NovelToon NovelToon
Miracle Of Wish

Miracle Of Wish

Status: tamat
Genre:Action / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Pusaka Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Tamat
Popularitas:324.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Nabila Hana

Nadira hanyalah gadis yang diberi kesempatan hidup dengan menjadi wadah reinkarnasi. Dia ingin terhindar dari berbagai masalah, tetapi kehidupan Hana membawanya terjun mendalami masalah-masalah melebihi ekspetasinya.

Demi menjaga kedamaian bumi, Nadira menerima bibit kekuatan Hana. Diikuti dengan rasa penasarannya sejak remaja, Nadira mencoba mencari benang merah pada masalah Hana dan dirinya sendiri.


---Twins Knight's Series---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabila Hana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

[S1] 20. Mission Impossible

INI di mana?

"Huhu ...." Aku terlonjak kaget. Suara yang amat familier denganku menggema. Tidak ada sosok siapa pun, hanya ruang kosong tanpa ujung.

Tiba-tiba seorang anak kecil dan satu orang dewasa muncul di seberangku. Anak kecil itu terjatuh, menangis keras. Orang dewasa tersebut hanya memeluknya. Itu cara ibuku menenangkanku.

"Nadira ... Nadira ... ibu merindukanmu." Aku gemetar. Tidak perlu diragukan lagi, itu benar-benar suara milik ibuku. Genangan air dalam mata memaksa keluar, tetapi otak tidak setuju. Aku hanya menutup mata, takut dengan sosoknya yang bisa saja tiba-tiba muncul.

Ini hanya rasa takutku! Lawan, Dira! Lawan!

"Ugh." Refleks aku membuka mata ketika suatu benda tajam menusuk bagian bahu kiriku.

"Kamu lengah," ucap Hana, tidak itu Naira. Benarkah?

Orang di hadapanku berparas serupa dengan Hana, tetapi auranya amat berbeda. Tidak. Mungkin memang benar dia Naira. Karena memang hanya ada kami.

Aku mencabut sebilah pisau yang menancap pada bagian tubuhku. Melemparnya dengan perhitungan tepat. Namun, Naira berhasil menahannya dengan tanaman kacang hijau yang tumbuh lebat. Entah mengapa setelahnya aku tidak bisa berdiri dengan benar. Terlebih lagi sesuatu seakan telah *** erat jantung.

"Kamu bodoh, memang itulah dirimu, 'kan? Pisau itu sudah kulapisi dengan tanaman beracun. Untuk beberapa saat kamu tidak bisa bergerak, jadi biarkan aku membuatmu mati dengan perlahan dan tenang, Dira," ucap Naira. Aku memberontak, tetapi benar apa yang diucapkannya. Tubuhku mati rasa, tidak satu pun bagian tangan dan kaki yang mampu kugerakan.

Langkah Naira semakin dekat, hidupku digenggam olehnya. Aku hanya bisa pasrah ketika pedang panjang dengan ujung yang tajam muncul secara perlahan dari tangannya. Wajarlah jika aku merasa gemetar menghadapi ambang-ambang antara hidup dan mati.

Hanya dengan sekali tebas, aku bisa saja mati. Melihat kembali pedang yang tengah dia ayunkan di atas membuat aku semakin takut. Amanat Hana harus aku jalankan terlebih dahulu. Demi bumi, demi keluargaku dan demi semua orang yang berhasil menopang tubuhku hingga sekarang.

Aku tidak boleh mati sekarang!

"Benar kamu tidak boleh mati sekarang, Dira." Entahlah sejak kapan ada sosok kecil yang berdiri di hadapanku. Kedua tangan mungilnya mengeluarkan sinar abu-abu dan membatasi serangan Naira.

"Vi ... Vivian?" Dia tidak sedikit pun menoleh, tetapi aku bisa lihat wajah Naira yang amat marah.

"Ini bukan waktunya hura-hura. Di sini aku akan menuntun kamu untuk melawan Naira! Lawan semua rasa takutmu itu, Dira. Sekarang pikirkan saja tanaman sirih yang merambat ke tanganmu!" ucap Vivian. Peri kecil itu kembali mempertebal dinding keamanannya. Naira tidak berhenti, dia melepas pedang dan menghujani dinding keamanan dengan serangan lainnya hingga retak.

Mengingat jenis dan bentuk daun merupakan pelajaran dasar IPA di SD dan SMP, tetapi aku jarang menyimak. Jika otak semacam penyimpanan pada komputer, maka aku lupa di mana aku menyimpan berkasnya di mana. Terlalu tercecer dan tidak diberi nama. Lalu sekarang aku harus bagaimana?

Pertaganan Vivian semakin retak sejak aku mencari tahu bentuk daun sirih. Hanya perlu beberapa kali serangan lagi pertahanannya hancur. Ayo sirih, keluarlah!

