Annisa tak dapat memungkiri betapa hatinya sakit ketika mendapati suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Tapi ia tak punya pilihan lain, selain memilih untuk dimadu.
Tapi meskipun hatinya sakit, ia tetap berjuang untuk menata hatinya yang remuk, dan memulai menjalin hubungan dengan istri kedua suaminya, layaknya kakak beradik.
"aku tak lagi memiliki cemburu. karena semua
rasa yang kumilki buat suamiku hanyalah sebentuk rindu," bisik Annisa.
"satu hal yang perlu kita ketahui tentang sebuah poligami, jangan sampai kebolehan yang sudah Allah tetapkan itu dijadikan sarana untuk mengumbar hawa nafsu. karena pernikahan itu kan bukan sekedar urusan icip-icip atau rasa merasai, jika di ibaratkan sebuah masakan," ucap Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jannah Zein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Rasa Pacar
Masih dengan mengenakan pakaian saat melakukan ibadah shalat Jumat tadi, Fikri memacu motornya menuju rumah Kak Ruqayyah. Dia sadar, masalah ini harus segera di selesaikan.
Fikri tak ingin membiarkan ini berlarut-larut dan membuat kedua istrinya tak nyaman.
Tak berapa lama, dia pun sampai ke sebuah rumah sederhana dengan halaman yang tak berapa luas.
"Paman," jerit seorang anak kecil yang berlari menghambur ke arahku.
Fikri yang baru saja memarkir motornya tersenyum senang.
"Hai Rayhan."
Rayhan adalah anak bungsu Kak Ruqayyah. Umurnya baru tiga tahun. Fikri memeluknya penuh sayang.
"Lihatlah ini, Paman bawa apa?" Fikri memperlihatkan bungkusan plastik yang di bawanya.
Anak kecil itu segera membukanya.
"Wow, mobil yang pakai emot," pekiknya dengan logat khas anak kecil.
Fikri tertawa lebar.
"Iya dong. Itu mobilnya buat Rayhan. Kamu suka ?" Dia mengelus kepala anak itu.
"Cuka, Paman."
"Alhamdulillah," ucapnya.
Fikri melangkah masuk ke dalam rumah dengan menggendong Rayhan.
"Mama ...." jerit Rayhan melihat mamanya.
Iapun turun dari gendongan Fikri dan menghambur mendekati mamanya.
"Assalamu alaikum Kak," sapa Fikri
"Wa Alaikum salam.. Eh, ada Paman Fikri nih," sahut Kak Ruqayyah sambil menepuk pundak anak bungsunya.
"Iya Mama. Paman ada bawa mobil-mobilan buat Ehan." Rayhan memamerkan mainan barunya.
Mamanya tertawa lebar.
"Rayhan main dulu dengan Kak Ahmad ya. Paman mau makan dulu," ujar mamanya sembari memanggil anaknya yang ke 3.
Seorang anak lelaki berumur 8 tahun muncul dari balik pintu kamar.
"Ya Mama," sahutnya.
"Ajak adikmu Rayhan main bersama ya," perintah mamanya.
Anak laki-laki itu mengangguk.
"Iya Mama."
"Ayo Dik, Kita main di teras depan."
Anak laki-laki segera membimbing adiknya keluar dan mulai bermain di teras depan rumah. Fikri tersenyum simpul.
"Fikri, ayo makan dulu. Tadi Kakak masak ikan asin dengan sambal," ucap Kak Ruqayyah.
Fikri pun mengikuti melangkah Kak Ruqayyah menuju dapur.
***************
"Wow, ini enak sekali," seru Fikri saat suapan pertama mendarat dengan mulus ke mulutnya.
"Masakan Kakak emang juara. Sama dengan masakan Mama." Fikri mengacungkan jempol kirinya.
Kak Ruqayyah tertawa lebar.
"Sampai segitu ekspresinya. Emang masakan kedua istrimu gak enak?" selidiknya.
Fikri tersenyum malu.
