Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya menikah juga..
Sifa sudah duduk disamping Ilham, gadis belia berusia 22 tahun ini, akan segera menikah dengan seorang dokter duda tua berusia 50 tahun
"Baiklah, bapak Ilham Zayn Bin Nadem Han, usia bapak berapa?" Tanya pegawai KUA mengecek data dengan membaca sekelumit biodata calon pengantin
"50 tahun pak"
"Status ?"
"Duda"
"Berarti sudah pernah menikah dong ya?"
"Iya, sudah"
"Cerai mati, cerai hidup?"
"Cerai mati"
"Lulusan?"
"S2"
"Mempelai wanita, nama?" Pertanyaan untuk Sifa dari pegawai KUA
"Assifa Yasmin"
"Binti Yusman ya?"
"Iya"
"Belum pernah menikah?"
"Belum"
"Berarti perawan ya?"
"Iya"
"Apakah Assifa ada paksaan dari bapak Ilham?" Kacamatanya pegawai KUA sudah diplorotin
"Tidak ada pak"
"Baik, lulusan?"
"SMA"
"Untuk bapak Ilham, maharnya sudah siap?"
"Sudah pak"
Wahidah sudah menyerahkan uang sebanyak 10 juta "Sepuluh juta pak, silahkan dicek kembali" -Wahidah
Pegawai KUA mengecek kebenaran jumlah maharnya, dan pas setelah dihitung
"Baik bisa dimulai sekarang ya ? Siap?"
"Siap"-Ilham
Saksi mempelai pria yaitu Anand sendiri sang kakak, sedang wali untuk Sifa adalah wali hakim, dan yang diwajibkan memenuhi syarat nikah juga sudah terpenuhi semua dari pihak manapun.
"Saudara Ilham Zayn bin Nadem Han, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan anak saya, yang bernama Assifa Yasmin binti Yusman, dengan mas kawin uang sepuluh juta dibayar, TUNAI!!!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Assifa binti Yusman dengan mas kawin tersebut, dibayar, TUNAI !!!"
"Saksi sah"
Sah
Sah
Sah
Penghulu memimpin do'a
Setelah do'a sudah diucapkan, kedua mempelai saling bersalaman
Assifa memegang tangan kanan Ilham, dan mencium punggung tangan suaminya, Ilham tersenyum sebagai balasan lega
Wahidah berbisik "Enggak dicium jidatnya Il?"
"Nggak usah kak malu"
"Ah cemen kamu"
Sementara, malampun tiba
Ilham sudah mendapat panggilan darurat dari rumah sakit
Akhirnya, tidak menunggu lama mereka berempat meninggalkan rumah Sifa.
Sifa menyerahkan kunci rumah Sifa kepada mak Tun
Ilham menyetir, Anand duduk disebelah Ilham, sedang dua perempuan, Sifa dan Wahidah duduk dijok belakang.
Wahidah membuka suara
"Il, resepsi pernikahanmu diadakan seminggu lagi ya?"
"Harus ya kak?"
"Ya haruslah, Sifa kan belum pernah menikah, dan belum pernah jadi ratu semalam"
"Bu, menikah sederhana seperti tadi juga tidak apa apa, tidak usah pakai pesta. Mending uangnya ditabung, sayang dihambur hamburin"
"Ilham uangnya banyak, dihamburin dikit nggak masalah, bukankah kemarin dia dapat jekpot seratus juta? enteng buat dia mah"
"Aku sudah tua, apa nggak malu kak?"
"Malu kenapa ? biar semua orang taulah, kalau kamu bukan duda lagi"
Hanya memakan waktu beberapa menit, mereka sudah sampai di basement rumah sakit.
Ilham memarkirkan mobilnya diparkiran khusus para dokter
"Sifa, malam ini kamu nginap dirumah saya ya?" -Wahidah
Sifa bingung
Ilham menatap Sifa "Iya, ikut kakak ya? untuk sementara, kamu tinggal dirumah kakak dulu"
Sifa menatap Ilham bingung
"Jangan bingung, seminggu lagi, kita baru ketemu diresepsi, ya?"
"Kamu kuat Il?"-Wahidah
"Kenapa nggak kuat? aku juga harus menata hati kak" Bisik Ilham
"Ok, aku ikutin permainanmu ya? tapi, sebagai imbalan, kamu jangan permainkan dia"
Mereka berempat sudah turun dari mobil Ilham, dan dilanjut masuk kemobil Anand, kecuali Ilham.
Malam ini ada beberapa pasien yang harus ditangani oleh Ilham
"Ah iya kak, aku minta bantuan kakak" Ilham menyerahkan kartu saktinya dari dompet "Ini kartu untuk kebutuhan Sifa, nomor pinnya tanggal lahirku"
"Kalau aku kuras habis, bagaimana?"
