Update kalo ingat.
NOTE : CERITA INI BIKIN NGAKAK SALTO-SALTO
Sekuel Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
"Roseline, ku perintahkan kau untuk menjadi pacarku!" ucap Navier Alister.
Roseline yang baru saja menjadi sekertaris Tuan Muda Navier hanya terheran. Orang aneh dan idiot seperti Navier menyuruh untuk menjadi pacarnya.
"Tuan muda Navier yang tampan tapi somplak mengajakku berpacaran?" gumam Roseline.
Roseline mundur perlahan ketika Tuan Muda Navier mendekatinya, perlahan lahan semakin dekat, semakin dekat. "Ku tunggu jawabanmu malam ini," ucap Navier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Navier dan Jackson
Plaaaaak...
Ali ditampar oleh Kim karena tidak pecus menjaga sang tuan. Ali menerima tamparan itu. Ayahnya mewanti-wanti untuk menjaga sang tuan dengan baik tetapi Ali malah membiarkan sang tuan pergi sendirian. Kim menepuk bahu Ali lalu keluar dari kamar Ali dan menghampiri Navier yang berada diruang tamu bersama Jackson. Navier dan Jackson saling berpandangan, Jackson tersenyum kecut.
"Sang presdir rupanya masih bayi?" ucap Jackson dalam bahasa Inggris.
"Siapa yang kau sebut bayi, Dasar bayi!" jawab Navier tak mau kalah.
Tiba-tiba ponsel Navier berbunyi, sang mama memanggil panggilan video. Navier langsung mengangkatnya. Navier merengek seperti bayi membuat Jackson berdecih. Kim segera mengobati luka Navier, Navier mengoceh kesakitan. Jackson mendekatinya lalu menarik wajah Navier ke wajahnya. Jackson memperhatikan dengan seksama.
"Warna mata kita sama, apakah kita berjodoh?" tanya Jackson.
"Oh my.... Kau gay? Jijik sekali aku denganmu."
Jackson tersenyum kecut, ia menenggak minuman bersoda lalu bersedekap. Dia berpikir atas penyerangan Navier. Seorang kakak menyerang adik kandungnya sendiri hanya untuk kedudukan tertinggi di perusahaan.
"Oh ya, kau Siapa?" tanya Navier.
"Aku...."
"Dia keponakan, uncle," ucap Kim menyela ucapan Jackson.
Bajingan ini tetap tidak mengakui aku anaknya.
Ali datang ikut mengobrol dengan mereka, dia sudah melapor kepada polisi atas kejadian tadi dan Daleon sudah ditangkap secepat mungkin setelah insiden itu. Navier semakin pusing, keluarganya kian rumit dan tidak terkendali.
"Uncle akan bantu sebisa mungkin, jangan khawatir tuan muda!"
Navier mengusap air matanya yang berjatuhan. Dia begitu rapuh harus menanggung semua ini sendirian. Jackson berdiri lalu membanting botol bekas yang dia minum kedepan Navier.
"Bajingan! Aku paling benci dengan pria yang cengeng sepertimu, ayo ikut aku!" ucap Jackson menarik tangan Navier ke balkon.
Jackson menghela nafas sambil memandangi langit hitam. Dia mengambil rokok dan menyalakannya didepan Navier. Jackson juga memberikan rokok kepada Navier.
"Aku akan membantumu untuk menyelesaikan masalahmu tetapi aku butuh bantuanmu juga untuk menyelidiki kasusku. Kau pasti banyak memiliki koneksi orang-orang penting di negeri ini, aku butuh mereka dalam penyelidikanku," ucap Jackson.
"Siapa kau?"
Jackson tersenyum, ia mengulurkan tangannya. "Namaku Jackson. Aku agen rahasia dari Cina."
Navier memandang wajah Jackson, wajahnya memang terasa tidak asing. Wajahnya persis seperti pamannya. "Lalu kau memberikanku rokok untuk apa?" tanya Navier.
"Jangan seperti bayi! Nikmatilah hidup dan sesap rokok ini!"
Jackson langsung menyalakan rokok yang dipegang Navier, Navier menyesapnya lalu terbatuk-batuk. Jackson menertawainya.
"Jeje, jangan mengajari tuan muda yang aneh-aneh!" ucap Kim langsung mematikan rokok itu.
"Hahaha... Aku ingin mengajari dia supaya menjadi bajingan sejati," ucap Jackson lalu masuk kedalam.
***
Pagi-pagi Jackson sudah bergerak bersama Kim. Angelica menatap jengah mereka yang ada dihadapannya.
Jackson membuka data milik Angelica yang dia dapat dengan mudah.
"Angelica, kau pasti tahu banyak tentang Louis?"
"Aku tidak mau menjawab jika Uncle Kim tidak menikahiku," jawab Angelica.
Kim dengan malas menarik kerah baju wanita bule itu. "Aku tidak segan untuk membunuhmu jika kau masih berharap aku akan menikahimu," ucap Kim.
