Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 - Kejar-Kejaran
Adnan langsung menyalakan mesin mobilnya. Jantungnya berdebar keras saat melihat mobil Iwan melaju meninggalkan area kampus.
"Liza!" teriaknya sekali lagi, meski tahu suaranya tak mungkin terdengar.
Ban mobilnya berdecit ketika ia membelok keluar gerbang kampus. Dari kejauhan, sedan hitam milik Iwan masih terlihat menyelip di antara kendaraan lain.
"Sial! Mau ke mana mereka?" gumam Adnan.
Di dalam mobil Iwan, suasana tak kalah tegang.
"Itu Adnan masih ngikut!" seru Salma sambil menoleh ke belakang.
Rini ikut melihat melalui kaca belakang. "Ya ampun! Dia serius ngejar kita!" keluhnya.
Liza melipat kedua tangannya. "Pokoknya jangan berhenti, Wan!" titahnya.
Iwan melirik spion. "Aku lihat kok."
Mobil mereka meluncur lebih cepat memasuki jalan utama. Sementara itu Adnan terus membuntuti dari belakang. Sebagai sopir pribadi yang diberi tugas menjaga Liza, dia tahu dirinya tidak boleh kehilangan jejak gadis itu.
"Kalau sampai kenapa-kenapa, habislah aku dimarahi," imbuh Adnan. Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Jarak mereka yang semula cukup jauh perlahan menyusut.
"Itu dia makin dekat!" pekik Salma.
Iwan mengerutkan kening. "Pegangan semuanya!"
Mobil kembali melaju lebih cepat. Beberapa kendaraan yang berada di depan langsung disalip.
"Astaga! Pelan-pelan dong!" teriak Rini ketakutan.
"Kamu tadi yang paling semangat mau lihat cowok ganteng!" sahut Salma.
"Ya tapi bukan berarti balapan begini!"
Di belakang, Adnan ikut mempercepat laju mobilnya. Matanya fokus menatap sedan hitam di depan.
Beberapa kali lampu lalu lintas hampir membuatnya kehilangan target, namun keberuntungan masih berpihak padanya.
Saat lampu berubah kuning, mobil Iwan menerobos. Adnan menggigit bibir.
"Kalau berhenti sekarang pasti hilang!" ujar Adnan. Akhirnya dia ikut melewati persimpangan sebelum lampu berubah merah sepenuhnya. Klakson kendaraan lain langsung bersahutan.
"Maaf! Maaf!" kata Adnan.
Jalanan kota yang siang itu cukup padat membuat pengejaran semakin menegangkan. Mobil Iwan menyelinap ke jalur kanan.
Adnan mengikuti. Mobil Iwan pindah ke jalur kiri. Adnan juga ikut berpindah.
"Dia benar-benar nggak mau nyerah ya?" ujar Iwan.
"Tentu aja! Orang kerjaannya ngawasin aku!" balas Liza.
"Kamu kenapa sih nggak mau ngomong baik-baik?" tanggap Iwan.
Liza mendengus. "Sudah! Tadi aku sudah mengusirnya!"
Sementara itu Adnan semakin khawatir. Liza terlihat pergi bersama dua laki-laki yang tidak dia kenal. Meski mungkin hanya teman kampus biasa, tugas tetaplah tugas. Ia harus memastikan Liza aman.
Kecepatan kedua mobil kini jauh di atas rata-rata kendaraan lain. Beberapa pengendara motor bahkan menepi ketika melihat mereka melintas.
"Wan! Kurang cepat!" desak Liza.
"Ini udah cepat!" sahut Iwan
"Tambah lagi!" Liza terus mendesak.
"Kalau ditilang gimana?"
"Yang penting pergi jauh-jauh dari dia!"
Iwan menghela napas panjang. Lalu ia kembali menekan gas. Mesin mobil meraung lebih keras. Sedan itu melesat melewati deretan kendaraan.
Adnan membelalakkan mata. "Wah, gila..."
Namun dia tidak menyerah. Mobilnya ikut melaju mengejar. Kejar-kejaran itu mulai menarik perhatian banyak pengguna jalan.
Beberapa pengendara bahkan mengira sedang terjadi masalah serius. Di sebuah persimpangan besar, Iwan membelok mendadak ke jalan layang.