"Enak lah Kak. Karena kan mereka berdua adalah istri Fikri."
Kak Ruqayyah semakin tertawa.
"Bilang ajalah Fikri, kalau masakan mereka kalah enak di banding masakan Kakak."
Fikri menggelengkan kepala.
"Tidak boleh begitu, Kak. Biar bagaimanapun mereka adalah istri Fikri. Jadi apapun yang mereka masak harus Kita hargai," ucapnya.
"Fikri," ucap Kak Ruqayyah lagi.
"Jadi wanita itu harus bisa memasak. Dan masakannya harus enak. Supaya kalau nanti punya suami betah di rumah."
Fikri mengangguk.
"Tapi Fikri gak masalah koq kalau istri Fikri gak pandai masak. Kan Fikri masih sanggup beli makanan jadi."
Kak Ruqayyah tertawa terpingkal-pingkal.
"Tapi apa gunanya punya istri kalau begitu. Zahra masih mending. Dia kan anak orang kaya, jadi kalau gak bisa apa-apa masih di maklumi. Apa kabar Annisa? Kaya nggak, rupa juga biasa aja. Apa kelebihannya, coba?"
Memang harus di akui, kalo dari segi masakan, Annisa kalah jauh kemampuannya dari Kak Ruqayyah. Kalau dengan Zahra, apalagi. Masih teringat dia ketika menginap di rumah Zahra, dia di suguhi mie instan dan telor ceplok !
Dia menggelengkan kepala. Dia ingat misi kedatangannya hari ini menemui Kak Ruqayyah.
Fikri berusaha menahan emosi demi menghadapi saudara perempuanku yang satu ini.
"Setiap manusia itu ada kekurangan dan kelebihannya, Kak. Kita tak boleh memandang rendah seseorang di sebabkan satu kekurangan yang di milikinya."
"Tapi Kakak kan gemes, Fikri. Kamu punya dua istri. Tapi gak ada yang beresnya. Kemarin juga Zahra menolak saat di suruh Mama lepas kontrasepsi. Apa maunya coba? Zahra itu kan sudah 19 tahun. Sudah siap untuk melahirkan. Kakak aja dulu melahirkan Fatimah umur 19 tahun. Bisa koq."
"Apa perlu Kakak carikan istri lagi?" tawar Kak Ruqayyah.
Fikri menggeleng keras.
"Tidak usah, Kak. Cukup dua istri Fikri. Fikri gak mau lagi menyakiti hati Annisa. Cukup sekali membuatnya bersedih dengan kehadiran Zahra di dalam rumah tangga Kami."
"Kamu terlalu memanjakan istrimu, Fikri. Sampai hamil pun di manja, bahkan sampai mau mencarikan khadimah segala."
"Apa salahnya kak? Toh selagi Fikri mampu, kenapa tidak? Lagi pula, Fikri tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandungan Annisa kalo di paksain mengerjakan pekerjaan rumah. Kami sudah pernah cek ke dokter. Dan hasilnya, Annisa lemah kandungan. Apalagi hamil di trimester awal. Sangat rentan.".
"Lagipula, Annisa itu istri Fikri koq, bukan istri orang," sambungnya.
"Bukan begitu maksud Kakak, Fikri. Kakak hanya tidak ingin mereka jadi ngelunjak dan besar kepala."
Fikri menggelengkan kepala.
"Mereka wanita yang baik, Kak. Mereka juga paham agama. Dan selama ini mereka tidak pernah menyusahkan Fikri. Fikri nyaman koq dengan rumah tangga Fikri," ucapnya.
"Tolong ya kak, jaga sikap kakak dengan mereka. Boleh jadi mereka memang bukan kriteria adik ipar idaman bagi Kakak, tapi mereka adalah istri yang terbaik buat Fikri."
"Mereka adalah rezeki Fikri. Meskipun dalam beberapa hal mungkin ada kekurangannya, tapi percayalah Kakak, jodoh itu tidak akan pernah tertukar. Mereka yang terbaik, Kak. Jadi tak ada tuh ceritanya salah pilih istri di dalam kamus hidup Fikri."
