Zayn adalah korban bully di sekolah dan di lingkungan rumahnya.
suatu hari Zayn yang sedang dikerjai oleh Clara dan teman-temannya di sebuah rumah kosong yang terlihat tua. Mendadak Zayn dapat melihat hantu setelah terjatuh dari kursi saat hendak mengambil sepatunya yang tersangkut di lampu hias yang tergantung di ruang tamu rumah kosong tersebut.
Zayn yang terjatuh itu pingsan dan setelah siuman, Zayn mendadak dapat melihat hantu cantik si pemilik rumah kosong itu.
Maudy. Ya, nama hantu cantik itu adalah Maudy.
Setelah pertemuan itu keduanya menjalin hubungan pertemanan.
Awalnya pertemanan itu tidak ada ketulusan karena saling ingin memanfaatkan.
tetapi apa jadinya kalau mereka berdua menjadi saling jatuh cinta karena terbiasa bersama?
"Kenapa lo jadi hantu?" tanya Zayn.
"Karena gue masih penasaran sebelum dendam gue terbalas."
"Lalu, setelah terbalas apa yang akan lo lakukan?"
"Gue hilang dari dunia ini, karena itulah perjanjian nya saat dulu gue nolak untuk dibawa ke alam selanjutnya," jawab Maudy.
"Deg," jantung Zayn seolah berhenti berdetak saat mendengar itu.
bagaimana kisah percintaan antara hantu dan manusia kali ini? yuk simak kaka semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode dua puluh (berbaikan)
Nilam yang baru saja masuk kafe, ia jatuh tepat di depan meja mini bar.
Ia pingsan setelah melihat botol yang melayang. Zayn dan Maudy segera menolong Nilam, ia membawanya ke sofa panjang yang berada di sudut kafe.
"Duh, gimana ini Zayn? Jangan-jangan dia liat kita rebutan botol tadi," kata Maudy yang duduk di samping Nilam.
"Entah, biarin aja lah, nanti bilang aja kalau gue lagi latihan sulap," jawab Zayn, kemudian ia pergi meninggalkan Nilam yang masih belum sadarkan diri.
Maudy pun segera menyusul Zayn yang kembali ke dapur, Maudy melihat Zayn sedang membuat salad buah.
Sekarang, Zayn merasakan pelukan dingin dari Maudy.
"Maafin gue ya Zayn," kata Maudy yang menyandarkan kepala di punggung Zayn.
"Hmmm," jawab Zayn seraya memasang headset di telinganya.
"Zayn kamu masih ngambek?" tanya Maudy.
"Maafin gue ya, gue nggak tau kalau lo lagi kena masalah," lirih Maudy yang masih menempel pada Zayn.
Zayn tersenyum mendengar suara lirih Maudy yang halus tanpa di buat-buat.
Lalu, Zayn mengusap punggung tangan Maudy yang berada di atas perutnya.
"Siapa yang marah, gue b aja tuh," jawab Zayn.
"Lo nggak nanya kenapa gue marah Zayn?" tanya Maudy seraya melepaskan pelukannya, ia beralih duduk di meja dapur memperhatikan Zayn yang masih membuat salad buah.
"Kenapa?" tanya Zayn seraya menatap hantu cantik yang berada di depannya.
"Gue tersinggung Zayn sama ucapan lo yang ngatain gue nggak pantes jadi ibu."
"Emang gue bilang gitu? Enggak tuh, tapi gue juga minta maaf ya, kemaren emang lagi banyak masalah, nggak seharusnya gue bentak lo," kata Zayn seraya memberikan senyum manisnya, Zayn sudah memonyongkan bibir ingin mencium Maudy tetapi terdengar suara orang di belakang Zayn.
"Eehemm."
Mendengar itu Zayn menoleh, ia melihat ada Nilam yang duduk di bangku mini bar.
Lalu, Zayn berpura-pura seolah melepaskan headset yang ada di telinganya, agar Nilam berfikir kalau Zayn sedang menelepon.
Tanpa Zayn sadari, sebenarnya ia lupa mencolokkan ujung headset itu ke ponselnya.
Nilam menggaruk kepalanya, menganggap Zayn aneh.
"Zayn, tadinya gue mau pesan nasi goreng kaya kemaren, tapi mendadak laper gue ilang Zayn, gue inget kalau lagi ditunggu sama Mamah di kliniknya, gue pamit dulu ya."
Nilam pergi setelah mengatakan itu.
"Kenapa, bos? Enggak jadi pesan dia?" tanya Ian yang baru masuk.
Zayn hanya mengedikan bahu lalu kembali membuat salad buah.
"Zayn, lo bikin salad buah banyak-banyak gini buat siapa?" tanya Maudy masih dengan posisi yang sama.
Zayn tidak menjawab, ia berjalan ke kulkas besarnya untuk menyimpan salad tersebut.
Lalu, Zayn menggandeng tangan Maudy, membawanya masuk keruangan.
Zayn menceritakan semua kejadian yang Maudy tidak ketahui, Zayn juga mengatakan kalau akan membuka cabang dan meminta pendapat Maudy. Ternyata, Maudy sangat mendukung itu, dan Maudy juga mendukung kalau Zayn akan bertanggung jawab pada anak Danesh.
______________
Di rumah Clara, Marina sedang bingung memikirkan di mana anaknya yang menghilang tanpa kabar, ponselnya pun tak dapat dihubungi.
