NovelToon NovelToon
TEMBANG SUNYI ANNISA

TEMBANG SUNYI ANNISA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:316.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jannah Zein

Annisa tak dapat memungkiri betapa hatinya sakit ketika mendapati suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Tapi ia tak punya pilihan lain, selain memilih untuk dimadu.

Tapi meskipun hatinya sakit, ia tetap berjuang untuk menata hatinya yang remuk, dan memulai menjalin hubungan dengan istri kedua suaminya, layaknya kakak beradik.

"aku tak lagi memiliki cemburu. karena semua
rasa yang kumilki buat suamiku hanyalah sebentuk rindu," bisik Annisa.

"satu hal yang perlu kita ketahui tentang sebuah poligami, jangan sampai kebolehan yang sudah Allah tetapkan itu dijadikan sarana untuk mengumbar hawa nafsu. karena pernikahan itu kan bukan sekedar urusan icip-icip atau rasa merasai, jika di ibaratkan sebuah masakan," ucap Fikri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jannah Zein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri Rasa Pacar

Masih dengan mengenakan pakaian saat melakukan ibadah shalat Jumat tadi, Fikri memacu motornya menuju rumah Kak Ruqayyah. Dia sadar, masalah ini harus segera di selesaikan.

Fikri tak ingin membiarkan ini berlarut-larut dan membuat kedua istrinya tak nyaman.

Tak berapa lama, dia pun sampai ke sebuah rumah sederhana dengan halaman yang tak berapa luas.

"Paman," jerit seorang anak kecil yang berlari menghambur ke arahku.

Fikri yang baru saja memarkir motornya tersenyum senang.

"Hai Rayhan."

Rayhan adalah anak bungsu Kak Ruqayyah. Umurnya baru tiga tahun. Fikri memeluknya penuh sayang.

"Lihatlah ini, Paman bawa apa?" Fikri memperlihatkan bungkusan plastik yang di bawanya.

Anak kecil itu segera membukanya.

"Wow, mobil yang pakai emot," pekiknya dengan logat khas anak kecil.

Fikri tertawa lebar.

"Iya dong. Itu mobilnya buat Rayhan. Kamu suka ?" Dia mengelus kepala anak itu.

"Cuka, Paman."

"Alhamdulillah," ucapnya.

Fikri melangkah masuk ke dalam rumah dengan menggendong Rayhan.

"Mama ...." jerit Rayhan melihat mamanya.

Iapun turun dari gendongan Fikri dan menghambur mendekati mamanya.

"Assalamu alaikum Kak," sapa Fikri

"Wa Alaikum salam.. Eh, ada Paman Fikri nih," sahut Kak Ruqayyah sambil menepuk pundak anak bungsunya.

"Iya Mama. Paman ada bawa mobil-mobilan buat Ehan." Rayhan memamerkan mainan barunya.

Mamanya tertawa lebar.

"Rayhan main dulu dengan Kak Ahmad ya. Paman mau makan dulu," ujar mamanya sembari memanggil anaknya yang ke 3.

Seorang anak lelaki berumur 8 tahun muncul dari balik pintu kamar.

"Ya Mama," sahutnya.

"Ajak adikmu Rayhan main bersama ya," perintah mamanya.

Anak laki-laki itu mengangguk.

"Iya Mama."

"Ayo Dik, Kita main di teras depan."

Anak laki-laki segera membimbing adiknya keluar dan mulai bermain di teras depan rumah. Fikri tersenyum simpul.

"Fikri, ayo makan dulu. Tadi Kakak masak ikan asin dengan sambal," ucap Kak Ruqayyah.

Fikri pun mengikuti melangkah Kak Ruqayyah menuju dapur.

***************

"Wow, ini enak sekali," seru Fikri saat suapan pertama mendarat dengan mulus ke mulutnya.

"Masakan Kakak emang juara. Sama dengan masakan Mama." Fikri mengacungkan jempol kirinya.

Kak Ruqayyah tertawa lebar.

"Sampai segitu ekspresinya. Emang masakan kedua istrimu gak enak?" selidiknya.

Fikri tersenyum malu.

"Enak lah Kak. Karena kan mereka berdua adalah istri Fikri."

Kak Ruqayyah semakin tertawa.

"Bilang ajalah Fikri, kalau masakan mereka kalah enak di banding masakan Kakak."

Fikri menggelengkan kepala.

"Tidak boleh begitu, Kak. Biar bagaimanapun mereka adalah istri Fikri. Jadi apapun yang mereka masak harus Kita hargai," ucapnya.

"Fikri," ucap Kak Ruqayyah lagi.

"Jadi wanita itu harus bisa memasak. Dan masakannya harus enak. Supaya kalau nanti punya suami betah di rumah."

Fikri mengangguk.

"Tapi Fikri gak masalah koq kalau istri Fikri gak pandai masak. Kan Fikri masih sanggup beli makanan jadi."

