Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Mobil milik Ganda akhirnya memasuki gerbang utama Pondok Pesantren Al-Hikmah.
Begitu mesin dimatikan, Ganda berbalik menatap kedua istrinya yang duduk di kursi belakang dengan tatapan penuh harap.
"Diaz, Laura. Selama dua hari aku pergi mendampingi Abah, aku mohon dengan sangat, kalian akur di sini. Jangan ada keributan lagi," pinta Ganda lembut, menatap bergantian pada Diaz yang membuang muka ke luar jendela dan Laura yang duduk kaku sambil meremas jemarinya.
Umi Maryam yang rupanya sudah menunggu di teras ndalem segera melangkah mendekat.
Mendengar ucapan putranya, wanita paruh baya itu langsung menyahut dengan senyum menenangkan.
"Tenang saja, Ganda. Umi yang akan mengawasi mereka berdua di sini. Kamu fokus saja mendampingi Abahmu di luar kota."
Mendengar jaminan dari ibunya, Ganda merasa sedikit lega.
Tak lama kemudian, Abah Kiai keluar dari kediaman dengan tas pakaiannya.
Setelah berpamitan dan mencium tangan kedua orang tuanya, Ganda dan Abah Kiai segera berangkat membelah jalanan menuju luar kota, meninggalkan area pondok.
Diaz berdiri di halaman, menatap nanar asap knalpot mobil suaminya yang perlahan menghilang di balik gerbang.
Perasaannya mendadak tidak enak. Ada desir kecemasan yang tiba-tiba merayapi tengkuknya.
Begitu mobil Ganda benar-benar tak lagi terlihat, atmosfer di halaman ndalem mendadak berubah drastis.
Senyum ramah di wajah Umi Maryam menguap begitu saja, digantikan oleh sorot mata penuh kebencian dan dendam yang berkilat.
"Zainal! Lukman!" panggil Umi Maryam dengan suara lantang ke arah asrama santri putra.
Dua orang santri senior berbadan tegap segera berlari mendekat dengan takzim.
"Wonten menopo (ada apa), Umi?"
Umi Maryam menunjuk tepat ke arah wajah Diaz dengan telunjuknya yang gemetar karena amarah yang dipendam sejak kemarin.
"Ikat wanita kota tidak tahu adat itu! Seret dan masukkan dia ke dalam gudang belakang!"
Diaz tersentak hebat, matanya terbelalak tidak percaya.
"Umi?! Apa-apaan ini?! Umi, lepaskan aku! Apa salahku?!" teriak Diaz histeris, mencoba melangkah mundur saat kedua santri itu mulai mendekatinya dengan ragu-ragu.
"Lakukan saja! Ini perintah Saya! Dia sudah mengotori nama baik keluarga kita dengan kelakuan liarnya!" bentak Umi Maryam keras, menghilangkan keraguan kedua santri tersebut.
Tangan Diaz langsung dipiting ke belakang dan diikat kuat dengan tali tambang pramuka.
Di samping Umi Maryam, Laura melangkah maju dengan napas memburu.
Rasa sakit di tubuhnya akibat pemerkosaan Bramasta semalam, ditambah rasa dendam yang membakar jiwanya, membuat Laura kehilangan akal sehat.
Ia mengeluarkan segulung lakban hitam tebal dari balik kantong jubahnya, menariknya kasar, dan langsung menempelkannya kuat-kuat hingga membungkam mulut dan hampir menutupi hidung Diaz.
Plakkk!
Satu tamparan keras dari telapak tangan Umi Maryam kembali mendarat di pipi Diaz yang terluka, membuat sudut bibirnya sedikit berdarah.
"Jangan kira kamu bisa selalu menang dan berlagak sombong di sini, Diaz! Aku tidak sudi, demi Allah aku tidak sudi mempunyai menantu kota yang kotor seperti kamu!" desis Umi Maryam tepat di depan wajah Diaz yang sudah basah oleh air mata.
"Lekas bawa dia ke gudang bawah tanah sekarang!"
Trauma Masa Lalu yang Membunuh Kesadaran
"MMMMPPHH!!! MMMMPPHH!!!"
Diaz meronta dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya.
Tubuhnya diseret paksa menyusuri jalan setapak menuju gudang belakang pondok yang terasing, gelap, dan dipenuhi barang-barang rongsokan.
Di balik lakban yang membekap erat mulutnya, Diaz menjerit, menangis, dan memohon dengan sangat melalui tatapan matanya yang dipenuhi ketakutan luar biasa.
Ketakutan Diaz saat ini bukan sekadar karena perlakuan kejam Umi Maryam dan Laura, melainkan karena sebuah trauma masa kecil yang teramat kelam.
Pemandangan itu seketika memicu memori masa lalunya, di mana ibu tirinya dulu selalu mengurungnya di dalam ruangan seperti itu selama berhari-hari tanpa makan dan minum, menyiksanya di dalam kegelapan hingga ia nyaris gila.
Diaz mengidap klaustrofobia akut—ketakutan ekstrem pada ruang sempit dan gelap.
"MMMMPPHH!!! MMMMPPHH!!!" Diaz menggeleng-gelengkan kepalanya histeris saat pintu kayu gudang yang berdebu itu dibuka paksa oleh santri.
Aura dingin dan gelap dari dalam gudang seolah mencekik lehernya seketika.
