NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012: Helikopter di Tempat Parkir

Terlalu tenang.

Kalimat itu menempel di kepala Kiara sepanjang perjalanan keluar dari restoran Senopati.

Di belakang mereka, Vania masih sibuk mengatur grup donasi. Riko berdiri di samping mobilnya, sengaja berbicara keras tentang nominal awal yang akan ia transfer. Dimas tertawa sambil berkata, "Yang penting ikhlas, ya. Jangan memaksakan diri."

Matanya tetap mencari Arga.

Arga tidak menoleh.

Ia berjalan di sisi Kiara, tangan masuk saku jaket, wajahnya sama datar seperti ketika ia menandatangani perjanjian perceraian. Kiara justru semakin gelisah. Ia sudah cukup sering melihat wajah itu untuk tahu: semakin tenang Arga, semakin sedikit orang lain paham apa yang sedang terjadi.

"Kamu tidak perlu menanggapi mereka," kata Kiara pelan.

"Aku tahu."

"Mereka cuma ingin mempermalukanmu."

"Aku tahu."

Kiara berhenti. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu tetap setenang ini?"

Arga menatap area parkir restoran.

"Karena mereka belum selesai bicara."

Sebelum Kiara memahami maksudnya, suara dari langit turun seperti tekanan besar yang menggulung udara.

Wup-wup-wup-wup.

Angin kencang menyapu halaman parkir. Daun-daun kecil berputar. Beberapa tamu restoran menjerit dan menutup rambut. Petugas valet berlari ke tepi jalan sambil memberi isyarat panik.

Sebuah helikopter hitam turun perlahan ke lahan kosong di samping restoran, tempat yang biasanya dipakai parkir tambahan. Lampu sorotnya menebas aspal. Suara baling-baling membuat percakapan semua orang hilang.

"Astaga," Vania berteriak sambil menahan gaunnya. "Siapa yang datang?"

Riko langsung mengangkat ponsel. "Pasti pejabat."

Dimas, yang tadi paling banyak tertawa, mundur dua langkah.

Helikopter itu mendarat dengan presisi. Tidak ada logo mencolok, hanya tanda kecil Cakra Capital di dekat pintu. Dua petugas keamanan turun lebih dulu, lalu seorang perempuan muda berpakaian formal membawa map hitam berjalan cepat melewati angin.

Ia melewati Vania, Riko, dan pemilik restoran tanpa melambat, lalu langsung menuju Arga. Kiara merasakan dadanya tertahan.

Di depan semua orang, perempuan itu menunduk sopan.

"Pak Arga, maaf mengganggu. Cakra Capital membutuhkan tanda tangan Anda sekarang."

Parkiran itu mendadak lebih sunyi daripada ruang sidang.

Vania menurunkan ponsel setengah inci.

"Pak... Arga?"

Riko menatap map hitam itu seolah map tersebut bisa menggigitnya.

Kiara menoleh ke Arga.

Cakra Capital.

Nama itu lagi.

Arga menerima pulpen dari asisten itu. "Halaman mana?"

"Halaman empat dan halaman terakhir, Pak. Persetujuan perubahan jadwal closing."

Arga membuka map di kap mobil terdekat. Ia membaca cepat, menandatangani dua halaman, lalu menutup map.

"Dinda tahu ini terlalu dramatis?"

Asisten itu menahan ekspresi. "Bu Dinda yang menginstruksikan rute penjemputan, Pak."

Arga menghela napas pendek.

Kiara hampir menangkap nada geli di sana.

Asisten itu mengambil map. "Terima kasih, Pak. Kami langsung kembali ke Menara Cakra."

Arga mengangguk.

Helikopter itu tidak membawa Arga pergi. Ia hanya datang, menurunkan dokumen, mengambil tanda tangan, lalu bersiap terbang lagi.

Justru karena itu, efeknya lebih besar.

Seolah bagi Cakra Capital, menurunkan helikopter ke restoran hanya untuk dua tanda tangan adalah urusan biasa.

Petugas keamanan restoran akhirnya berlari mendekat bersama manajer.

"Maaf, ini area parkir privat, kami harus..."

Asisten Cakra menyerahkan satu lembar izin sementara dan koordinasi pendaratan darurat komersial yang sudah dicap oleh pengelola lahan sebelah. Semuanya rapi. Jam, titik koordinat, durasi pendaratan, nama operator penerbangan.

