NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 011 - Aib Keluarga

Masalah itu datang lebih cepat dari perkiraan.

Pagi berikutnya, bel unit berbunyi keras.

Arya baru selesai menyiapkan sarapan. Ibu Sri sedang menemani Kirana minum vitamin. Bapak Hendra membaca ulang dokumen di meja makan.

Bel berbunyi lagi.

Lebih panjang.

Kirana langsung pucat.

"Aku lihat dulu," kata Arya.

Ia membuka layar interkom.

Seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu lift. Batik cokelatnya rapi, kumisnya tebal, wajahnya keras. Di belakangnya ada satpam apartemen yang tampak canggung.

"Saya Agus Setiawan," kata pria itu ke kamera. "Suruh Kirana keluar."

Gelas di tangan Kirana hampir jatuh.

"Om Agus..."

Ibu Sri cepat memegang gelas itu.

Bapak Hendra berdiri.

"Siapa?"

Kirana menjawab dengan suara kecil, "Adik almarhum Ayah. Wali keluarga saya."

Arya membuka pintu.

Om Agus masuk tanpa menunggu dipersilakan.

Matanya menyapu ruang tamu: sofa mahal, jendela besar, meja makan, obat kehamilan, vitamin, map dokter, lalu berhenti pada Kirana.

"Kirana."

Suaranya rendah dan berbahaya.

Kirana berdiri di belakang Ibu Sri. "Om..."

"Ini benar?"

Tidak ada yang menjawab.

Om Agus melihat perut Kirana, lalu melihat Arya.

"Kamu Arya Pratama?"

Arya maju satu langkah. "Iya, Om. Saya Arya."

"Kamu yang membuat keponakan saya seperti ini?"

"Saya ayah dari anak yang dikandung Kirana. Saya akan bertanggung jawab."

Kalimat itu belum selesai menenangkan apa pun.

Tangan Om Agus melayang.

Tamparan itu mendarat keras di pipi Arya.

Suara tajam memenuhi ruang tamu.

Kirana menjerit kecil. Ibu Sri menutup mulut. Bapak Hendra langsung maju satu langkah, matanya menyala.

Pipi Arya panas. Sudut bibirnya terasa perih.

Ia tidak membalas.

Ia juga tidak mundur.

Om Agus menunjuk wajahnya.

"Kamu tahu dia siapa? Dia anak kakak saya. Satu-satunya yang tersisa dari darah kakak saya. Ibunya kerja sampai tulang lututnya rusak supaya dia bisa kuliah. Lalu kamu bawa dia ke apartemen seperti ini?"

Arya menelan darah tipis di bibir.

"Saya salah, Om. Saya datang untuk bertanggung jawab."

"Bertanggung jawab?" Om Agus tertawa pahit. "Anak muda kalau sudah merusak masa depan perempuan selalu bicara tanggung jawab."

Bapak Hendra berdiri di samping Arya.

"Pak Agus," katanya tegas, "Anda sudah menampar anak saya."

"Anak Bapak merusak keponakan saya."

"Kita bicara. Tangan cukup sekali."

Om Agus menoleh kepada Bapak Hendra. Dua pria tua itu saling menatap. Ruangan terasa sempit.

Kirana menangis. "Om, jangan..."

Om Agus menunjuknya. "Kamu diam dulu. Kamu tahu ibumu belum tahu? Kamu tahu apa yang akan terjadi kalau kabar ini sampai Malang lewat mulut orang lain?"

Kirana terisak. "Aku takut, Om."

"Takut setelah semuanya terjadi?"

Om Agus menepuk dadanya sendiri.

"Ayahmu sudah tidak ada. Di keluarga ini, kalau ada urusan wali, orang akan datang ke saya. Tetangga akan tanya saya. Saudara akan tanya saya. Nanti ibumu berdiri sendirian di Malang, menahan malu, dan saya baru tahu dari orang lain?"

Kirana menangis makin keras. "Maaf, Om."

"Maaf tidak cukup untuk mengangkat kepala ibumu di depan orang."

Arya maju lagi, meski pipinya masih sakit.

"Om, jangan tekan Kirana. Saya yang akan bicara dengan Ibu Ratna."

"Kamu pikir kamu bisa datang membawa mobil mahal lalu semua selesai?"

"Tidak. Saya datang membawa permintaan maaf dan rencana."

"Rencana apa?"

