Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 05
"Kael, kenapa sih lama banget pulangnya. Mami kan udah bilang buat pulang cepet."
Seorang wanta paruh baya namun masih begitu cantik itu terlihat kesal melihat putranya yang baru saja pulang. Dia ingat betul bahwa tadi Rowan mengabarinya kalau Kael sudah keluar kantor sejak pukul 14,00. Namun anaknya itu baru sampai rumah pukul 17.00.
"Mam, makan malamnya masih nanti jam 7 an kan. Kenapa jadi ributnya mulai sekarang? Aku bukan anak perawan yang kudu dandan cuma buat makan malem sama orang," jawab Kael dengan wajah yang berkerut. Dia benar-benar terpaksa menghadiri acara makan malam yang sudah diatur ini.
"Kael!"
"Sudah lah Griz, jangan kayak gitu. Kamu tahu kan anak itu emang nggak suka soal kayak ginian. Dia udah mau aja sukur."
"Tapi Ben?"
Fyuuuh
Grizzle Danurwenda ditahan oleh suaminya Beniqno ketika hendak menahan sang putra lebih lama lagi karena masih belum selesai berbicara. Griz merasa sangat frustasi setiap menghadapi Kael yang selalu memberontak tentang bahasan pasangan hidup. Ia tak mengerti, kenapa putranya begitu sulit untuk dikenalkan dengan seorang wanita.
Sedangkan Ben, dia sebenarnya memilih netral. Tidak mendukung istrinya maupun putranya. Lagi pula usia Kael terbilang cukup muda yakni baru 28 tahun. Rasanya tak perlu untuk cepat-cepat menikah. Bahkan dulu Ben sendiri menikah dengan Griz di usia yang cukup matang.
"Sudahlah Griz, biarkan Kael memilih sendiri wanita yang akan jadi pendampingnya kelak," ucap Ben pada akhirnya. Sebenarnya dia tak mau ikut campur dalam urusan ini. Tapi nampaknya Griz sangat ambisi dalam menjodohkan putranya hanya karena dalih wanita yang akan ditemui malam ini adalah adik tingkat Kael saat di SMA.
"Aku hanya takut dia nggak normal aja, Ben," jawab Griz cemas. Sebagai ibu tentu pikran Griz sudah kemana-mana. Terlebih selama ini Kael tidak pernah dekat dengan wanita manapun.
Griz aku ketakutan dan kekhawatirannya itu sangat berlebihan. Tapi apa yang dilakukannya diyakini merupakan sebuah hal yang benar.
"Sudah ah, jangan mikir yang macem-macem kayak gitu. Kamu terlalu overthinking Griz. Sudahlah, mari bersiap. Sebentar lagi keluarga Wirya akan datang. Nggak baik kalau wajahmu kelihatan kesal-kesal begini. Nanti dikiranya kamu kesal dengan mereka lagi."
Griz menganggukkan kepala, suaminya itu selalu bisa menenangkan dirinya. Sejak dulu, Ben memang pawang Griz yang paling ahli dalam mengendalikan wanita itu.
Hari mulai merangkak, malam hari pun tiba. Waktu yang dijanjikan untuk acara pertemuan dua keluarga itu pun terjadi juga. Mobil keluarga Wirya sudah memasuki pekarangan rumah kediaman Danurwenda. Griz bersama Ben dan juga Kael menyambut kedatangan mereka.
Patih Wirya datang bersama kedua anaknya yakni Iras Dwi Wirya dan Izar Eka Wirya. Ya anak Patih adalah laki-laki dan perempuan dimana yang perempuan merupakan anak keduanya.
"Oh Kang Ben, lama tak bertemu."
"Benar sekali Kang Patih, mari masuk. Cuaca lagi dingin ini, ayo ayo masuk. Aku udah siapkan bandrek panas buat ngangetin tubuh."
Ben dan Patih saling berpelukan di susul dengan Griz yang menyalami Patih dan kedua anak nya.
Sedangkan Kael, dia juga melakukan hal yang sama namun wajahnya nampak datar tanpa ekspresi.
Semua orang masuk ke rumah, Griz mempersilakan tamu langsung menuju ke ruang makan karena memang tujuan mereka adalah makan bersama.
Sepanjang acara makan itu, Griz bisa melihat bagaimana Iras berkali-kali mencuri pandang ke arah Kael. Sebagai wanita Griz tentu menyadari bahwa gadis itu tertarik kepada putranya. Namun Kael sama sekali tidak merespon, putranya itu terus saja makan tanpa mengatakan satu patah kata pun.