Manajer restoran membaca kertas itu, lalu wajahnya berubah dari marah menjadi bingung.

"Oh. Sudah ada izin."

"Lima menit lagi kami lepas landas," kata asisten itu sopan.

Riko yang mendengar kalimat itu memucat. Ia tadi sempat berharap ini pelanggaran atau pertunjukan liar. Jika ada izin, berarti ini bukan aksi sok kaya dadakan. Ini operasi yang direncanakan dengan orang-orang yang tahu aturan.

Dan orang yang mereka datangi adalah Arga.

Vania membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.

Dimas memaksakan tawa. "Mungkin... Mas Arga kerja sebagai konsultan?"

Lestari Dewi, yang berdiri di dekat Kiara, berkata pelan, "Konsultan yang didatangi helikopter."

Riko menutup ponsel.

Terlambat. Ia sudah merekam semuanya.

Arga menghadap Kiara.

"Ayo pulang."

Kiara masih menatapnya. "Kamu..."

"Nanti."

Satu kata itu masih menggantung. Untuk pertama kalinya, Kiara merasa Arga tidak sepenuhnya menutup pintu. Ia hanya belum membukanya.

Mereka berjalan ke mobil di bawah tatapan semua orang.

Keesokan harinya, grup donasi alumni meledak sebelum siang.

Vania mengirim daftar sementara pukul 09.30. Riko menyumbang cukup besar dan menambahkan emotikon tangan berdoa. Dimas ikut menulis kalimat panjang tentang kepedulian pada pendidikan. Beberapa alumni lain mengikuti, sebagian tulus, sebagian takut terlihat pelit.

Pukul 11.47, rekening panitia menerima satu transfer.

Nominalnya membuat bendahara alumni menelepon Vania tiga kali berturut-turut.

"Ini bercanda?" suara Vania terdengar panik di voice note grup.

Total donasi seluruh alumni sampai saat itu: Rp 486 juta.

Transfer anonim yang masuk: Rp 4,86 miliar.

Tepat sepuluh kali lipat.

Di kolom berita transfer, hanya ada satu kalimat:

Untuk mereka yang pernah meremehkan saya.

Grup itu tidak bergerak selama hampir satu menit.

Lalu pesan masuk bertubi-tubi.

Ini siapa?

Jangan-jangan yang semalam?

Cakra Capital?

Mas Arga?

Vania tidak menjawab.

Riko juga tidak.

Dimas hanya menghapus pesan lamanya tentang "jangan memaksakan diri", tetapi beberapa orang sudah mengambil tangkapan layar.

Di aula kecil kampus, panitia perpustakaan yang semula siap membacakan daftar donatur satu per satu mendadak kehilangan format acara.

Rektor muda yang hadir sebagai tamu kehormatan menatap bendahara alumni. "Ini benar sudah masuk?"

"Sudah, Pak. Masuk ke rekening resmi yayasan kampus."

"Atas nama?"

"Anonim."

Suara bisik-bisik memenuhi aula.

Nama Vania, Riko, dan Dimas yang semula berada di tiga besar daftar donatur mendadak terasa kecil. Tidak ada yang mengejek terang-terangan, tetapi beberapa alumni menoleh ke arah mereka dengan senyum yang terlalu sopan.

Vania memegang clutch-nya begitu erat sampai buku jarinya memutih.

"Anonim tidak berarti apa-apa," bisiknya.

Lestari yang berdiri dua kursi di belakangnya berkata tenang, "Tapi perpustakaannya jadi dibangun."

Vania tidak menjawab.

Di kantor PT Hartono Group, Kiara membaca berita transfer itu dari Lestari.

Les: Aku tidak tahu harus tertawa atau kasihan sama mereka.

Kiara menatap nominalnya lama.

Sepuluh kali lipat.

Tidak berlebihan seperti orang ingin pamer. Tepat. Dingin. Seperti seseorang menutup mulut ruangan dengan angka yang tidak perlu dijelaskan.

Ponselnya bergetar lagi.

Video helikopter semalam masuk ke grup alumni, kali ini dengan caption dari seseorang:

Ini mau ngapain sih?

Kiara melihat Arga di video itu. Jaket lama. Wajah tenang. Seorang asisten Cakra menunduk di depannya.

Ia menyimpan video itu ke folder yang sama.

?

Folder itu kini punya satu pertanyaan lebih banyak.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!