Tumbuhan rambat mengikat pergelanganku. Ada sebuah energi mengalir di dalamnya. Ada pula energi yang menyedot sesuatu dalam tubuh. Namun, aku jadi bisa menggerakkan kembali seluruh anggota tubuhku.

"Vivian aku berhasil!" ucapku senang.

Prang!

Tepat seketika pertahanan Vivian hancur dan dia berhasil menghindar. Lalu Naira kembali menyerangku dengan belati. Secepat kilat aku menumbuhkan batang pohon sebagai tameng.

"Dira, aku yakin kemampuan itu juga ada padamu. Flize. Kamu cukup menggerakan bunga-bunga pada Naira. Itu cukup untuk melumpuhkannya!" ucap Vivian. Aku mengangguk. Segera aku menrentangkan tangan dan membiarkan batang pohon tersebut hancur berkeping-keping.

Flize. Banyak bunga yang berkeliaran dalam benakku, mengalir dan muncul dari telapak tangan. Aku arahkan kedua tanganku tepat pada Naira. Dia mencoba menghindar, tetapi tidak bertahan lama. Bunga-bunga itu berterbangan di segala arah.

"Hentikan ini! Lepaskan aku Nadira! Jika tidak aku akan membunuhmu!" ancam Naira padaku.

Vivian mendekatiku. "Dira, kamu harus menggunakan kemampuanku untuk menarik kembali kekuatan Hana yang ada pada Naira."

"Tapi bagaimana caranya?"

"Sangat mudah," ucapnya, "kamu cukup menyentuh tangannya dan mengucap ruthlies!"

Aku mengangguk lalu mendekati Naira. Wajahnya begitu tegang saat aku berdiri di hadapannya. Berulang kali dia ucapkan 'jangan!', 'aku akan membunuhmu', atau bahkan 'aku akan membuatmu menderita'. Aku mengembuskan napas, mengatur degup jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya.

"Maafkan aku, Nai. Ini demi kebaikan seluruh umat manusia. Biarkan aku menggenggam tanganmu, ya? Dengar, aku ingin berterima kasih padamu. Walau saat ini kita berdiri di garis yang berbeda, kamu pernah jadi sahabatku.

"Demina tidak pernah paham jalan pemikiranku tentang cerita novel yang aku baca. Hanya kamu yang bisa kuajak berbagi cerita. Terima kasih karena kamu pernah mengisi hariku," ucapku padanya. Naira memalingkan mukanya, tetapi aku bisa liat ada air mata yang keluar dari matanya.

"Lakukan," bisiknya pelan

"Eh?" Aku terbelalak. Genggaman tangan kami semakin erat.

"Lakukan saja sekarang, Dira. Bebaskan aku dari belenggu ini. Aku ingin bebas dari kekuatan jahat yang mengekangku!"

Aku menutup mata, kembali mengatur napas lalu kembali menatapnya. Dengan nada agak bergetar aku mengucap. "Ruthlies!"

Tangan yang saling bergenggaman menjadi jalan pembuka untuk kekuatan yang masuk. Terlalu banyak kekuatan mengalir deras dalam tubuhku. Vivian menyadarinya, dia menyentuh pundak kananku. Cahaya hijau menenangkan mengalir dari tangannya.

"Dira, meski aku kalah. Kamu belum bisa keluar dari sini ...." Aku membelalak. Makin menggenggam erat tangan Naira yang entah mengapa semakin lama semakin pudar.

Vivian menghampiriku, menyentuh pundak dan memeluknya. Dia tahu ukurannya tidak mungkin bisa memelukku seperti orang biasanya, tetapi pelukan itu mampu menenangkan hati. Naira menghilang, meninggalkan kami dan air mataku menyambut kepergiannya.

"Dira ...." Aku menoleh pada Vivian, dia pula melirikku dengan heran. Bukan Vivian yang memanggilku. Lalu aku menengok ke belakang.

Hana, ayah, ibu, Demina dan seluruh keluargaku berdiri di sana. Apa maksudnya ini? Vivian mencengkeram bahuku, agak menggelitik dengan ukuran tangannya yang kecil.

"Jangan percaya, ini ruang ketakutan. Mereka hanya akan menarik kamu jatuh ke dalam," ucap Vivian kubalas dengan gelengan. Aku refleks berdiri dan berbalik menghampiri mereka.

"Kamu saja ada, kenapa mereka tidak?" balasku.

"Dengar," kilahnya cepat, "itu karena kamu bertarung dalam pikiran dan aku hinggap di dalam pikiranmu. Sedangkan mereka ... mereka sudah tiada, Dira. Kamu paham maksud aku, 'kan?"

"Bagaimana aku tidak paham?" Aku berlari sambil menggerakkan tangan untuk memunculkan tanaman-tanaman di bawah mereka.

Vivian nampak terkejut. Secepat kilat dia menghampiriku dan duduk di atas bahu. "Kamu ...."