Kak Ruqayyah diam tanpa kata. Fikri mencuci tangannya usai menghabiskan makanan di piringnya.
"Fikri minta tolong pada Kakak, jangan lagi mengucapkan kata-kata seperti kemarin. Kasihan mereka."
Kak Ruqayyah tersentak kaget.
"Annisa yang mengadu?"
"Bukan Kak. Zahra yang bilang."
"Sama aja itu. Dasar para wanita pengadu," cetus Kak Ruqayyah.
Fikri segera meletakkan jarinya ke mulut Kak Ruqayyah.
"Sudahlah kak. Jangan seperti itu,"
"Kalau memang Kakak belum bisa menyayangi mereka, setidaknya janganlah menyakiti mereka. Kasihan, Kak." Terbayang di benaknya wajah sendu Annisa dan wajah menahan marah milik Zahra.
Kak Ruqayyah menghela nafas panjang.
"Kamu memang terlalu menyayangi istri-istrimu, Fikri," ucap Kak Ruqayyah.
"Tak apalah, Kak. Yang penting bukan menyayangi istri orang," candanya
Kak Ruqayyah tertawa terpingkal-pingkal.
"Ya udahlah," sahut Kak Ruqayyah.
Fikri merogoh saku baju kokonya. Diambilnya sebuah amplop berwarna putih.
"Fikri tadi mengisi khutbah di mesjid Al karomah, Kak. Nih amplopnya buat Kakak aja." Fikri mengangsurkan amplop itu kepadanya.
Mata saudara perempuannya itu berbinar.
"Benar nih?"
Fikri mengangguk sambil tersenyum.
"Amplop sama isinya atau cuma amplopnya doang nih?" goda Kak Ruqayyah sambil mengamati amplop putih yang ada tulisan khatib di bagian luarnya itu.
Fikri tertawa ngakak.
"Amplop sama isinya, Kak. Jangan khawatir," ucapnya di sela derai tawanya.
Mereka pun tertawa bersama.
"Ya udah. Fikri pulang dulu ya Kak. Sore ini mau apel ke rumah Zahra," ucap Fikri.
Kak Ruqayyah menggelengkan kepala.
"Yeiyy, yang punya istri rasa pacar," goda Kak Ruqayyah.
"Daripada pacar rasa istri. Gak kuat nanggung dosanya, Kak." Fikri tertawa lagi.
Kak Ruqayyah memukul pelan lengan Fikri.
"Dasar."
Fikri melangkah menuju ruang depan di ikuti Kak Ruqayyah. Kulihat Rayhan dan Ahmad yang sedang asyik bermain mobil-mobilan di teras rumah.
"Paman." Rayhan berteriak melihat kemunculan Fikri.
Anak kecil itu berlari kepadanya. Dia menyambutnya dengan sebuah pelukan.
"Paman pulang dulu ya Rayhan. Lain kali Paman akan berkunjung kesini lagi."
Rayhan menganggukkan kepala.
"Janji ya Paman?" Laki-laki itu mengangguk.
"Paman janji." Fikri mengacungkan jempolnya.
Sampai di teras rumah, Fikri menurunkan Rayhan dari gendongannya.
"Kak, Fikri pamit ya. Assalamu alaikum."
Fikri menyalami kakaknya dan mencium tangannya. Tak lupa mencium Rayhan dan Ahmad, dua keponakannya.
"Wa Alaikum salam."
Dia pun meninggalkan rumah itu di iringi lambaian tangan Kak Ruqayyah dan anak-anaknya. Dipacunya kendaraannya melintasi jalanan yang ramai oleh kendaraan menuju rumah Zahra yang terletak di daerah batas kota Martapura.
Fikri tersenyum sendiri. Mengingat wajah cantik sang pemilik mata kejora dan senyum nan menggoda itu. Ahh.. Darah mudanya tiba-tiba kembali bergejolak.
Sementara hari beranjak sore.