Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Malam merayap makin dalam, memeluk kota dengan embusan angin sejuk yang menenangkan. Di teras depan kontrakan baru Adinda, lampu bohlam bercahaya kuning hangat berpendar terang, menyoroti meja kayu sederhana yang kini dipenuhi oleh aroma gulai, sambal terasi yang membakar selera, dan gurihnya minyak gorengan.
Malam itu, tidak ada hidangan mewah ala restoran berbintang. Di atas meja, tergelar dua bungkus kertas cokelat berisi nasi uduk hangat, potongan lele goreng yang garing hingga ke tulang, tahu, tempe penyet, serta lalapan segar berupa kemangi dan timun yang masih renyah. Aroma gurih pecel lele dari warung tenda langganan di ujung jalan itu menyeruak di udara, menjadi sajian perayaan kecil paling nikmat yang pernah Adinda dan Dimas rasakan.
Selepas dari Pengadilan Agama sore tadi, Mas Danu dan Mbak Anita memang terpaksa langsung meluncur kembali ke luar kota karena ada urusan mendadak terkait toko baju dan konveksi mereka yang tidak bisa ditinggal lebih lama. Meski kini tinggal berdua dengan Dimas di kontrakan baru itu, dada Adinda tidak sedikit pun merasa kesepian. Justru, rasa hangat dan lega yang luar biasa memenuhi seluruh sudut hatinya.
"Dimas, ayo lelenya dimakan mumpung masih hangat," tutur Adinda penuh perhatian seraya mengambilkan sepotong lele goreng garing dan meletakkannya di atas piring plastik Dimas.
Dimas tersenyum lebar, matanya berbinar-binar di bawah pendar lampu teras. "Wah, terima kasih, Ibu! Lele gorengnya kelihatan enak banget, baunya wangi!"
"Makan yang banyak ya, Sayang," sahut Adinda seraya melahap tempe penyetnya dengan perasaan nikmat. "Biar badan Dimas makin sehat, kuat dan tambah pintar. Kan minggu depan sudah mau masuk ke sekolah baru dengan seragam, sepatu, dan tas baru dari Pakde Danu!"
"Iya, Bu! Dimas seneng banget," jawab Dimas dengan mulut yang sibuk mengunyah nasi uduk gurih.
Adinda mengamati wajah polos anak semata wayangnya itu dengan perasaan haru yang membuncah di dalam dada. Dulu, di rumah Bagas, suasana makan malam selalu diselimuti ketegangan dan kecemasan. Ada saja sindiran dari ibu mertua atau tatapan dingin dan keluhan dari Bagas jika lauk yang tersaji dianggap kurang memuaskan. Namun malam ini, di rumah kontrakannya yang sederhana, makan pecel lele berbungkus kertas cokelat berdua saja dengan Dimas justru terasa puluhan kali lebih nikmat, tenang, dan membahagiakan.
Setelah suapan terakhir selesai dan piring-piring plastik telah dirapikan, suasana di teras mendadak menjadi lebih hening dan syahdu. Angin malam berembus pelan, menggoyangkan dedaunan tanaman hias di sudut halaman.
Adinda menatap wajah Dimas yang sedang mengelap jemarinya dengan tisu. Tiba-tiba ada rasa ganjal dan penyesalan halus yang merayapi sudut hati Adinda. Sebagai seorang ibu, bagaimanapun lapangnya rasa bebas yang ia rasakan hari ini, ia sadar ada sebuah kenyataan pahit yang harus ditanggung oleh anaknya.
Adinda menggeser posisi duduknya di atas tikar pandan, mendekati Dimas. Ia menggenggam kedua tangan kecil anaknya, menatap dalam-dalam ke sepasang mata jernih milik bocah laki-laki itu.
"Dimas..." panggil Adinda dengan suara yang mendadak bergetar halus.
Dimas menengadahkan kepalanya, menatap ibunya bingung. "Iya, Bu? Kenapa?"
Air mata hangat mulai menggenang di pelupuk mata Adinda. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengusap pipi halus Dimas.
"Ibu... Ibu mau minta maaf sama Dimas," tutur Adinda, suaranya terdengar lirih namun penuh dengan kesungguhan.
Dimas mengerutkan dahi kecilnya. "Minta maaf buat apa, Bu? Ibu kan ndak ada salah apa-apa sama Dimas?"
Adinda menggelengkan kepala pelan, menahan isak tangis yang hampir pecah. "Ibu minta maaf... karena akhirnya Ibu dan Abah harus berpisah secara resmi. Ibu minta maaf karena ndak bisa memberikan Dimas keluarga yang utuh seperti teman-teman Dimas yang lain. Mulai hari ini dan seterusnya, Dimas ndak akan tinggal satu rumah lagi sama Abah..."
