Bercerita tentang Dian cewek SMA yang di panggil Datar oleh cowok yang dia suka.
Bermula dari ,
*sabuk pengaman yang lepas,
*ledekan yang tiada habisnya,
*bantuan konyol,
*suka,
*cemburu,
*salah paham,
*Jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dionesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Kakak Aku
Pulang sekolah Dian pergi ke toko buku diseberang sekolah St Louis. Ia memesan minuman duduk menghadap keluar toko. Sembari menunggu milk tea yang baru dipesan Dian terbayang akan perkataan Rifki diruang UKS sebelumnya.
"Kamu yakin Denis menyukai Kak Nina." ucap Dian tekejut mendengar pernyataan Rifki yang terlihat cemburu dengan Denis.
"Iya." sahut Rifki.
"Kamu tahu darimana Denis suka Kak Nina?" Tanya Dian tak percaya bahwa Denis menyukai tipe cewek seperti Nina.
"Mereka ketemuan berdua dicafe dekat sekolah St Louis." Jawab Rifki.
"Cafe yang mana ya?" gumam Dian memperhatikan sekitar St Louis sambil menyeduh milk teanya.
Tring!! bunyi gantungan pintu saat seorang masuk. sosok cowok dengan seragam sekolah SMA St Louis berjalan kearah Dian yang melamun dengan sedotan terjepit dimulutnya.
"Dor!" ucap cowok itu menepuk bahu Dian yang memperlihatkan wajahnya pada Dian.
"Kak Denis!" ucap Dian terkejut menjatuhkan sedotan yang tadi terjepit dimulut nya.
"Disuruh Papa ya?!"Tanya Denis duduk disampingnya lalu merebut minuman Dian dan meminumnya dalam satu tegukan.
Denis adalah Kakak satu-satunya yang dimiliki Dian. Denis bertengkar dengan David hal itu membuat cowok dengan lesung pipi ini memilih kabur dari rumah dan ngekos di kosan yang dibuka untuk mahasiswa yang tidak jauh dari lokasi sekolahnya.
"Bukan kali." celetuk Dian melap mulut sang kakak yang belepotan dengan tissue.
"Kalau bukan papa yang suruh terus ngapain kamu disini?" tanya Denis menarik komik yang ada didepan Dian.
"Neneklah!" jawab Dian mengingat sebelumnya ketika nenek akan kembali ia menitipkan uang untuk Dian serahkan pada Denis.
"Banyak gak?" tanya Denis sumringah. ia tahu karna neneknya pasti meninggalkan uang untuknya.
"PD amat." celetuk Dian meledek Denis yang langsung menebak kedatangan Dian menemuinya untuk memberikan uang.
"Lah emang bukan?!"
"Kak pulang yuk!" desis Dian pada Denis melihat beberapa cewek mulai ramai masuk ke toko.
Sejak Denis datang pengunjung toko buku dalam sekejap dipenuhi pengunjung cewek dari berbagai sekolah dan kampus yang lokasinya dekat dengan St Louis. Perasaan tidak betah berada disamping Denis pun mulai menggerogoti Dian.
"Kamu udah mulai gak nyaman ya?" tanya Denis yang melihat sang adik mulai gelisah akan keberadaan cewek-cewek yang menilik pada mereka dan kertas-kertas berisi salam kenal berdatangan kemeja tempat keduanya.
"Kakak sih mukanya terlalu diekspos." gerutu Dian menutup wajahnya dari balik komik.
"Gimana mau nutupin ini kan masih area sekolah kakak geblek!" sahut Denis memakaikan masker keadiknya itu.
Denis Si Kapten basket dengan lesung pipi yang membuat kaum hawa tenggelam dan menetap didasar hatinya sungguh meresahkan sang adik. Dian kerap disalah pahami oleh pacar-pacar Denis bahkan cewek yang tidak memiliki hubungan spesial apapun dengan kakaknya itu.
Dian juga kerap dimanfaatkan oleh penggemar Denis yang mengetahui bahwa dirinya adalah adik si playboy ini. Bukan hanya itu Dian dan Denis juga mengalami hal buruk disaat berada disekolah yang sama. Itu kenapa Denis dan Dian tidak berada disekolah yang sama saat SMA meskipun keduanya hanya memiliki perbedaan usia satu tahun.
"Akhirnya bisa terlepas juga dari kerumunan." ucap Dian ketika keduanya tiba dicafe tidak jauh dari sekolah Denis.
"Kamu mau makan apa?" tanya Denis memanggil pelayan dengan jentikan jarinya.
"Biasa aja kak." jawab Dian melepaskan topinya membuat rambut panjangnya terurai.
"Mie goreng seafodnya dua. Satu gak pedas. Yang pedes gak pakai bawang prei. Minumnya satu jus guava. Satunya lagi jus avocad. Yang guava esnya dikit aja." ucap Denis pada pelayan.
"Masih ada yang lain?" tanya Pelayan.
