NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 – Ketenangan

Sinar matahari pagi perlahan menembus lapisan kabut tipis yang masih menyelimuti lembah, menyebarkan cahaya keemasan di atas permukaan danau yang tenang di depan rumah Mizuna. Air danau seolah menjadi cermin raksasa, memantulkan bayangan pepohonan pinus yang tumbuh rapat di tepiannya dan langit yang baru berubah dari ungu pucat menjadi biru cerah. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga liar yang tumbuh di celah-celah batu, menciptakan suasana yang begitu damai hingga seolah waktu pun berhenti berputar di sini.

Haruto mendorong pintu kayu rumah yang berderit pelan, lalu melangkah keluar sambil menguap lebar hingga matanya menyipit. Rambut hitamnya masih berantakan, dan ujung bajunya sedikit terbalik karena terburu-buru bangun dari tempat tidur.

"Huaaah... pagi yang sejuk sekali," gumamnya sambil meregangkan tubuh setinggi mungkin, hingga tulang-tulangnya berbunyi pelan.

Belum sempat ia menarik napas dalam-dalam untuk menghirup udara pagi, sebuah benda bulat berwarna putih melompat keluar dari celah pintu di belakangnya, melompat-lompat riang di atas rumput basah. Itu adalah Pochi, makhluk kecil yang selalu mengikutinya ke mana saja.

"Pyoo! Pyoo!" suaranya terdengar ceria, matanya yang bulat berkilau menatap Haruto seolah mengejeknya yang masih tampak mengantuk.

Dari arah teras belakang, tercium aroma harum roti gandum yang baru dipanggang dan sup sayuran yang mendidih pelan. Daichi muncul sambil membawa nampan berisi piring-piring keramik, senyum hangat selalu terukir di wajahnya yang penuh kerutan halus bekas bertahun-tahun berjalan di alam liar.

"Kalian berdua benar-benar tidak bisa dibedakan," ucapnya sambil tertawa pelan, menaruh nampan di atas meja kayu panjang yang diletakkan di bawah pohon rindang.

Haruto mengerutkan kening, menatap bingung ke arah pria tua itu lalu ke arah Pochi yang sedang berguling-guling di rumput. "Hah? Apa maksudnya?"

"Kalau tidak sedang menguap mengantuk begini, pasti sama-sama menunggu waktu makan," jawab Daichi sambil menunjuk roti yang masih beruap di atas meja. "Sama persis, tidak sabaran."

Seolah benar-benar mengerti perkataan Daichi, Pochi langsung melompat tinggi dengan satu sentakan kaki kecilnya, mendarat tepat di pinggiran meja sebelum Haruto sempat bereaksi. Dengan mulut kecilnya, ia segera mencicipi pinggiran roti yang masih hangat, matanya menyipit senang saat merasakan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam.

"Pyoo! Pyo-pyoo!" suaranya terdengar puas, seolah mengucapkan terima kasih sekaligus memprotes kalau ada yang berani mengganggunya.

"Hei! Sisakan buatku! Itu porsi pertama!" Haruto langsung berlari kecil mendekati meja, berusaha mengambil roti itu tanpa menyakiti Pochi yang lengket di atasnya. Namun makhluk kecil itu dengan cekatan memindahkannya ke sisi lain meja, membuat Haruto hampir tersandung kursi kayu di dekatnya.

Daichi hanya menggelengkan kepala sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir, sementara Mizuna yang baru muncul di ambang pintu dengan pakaian santai berwarna biru tua tersenyum tipis menonton tingkah konyol mereka berdua. Cahaya matahari pagi menyinari wajahnya yang tenang, membuat matanya yang berwarna kebiruan tampak sejernih air danau di depan sana.

 

Sarapan berlangsung penuh canda. Haruto akhirnya berhasil mendapatkan rotinya, meskipun harus berbagi potongan paling besar dengan Pochi yang duduk di pangkuannya. Daichi bercerita tentang masa mudanya saat pertama kali bertemu Mizuna di tepi danau ini, tentang bagaimana dulu ia juga berlatih mengendalikan elemen tanah dengan cara yang sama sekali tidak ia duga. Mizuna sesekali menambahkan cerita dengan kalimat pendek, matanya sesekali melirik ke arah danau yang tenang seolah sedang menyiapkan sesuatu di dalam pikirannya.