Tak ingin suasana nya menjadi semakin canggung, Griz pun berinisiatif untuk membuka obrolan bagi putranya.
"Oh iya Iras, dulu kamu itu adik kelas Kael persis ya?" tanya Griz kepada gadis itu.
"Bukan Tante, saya dulu itu adik kelas terpaut dua tingkat. Kak Kael kelas 3, saya kelas 1. Nah malah yang teman seangkatan itu A' Izar. Tapi kayaknya beda kelas ya A?" jawab Iras
"Iya Tante, saya sama Kael itu satu angkatan. Cuman kayaknya nggak pernah satu kelas selama 3 tahun. Nggak tahu kenapa bisa begitu," timpal Izar.
"Makanya emang kita nggak deket karena emang nggak pernah main bareng. Bahkan kayaknya aku cuma tahu nama aja sama Izar,"sahut Kael datar tanpa mengalihkan pandangannya dari piringnya.
Pria dengan wajah tegas itu semakin terlihat dingin saat nimbrung dalam percakapan basa-basi yang dibuat oleh ibunya. Baginya hal seperti ini sungguh sangat tidak penting sekali. Bahkan jika ditanya apa dia mengingat Izar dan Iras, maka jawabannya adalah tidak sama sekali.
Kael sendiri juga bingung mengapa ibunya bisa punya ide untuk mengatur perkenalan antara dirinya dan Iras yang bahkan tak saling berhubungan sama sekali sebelumnya.
"Nggak masalah Kael, lambat laun kalian juga bakalan deket kalau sering ketemu dan jalan bareng," sahut Patih.
Kael langsung berhenti menyendok nasi di dalam piringnya. Matanya seketika menatap ke arah pria paruh baya yang usianya sepertinya lebih muda dari sang ayah.
"Maksud Om?"
Meski sebenarnya tahu apa maksud ayah dari Iras dan izar, tapi Kael berpura-pura tidak mengerti dan memilih untuk bertanya.
"Ya kita bertemu ini kan ada maksud, yakni mau menyatukan dua keluarga. Jadi alangkah baiknya jika kamu dan Iras saling mengenal dengan baik agar hubungan kalian semakin dekat dan keluarga kita segera bisa bersatu."
Patih benar-benar bicara dengan gamblang yang mana cukup membuat Ben dan Griz terkejut. Griz memang punya niat demikian, tapi dia tidak menyangka bahwa Patih lebih dulu bicara soal ini.
Keinginan Griz adalah perlahan mendekatkan Kael dengan Iras melalui sebuah proses. Bukan langsung 'ditembak' seperti ini.
"Maaf Om, tapi saya tidak ada niat untuk menikah dengan putri Om. Jadi saya rasa acara makan ini berakhir di sini. Permisi, saya sudah selesai makan."
Sreeet
tap tap tap
Kael pergi begitu saja tanpa basa-basi. Dia bahkan menolak dengan sangat tegas tanpa mempertimbangkannya lebih dulu. Baginya tidak ada yang perlu dimulai jika memang tidak bisa dimulai.
"Maaf Kang, sepertinya suasana hati Kael sedang tidak bagus. Pekerjaan di perusahaan lagi banyak-banyaknya. Ditambah sekarang dia ngurus sendiri,"ucap Ben.
"Benar, saya mewakil Kael minta maaf ya Kang Patih," imbuh Griz dengan perasaan yang sangat tidak nyaman.
"Oh tidak masalah, biasa anak muda memang begitu. Kalau gitu kami pamit dulu. Sepertinya Kael memang butuh istirahat."
Ben mengantarkan Patih bersama kedua anaknya hingga mereka menaiki mobil. Ben juga menunggu sampai mereka benar-benar meninggalkan kediaman Danurwenda.
"Kael, dia bener-bener ya," ucap Griz geram.
"Udah lah Griz. Anak itu emang nggak bisa dipaksain. Kalau emang dia nggak cocok sama anak dari Patih, ya kita bisa apa. Emangnya kamu mau anak kita nikah dengan terpaksa karena ngikutin apa mau kamu."
Degh!
Griz mengusap wajahnya kasar. Dia hanya ingin melakukan sesuatu untuk Kael, namun Griz lupa bahwa keinginan Kael lah yang lebih utama.
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara