Hi ☺️
Novel lanjutan dari akun pertama "AKUN ANANTA"
Mengandung adegan 21+ harap bijak dalam membaca cerita ini🚫
Maysaroh diperkosa oleh Rio dan menghadapi tekanan perasaan akibat peristiwa hitam tersebut. Kesedihan Maysaroh bertambah saat dirinya hamil. Pattra tahu apa yang sudah terjadi kepada diri Maysaroh menaruh simpati padanya. Akhirnya Pattra menikahi Maysaroh.
Ikuti kisah lanjutannya akankah Pattra dan Maysaroh menjadi sepasang suami istri yang sangat bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isna Imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Pekerjaan kantor yang sangat menumpuk membuat Papa Wiguna dan Pattra pulang agak lambat. Setelah sampai di rumah mereka di suguhi pemandangan yang sangat takjub di mana Mama Una masih saja berbuat tidak senonoh kepada May.
"Ada apa ini? Tanya Papa Wiguna yang sampai di depan pintu ruang tamu dan di susul dengan Pattra
"Papa sudah pulang" Jawab Mama Una tersenyum
"Apa yang Mama lakukan kepada May? Tanya Papa Wiguna mengulanginya lagi
"Apa yang Mama lakukan? Mama tidak berbuat apa-apa Pa" Jawab Mama Una berbohong
"Papa melihatnya Ma. Tolong jangan lakukan itu kepadanya" Ucap Papa Wiguna berjalan masuk ke ruang tamu dan duduk di kursi
"Papa jangan salah sangka dulu ke Mana" Jawab Mama Una duduk di kursi samping suaminya
"Ma... Sudahlah akhir saja drama ini. Dia tidak bersalah dan yang bersalah adalah Rio" Sambung Pattra
"Pokoknya kau tidak boleh menikah dengannya dan Rio juga tidak boleh menikah dengannya juga" Ucap Mama Una membentak Pattra
"Sudahlah Ma kita lupakan saja kejadian itu. Pattra yang akan bertanggung jawab atas kesalahan Rio" Jawab Pattra
"Di mana Rio sekarang, Ma? Tanya Papa Wiguna
"Rio pergi dari tadi pagi dan belum pulang ke rumah" Jawab Mama Una
"Astaga anak itu" Ucap Papa Wiguna geram
"Sudahlah Pa biarkan Rio pergi untuk menenangkan pikirannya dan lihatlah Isna mengurung diri di dalam kamarnya bahkan tidak mau makan" Jawab Mama Una
"Apa" Ucap Pattra terkejut
"Iya itu semua salahmu Pattra. Kau sangat konyol sekali ingin menikahi perempuan itu. Lihat Isna dan bagaimana perasaannya pasti dia sudah merasa kecewa dengan mu" Jawab Mama Una dengan sinis melihat wajah May
"May pergi ke kamar mu dan maafkan atas ucapan Mamaku" Perintah Pattra yang melihat May masih berdiri di sana
May tidak menjawabnya melainkan hanya mengangguk kepalanya saja.
"Maksud mu apa Pattra menyalahkan Mama. Kau membela perempuan itu. CK" Ucap Mama Una
"Aku merasa kasihan kepada May, Ma. Lihatlah dia begitu tertekan dengan keadaan ini" Jawab Pattra
"Pattra pergi ke kamar mu dan lihatlah keadaan istrimu! Bujuklah untuk makan" Perintah Papa Wiguna
"Baik Pa. Pattra ke kamar dulu" Ucap Pattra
"Hm" Jawabannya
"Astaga ada apa dengan semua orang yang berada di rumah ini" Ucap Mama Una pergi dari ruang tamu dan menuju ke kamar miliknya
Setelah kepergian Pattra dan Mama Una. Papa Wiguna menelepon salah satu anak buahnya untuk mencari di mana keberadaan Rio.
"Tring... Tring... Tring..." Suara ponsel berbunyi
"Hallo Bos" Ucapnya
"Cari Rio di mana dia sekarang dan bawa ke hadapanku sekarang juga" Perintah Papa Wiguna
"Siap Bos" Jawabannya
Setelah mengakhiri teleponnya Papa Wiguna tidak ingin pergi ke kamar untuk berganti pakaian atau mandi melainkan Papa Wiguna pergi menuju ruang kerjanya. Papa Wiguna duduk di kursi kerjanya dengan menyenderkan kepalanya yang terasa pening. Sesekali Papa Wiguna memijit kepalanya sendiri.
"Ah... Kenapa semua ini terjadi di keluarga" Ucap Papa Wiguna frustasi
"Rio... Rio... Rio... Anak itu selalu saja membuat ulah. Dasar bajingan" Umpat Papa Wiguna
Selang beberapa jam kemudian anak buah Papa Wiguna sudah berhasil menemukan Rio dan membawa pulang ke rumah Wiguna. Papa Wiguna sudah mengirimkan pesan kepada anak buahnya untuk membawa Rio ke ruang kerjanya.
"Tok... Tok... Tok..." Suara pintu di ketuk dari luar
"Masuk" Jawabnya
"Ini Rionya Bos" Ucap salah satu anak buahnya
"Kau Roma dan Romi pegang tangan Rio" Perintah Papa Wiguna
"Siap" Jawabannya
"Lepaskan" Ucap Rio yang mengerti apa maksud Papanya dan ingin lepas dari mereka berdua
"Dan untuk kau Tomi hajar Rio" Perintah Papa Wiguna
"Tapi Pak" Ucap Tomi
"Tomi kau ingin memilih yang mana saya hajar kamu sampai babak belur atau kau menghajar anakku sampai babak belur? Tanya Papa Wiguna
"Pa" Ucap Rio
"Diam" Teriak Papa Wiguna
Tanpa basa-basi Tomi menghajar Rio hingga terjatuh lemas dan tidak berdaya bahkan wajah Rio hampir tidak bisa di kenalinya lagi.
Bersambung... ✍️