Adinda menundukkan kepalanya sejenak, membiarkan satu tetes air matanya jatuh ke atas punggung tangan Dimas. "Ibu merasa bersalah sekali... karena keputusan Ibu ini membuat Dimas harus kehilangan sosok Abah di rumah..."
Mendengar bisikan pilu ibunya, Dimas tidak menangis. Sebaliknya, bocah laki-laki itu justru menarik tangannya pelan, lalu gantian menggenggam jemari ibunya dengan erat. Wajah kecil yang biasanya polos itu mendadak memancarkan kedewasaan yang luar biasa.
"Ibu... dengarkan Dimas ya," ucap Dimas dengan nada suara yang begitu tenang dan mantap, membuat Adinda mendongak terkejut.
Dimas mengusap air mata di pipi ibunya menggunakan ibu jarinya yang kecil. "Ibu ndak boleh minta maaf. Dimas justru seneng banget, Bu!"
Adinda tertegun, matanya membelalak pelan. "Dimas... senang?"
"Iya, Bu! Dimas seneng banget kita pindah ke sini dan berpisah sama Abah," tegas Dimas tanpa ragu sedikit pun. "Dimas sudah capek, Bu... Capek tiap hari lihat Ibu dimarahi sama Abah dan Nenek. Dimas benci kalau lihat Ibu nangis sendirian di kamar mandi atau di dapur waktu malam-malam. Tiap kali Abah bentak Ibu, dada Dimas rasanya sakit banget tapi Dimas dulu masih kecil dan ndak tahu harus bantu Ibu pakai cara apa..."
Mata Dimas berkaca-kaca, namun sorot matanya terpancar sangat kuat dan berani.
"Dimas nggak butuh rumah gede atau mobil baru kalau Ibu di sana cuma disakiti terus," lanjut Dimas dengan kalimat yang begitu dewasa. "Dimas lebih pilih tinggal di rumah kontrakan kecil ini berdua sama Ibu, makan pecel lele tiap hari juga ndak apa-apa, yang penting Ibu bisa senyum terus dan ndak nangis lagi!"
Adinda membatu. Ia tidak pernah menyangka bahwa bocah sekecil Dimas ternyata merekam dan merasakan semua penderitaan yang selama ini berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.
Dimas kemudian menepuk dadanya sendiri dengan bangga, meluruskan punggungnya. "Ibu ndak usah takut dan ndak usah sedih lagi ya. Sekarang Dimas kan sudah makin gede. Mulai sekarang, Dimas yang bakal jadi laki-laki di rumah ini! Dimas yang bakal jagain dan lindungi Ibu dari siapa pun yang mau jahat sama Ibu. Kalau ada yang berani ganggu Ibu atau buat Ibu menangis lagi, mereka harus berhadapan sama Dimas dulu!"
Mendengar janji tulus dan polos dari anak semata wayangnya itu, benteng pertahanan Adinda runtuh seketika. Namun kali ini, bukan air mata kesedihan yang jatuh, melainkan air mata keharuan dan rasa syukur yang amat sangat.
Adinda langsung merengkuh tubuh kecil Dimas ke dalam pelukannya, memeluknya dengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya. Ia menciumi puncak kepala anaknya berulang kali.
"Terima kasih banyak ya, Anak salehnya Ibu... Terima kasih banyak, Dimas..." bisik Adinda di sela isak tangis bahagianya. "Ibu beruntung sekali punya anak seperti Dimas. Ibu janji, Ibu akan berjuang sekuat tenaga buat bahagiakan Dimas."
Dimas membalas pelukan ibunya dengan hangat, menyandarkan kepalanya di dada Adinda. "Dimas juga janji, Bu. Dimas bakal belajar yang rajin biar nanti kalau Dimas sudah besar dan sukses, Ibu tinggal duduk manis menikmati hasil kerja Dimas."
Di bawah pendar lampu teras yang hangat malam itu, janji antara ibu dan anak terpatri dengan sangat indah. Sebuah ikatan kasih sayang yang kini berdiri tegak, tak tergoyahkan oleh badai masa lalu.
Setelah suasana haru melandai, Dimas mengusap matanya lalu menguap lebar. Rasa kantuk mulai menyerang tubuh kecilnya setelah seharian dipenuhi emosi dan kegiatan. Namun, saat teringat sesuatu, mata bocah itu kembali berbinar.
"O iya, Bu!" seru Dimas antusias. "Berarti besok Subuh Dimas harus bangun jam empat pagi kan, Bu? Biar Dimas bisa bantu Ibu ngupas bawang sama potong-potong sayur seperti biasanya buat persiapan katering!"
Adinda terkekeh pelan melihat antusiasme anaknya yang tak pernah surut. Ia merapikan poni rambut Dimas yang agak berantakan.
"Dimas, anak pintar Ibu..." tutur Adinda lembut. "Mulai besok Subuh dan seterusnya... Dimas ndak perlu ikut bangun Subuh-Subuh lagi buat bantuin Ibu masak di dapur."