Setelah semua piring bersih dan sisa makanan sudah dibersihkan, Mizuna berdiri dan menunjuk ke arah batu raksasa yang menjulang di tepi danau, sekitar sepuluh langkah dari rumah mereka.

"Haruto, ikutlah denganku," katanya pelan, langkah kakinya ringan seolah tidak menyentuh rumput basah sama sekali. "Mulai hari ini, arah latihanmu akan berubah total."

Haruto segera mengikuti di belakangnya, langkahnya bersemangat. Ia mengepalkan tangan erat di sisi tubuhnya, matanya berbinar penuh harap. Selama beberapa minggu terakhir, ia baru belajar hal-hal dasar: memercikkan air dari telapak tangan, membentuknya menjadi bola kecil, atau mengubahnya menjadi lapisan pelindung tipis. Ia sudah tidak sabar mempelajari hal yang lebih hebat.

"Baik, Guru Mizuna!" serunya lantang. "Apakah hari ini kita akan belajar mantra sihir air tingkat lanjut? Yang bisa memecah batu atau memadamkan api raksasa?"

Mizuna menggeleng pelan tanpa menoleh ke belakang.

"Bukan itu."

Haruto tidak berkecil hati, masih melontarkan dugaan lain. "Kalau begitu... kita akan mencoba membentuk naga air seperti yang pernah kau ceritakan? Atau mungkin mengendalikan ombak besar?"

Kali ini Mizuna berhenti tepat di depan batu besar itu, lalu berbalik menatapnya dengan senyum tenang.

"Salah juga."

Ia melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lembut namun tegas. "Hari ini, kau tidak akan menggunakan sihir sama sekali. Tidak ada mantra, tidak ada pemanggilan mana, tidak ada gerakan tangan khusus."

Haruto seolah baru saja ditampar lembut. Tubuhnya membeku di tempat, mulutnya sedikit terbuka tanpa suara. Butuh beberapa detik bagi pikirannya untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan gurunya.

"...Hah? Tidak menggunakan sihir sama sekali?" tanyanya akhirnya, nada bicaranya terdengar kecewa sekaligus bingung. "Tapi aku datang ke sini untuk belajar menjadi penyihir air yang hebat. Kenapa malah tidak boleh menggunakan sihir?"

"Itulah tepatnya hal yang akan kau pelajari hari ini," jawab Mizuna singkat, lalu ia naik ke atas batu besar itu dan duduk bersila dengan posisi yang sangat tegak namun santai. Ia menepuk ruang kosong di hadapannya. "Duduklah di sini. Ikuti caraku."

Haruto naik ke atas batu dengan langkah ragu, lalu duduk berhadapan dengan gurunya. Permukaan batu itu dingin namun halus, dipoles oleh angin dan air selama ratusan tahun. Belum sempat ia membuka mulut lagi untuk bertanya, bayangan putih melompat ke sampingnya. Pochi juga duduk dengan posisi yang aneh, seolah-olah ia juga sedang bersila meskipun tubuhnya hanya bulat tanpa kaki yang jelas. Melihat tingkah makhluk kecil itu, kebingungan Haruto sedikit berkurang dan ia tertawa kecil.

"Kau juga mau ikut latihan, Pochi?"

"Pyoo!" sahutnya mantap, matanya menyipit senang.

Mizuna menatap Haruto dalam-dalam, lalu mulai berbicara dengan suara yang terdengar jelas namun lembut, seolah menyatu dengan suara angin di sekitar mereka.

"Haruto. Sebelum kita berbicara tentang sihir, mari kita pahami dulu apa yang kita gunakan sebagai dasarnya. Menurutmu, seperti apa hakikat air itu?"

Haruto memiringkan kepala, berpikir sejenak sebelum menjawab dengan santai. "Ehm... basah? Dingin? Dan rasanya tawar?"

Mizuna menatapnya datar tanpa berkedip, membuat Haruto merasa sedikit malu. Kemudian ia menoleh ke arah Pochi. "Bagaimana denganmu, Pochi?"