Laura yang berdiri di belakang santri memberikan dorongan kasar pada tubuh Diaz hingga wanita itu terjerembap ke lantai gudang yang kotor.
"Masuk kamu! Rasakan itu!" caci Laura puas, merasa dendam atas petaka semalam sedikit terbalaskan dengan melihat penderitaan Diaz.
Brak!
Pintu gudang ditutup rapat dan dikunci dari luar, memutus satu-satunya akses cahaya matahari pagi.
Gudang itu seketika berubah menjadi kegelapan total yang pekat.
Di dalam sana, pasokan oksigen di paru-paru Diaz mendadak terasa hilang.
Napasnya memburu dengan sangat cepat, tersengal-sengal di balik lakban yang menyumbat mulut dan hidungnya.
Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya, jantungnya berpacu di ambang batas normal, memicu serangan panik yang teramat hebat.
Dalam kegelapan yang mencekam dan ingatan masa lalu yang tumpang tindih menghancurkan mentalnya, Diaz merasa dadanya begitu sesak seolah dihimpit batu besar.
Penglihatannya perlahan mengabur, hingga akhirnya tubuhnya lunglai dan jatuh pingsan di atas lantai gudang yang dingin tanpa ada seorang pun yang tahu.
Laura duduk di samping Umi Maryam di ruang tamu ndalem.
Napasnya yang sempat memburu akibat luapan emosi perlahan mulai teratur.
Ada kilat kepuasan yang kejam memancar dari sepasang matanya, meskipun di balik jubahnya, tubuhnya masih menyisakan rasa perih akibat petaka semalam.
"Terima kasih, Umi. Terima kasih sudah membela Laura," ucap Laura dengan suara yang dibuat selembut dan sehikmat mungkin, merapatkan duduknya lalu mencium punggung tangan mertua perempuannya itu.
Umi Maryam mengelus pundak Laura, menatap pintu belakang arah gudang dengan sisa-sisa amarah yang masih membekas di wajah paruh bayanya.
"Iya, nduk. Sudah semestinya Umi bertindak. Kalau Abah dan Ganda terlalu lembek dan terus membela wanita kota itu, biar Umi yang meluruskan dosanya di pondok ini."
Wanita tua itu kemudian bangkit berdiri, merapikan letak khimarnya yang sedikit berantakan, lalu menoleh ke arah Laura dengan senyum yang dipaksakan.
"Sekarang ayo kita berangkat belanja ke pasar, nduk. Segarkan pikiranmu. Kita tinggalkan saja dia di sana," ajak Umi Maryam dingin.
"Biarkan wanita tidak tahu adat itu merenungi kesalahannya di dalam kegelapan. Biar dia tahu apa itu adab dan bagaimana cara menghormati keluarga ndalem."
Laura mengangguk patuh dengan senyum kemenangan tersembunyi.
Ia bangkit berdiri dan berjalan mengekor di belakang Umi Maryam, mengabaikan fakta bahwa di balik pintu gudang yang terkunci rapat dan pengap itu, madunya sedang bertaruh nyawa dalam kondisi pingsan akibat trauma masa lalu yang menghancurkan mentalnya.
Ganda terus memfokuskan pandangannya ke jalan raya, melajukan SUV hitamnya membelah jalanan antarkota yang cukup padat.
Mereka sudah menempuh hampir setengah perjalanan ketika tiba-tiba ponsel Abah Kiai yang diletakkan di dasbor berdering nyaring.
Abah Kiai mengangkat telepon tersebut, mendengarkan penjelasan dari seberang sana selama beberapa menit sembari sesekali mengangguk-angguk berat.
Wajah beliau tampak sedikit kecewa sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Nggih, matur nuwun informasinya, Kiai. Kedepannya mboten nopo-nopo," ucap Abah Kiai mengakhiri panggilan lalu menutup ponselnya.
Beliau menoleh ke arah Ganda yang masih fokus menyetir.
"Ayo Ganda, kita putar balik, kembali ke pondok sekarang. Acaranya ditunda sampai Senin depan karena ada salah satu ulama sepuh yang mendadak jatuh sakit."
Mendengar hal itu, Ganda seketika menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Tanpa membuang waktu, di persimpangan jalan depan, ia langsung memutar balik arah kendaraannya.
Ada secercah rasa lega, namun di sisi lain, dada Ganda justru dideru oleh rasa khawatir yang teramat besar terhadap kedua istrinya.
Entah mengapa, firasatnya mendadak tidak enak sejak meninggalkan pondok tadi pagi.
Bayangan wajah Diaz yang ketakutan dan cemas terus membayangi pikirannya.
Sembari mengemudikan mobil dengan kecepatan yang sedikit ditinggikan, Ganda merogoh ponselnya dan menghubungi sekretaris pribadinya di kantor menggunakan sambungan nirkabel mobil.
"Halo, Assalamualaikum. Tolong tunda semua jadwal pertemuan saya hari ini sampai besok. Besok saya akan masuk kerja seperti biasanya. Tolong dikondisikan," perintah Ganda tegas sebelum mematikan sambungan.
Jantung Ganda berdegup kencang. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, ingin segera sampai ke Pondok Pesantren Al Ikhlas.
Pria itu sama sekali tidak tahu bahwa di balik dinding pondok yang tenang, sebuah kekejaman sedang berlangsung, dan istri pertamanya sedang sekarat di dalam kegelapan gudang yang pengap.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