Jackson menengahi mereka. Dia mengehela nafas dan menatap wajah cantik Angelica. "Kau tante-tante kurang belaian, ya?" tanya Jackson membuka kerah baju hemnya.
"Siapa yang kau bilang tante?" tanya Angelica.
Jackson melempar baju hemnya, Angelica terus mundur. Sedangkan Kim menatap mereka dengan tatapan dingin. Jackson mengunci tubuh Angelica di tembok, dia menatapnya dengan lembut.
"Kau ingin menikahi pria tua itu untuk mendapatkan ini 'kan? Aku akan memberinya dengan gratis tetapi kau harus memberitahu informasi tentang Louis," ucap Jackson sambil menggigit manja leher Angelica.
Angelica memberontak tetapi tangannya sudah dicengkeram oleh Jackson. Dia melirik Kim yang menatapnya tanpa dosa.
Uncle Kim seorang psiko, bahkan dia tidak mau menolongku saat aku mendapat perlakuan seperti ini.
"Stop! Aku akan bilang jika Uncle Kim yang tidur denganku."
Jackson melepaskan Angelica lalu melihat ayahnya yang berada dibelakang sedang duduk dibelakang mereka.
"Huh... Ini tugas ayah untuk membuat wanita ini berbicara," ucap Jackson.
Kim menggelengkan kepala, dia berdiri sambil berjalan menghampiri mereka. "Aku menikmati permainan kalian," ucap Kim.
"Dia saja tidak menikmati bersamaku jadi ayah lakukan saja mungkin 15 menit sudah selesai dan kita mendapat informasi yang banyak dari bule ini," ucap Jackson.
Kim langsung meninggalkan mereka berdua, Jackson mengambil bajunya lalu mengikuti sang ayah. Dia membodohkan ayahnya padahal informasi sudah didepan mata.
"Bahkan ayah belum bercerai dengan istri ayah," ucap Kim sambil memasuki apartemennya.
"Bahkan istri brengsek itu sudah berulang kali tidur bersama pria lain."
Kim menghentikan langkahnya, ia langsung menarik baju Jackson. "Jangan menjelekkan istriku! Dia tetap ibumu."
**
Sebelum berangkat bekerja, Seline membersihkan rumahnya terlebih dahulu. Ibu tiri dan adiknya begitu pemalas dan sengaja meninggalkan sampah berserakan. Dia menyapu seluruh ruangan dan mengepelnya sampai bersih. Tiba-tiba adikknya datang dari belakang dan mengotori lantai itu lagi.
"Hei! Ini sudah aku pel," teriak Seline kepada Gita.
"Apa? Sudah berani meneriakiku?" tantang Gita.
Seline menghela nafas panjang, ia melempar pel kedepan adik tirinya. Gita semakin geram, dia menjambak rambut Seline. Terjadi perkelahian hebat antara kakak adik iti sampai papanya datang dari arah pintu membawa koper dan tas plastik.
Sang Papa langsung melerai mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Papa.
"Papa, Kak Seline menjambakku duluan."
"Pah, dia berdusta. Gita yang menjambakku duluan," ucap Seline.
Sang Papa memandang Seline dengan tajam, ia malah marah kepada putri kandungnya. "Kau jangan merusak wajah cantik adikmu. Wajah cantiknya mampu menggaet manajer perusahaan besar. Sedangkan wajah cantikmu tidak berguna. Bahkan teman-teman papa ingin menikahimu tetapi malah kau tolak mereka. Kau jangan anggap umurnya tetapi pikirkan harta mereka. Mereka mati maka semua harta kekayaan akan menjadi milikmu," ucap Papa.
Seline semakin geram, dengan teganya sang Papa menjodohkannya dengan aki-aki kaya raya. Gita tersenyum menyeringai, dia membusungkan dadanya seolah bangga bisa menggaet pria mapan kaya raya tidak seperti Seline yang hanya mempunyai mantan cleaning service.
"Aku tidak semurah itu, pah. Aku tidak semurah Gita yang mau mempacari om-om mesum dan anehnya lagi papa malah mendukungnya," ucap Seline.
Gita menampar Seline, papanya hanya diam. Seline mencoba membalas tetapi sang Papa mencegahnya. Dia tidak ingin wajah cantik Gita terluka karena pacar Gita sudah mewanti-wanti jangan ada noda sedikitpun diwajah Gita.
Seline mengambil tasnya lalu pergi berangkat ke kantor. Masih pagi hari tetapi suasana hatinya sangat buruk.
Cih... Hanya demi harta semua orang menjadi gila. Mereka mempertaruhkan harga dirinya hanya untuk seonggok harta yang tidak bisa dibawa mati.
***
Yang nungguin Dewa sabar ya.
Biar cerita ini 20 bab dulu setelah itu gantian update Dewa.
navier panggil darsen = darman
navi dan darsen sama2 lucu...