangan itu. Tapi, wanita itu tak melepaskannya begitu saja. Justru malah memeluknya dengan erat.
"Ai ... Ini kantor, tolong jaga sikapmu! Tidak enak kalau sampai ada yang melihat."
"Kenapa mesti malu? Kita 'kan suami istri. Wajar kalau kita seperti ini." Ucapnya seraya mengendus wajah Andra.
Apa yang diucapkan Andra itu benar. Saat Aileen bergelayut manja di tubuhnya, seseorang masuk ke dalam ruangannya bahkan tak mengetuk pintu terlebih dulu.
"Maaf, Tuan. Saya kira tidak sedang ..." Orang itu tak memanjutkan kata-katanya, ia malah langsung kembali keluar.
"Katanya tidak cinta, tapi malah diam saja saat mendapatkan perlakuan seperti itu darinya." Orang itu merutuk bosnya sendiri, siapa lagi kalau bukan Roy. Mantan mafia sejati tanpa tahu bagaimana rasanya bercinta.
...----------------...
Mampir di sini yuk sebelum nunggu aku up.
tapi kadang juga merupakan firasat
Ketika papanya Dewi akan berangkat kerja...
Dia mengatakan " Titip Dewi...jaga baik-baik karena akan pergi jauh"....
itulah perkataan terakhir yang ternyata merupakan suatu firasat....
Nandya punya sikap dan pribadi yang baik...dia dapat menahan perasaannya ketika bertemu dengan Doni ,ayahnya Dewi....
Padahal Nandya sejak Hanum masih hidup dia greget bangeet dengan Doni suaminya Hanum
Tapi karena ada ibunya Doni yang sudah tua...jadi Nandya menahan perasaan itu agar tidak marah kepada Doni....
Nandya menghormati keberadaan ibunya Doni , neneknya Dewi
jadi ketika Akhsa bertanya kepada Dewi ,Apakah dia ( Nathan)sudah mengungkapkan perasaannya kepadamu?"
Jawaban Dewi terhadap pertanyaan Akhsa membuktikan bahwa Nathan tidak berkhianat kepada Akhsa...
Memang kalo sudah jodoh tak kan kemana.
di dunia nyata dan dunia narasi....
pasti hatinya sedih ...
sbb tak ada seorang ibupun yg mau berpisah dg anak yg tlh dilahirkan...
Sabar ya Aileen....masa itu akan datang
Masa dimana kau akan bertemu dengan anak yg tlh kau lahirkan
Morano kalo imitasi gimana bisa pake lebel mas murni.
rongsokan ya berkumpul dengan bardol atuh kang morano. jangan marah dibilang murahan kalo memang di obral.
barang orie mana di obral, di segel kali.
sayang aku telat baca nya ya thoor