Adnan nyaris kehilangan kendali karena harus mengikuti manuver itu. Ban mobilnya mengeluarkan suara gesekan keras.
"Sial!"
Untung saja dia berhasil menguasai setir. Di atas jalan layang, kendaraan lebih sedikit. Itu membuat kedua mobil semakin berani menambah kecepatan. Angin berdesir keras menghantam bodi kendaraan.
Rini sampai memejamkan mata. "Aku nyesel ikut!" ungkapnya.
Salma tertawa gugup. "Aku juga mulai nyesel."
Sedangkan Liza terus memperhatikan spion. Wajahnya berubah saat melihat mobil Adnan masih ada. "Dia nggak capek apa?" ujarnya heran.
"Kelihatannya nggak," jawab Iwan.
"Pokoknya jangan sampai dia nyusul!"
"Aku akan berusaha!"
Keringat mulai muncul di dahi Iwan. Mengemudi secepat ini di tengah lalu lintas tetap berisiko.
Beberapa menit kemudian mereka turun dari jalan layang. Mobil Iwan kembali memasuki kawasan perkotaan yang ramai. Namun tanpa disadari, aksi mereka ternyata sudah menarik perhatian petugas lalu lintas.
Di sebuah pos polisi, dua orang petugas memperhatikan kendaraan yang melintas cepat berkali-kali.
"Itu sedan hitam tadi ngebut ya?"
"Iya. Yang putih di belakang juga!"
"Kejar?"
"Kejar!"
Sebuah mobil patroli segera keluar dari pos. Lampu rotator mulai menyala. Akan tetapi baik Iwan maupun Adnan belum menyadarinya. Mereka masih sibuk dengan kejar-kejaran masing-masing.
"Wan..." suara Salma mendadak melemah.
"Kenapa?" sahut Iwan
"Itu kayaknya polisi ngejar kita..." lirih Salma.
Semua langsung menoleh. Benar saja, di belakang mobil Adnan terdapat mobil patroli dengan lampu biru-merah menyala.
Tak hanya satu. Ada pula dua petugas motor yang mulai mendekat dari sisi jalan.
"Waduh..." wajah Iwan langsung pucat.
Liza juga membelalak. "Polisi?!"
"Kayaknya kita kena masalah."
Di sisi lain, Adnan akhirnya menyadari hal yang sama. Begitu melihat lampu rotator di kaca spion, jantungnya serasa jatuh.
"Astaga..."
Sebuah pengeras suara terdengar.
"Mobil sedan hitam dan mobil putih di depan, harap menepi!"
Suara itu menggema. Iwan dan Adnan saling pandang dari kejauhan melalui kaca kendaraan masing-masing. Kini keduanya sama-sama tahu. Permainan sudah berakhir.
Dengan wajah pasrah, Iwan menyalakan lampu sein dan menepi. Adnan juga melakukan hal yang sama. Beberapa detik kemudian kedua mobil berhenti di bahu jalan.
Petugas polisi menghampiri mereka.
"Ada apa ini? Balapan?" tanya seorang polisi dengan nada tegas.
"Bukan, Pak..." jawab Iwan gugup.
"Bukan balapan, Pak," sahut Adnan dari mobil sebelah.
"Lalu kenapa saling kejar-kejaran?"
Semua langsung terdiam. Liza menundukkan kepala. Rini bahkan tidak berani mengangkat wajah. Petugas itu menghela napas.
"Kecepatan kalian jauh di atas batas aman. Beberapa saksi juga melaporkan kendaraan kalian saling membuntuti dengan agresif!"
"Maaf, Pak..." kata Iwan.
"Maaf, Pak," Adnan ikut menimpali.
Polisi memandang mereka satu per satu. "Kalian mahasiswa?"
"Iya, Pak."
"Dan kamu?" tanya polisi kepada Adnan. "Saya sopir pribadi, Pak."
"Jadi ini semua gara-gara apa?"
Semua saling pandang. Tak ada yang mau menjawab. Akhirnya polisi menggeleng.
"Sudahlah. Apapun alasannya, kalian tetap melanggar aturan lalu lintas!"
Petugas lain mulai memeriksa surat-surat kendaraan. Beberapa menit kemudian keputusan pun keluar.
"Karena pelanggaran kecepatan dan berkendara tidak aman, kalian berdua kami tindak dengan tilang!"