Dimas mengerutkan dahi kecilnya, menatap ibunya dengan raut bingung. "Loh? Kenapa, Bu? Ibu ndak mau Dimas bantuin lagi? Dimas kan sudah jago ngupas bawang sama potong wortel, Bu..."
Adinda tersenyum haru, mengusap pipi mulus anaknya. "Bukan begitu, Sayang. Ibu senang sekali dan bangga punya anak seluar biasa Dimas. Tapi mulai besok Subuh, di dapur Katering Dapur Adinda sudah ada yang bantu Ibu. Mbak Sri sama Mbak Sumi dari kontrakan lama besok Subuh sudah mulai datang ke sini buat kerja ikut Ibu."
Dimas membelalakkan matanya gembira. "Wah! Tante Sri sama Tante Sumi mau kerja di sini, Bu?!"
"Iya, Dimas," lanjut Adinda lembut. "Jadi mulai besok, tugas Dimas cuma satu: tidur yang nyenyak, bangun pagi dengan segar, mandi, belajar yang rajin, dan fokus menyambut sekolah baru minggu depan. Biar urusan dapur dan masak-masak jadi tugas Ibu sama Mbak Sri dan Mbak Sumi. Dimas ndak boleh capek-capek lagi bantu masak ya. Tugas penjahat kecil yang mau melindunginya Ibu ini cukup fokus sekolah yang pinter!"
Dimas mengulas senyum paling ceria yang pernah Adinda lihat, rasa lega terpancar jelas di wajah kecilnya. "Asyik! Berarti besok pagi Dimas bisa santai sambil cobain tas sekolah baru sama sepatu baru dari Pakde Danu!"
Tawa bahagia ibu dan anak itu kembali pecah, menyatu dengan keheningan malam di teras rumah kontrakan baru mereka.
Usai berbincang panjang, Dimas yang sudah sangat kelelahan pamit masuk ke kamar untuk tidur. Bocah itu langsung tertidur pulas begitu merebahkan badannya, mendekap tas sekolah barunya di atas kasur yang empuk.
Adinda melangkah kembali ke teras rumah. Ia duduk sendirian di atas bangku kayu, menikmati keheningan malam yang tenang. Di tangannya, segelas air putih hangat mengepulkan uap tipis.
Adinda menatap langit malam yang bersih tanpa awan, ditaburi sejuta bintang yang berpijar kecil. Dadanya melonggar. Pikiran Adinda melayang membayangkan perjalanan hidupnya yang begitu berliku. Belum lama rasanya ia menangis sesenggukan di kamar mandi rumah Bagas, menahan rasa sakit hati akibat diabaikan, dihina, dan dianggap tidak berguna oleh keluarga suaminya sendiri. Belum lama pula rasanya ia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk melangkah keluar dari pintu rumah itu membawa Dimas tanpa membawa harta apa pun.
Namun malam ini, di bawah naungan langit yang sama, Adinda menemukan kembali dirinya yang utuh. Ia tidak lagi menjadi Adinda yang lemah dan terabaikan. Ia adalah Adinda seorang ibu, seorang wanita mandiri, dan pemimpin bagi usaha kateringnya sendiri yang kini dilindungi oleh malaikat kecilnya, Dimas.
Ponsel di pangkuan Adinda bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor Mbak Sri.
"Mbak Dinda, Assalamualaikum. Ini Sri cuma mau memastikan, besok Subuh jam 04.30 Sri sama Sumi sudah jalan naik ojek ke kontrakan baru Mbak Dinda ya. Kami berdua sudah ndak sabar mau bantu-bantu masak buat pesanan besok. Terima kasih banyak ya Mbak Dinda sudah kasih kami pekerjaan."
Adinda tersenyum hangat membaca pesan tulus tersebut. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan.
"Waalaikumsalam, Mbak Sri. Iya betul, jam 04.30 saja ya. Nanti bahan-bahan masakan utama sudah siap di dapur. Terima kasih kembali Mbak Sri, sampai ketemu besok Subuh."
Setelah mengirimkan balasan tersebut, Adinda menarik napas panjang, menghirup udara malam yang segar. Esok hari, lembaran baru operasional Katering Dapur Adinda akan resmi dimulai secara profesional bersama Mbak Sri dan Mbak Sumi. Tanpa rasa takut, tanpa bayang-bayang masa lalu, dan tanpa keraguan sedikit pun.
Adinda berdiri dari duduknya, merapikan cangkirnya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu depan. Malam ini, Adinda memadamkan lampu teras dengan hati yang dipenuhi rasa syukur dan harapan yang melimpah siap menyongsong fajar esok hari sebagai wanita yang baru, mandiri, dan berhak atas seluruh kebahagiaan di dunia.