"Aku tahu mereka tidak asli, Vivian. Ini yang dimaksud Naira padaku. Pertanyaannya sampai berapa lama kita harus melawannya?" Vivian menggeleng, dia hanya menutup matanya. Aku mengembuskan napas kembali menebas satu per satu imajiner itu.

"Tubuhmu dalam kondisi gawat jika kamu tidak keluar dari sini. Aku tidak mampu membantumu. Kamu harus segera keluar."

Aku berhenti menebas, tubuhku ambruk. Semakin mendekati mereka, tenagaku habis terkuras.

Aku berucap lirih, "ini tidak akan berhasil."

1
ethaloona
ya ampun 😳
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
Evelyne
gw baru mulai baca setelah bolak balik liat daftar buku disini... tiba2 gw tertarik dengan judul nya dan memutuskan membaca... dari prolog nya gw suka.. gw selalu suka pembukaan cerita yang seperti ini... tak perlu perkenalan di awal cerita karena bagi gw.. semua akan tau sejalan dengan semakin dalam nya kita terus membaca dan itu selalu bikin penasaran... kadang penulis pemula tidak menyadari itu.. gw harap cerita ini akan bagus... cuusss kita lanjut baca guys...
misaka
Keren :')
talita school work
kesel bgt sama nadira gatau kenapa 😭😭 plin plan bgt
queen
nggak paham ceritanya
Heliza Kartika Sari992
hoo
BlueMoon🔵
8 November, sama seperti tanggal ulang tahunku.
NamikazeHana: Wah, sama kayak Nadira dong
total 1 replies
Arjun Sodikin
👍
Priska Anita
Like dari Rona Cinta sudah mendarat disini 💜
onyourm__ark
jadi dia—Nadira—ga mati? cm pura-pura? uhh twt
Ran: izin promosi ya kakak" sekalian😌🙏

klik profil ku yuk untuk tau ada cerita apa disitu 👆👁️👄👁️👆

kalau mau feedback boleh kok 🙂

makasih dah mampir yaw 🙏😊
total 1 replies
onyourm__ark
kerah lengan seragamnya ya hmm:v

btw, ini POV-ny ada ketuker-tuker wkwqk
Azmos: Numpang promosi author baik💌

"Gimana jika kamu memiliki sebuah mata yang dapat melihat hati dan pikiran orang lain?"

Ayo mampir ke karya aku ya"Red eye"👀
Tinggal klik profil aku👆
Makasih author🙏🙏
total 1 replies
kiki
Alhamdulillah, paket utk belajar online.wkwk
Adji Kusuma
Nadira: Motivasi hidupmu apa sih?
Radja: Kalimat terakhir kamu kalau mati?
Bizar: gimana jadinya kalau kemampuan kamu di bidang teknologi tiba-tiba hilang?

QnA 😉
Hilmi Hilmi
QnA GA MoW

1. Nadira : Kalau Hana bisa jadi anggota keluargamu, kira-kira kamu anggap kakak atau adik?
2. Radja : Kalau dari kepintaran, Bizar menang, apakah dari ketampanan kamu bisa mengalahkannya?
3. Bizar : Kamu gak ada kriteria cewek idaman sama sekali? :v
embun kiayina
QnA Miracle of Wish



nadira;alasan terbesarmu sanggup menjalani hidup?, Radja;utk apa sebenarnya tujuan utama kekuatanmu?, bizar;apa kamu bisa menciptakan robot yg peka utk jadi kekasihku?
QEILA DE
QnA giveaway 😁😋

Nadira : Kenapa kamu belum mati juga?
Radja : Apa yang akan kami lakukan jika Nadira mati?
Bizar : Apa ada alat untuk menghidupkan Nadira kembali jika dia mati?
QEILA DE: QnA Giveaway wkwk.
Nadira:Knpa kamu blom mati juga?
Radja:Apa yg akan kamu lakukan jika Nadira mati?
Bizar:Apa ada alat utk menghidupkan Nadira kembali jika dia mati?
total 1 replies
readers
QnA

#MiracleofWish #NamikazeHana

1.Nadira : Bagimu Hana itu apa?
2.Radja : Alasan terbesar kamu tidak mau menjalin hubungan percintaan dengan Nadira?
3.Bizar : Penyebab kamu menyukai teknologi?
kiki
QnA

1. Nadira : Apa yang alasan terbesarmu untuk tetap bertahan hidup?

2. Radja : Apa hal paling menarik dari Nadira untukmu?

3. Bizar : Apa yang kamu pikirkan saat melihat Nadira dan Radja tampak bermesraan?
Arinimase
lanjooottt
NamikazeHana: Karena udah beda genre bukan Fantasi Teen lagi, jadi Fantasi Romance. :"

Di MT harus stabil. Jadi aku putuskan buat memisahkan kedua seasonnya. Tapi nanti ada beberapa part ekstra kok. ^^
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!