"Pyoo!"

"Jawabanmu jauh lebih tepat," puji Mizuna.

Wajah Haruto memerah padam. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tertawa canggung. "Baiklah, baiklah. Aku serius sekarang. Jangan tertawakan aku lagi ya." Ia menarik napas panjang, lalu memandang permukaan danau yang tenang sebelum melanjutkan. "Air itu bisa mengalir ke mana saja, melewati celah terkecil sekalipun. Ia bisa berubah menjadi awan dan hujan yang turun ke bumi, menjadi sungai yang membelah hutan, atau menjadi es yang keras seperti besi. Ia memberi kehidupan pada tanaman, hewan, dan kita semua. Tapi kalau marah, air banjir juga bisa menghancurkan apa saja."

Mizuna mengangguk pelan, senyum puas kembali terukir di wajahnya. "Benar sekali. Kau sudah mulai melihatnya bukan hanya sebagai cairan yang kau gunakan, tapi sebagai sesuatu yang hidup. Sekarang cobalah lihat permukaan danau di depan kita dengan seksama. Apa yang kau lihat?"

Haruto menatap tajam ke arah air. Tidak ada riak, tidak ada angin yang mengaduknya. Bayangan pohon pinus di pinggir danau terlihat jelas tanpa sedikit pun kabur.

"Airnya sangat tenang, tidak bergerak sedikit pun," jawabnya yakin.

"Benarkah?" Mizuna mengulangi pertanyaannya, lalu ia membungkuk mengambil sebuah kerikil kecil dari celah batu. Ia mengangkat tangannya setinggi dada, lalu melemparkannya perlahan ke tengah danau.

Plung.

Suara benturan kecil terdengar, dan segera setelah itu riak-riak halus bermunculan dari titik jatuhnya kerikil. Garis-garis melingkar itu perlahan melebar, bergerak ke segala arah hingga mencapai tepian danau, memecahkan pantulan cermin yang tadi begitu sempurna. Perlahan namun pasti, riak itu makin mengecil dan akhirnya lenyap sama sekali, mengembalikan danau ke ketenangan semula.

"Secara kasat mata air tampak diam dan tenang," kata Mizuna sambil menatap riak yang baru saja menghilang. "Namun satu gangguan sekecil ini saja mampu mengubah seluruh wajahnya. Ia tidak melawan batu itu, tidak memarahinya karena mengganggu ketenangannya. Ia hanya menyesuaikan diri, lalu perlahan kembali menjadi tenang seperti sedia kala."

Ia menatap lurus ke mata Haruto, nada suaranya menjadi lebih serius.

"Begitu juga dengan sihir air, dan begitu juga dengan mana yang mengalir di dalam tubuhmu. Elemen air tidak pernah tunduk pada kekuatan fisik, tidak pada seberapa keras kau mengepalkan tangan atau seberapa keras kau berteriak membacakan mantra. Ia tunduk pada kendali. Semakin tenang dan jernih hatimu, semakin teratur pikiranmu, semakin mudah mana mengalir keluar dan membentuk apa saja yang kau inginkan."

Haruto menyimak setiap kata dengan saksama, hatinya bergetar seolah ada sesuatu yang selama ini kabur perlahan menjadi jelas.

"Sebaliknya," lanjut Mizuna, "jika hatimu dipenuhi amarah saat berhadapan musuh, ketakutan karena ragu pada kemampuanmu sendiri, atau kepanikan saat situasi berubah tiba-tiba... maka aliran manamu akan menjadi berantakan seperti air yang diguncang hebat. Sihir yang kau keluarkan akan menjadi kacau, meleset dari sasaran, atau bahkan bisa berbalik menyakitimu sendiri."

"Dulu saat latihan lompatan tinggi atau menahan serangan boneka latihan, aku selalu merasa harus berusaha sekuat tenaga agar berhasil," potong Haruto pelan, suaranya terdengar seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri. "Jadi selama ini aku salah sepenuhnya ya? Aku terlalu terburu-buru ingin menjadi hebat, terlalu ingin menunjukkan seberapa kuat aku, sehingga lupa untuk menenangkan diri terlebih dahulu."

