Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Nathalie berlari meninggalkan koridor kampus dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Ia menyusuri taman belakang universitas yang sepi, mencari tempat untuk bersembunyi dari dunia.
Di bawah pohon besar yang rindang, ia duduk di bangku taman, tubuhnya gemetar hebat. Tamparan yang ia layangkan ke pipi Andreas tadi masih terasa panas di telapak tangannya, tapi yang lebih menyakitkan adalah kenyataan yang kini menghantam jiwanya.
Air matanya jatuh deras saat kenangan lama tiba-tiba membanjiri pikirannya.
#Flashback on#
“Ayah... tunggu aku, aku mau berangkat bareng Ayah!” teriak Nathalie dari dalam rumah dengan suara riang khas gadis manja. Saat itu ia masih berusia sembilan belas tahun, rambutnya dikepang dua, wajahnya polos dan penuh senyum.
“Iya sayang, Ayah tunggu di depan!” balas ayahnya dari halaman dengan suara hangat yang penuh kasih.
Nathalie buru-buru menghabiskan sarapan nasi goreng buatan ibunya, mulutnya penuh hingga pipinya menggembung.
“Jangan buru-buru, Nathalie. Nanti kamu tersedak,” tegur Dyah sambil tersenyum lembut, tangannya mengusap punggung putrinya dengan penuh sayang.
Nathalie hanya mengangguk sambil tertawa kecil, lalu mencium pipi ibunya sekilas sebelum berlari keluar rumah. Ayahnya sudah menunggu di dalam taksi yang ia kemudikan sendiri untuk mencari nafkah.
Bugh!
Nathalie membuka pintu mobil dan langsung duduk di samping ayahnya. Bau interior mobil yang familiar membuatnya merasa aman.
“Ayah, aku mau cari kerja ya. Itung-itung buat bantu biaya kuliahku,” ucap Nathalie polos sambil memasang sabuk pengaman.
Ayahnya tersenyum lembut, tangannya mengacak rambut putrinya dengan sayang. “Tidak usah sayang. Sudah menjadi tanggung jawab Ayah untuk membiayai pendidikanmu. Kamu fokus saja dengan kuliahmu. Ayah dan Ibu ingin kamu jadi orang sukses, bukan susah payah seperti Ayah.”
#Flashback off#
Nathalie mengusap air matanya dengan kasar, bahunya terguncang karena isak tangis yang tak terbendung. Kenangan itu terasa begitu indah, begitu hangat, tapi kini seperti pisau yang menusuk dadanya berkali-kali.
Dulu, ayahnya adalah segalanya, pria tegar yang bekerja siang malam sebagai sopir taksi demi membiayai kuliah putri semata wayangnya. Ibunya juga sangat menyayanginya, selalu memasak makanan favorit dan menunggunya pulang dengan senyuman. Keluarga kecil mereka sederhana tapi penuh kasih.
Tapi sekarang?
Semua berubah drastis sejak ayahnya lumpuh karena kecelakaan karena dirinya. Uang operasi dan pengobatan habis, hutang menumpuk, dan ibunya berubah menjadi monster yang tega menjual tubuh anaknya sendiri demi uang.
Nathalie memeluk lututnya di bangku taman, menangis tersedu-sedu. “Ayah, kenapa ibu bisa berubah seperti ini?” gumamnya di sela isak. Ia harus bekerja keras, menjual harga diri, dan menelan segala kehinaan hanya untuk memenuhi tuntutan ibunya yang tak pernah puas.
Uang lima puluh juta yang ditawarkan Andreas tadi terngiang di kepalanya. Tapi harga yang harus dibayar terlalu mahal, jiwa dan harga dirinya yang sudah hampir habis.
Sementara itu, ponselnya bergetar lagi. Pesan masuk dari Drake:
“Malam ini jam 8. Jangan terlambat.”
Nathalie menutup matanya, merasa dunianya semakin gelap. Dulu ia gadis manja yang dicintai ayahnya. Kini ia hanya menjadi barang dagangan bagi orang-orang di sekitarnya.
*******
Nathalie tiba di apartemen Drake tepat jam delapan, seperti perintah pria itu. Padahal tubuhnya masih lelah setelah seharian kuliah, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan pria itu.
