NovelToon NovelToon
Istriku Seorang Putri

Istriku Seorang Putri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.

Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.

Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kabar dari Malam, Rahasia di Balik Sungai

Malam di lembah itu sangat sunyi. Hanya suara jangkrik dan angin yang berdesir di antara pepohonan oak yang menemani kesunyian. Api di perapian kabin sudah meredup, meninggalkan bara yang masih berkilau merah di balik abu.

Viona sudah tertidur lelap di atas ranjang kayu. Selimut tebal menyelimuti tubuhnya dari ujung kaki hingga bahu, dan rambut pendeknya tersebar di atas bantal kasar. Cincin emas dengan batu delima di jari manisnya berkilau samar dalam kegelapan, memantulkan cahaya bara api. Napasnya teratur, tenang—untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan istana, ia benar-benar merasa aman.

Derek masih duduk di kursi kayu dekat jendela, menatap bulan sabit yang menggantung di langit malam. Ia menunggu. Telinganya menangkap setiap suara—angin, daun, dan akhirnya, suara langkah kaki yang sangat pelan, hampir tak terdengar, dari arah belakang kabin.

Derek berdiri dengan sangat hati-hati. Ia melangkah ke arah pintu belakang, memastikan tidak ada satu pun papan kayu yang berderit. Sebelum keluar, ia menoleh sekilas ke arah Viona yang masih tertidur. Ada tatapan hangat di matanya, lalu ia menutup pintu dengan pelan, menyatu dengan kegelapan malam.

Jarak dari kabin ke sungai kecil di belakang tidak lebih dari seratus langkah. Derek berjalan melewati rumpun semak yang basah oleh embun, hingga ia tiba di sebuah batu besar di tepi sungai. Di sana, sesosok bayangan sudah menunggu.

Bayangan itu adalah seorang pria bertubuh tinggi dengan jubah hitam tebal yang menutupi wajahnya. Pria itu mengenakan penutup muka, tetapi saat Derek mendekat, ia melepasnya, memperlihatkan wajah dengan bekas luka tipis di pipi kirinya.

"Tuan Muda," sapa pria itu, membungkuk dengan sangat hormat. "Maaf mengganggu di malam hari, tetapi keadaan sangat mendesak."

Derek mengangguk. "Laporan, Renold."

Renold—tangan kanan Derek yang setia, satu dari sedikit orang yang tahu identitas aslinya—menarik napas dalam. "Keadaan di Kerajaan Timur benar-benar kacau, Tuan Muda. Neil... Pangeran Neil, adik Anda, telah kabur dari istana."

Derek menyipitkan mata. "Aku sudah mendengar itu di desa. Dengan siapa dia pergi?"

"Dengan seorang wanita, Tuan Muda. Ia menyebutnya 'kekasih gelap'. Seorang putri dari kerajaan tetangga yang tidak diketahui identitasnya. Mereka meninggalkan istana tiga hari setelah ia mengumumkan bahwa Putri Fiona Isabella telah meninggal."

Derek menghela napas panjang. "Dia benar-benar melakukannya. Neil tidak pernah memiliki keberanian untuk menentang Dewan Raja, tapi untuk wanita ini... dia berani melarikan diri."

"Ya, Tuan Muda. Dan yang lebih parah, kabar kematian Putri Fiona telah tersebar luas hingga ke Kerajaan Barat." Renold menunduk. "Raja Barat—ayah sang putri—telah menyatakan perang terhadap Kerajaan Timur. Ia menganggap bahwa pihak timur sengaja membunuh putrinya untuk memutus perjodohan."

Derek mengepalkan tinjunya. "Perang? Ayah Viona menyatakan perang?"

"Kami masih bisa menahannya, Tuan Muda. Dewan Raja telah mengirimkan utusan untuk meredakan konflik. Mereka mengatakan bahwa serangan terhadap rombongan putri adalah perbuatan perampok liar dan tidak ada hubungannya dengan Kerajaan Timur. Namun, Raja Barat tidak percaya. Pasukan mereka sudah bergerak menuju perbatasan. Jika tidak segera diselesaikan, perang akan pecah dalam hitungan minggu."

Derek menatap sungai. Airnya mengalir dengan tenang di bawah cahaya bulan. "Bagaimana Dewan Raja menangani situasi? Mereka pasti panik."