"Itulah intinya," Mizuna tersenyum hangat. "Itulah sebabnya hari ini kita tidak mempelajari bentuk sihir baru. Latihan pertamamu, dan yang paling penting seumur hidupmu sebagai penyihir air, adalah belajar mengendalikan dirimu sendiri."

 

Latihan pun dimulai. Perintahnya sederhana namun terasa jauh lebih berat daripada apa pun yang pernah Haruto lakukan. Ia hanya diminta duduk diam menghadap danau, memejamkan mata, tidak berbicara satu kata pun, tidak menggerakkan satu inci pun tubuhnya, dan—yang paling sulit—tidak membiarkan pikirannya melayang ke mana saja. Ia harus mengosongkan hati dan pikirannya, mencapai ketenangan yang sama seperti permukaan danau sebelum dilempari kerikil.

Lima menit pertama berlalu. Haruto berusaha keras memejamkan mata, namun pikirannya sibuk sendiri. Bayangan pertarungannya dengan serigala hutan minggu lalu muncul, lalu terbayang wajah teman-temannya di kota asal, kemudian teringat perutnya yang sedikit lapar meski baru saja sarapan. Tiba-tiba ia merasakan gatal yang luar biasa di pangkal hidungnya. Ia menahan sebentar, tapi rasa gatal itu makin menjadi-jadi hingga tidak tertahankan lagi. Perlahan ia membuka sebelah mata, melirik ke arah Mizuna yang masih duduk diam seperti patung.

"Guru Mizuna..." panggilnya pelan.

"Apa?" jawab Mizuna tanpa membuka mata.

"Boleh aku menggaruk hidung sebentar saja? Cuma sedikit kok, tidak sampai mengubah posisi dudukku."

"Tidak boleh," jawab singkat gurunya.

Haruto mendengus pelan. "Kalau digigit nyamuk di kaki terus rasanya gatal sekali bagaimana?"

"Tahan. Itu bagian dari latihan," tegas Mizuna.

Haruto menghela napas panjang, lalu kembali memejamkan mata dengan kesal. "Latihan ini jauh lebih berat daripada lari mengelilingi danau sepuluh kali atau mengangkat batu besar," keluhnya dalam hati.

Dari kejauhan di pinggiran teras, Daichi bersandar pada tiang kayu sambil menonton mereka berdua. Ia tertawa kecil melihat tingkah Haruto. "Baru sepuluh menit saja sudah banyak mengeluh. Dulu aku butuh tiga hari penuh sebelum akhirnya bisa duduk diam tanpa bergerak sedikit pun."

Yang mengejutkan, Pochi yang duduk di samping Haruto justru tampak sangat tenang. Tubuhnya yang bulat tidak bergerak sedikit pun, matanya terpejam rapat, dan samar-samar cahaya biru muda memancar lembut dari permukaan kulitnya, seolah menyatu dengan udara di sekitarnya. Haruto meliriknya sekilas dan merasa semakin iri.

"Hei, kok dia bisa begitu tenang tanpa latihan susah payah seperti aku?" gumamnya pelan.

"Pyoo..." jawab Pochi tanpa membuka mata, seolah mengejek sekaligus memberi semangat.

Mizuna akhirnya membuka mata dan menunjuk makhluk kecil itu. "Belajarlah dari Pochi. Makhluk elemen seperti dia tidak pernah memaksa mana di dalam tubuhnya keluar atau masuk. Ia tidak pernah berusaha keras menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Ia hanya membiarkan mana mengalir apa adanya, mengikuti irama alami bumi dan langit."

Kata-kata itu menembus langsung ke hati Haruto. Ia menarik napas panjang melalui hidung, menahannya sebentar di dada, lalu mengembuskannya perlahan melalui mulut. Ia mencoba melupakan segala hal yang memenuhi pikirannya: keinginan menjadi petualang terkuat, persaingan di guild, target latihan yang harus dicapai, bahkan rasa gatal di tubuhnya. Perlahan ia mulai hanya mendengar suara di sekitarnya—desir angin yang menyentuh daun, suara air danau yang memecah lembut di bebatuan tepi, kicauan burung yang bersarang di dahan tinggi.