Arya mengambil map dari meja. Ia menyerahkannya dengan dua tangan.

"Pemeriksaan dokter, tempat tinggal aman, biaya kontrol, rencana kuliah Kirana tetap selesai, dan rencana pernikahan."

Om Agus tidak mengambil map itu.

"Pernikahan?"

"Iya, Om."

"Kamu sudah bicara dengan wali?"

"Belum. Karena itu saya akan datang ke Om dan Ibu Ratna."

"Saya sudah datang."

Om Agus akhirnya mengambil map itu, membuka sekilas, lalu melemparkannya ke meja.

"Kertas tidak menghapus malu."

Bapak Hendra menjawab sebelum Arya sempat bicara.

"Malu tidak hilang dengan teriakan juga."

Om Agus menatapnya tajam.

Bapak Hendra melanjutkan, "Anak saya salah. Saya tidak membela kesalahannya. Dia berdiri di sini menerima tamparan dan masih bicara menikah. Kita wajib menguji keseriusannya sebelum semuanya hancur di pagi pertama."

Om Agus mengepalkan tangan.

"Saya bisa bawa Kirana pulang sekarang."

Kirana mundur setengah langkah.

Arya berdiri di depannya.

"Om bisa marah kepada saya. Om bisa memaki saya. Tapi jangan paksa Kirana bergerak dalam kondisi seperti ini. Dia hamil muda. Dokter bilang stres berat harus dihindari."

"Kamu mengajari saya menjaga keponakan saya?"

"Saya memohon Om menjaga dia bersama saya."

Om Agus menunjuk dada Arya.

"Kalau kamu benar-benar mau menjaga, kamu datang ke Malang. Kamu duduk di depan ibunya. Kamu dengar semua tangisnya. Jangan kirim pesan, jangan telepon, jangan sembunyi di apartemen mahal."

"Saya akan datang."

"Bawa orang tuamu?"

Bapak Hendra menjawab, "Saya datang kalau diperlukan."

Om Agus menatapnya. "Diperlukan. Ini keluarga, Pak. Ada hati, darah, dan nama baik di dalamnya."

Bapak Hendra mengangguk pelan. "Saya mengerti."

Kalimat itu membuat Om Agus diam sesaat.

Ibu Sri mengusap air mata, lalu bicara pelan.

"Pak Agus, saya ibu Arya. Saya juga malu. Saya juga sakit. Anak-anak ini sudah jatuh. Kalau kita semua hanya memukul, cucu kami dan calon cucu keluarga Bapak yang paling kena."

Ia menarik napas, suaranya bergetar.

"Saya tidak meminta Bapak langsung memaafkan. Saya hanya meminta kita menjaga Kirana tetap berdiri sampai semua orang tua bisa duduk bersama."

Kata "cucu" membuat ruangan berubah.

Om Agus melihat Kirana. Air mata gadis itu jatuh tanpa henti. Satu tangannya memegang perut.

Wajah Om Agus menegang.

Ia menarik napas panjang.

"Dua minggu."

Arya menatapnya.

"Dalam dua minggu, nikah siri. Saya jadi wali. Setelah itu kalian urus resmi secepatnya. Sebelum itu, kamu datang ke Malang dan bicara dengan Ibu Ratna di depan saya."

Kirana menutup mulut.

Om Agus menunjuk Arya.

"Kalau kamu mengulur waktu, kalau kamu mempermainkan dia, saya bawa Kirana pulang. Kamu tidak akan melihat dia lagi."

"Saya terima syarat itu."

"Jangan jawab cepat. Pikirkan."

"Saya sudah pikirkan sejak hari pertama."

Om Agus menatap pipi Arya yang memerah. Beberapa detik kemudian, ia berbalik ke pintu.

"Saya tunggu kabarmu hari ini. Jangan membuat saya mencari kalian lagi."

Pintu tertutup keras.

Kirana mengejar dua langkah, lalu berhenti. Kakinya lemas. Arya menahannya sebelum jatuh.

"Arya..." Tangisnya pecah. "Kita benar-benar harus menikah?"

Arya mengusap darah kecil di sudut bibirnya.

Rasa perih itu tetap ada, mengingatkannya pada harga sebuah tanggung jawab.

Ia tidak menyesal.

Ia menatap Kirana, lalu menatap Bapak Hendra dan Ibu Sri.

"Memang dari awal harus begitu," katanya. "Sekarang waktunya maju lebih cepat."

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!