Tujuh tahun menikah dan belum di karuniai seorang anak tak membuat cinta Yudistira pada Kamelia meluntur. cinta tanpa syarat dari Yudistira, telah melambungkan Kamelia ke atas awan hingga permintaan sang ibu mertua Kamelia, berhasil menjatuhkannya ke dasar lautan.
Bagaimana tidak, ibu mertuanya, meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kabulkan. seorang anak yang tidak mungkin bisa hadir di dalam rahimnya. namun ibu mertuanya, meminta hal itu dari wanita lain.
Dan yang ia juga tidak pernah tahu Yudistira memiliki rahasia besar di belakangnya.
akankah ia sanggup menerima rahasia terbesar Yudistira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
terimakasih untuk mu
tak pernah ku bayangkan jika akan ada yang ketiga setelah aku dan Inggrid. pasalnya, yang kedua saja harus memaksa terlebih dahulu. dan sekarang tiba tiba mas Yudis, bertanya sakitnya kehilangan?
tapi jika yang ketiga bisa membuat dia bahagia aku tidak keberatan. tapi bagaimana dengan Inggrid, apa dia akan bersedia?
dalam beberapa hari terakhir ini saja, aku sering melihat mas Yudis, hanya duduk dan melamun. seperti orang yang kehilangan sebagian nyawanya.
apa dia benar-benar mencintainya? sebesar itukah mas Yudis, mencintainya?
andaikan dia mau bercerita padaku, mungkin akan lebih baik dan aku sendiri yang akan dengan rela memintanya untuk untuk mas Yudis.
"apa harus aku memintanya untukmu?"
aku duduk di samping mas Yudis, kemudian menoleh padanya.
"siapa yang akan kau minta,"
jawabnya tanpa menoleh padaku.
"seseorang yang membuatmu seperti ini,"
"aku akan memintanya sendiri, seandainya bisa,"
jawabnya sambil tersenyum sinis, kemudian menunduk.
"kenapa tidak bisa?" tanyaku dengan menatapnya serius.
"karena dia jauh dari jangkauan ku,"
aku menghela nafas, menatap halaman rumah yang masih basah oleh embun. beberapa menit, kami duduk dalam diam. aku menatapnya lagi untuk memastikan seberapa besar rasa kehilangannya.
"apa kau mau menemaniku bertemu seseorang?"
aku menautkan alis masih dengan tatapan mata tertuju padanya.
"seseorang?"
mas Yudis, mengangguk.
"seseorang yang membuat mu seperti ini,"
"bisa jadi,"
"baiklah, aku akan bersiap,"
aku pergi meninggalkannya untuk bersiap. mematut wajah di depan cermin, memoleskan bedak di pipi dan lipstik tipis di bibirku. tak lupa aku mengajak serta Alfin, aku menuntun Alfin keluar rumah dan melihat mas Yudis, sudah menunggu ku. dia bersandar pada badan mobil, dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
mas Yudis, tersenyum pada kami kemudian menggendong Alfin dan membukakan pintu di jok belakang.
"Alfin, duduk yang baik di sini ya,"
dia mengusap ujung kepala Alfin kemudian mengecup keningnya.
mobil yang kami tumpangi keluar dari komplek perumahan, melaju membelah jalanan pusat kota yang ramai di Minggu pagi. aku menatap sekeliling jalan dengan dada berdegup tidak karuan.
membagi cinta dengan wanita yang ketiga?
membayangkannya saja sudah membuat ku tertawa. sedangkan aku sendiri tidak akan pernah bisa kehilangan cinta yang pernah menjadi milikku. tapi aku juga tidak bisa memaksanya memberikan cinta yang utuh hanya untuk ku.
"ada yang lucu?"
aku menoleh pada mas Yudis, kemudian tersenyum.
"aku tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang membuat mu seperti ini," aku tertawa pelan sebelum melanjutkan ucapan ku, "aku milikmu tapi kamu bukan sepenuhnya miliku. aku merasa tidak ada gunanya lagi aku ada di sisimu,"
dia menatapku dengan tatapan marah kemudian kembali fokus pada jalan. aku tersenyum sinis kemudian menatap pada kaca jendela samping.
mobil kami telah melewati barisan ruko yang berjajar di sepanjang jalan pusat kota. kemudian melewati alun alun dan berputar mengelilinginya. namun, mobil masih melaju belum ada tanda-tanda kami akan sampai di tempat tujuan. aku melihat bangunan rumah sakit bertingkat yan terletak di ujung jalan. kemudian mobil berbelok masuk kesebuah gang kecil, lalu berhenti di depan kios penjual bunga.
"tunggu disini,"
kata mas Yudis, padaku sebelum dia keluar dari mobil. kemudian kembali dengan tiga buket bunga mawar merah.