"Yan ada lagi gak?" tanya Denis pada Dian yang melepas kacamatanya yang tak bermin itu.
"Ayam mentega goreng sama es kosongnya deh kak." jawab Dian melihat ke pelayannya.
"Itu aja kak." ucap Denis pada pelayan.
Dua puluh menit kemudian hidangan pun siap disantap oleh keduannya tanpa peduli dengan beberapa cewek yang lagi-lagi memperhatikannya.
"Pulang dari sini itu lesung pipi di tambal aja ya kak." sindir Dian pada Denis yang tidak bisa menyembunyikan lesung pipi dan senyumnya setiap ada cewek yang caper padanya.
"Kamu kira gigi berlubang pake acara ditambal segala." sahut Denis yang menyomot udang-udang yang dipinggirkan Dian dipiringnya.
"Kak Denis udang aku jangan diambil." gerutu Dian menepis garpu Denis dengan sumpit ditangannya.
"Lah kirain kamu gak mau." ledek Denis menggoda adiknya yang suka menyisihkan makanan favoritnya untuk dimakan diakhir.
"Aku lempar Nina baru tau rasa." bisik Dian yang kemudian menjulurkan lidah mengejek Denis yang melap mulutnya.
"Nina siapa?" Tanya Denis menaikan salah satu alisnya.
"Nina temannya Budilah kak." Jawab Dian dengan buru-buru memasukkan udang kemulutnya sebelum Denis menyomotinya lagi dari piringnya. "Emang ada Nina yang lain?" tanya Dian melirik ke Denis yang mengernyitkan keningnya.
"Kamu tahu Nina Petro?" jawab Denis balik bertanya pada Nina.
Denis tahu dari awal kalau Nina satu sekolah dengan adiknya. Namun Denis tidak pernah mengekspos pada orang lain bahkan Nina yang sudah lama mengenalnya bahwa dirinya memiliki adik yang bersekolah disana. Ia tak mau sang adik dimanfaatkan oleh orang-orang seperti Nina untuk terhubung padanya.
"Pacar kakak bukan?" tanya Dian memancing Denis untuk mencari tahu kebenaran apakah keduanya sudah ditahap pacaran,pdkt atau apalah seperti yang ia dengan dari Rifki.
"Bukan Pacar." jawab Rifki mengaduk jusnya yang tinggal setengah lagi.
"Tapi Kakak suka gak?" tanya Dian melipat tangannya dimeja. "Sama si Nina itu." Sambungnya lagi.
"Sukalah orang dianya cantik." jawab Denis apa adanya.
"Ada rencanan mau dikarungin gak tuh cewek?" tanya Dian yang mengetahui gimana playboynya sang kakak. Dian bahkan gak tahu udah berapa yang nambah semenjak Denis tinggal diluar rumah.
"Mana ada ya?" sangkal Denis yang setiap waktu diledek sang adik karna keplayboyannya itu.
Ditengah pembicaraan keduanya Nina yang mereka bicarakan sebelumnya menghampiri keduanya.
"Kamu siapa?" tanya Nina pada Dian yang tertawa dengan Denis.
"Dia cewekku kenapa?" tanya Denis balik pada Nina. Ia sengaja melakukan itu agar Nina berhenti mendekatinya. Sementara itu Dian yang dijadikan tameng oleh sang kakak melotot dengan garpu ditangan yang siap menancap.
"Cewekmu yang keberapa?" tanya Nina mendekatkan wajahnya memeriksa Dian yang jauh lebih cantik darinya. Dengan penampilan Dian tanpa kacamata bohongannya itu tak ada yang menyangka bahwa dia adalah datarnya Rifki. Itu mengapa Denis bisa membuat sang adik jadi tameng bagi Nina yang tak pernah nyerah memilikinya.
"Oh begitu!" jawab Nina duduk bersama keduanya dimeja yang sama. Ia menatap sinis pada Dian seolah menyatakan perang dengannya untuk mendapatkan Denis.
"Biasa aja dong matanya. Denis itu kakak aku geblek!" gumam Dian dalam hati menancapkan garpunya pada ayam mentege goreng didepannya.
cerita dian sama rifki ini benar-benar penyegaran bagi aku.
aku juga uda baca novel "Bukan suami pengganti" novel aksi yng bagus.... dan smpai sekarang nunggu up keduanya.
aku tunggu selalu lanjutan karya ini 😊😊 sehat sehat y author
knp blum hadir?? bukankah kita dh janjian... bwt ketemu lg secepatnya... di sini???
lm
lama nian tak jua kembali. ... rindu hadirmu...
knp sih kmu itu lola???
cepet lanjut yak,,,
ceritamu bikin mood booster bagiku,, like, like, like
yg bnyk dong thor upnya.... biar revisinya sekalian.... 😅😇
kangen tau sm mrk yg dh alpa bbrp hr... rasanya dh setahun gk jumpa... rindu berat... 😘😘😘😛😛