Saat ia berhenti berusaha mencari-cari sesuatu dan hanya membiarkan semuanya ada apa adanya, sesuatu yang aneh terjadi. Ia merasakan kehangatan halus bermula dari perut bagian bawah, perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya. Aliran mana yang selama ini ia rasakan bergerak semrawut, seperti air sungai yang meluap saat musim hujan, kini mulai bergerak tenang dan teratur, seperti aliran air di saluran buatan yang rapi. Ia tidak memaksanya, hanya mengikuti aliran itu dengan pikirannya yang kini sudah tenang.

Mizuna yang memperhatikannya dari samping mengangguk pelan, senyum puas terlihat di sudut bibirnya. "Bagus sekali, Haruto. Tetaplah seperti ini. Jangan hentikan, jangan terburu-buru."

Beberapa waktu berlalu—entah lima belas menit atau satu jam, Haruto sudah tidak bisa merasakan berlalunya waktu—permukaan danau tepat di depan lututnya bergetar pelan. Tanpa sadar, tanpa perintah tangannya, setetes air bening melayang naik dari permukaan danau. Kemudian tetes kedua, ketiga, hingga lima tetes air melayang berbaris di udara, berkilau indah memantulkan sinar matahari pagi. Mereka diam di sana, bergerak mengikuti irama napas Haruto yang teratur.

Daichi yang masih menonton dari kejauhan membuka mulutnya takjub, matanya membelalak. "Mustahil... dalam waktu sesingkat ini? Kendali mananya meningkat drastis hanya dengan menenangkan diri?"

"Karena akhirnya dia memahami hakikat sihir air," bisik Mizuna pelan. "Sihir air tidak ditundukkan dengan kekuatan otot atau hafalan mantra. Ia hanya mau mendengarkan ketenangan hati."

Tak lama kemudian, Haruto perlahan membuka matanya. Saat melihat lima tetes air yang melayang di hadapannya, matanya berbinar cerah, senyum lebar mengembang di wajahnya hingga matanya menyipit. Ia tidak menyangka dirinya bisa melakukannya tanpa satu pun gerakan tangan atau mantra.

"Aku berhasil! Benar-benar berhasil!" serunya tidak sengaja dengan suara lantang, penuh kegembiraan.

Namun kegembiraannya berlangsung sebentar. Tiba-tiba aliran mananya terganggu oleh lonjakan semangat yang meluap-luap. Byur! Kelima tetes air itu jatuh seketika, tepat mengenai wajahnya dan membasahi seluruh pipi serta rambut depannya.

Haruto terdiam beberapa detik, mengusap air di wajahnya dengan punggung tangan. Lalu ia tertawa renyah, tertawa pada dirinya sendiri yang terlalu bersemangat hingga melupakan apa yang baru saja ia pelajari.

"Hehe... ternyata aku masih harus banyak belajar ya. Sedikit saja hatiku melonjak senang, semuanya jadi berantakan lagi," akunya sambil tersenyum malu.

Pochi melompat ke bahunya, lalu menepuk-nepuk kepalanya dengan tubuh kenyalnya seolah memberi penghiburan dan pujian sekaligus. "Pyoo! Pyo-pyoo!"

"Itu sudah kemajuan yang luar biasa besar, Haruto," puji Mizuna dengan nada bangga. "Kau baru saja menemukan kunci dari segala sihir air. Besok kita tidak hanya sekadar mengendalikan aliran, tapi mulai membentuknya menjadi sihir pertamamu—sihir yang akan menjadi dasar seluruh perjalananmu ke depannya, yang akan membedakanmu dari penyihir air lainnya."

Haruto mengepalkan tangannya di atas lutut, tatapannya tajam namun tenang, tanpa lagi ada kepanikan atau ketergesa-gesaan di matanya. Ia merasa ada sesuatu yang baru tumbuh di dalam dirinya, sesuatu yang lebih kuat dari sekadar kekuatan fisik.

"Terima kasih, Guru Mizuna," ucapnya tulus. "Aku siap untuk apa pun latihannya besok."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!