"Alfin, kamu pegang ini ya,"
mas Yudis, memberikan satu buket bunga mawar pada Alfin.
"ini untukmu, kau boleh menyimpannya atau memberikan padanya," ucapnya sinis.
aku menerima buket bunga yang dia berikan padaku. tapi ada rasa bersalah di ujung hati dengan ucapannya padaku.
apa aku salah bicara?
apa aku menyakiti perasaannya, sampai di terlihat begitu marah padaku?
aku menghembuskan nafas menatap buket bunga mawar di tanganku.
mobil kembali melaju, berjalan lurus masuk kedalam gang sempit.
"kita mau kemana mas?" aku menoleh ke kiri dan kanan. suasana terasa hening dan sepi.
"kita sudah sampai," ucapnya sambil melepas seatbelt yang menyilang di tubuhnya.
mobil berhenti tepat di depan pagar tembok yang menjulang tinggi, dan menyulitkan mata untuk melihat kedalam tembok itu.
"Alfin, bangun sayang. kita sudah sampai,"
mas Yudis, membangunkan Alfin yang tertidur di kursi jok belakang kemudian menggendongnya.
"Alfin pegang ini ya,"
dia memberikan buket bunga mawar untuk Alfin pegang.
kami berjalan lurus kedepan, setelah beberapa meter. aku berdiri mematung menatap tulisan di gerbang pagar tembok itu.
"ada apa,"
tanya mas Yudis, saat melihat ku berdiri mematung. mas Yudis menggenggam tanganku dan menuntun ku masuk ke dalam.
makam siapa yang akan kami datangi?
tanyaku dalam hati.
kami berjalan perlahan di antara makam makam yang berbaris. hati dan pikiran ku masih sibuk bertanya tanya siapa yang akan kami temui.
langkah kaki kami berhenti tepat di samping makam yang masih terlihat basah. bunga yang di tabur pun masih berwarna cerah walau sudah layu. itu menandakan seseorang yang baru saja meninggal.
"apa kabar, aku datang lagi. lihatlah siapa yang aku bawa,"
kata mas Yudis, di depan sebuah makam yang belum ku ketahui milik siapa itu.
aku menatap punggung mas yang berdiri di depan ku. kemudian melangkah ke depan mas Yudis, untuk mengetahui pemilik makam itu.
"tidak mungkin,"
aku menjatuhkan buket bunga di tanganku. menutup mulut dengan kedua tangan. aku terkejut melihat tulisan yang terukir di atas batu nisan itu.
kakiku gemetar dan tubuhku terasa lemas, hingga aku terjatuh di atas pusara bertumpu pada kedua lutut ku. aku mengusap ukiran nama di atas batu nisan itu dengan air mata berderai.
"aku tak pernah menyangka jika akan kembali bertemu dengannya di tempat ini. aku selalu berdoa pada sang pencipta agar kau cepat kembali ke rumah. tapi kenapa kau meninggalkan aku dengan cara seperti ini. apa kau tidak pernah menganggap aku bagian dari hidup mu?" kata ku dalam hati.
"kenapa saat aku sudah benar benar siap berbagi dengan mu, kau meninggalkan aku seperti ini. apa kau tidak ingin merawat Alfin, bersama ku?" kataku dengan suara terisak.
"apa kau marah padaku karena Alfin, lebih dekat dengan ku? harusnya kau katakan jika kau tidak suka, bukan malah meninggalkan aku seperti ini," aku menatap marah batu nisan di hadapanku.
"apa kamu tahu aku cemburu saat melihat mu bersama mas Yudis? apa kamu juga tahu aku sangat iri dengan kesempurnaan mu? apa kau tahu itu!" aku berseru dengan menggoyangkan batu nisan itu.
dadaku sesak mataku pedih karena air mata yang bergulir. aku menangis sambil memeluk batu nisan itu. lama aku memeluk batu nisan itu sambil menangis hingga terdengar suara Alfin, yang ikut menangis. aku menatapnya kemudian mengulurkan tanganku untuk menggendong nya.
"Alfin, berikan bunganya pada bunda,"
aku menuntun tanganya untuk meletakkan bunga di atas pusara Inggrid. namun, tangis Alfin, semakin kencang. aku memeluknya lalu mengecup kening nya.
"jangan menangis sayang, Alfin masih punya bunda milea dan ayah Yudis kan. bunda janji akan lebih menyayangi Alfin seperti bunda Inggrid,"
ucapku dengan menghapus air mata Alfin.
"kita pulang,"
kata mas Yudis, dengan merangkul bahuku. aku mengangguk.
"Inggrid, terimakasih karena kau sudah memberi ku harta yang paling berharga dalam hidup. aku berjanji akan merawat dan menyayangi seperti kau menyayanginya. selamat jalan semoga kau tenang di sana,"