"Kamu ini kenapa sih, udah kaya setrikaan aja mondar mandir kek gitu," kata Samuel yang baru keluar dari ruang kerjanya.
"Papah ini, nggak peka banget sama keadaan anaknya. Kemaren kan pulang terus ini udah nggak ada lagi tapi nggak ngabarin, wajar dong seorang ibu menghawatirkan anaknya," protes Marina.
"Dia kan model di luar negri, pastilah sibuk, tinggal kirim pesan aja terus tunggu dia balas," kata Samuel.
Marina menatap kepergian Samuel yang terlihat tidak perduli dengan anaknya sendiri.
______________
Di klinik, Clara melihat kedatangan Nilam dan memanggil dokter yang membantunya aborsi dengan sebutan Ibu, membuat Clara merasa tak aman.
"Duh, sialan. Kalau dia tau bisa gawat ini," gumam Clara yang mengintip dari tirai.
"Apa gue kabur aja ya," pikirnya.
Benar saja, Clara segera mengganti pakaiannya lalu pergi melalui pintu belakang.
"Gue nggak boleh lemah, gue harus kuat," kata Clara yang berjalan seraya memegangi perutnya, ia segera mencari taksi untuk membawanya ke hotel agar ia bisa istirahat.
_____________
Di tempat lain, ada Zayn dan Maudy yang sedang melihat rumah kontrakan, rumah itu berada di depan perumahan, terlihat jalanan dan kawasannya ramai, rumah dengan dua lantai membuat Zayn merasa kalau lokasi itu strategis.
Zayn ingin membuka cabang kafe semua umur di rumah tersebut. Kafe untuk para muda-mudi berkumpul, bisa juga untuk orang dewasa, Zayn menjajakan dagangannya dengan harga yang terjangkau maka dari itu ia menamai kafenya 'semua umur'.
Pikir Zayn, asal rame pengunjung pasti akan mendapatkan untung, dari pada mengambil untung besar tetapi sepi pengunjung.
"Gimana, lo suka nggak Dy?" tanya Zayn yang sekarang sedang berada di lantai dua.
"Cocok sih Zayn, di atas sini bisa kita bikin taman mini buat ngehias, nanti juga di sini bisa kita kasih kursi, jadi tempat ini tuh kita sediain buat yang suka di luar ruangan, cuma tinggal tambahin atas aja ini takutnya ntar pelanggan lo pada kehujanan," kata Maudy seraya menunjukkan tata letak yang ia maksud pada Zayn.
Zayn mengangguk, sangat setuju pada ide Maudy.
"Bagaimana, Mas?" tanya seorang pria paruh baya si pemilik rumah tersebut.
"Ok, saya setuju," kata Zayn seraya berjabat tangan.
Lalu, ia meminta izin untuk membuat surat perjanjian kontrak, agar sewaktu-waktu si pemilik tidak seenak jidat mengusir Zayn disaat usahanya mulai maju.
Zayn memberi depe satu juta, sisanya 79 juta lagi akan dibayar ketika menandatangani surat perjanjian.
"Baik, terimakasih, semoga semuanya berjalan lancar," kata pria paruh baya itu.
Setelah itu, Zayn kembali ke kafenya, ia meminta pada anak buahnya untuk membantu carikan pekerja yang memang benar-benar berniat kerja.
Ternyata, itu adalah kabar baik. Pasalnya, banyak teman dan saudara dari mereka yang sedang mencari pekerjaan.
"Dengan syarat semua harus cowok!" kata Zayn.
Mendengar itu membuat Maudy tersenyum. Karena itu adalah permintaan Maudy.
________________
"Mamah, Mamah." Suara itu terus terdengar oleh Clara yang sedang memejamkan mata.
Clara menggelengkan kepala, ia melihat ke kanan dan kiri mencari sumber suara tetapi tidak ada siapa-siapa.
"Keluar!" teriak Clara yang sedang berada di tengah kegelapan.
"Aku di sini Mamah."
Suara itu kembali terdengar.
Clara merasa kesal mendengar suara anak kecil yang terus memanggilnya 'Mamah'.
"Aaaaaaaa!" teriak Clara, kemudian ia membuka matanya.
"Gila! mimpi sialan," gumam Clara seraya mengusap dahinya yang berkeringat.
_____________________
Sekarang, Zayn sedang berada di penjara, ia membesuk Malik, membawakan salad buah untuk Malik dan teman satu selnya.
"Maafin Zayn, Pak. Seandainya Zayn tidak...," ucap Zayn menggantung ujung kalimatnya.
"Tidak apa Zayn?" tanya Malik menatap anaknya yang menunduk.
"Kalau saja Zayn tidak menculik anak Danesh, mungkin Danesh nggak akan ke rumah kita, dan Bapak enggak akan di penjara," kata Zayn terdengar penuh penyesalan.
"Sekarang dimana anak itu?" tanya Malik. Ia sekarang sudah mulai sedikit berbicara setelah melepaskan kekesalannya pada Danesh.
"Sudah Zayn kembalikan, Pak."
"Kenapa dikembalikan Zayn, kenapa tidak kamu pisahkan saja dari Ibunya," lirih Malik yang mampu membuat Zayn mendongakkan kepala.
Bersambung.
Mampir? Jangan lupa di-like ya kak ✌☺