Drake sudah menunggu di sofa ruang tamu sambil memegang segelas whiskey. Begitu melihat Nathalie masuk, ia meletakkan gelasnya di atas meja dan berdiri menyambut kedatangan wanita itu. Tatapannya langsung menelusuri tubuh Nathalie dari atas hingga ke bawah.
“Kamu terlambat lima menit,” ucap Drake dengan suara rendah.
“Maaf, tadi aku ada urusan” bisik Nathalie lemah.
Tanpa banyak kata, Drake menarik tangan Nathalie dan membawanya masuk ke dalan kamar.
Klek....
Pintu ditutup dengan pelan, dan di kunci dari dalam. Malam ini Drake terlihat lebih dominan, seolah bisa membaca kegelisahan di wajah perempuan itu.
Ia mendorong Nathalie pelan hingga punggungnya menyentuh dinding. Ciuman pertama sangat kasar dan penuh kepemilikan. Lidah Drake menjelajahi mulut Nathalie dengan rakus, tangannya langsung merayap ke bawah masuk kedalam baju, meremas dada perempuan itu dengan kuat hingga Nathalie mendesah di sela-sela ciumannya.
“Ahh...” desahan kecil keluar dari bibir Nathalie saat Drake menarik bajunya kasar hingga terlepas.
Pria itu tidak sabaran. Ia mengangkat tubuh Nathalie, menjatuhkannya ke atas ranjang king size, dan menindihnya dengan berat badan yang membuat napas perempuan itu tersengal.
Malam ini Drake menyentuh Nathalie dengan kasar. Ia melepas seluruh pakaian mereka dengan cepat, lalu masuk ke dalam tubuh Nathalie tanpa banyak pemanasan. Gerakannya kuat, dalam, dan penuh tuntutan.
“Aahh! tuan... pelan...” erang Nathalie, tangannya mencengkeram punggung pria itu.
Rasa sakit bercampur kenikmatan yang terpaksa membuat air matanya mengalir lagi. Drake seolah menikmati itu. Ia mempercepat gerakannya, menghantam milik Nathalie berkali-kali sambil berbisik kasar di telinga perempuan itu.
“Kamu milikku ingat itu. Setiap inci tubuhmu aku yang membayarnya”
Desahan mereka saling bersahut-sahutan memenuhi kamar. Nathalie menggeliat di bawah tubuh Drake, tanpa sadar pinggulnya terangkat mengikuti ritme gerakan Drake.
"Akhh.....Drake"
Orgasme pertama datang dengan hebat, membuat tubuhnya mengejang kuat sambil meneriakkan nama Drake.
Drake tidak berhenti. Ia membalik tubuh Nathalie dan memposisikannya menyamping, lalu terus menyetubuhinya dari belakang dengan satu tangan meremas dada dan tangan satunya menekan pinggul Nathalie. Keringat membasahi tubuh mereka berdua. Suara kulit bertemu kulit dan desahan basah semakin liar.
"Plok...Plok...Plok..." suara kulit saling beradu.
"Akhh....."
Setelah hampir satu jam penuh nafsu yang tak kenal lelah, Drake akhirnya mencapai puncaknya dengan erangan panjang yang dalam. Ia menyemburkan cairannya di dalam rahim Nathalie, lalu ambruk di samping perempuan itu sambil menariknya Nathalie kedalam pelukannya.
Kamar kembali sunyi, hanya terdengar napas mereka yang masih tersengal. Nathalie menatap langit-langit dengan mata kosong, air matanya diam-diam mengalir ke bawah nengenai bantal. Tubuhnya pegal di mana-mana, tapi yang paling sakit adalah hatinya.
Drake mengusap rambut Nathalie pelan, suaranya serak setelah puas. “Besok aku transfer tambahannya. Tapi besok malam, aku mau yang lebih liar.”
Nathalie hanya diam. Ia memejamkan matanya, mengingat senyum ayahnya di masa lalu. Betapa jauh ia telah jatuh. Untuk kesekian kalinya, dia menjual jiwa dan raganya demi bertahan hidup.