"Terserah kakak , kakak boleh ambil , tadi aku pinjam berapa?"
"Asiiikkkk, mau aku habisin dolarmu Il" Goda Wahidah
"Serah"
Akhirnya mereka berpisah
Ilham berdiri menyaksikan istri barunya masuk kedalam mobil kakaknya
"Kami pamit Il" Anand dari balik jendela kemudi
Ilham tersenyum "Iya kak, hati hati" Sambil malambaikan tangan
Wahidah menyembul dari samping Anand "Il, aku mau kasih pallet ( Pakan ikan ) buat istrimu ya? biar montok kayak lelenya bang toyib"
"Memangnya Sifa ikan, mau diceburin diempang?"
Ahahaha
Setelah mobil Anand berlalu dari hadapan Ilham, Ilham masuk keruangannya untuk mengganti jas hitamnya dengan jas putihnya.
Dayang dayang sudah menunggu diruang operasi. Dengan konsentrasi penuh, akhirnya Ilham bisa menyelesaikan tugasnya membedah dua ibu hamil yang susah melahirkan normal.
Ilham masuk lagi kedalam ruangannya, melepas jas putihnya dan mengganti dengan jas hitamnya
Wajah letih, kinclong karena minyak wajah berlebih, membuat wajah Ilham terlihat sangat lelah.
Akhirnya Ilham memutuskan pulang kerumahnya pada jam 2 dini hari
Ilham memasuki halaman rumahnya dengan tubuh yang sangat lelah, Ilham disambut satu satpam dan pak Dar yang selalu on jika tuan rumahnya belum pulang
"Tuan dokter baru pulang? apa ada yang harus saya siapkan tuan?" Pak Dar
"Tidak perlu pak Dar, saya mau mandi, dan segera tidur, istirahatlah" Ilham menyentuh pundak pak Dar
"Terimakasih tuan, selamat malam ?"
"Iya pak"
Ilham langsung masuk kekamar utama, dimana dulu kamar ini menjadi saksi dirinya dengan almarhumah istri pertamanya memadu kasih
Ilham masuk dalam bathup yang sudah dikasih air dan wewangian untuk merelaxkan tubuhnya yang sudah loyo, hanya beberapa menit, Ilham sudah terlihat segar
Ilham langsung menggunakan piama dan masuk kedalam selimut tebal, tak berapa lama, mimpi indah menjemputnya dialam bawah sadarnya.
Sementara
Sifa sudah diajak kekamar Xander untuk mencarikan baju Najwa yang belum terpakai sama sekali
Wahidah langsung menghubungi Najwa didubai
"Hallo eyang mami.. " Sapa Xander, Najwa dan cucunya Yuanita Zahira Alexandrea yang masih berumur 6 bulan
"Hello Yuyu sayang cucu eyang assalamualaikum.... Kok belum tidur cucu eyang?"
"Belum mih waalaikumsalam...Eh dibelakang mami ada seseorang, siapa mih?" Tanya Najwa
"Oh, sini Sifa" Wahidah merangkul Sifa
"Coba tebak siapa? ini istri barunya uncle Ilham"
Najwa langsung menutup mulutnya "Muda amat mih"
"Iya, baru saja sah"
"Oh, baru selesai pestanya?"
"Pestanya minggu depan, tadi akad nikah dulu. Oiya, kalian bisa pulang tidak acara resepsi uncle?"
"InshaAllah mih, diusahakam pulang ya?"
"Oiya, mami hampir lupa. Nak, bajumu yang belum terpakai banyak sekali dilemari, boleh dibagi untuk tante kecilmu?"
Najwa berfikir sejenak
"Silahkan mih, ambil saja. Yang cocok mana, kasihkan mih, biar tantenya milih sendiri nggak apa apa" Jawab Najwa sambil tersenyum
"Baiklah, kalau begitu mami tutup ya teleponnya? dadah Yuyu.. Dah ngantuk tuh cucu mami"
"Iya mih, dadah..."
Telepon tertutup
Wahidah memilih baju yang kiranya cocok untuk Sifa "Ah ini dia"
Wahidah sudah mengambilkan tiga buah baju Najwa buat ganti Sifa. Ayo bersihkan badanmu dan pakai pakaianmu ini"
" Bu, banyak sekali. Apa anak ibu tidak kehabisan baju"
"Oh, tidak masalah. Nanti pulang juga beli lagi dia, ayo kutunjukkan kamar untukmu"
Sifa digiring Wahidah untuk kekamar bawah yang ditunjuk oleh Wahidah "Sekarang mandi ya? biar seger"
Bersambung....
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx