WARNING!!! BIJAKLAH MEMBACA!!! NOVEL 21+!!! JIKA TIDAK SUKA SKIP SAJA . MARI SALING MEMPERMUDAH URUSAN ORANG LAIN MAKA HIDUP ANDA PASTI JUGA AKAN DI MUDAHKAN OLEH TUHAN.
Laura Elsabeth Queen tidak menduga ia akan bertemu kembali dengan Zafran Volkofrich mantan kekasihnya, di acara ulang tahun teman sekelas mereka, 10 tahun yang lalu mereka berpisah dengan tidak damai, orang tua Laura menentang keras hubungan mereka karena Zafran pria miskin. Zafran masih sakit hati pada Laura dan ingin membalas dendam.
Di sisi lain Laura mengetahui rahasia kedua orang tuanya setelah mereka meninggal, dan kini beban berat berada di pundak Laura.
Sedangkan Zafran pria miskin itu kini telah berubah menjadi penguasa dunia bisnis.
Bagaimana kisahnya yuk baca kelanjutannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20
Zafran hanya bisa menahannya, ia tidak ingin Laura kembali marah, pria itu mengingat bagaimana terakhir kali Laura berteriak padanya.
Kemudian Zafran mengangkat kepalanya, dan berjalan, berpindah duduk di samping Laura, gadis itu pun juga dengan cepat mengangkat kepalanya juga, ia merasakan kaku di lehernya karena tegang. Laura pun perlahan memijat-mijat tengkuk lehernya.
Selang beberapa menit dan mereka hanya saling diam, tanpa ada sepatah katapun terucap membuat suasan terasa canggung bagi Laura.
Sedangkan gadis itu juga tahu Zafran bukan lah tipe pria yang senang mengobrol basa-basi, pria itu hanya berbicara seperlunya, dan selalu pada topik yang ia inginkan.
"Aku.... setiap malam, saat masih kecil selalu memandangi bintang dengan ayahku, kami berbaring di atas atap hingga ibuku kebingungan mencari kami, akhirnya ayahku lah yang di marahi." Laura tertawa kecil, namun senyumnya dengan cepat lenyap dan kembali masam.
Zafran melihat Laura yang tertunduk, dengan sembunyi-sembunyi tangan mungil itu menyeka matanya, gadis itu sudah sekuat tenaga untuk menahan, namun setitik air mata tetap lolos di sudut matanya.
"Kau pasti sudah tahu bukan, kalau aku di buang oleh kedua orang tuaku di jalanan, kisah ini bahkan menjadi bahan ejekan selama aku bersekolah, dan kau selalu ada di sampingku kala itu, kau satu-satunya orang yang tidak meninggalkanku."
"Meski aku tahu siapa yang menyebarkannya, tapi aku tidak pernah berniat melawannya, karena aku pikir itu hanyalah tingkah yang kekanakan dan konyol." Kata Zafran sembari melihat langit, dan menyandarkan punggungnya di kursi.
Laura terkejut dengan pernyataan Zafran, karena Zafran tidak pernah sekalipun menyinggung masalah itu, dan Laura pun tak pernah membahasnya.
Laura seolah menganggap bahwa masalah itu tidak pernah ada dan ia tidak ingin ikut campur. Beberapa menit lamanya gadis itu terus memandang wajah masam Zafran, inilah kali pertama Laura melihat Zafran nampak rapuh, gadis itu tak mengerti kenapa Zafran tiba-tiba menceritakan itu semua padanya.
"Apa aku sangat tampan? Kau tidak mengedipkan matamu." Kata Zafran menoleh pada Laura.
"Ehem..." Laura berdehem karena salah tingkah, wajahnya memerah, ia tak percaya Zafran benar-benar berubah menjadi pria narsis.
"Aku mencabut kalimatku, Zafran bukanlah pria rapuh, dia pria narsis dan sangat menyebalkan." Kata Laura dalam hatinya. Gadis itu menarik kembali perasaan simpatinya yang baru saja ia berikan pada Zafran.
"Siapa yang melakukan semua itu padamu?" Laura memberanikan diri untuk bertanya, meski rasa takutnya sangat besar mempertanyakan masalah yang sangat sensitif bagi Zafran namun rasa penasarannya pun sangat menggelitiknya.
Zafran melengkungkan bibir nya dan kemudian menggelengkan kepalanya dengan perlahan, menandakan bahwa itu tidak akan memberitahukannya pada Laura.
"Aku hanya ingin kau selalu berhati-hati jangan mudah percaya pada siapapun."
"Termasuk kau juga?" Laura menyambar dengan cepat.
"Ya." Kata Zafran lirih dan tak ada ekspresi.
Malam itu di akhiri dengan kalimat yang membuat mereka sama-sama di lingkupi perasaan canggung, Laura pun berpamitan pergi masuk ke kamarnya lebih dulu, di susul Zafran yang juga ikut masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
***
Pesawat telah mengudara diatas awan, perjalanan yang kedua adalah untuk menghadiri pesta ulang tahun Philip adik dari Edward assisten sekaligus sahabat Zafran.
Semenjak obrolan malam itu, Zafran seolah menarik diri dari Laura. Pria itu hanya diam dan terus fokus pada layar laptop serta ponselnya.
Bahkan Laura sangat ingat, malam hari dimana Zafran mengantar Laura menunju kamar, pria itu secara tiba-tiba berubah menjadi pria dingin yang diam tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya.
Hingga menuju ke pesawat pun, Zafran sudah lebih dulu berada di dalam pesawat dan duduk menatap layar laptopnya dengan wajah dingin, dan angkuh.
Laura tidak ingin salah bersikap, namun dengan sikap Zafran yang sekarang ini, sedikit banyak membuatnya lebih tenang karena ia dapat beristirahat melonggarkan sedikit kewaspadaannya dari apa yang akan Zafran lakukan secara tiba-tiba tehadap dirinya.
Namun ada sisi dimana Laura merasa ditinggalkan dan kesepian serta tak berguna, dengan sikap Zafran saat ini, seolah Zafran tidak ingin menatap mata Laura dan menjauhi Laura bahkan Stark kini menjadi orang ketiga diantara mereka, Stark menjadi penghubung diantara mereka.
Terakhir kali Stark mengatakan bahwa Zafran ingin Laura memakai baju casual karena kali ini acara mereka berada di pantai dan akan menaiki kapal, yang akan berlayar hingga ke samudra lepas.
Hanya butuh waktu tak kurang dari 2jam penerbangan dan kini mereka sudah sampai di tempat tujuan. Bandara pribadi yang berada di dekat pantai.
Angin khas pantai yang besar menyapa Laura, rambut panjang gadis itu berterbangan, dan dari belakang secara tiba-tiba Zafran memakaikan topi pantai pada Laura. Tanpa sepatah kata dan terus berjalan melewati gadis itu.
"Orang aneh." Gerutu Laura dalam hati.
Pesta acara ulang tahun akan di adakan malam hari di tepi pantai dan di kapal pesiar, Laura memasuki kamar yang sudah di sediakan oleh para petugas Resort. Dengan tatapan nanar Laura melihat sebuah pintu yang tepat berada di tengah-tengah kamarnya, gadis itu sudah tidak asing, pasti itu adalah pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Zafran.
Laura , melihat-lihat kamar miliknya yang cukup luas dan mewah, gadis itu berdecak kagum dan dengan melenguhkan nafasnya ia berbaring di atas ranjangnya yang empuk seperti sedang berada di atas awan.
"Tubuhku lelah, bukan karena acara di Prancis tapi karena lebih banyak waktu ku berada di udara. Aku akan berendam mungkin air hangat akan mengembalikan tenagaku."
Kata Laura.
bersambung~