"Dewan Raja benar-benar panik, Tuan Muda. Mereka telah mengirim pasukan tambahan ke perbatasan, tetapi tanpa pemimpin yang sah, mereka tidak bisa mengambil keputusan besar. Neil sudah kabur, dan Anda..." Renold berhenti, matanya menatap Derek dengan penuh harap. "Anda adalah Putra Mahkota yang sah, Tuan Muda. Jika Anda kembali, Anda bisa menghentikan perang ini."

Derek menutup matanya. Kembali ke kerajaan. Kembali ke istana yang sudah ia tinggalkan selama delapan tahun. Kembali ke kehidupan yang ia lari karena kesedihan dan pengkhianatan.

"Renold," suara Derek berat. "Aku sudah meninggalkan kerajaan itu. Aku sudah memilih jalan ini. Aku tidak bisa kembali hanya karena Neil membuat kesalahan."

"Tapi Tuan Muda... ribuan nyawa bisa melayang. Dan ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui." Renold menunduk lebih rendah. "Saya mendapat informasi bahwa Dewan Raja telah mengeluarkan perintah pembunuhan terhadap siapa pun yang ditemukan membawa cincin permata merah delima—lambang keluarga kerajaan lama."

Derek terbelalak. "Apa?"

"Cincin itu sangat dikenal di kalangan Dewan Raja. Mereka tahu bahwa cincin itu dipegang oleh ibunda Anda dan seharusnya berada di tangan Putra Mahkota. Jika cincin itu ditemukan pada siapa pun, mereka akan dianggap sebagai musuh kerajaan dan akan dieksekusi tanpa pengadilan."

Derek menatap kabin di kejauhan. Di dalamnya, Viona tidur dengan cincin itu di jarinya. Viona tidak tahu bahwa cincin yang ia kenakan itu akan menjadi tanda kematian bagi siapa pun yang mengenakannya.

"Tuan Muda," Renold melanjutkan. "Mereka juga mencari putri itu. Ada desas-desus bahwa ia mungkin tidak benar-benar meninggal. Beberapa pasukan bayaran dikirim untuk mencari mayatnya di sungai. Jika mereka menemukan bukti bahwa putri itu masih hidup, dan jika mereka tahu dia membawa cincin Anda..."

Derek menggigit bibirnya. "Mereka akan membunuhnya."

"Atau menggunakannya sebagai sandera untuk menghentikan perang, Tuan Muda. Karena jika Raja Barat tahu putrinya masih hidup dan berada di tangan musuh, konflik akan semakin berdarah."

Derek menghela napas panjang, berat. Ia menatap Renold. "Kembalilah ke kerajaan, Renold. Pantau situasi. Jangan memberi tahu siapa pun di mana aku berada. Aku akan mencari cara untuk menyelesaikan ini, tetapi aku tidak bisa melakukannya dengan terburu-buru."

"Tuan Muda, apa yang akan Anda lakukan?"

Derek menatap kabin lagi. Di sana, Viona tidur dengan damai, tidak tahu bahwa dunia luar sedang berperang demi namanya, dan bahwa cincin di jarinya bisa menjadi kutukan sekaligus berkah.

"Aku akan melindunginya," bisik Derek. "Demi ibu, demi Neil, demi kerajaan ini. Aku akan melindunginya."

Renold membungkuk dalam-dalam. "Saya akan menunggu kabar lebih lanjut, Tuan Muda. Semoga Anda cepat mengambil keputusan yang tepat."

Renold berbalik dan melangkah masuk ke dalam hutan, menghilang seperti bayangan. Derek berdiri di tepi sungai untuk waktu yang lama, menatap air yang mengalir, membawa serta semua beban kerajaan yang ia tinggalkan.

Saat ia kembali ke kabin, ia membuka pintu dengan sangat pelan. Viona masih tidur dengan tenang. Derek duduk di kursinya kembali, menatap wajah Viona yang disinari remang-remang bara api. Di jari manisnya, cincin batu delima itu berkilau.

Kau tidak tahu betapa berbahayanya cincin ini, Viona. Dan kau juga tidak tahu betapa aku akan melakukan apa pun untuk melindungimu.

Derek menutup matanya, tetapi ia tidak tidur. Ia terus berjaga, menunggu fajar datang dengan semua ancaman yang mengintai di baliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!