Kak Ruqayyah tertawa terpingkal-pingkal.

"Tapi apa gunanya punya istri kalau begitu. Zahra masih mending. Dia kan anak orang kaya, jadi kalau gak bisa apa-apa masih di maklumi. Apa kabar Annisa? Kaya nggak, rupa juga biasa aja. Apa kelebihannya, coba?"

Memang harus di akui, kalo dari segi masakan, Annisa kalah jauh kemampuannya dari Kak Ruqayyah. Kalau dengan Zahra, apalagi. Masih teringat dia ketika menginap di rumah Zahra, dia di suguhi mie instan dan telor ceplok !

Dia menggelengkan kepala. Dia ingat misi kedatangannya hari ini menemui Kak Ruqayyah.

Fikri berusaha menahan emosi demi menghadapi saudara perempuanku yang satu ini.

"Setiap manusia itu ada kekurangan dan kelebihannya, Kak. Kita tak boleh memandang rendah seseorang di sebabkan satu kekurangan yang di milikinya."

"Tapi Kakak kan gemes, Fikri. Kamu punya dua istri. Tapi gak ada yang beresnya. Kemarin juga Zahra menolak saat di suruh Mama lepas kontrasepsi. Apa maunya coba? Zahra itu kan sudah 19 tahun. Sudah siap untuk melahirkan. Kakak aja dulu melahirkan Fatimah umur 19 tahun. Bisa koq."

"Apa perlu Kakak carikan istri lagi?" tawar Kak Ruqayyah.

Fikri menggeleng keras.

"Tidak usah, Kak. Cukup dua istri Fikri. Fikri gak mau lagi menyakiti hati Annisa. Cukup sekali membuatnya bersedih dengan kehadiran Zahra di dalam rumah tangga Kami."

"Kamu terlalu memanjakan istrimu, Fikri. Sampai hamil pun di manja, bahkan sampai mau mencarikan khadimah segala."

"Apa salahnya kak? Toh selagi Fikri mampu, kenapa tidak? Lagi pula, Fikri tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandungan Annisa kalo di paksain mengerjakan pekerjaan rumah. Kami sudah pernah cek ke dokter. Dan hasilnya, Annisa lemah kandungan. Apalagi hamil di trimester awal. Sangat rentan.".

"Lagipula, Annisa itu istri Fikri koq, bukan istri orang," sambungnya.

"Bukan begitu maksud Kakak, Fikri. Kakak hanya tidak ingin mereka jadi ngelunjak dan besar kepala."

Fikri menggelengkan kepala.

"Mereka wanita yang baik, Kak. Mereka juga paham agama. Dan selama ini mereka tidak pernah menyusahkan Fikri. Fikri nyaman koq dengan rumah tangga Fikri," ucapnya.

"Tolong ya kak, jaga sikap kakak dengan mereka. Boleh jadi mereka memang bukan kriteria adik ipar idaman bagi Kakak, tapi mereka adalah istri yang terbaik buat Fikri."

"Mereka adalah rezeki Fikri. Meskipun dalam beberapa hal mungkin ada kekurangannya, tapi percayalah Kakak, jodoh itu tidak akan pernah tertukar. Mereka yang terbaik, Kak. Jadi tak ada tuh ceritanya salah pilih istri di dalam kamus hidup Fikri."

Kak Ruqayyah diam tanpa kata. Fikri mencuci tangannya usai menghabiskan makanan di piringnya.

"Fikri minta tolong pada Kakak, jangan lagi mengucapkan kata-kata seperti kemarin. Kasihan mereka."

Kak Ruqayyah tersentak kaget.

"Annisa yang mengadu?"

"Bukan Kak. Zahra yang bilang."

"Sama aja itu. Dasar para wanita pengadu," cetus Kak Ruqayyah.

Fikri segera meletakkan jarinya ke mulut Kak Ruqayyah.

"Sudahlah kak. Jangan seperti itu,"

"Kalau memang Kakak belum bisa menyayangi mereka, setidaknya janganlah menyakiti mereka. Kasihan, Kak." Terbayang di benaknya wajah sendu Annisa dan wajah menahan marah milik Zahra.

Kak Ruqayyah menghela nafas panjang.

"Kamu memang terlalu menyayangi istri-istrimu, Fikri," ucap Kak Ruqayyah.

"Tak apalah, Kak. Yang penting bukan menyayangi istri orang," candanya

Kak Ruqayyah tertawa terpingkal-pingkal.

"Ya udahlah," sahut Kak Ruqayyah.

Fikri merogoh saku baju kokonya. Diambilnya sebuah amplop berwarna putih.

"Fikri tadi mengisi khutbah di mesjid Al karomah, Kak. Nih amplopnya buat Kakak aja." Fikri mengangsurkan amplop itu kepadanya.

Mata saudara perempuannya itu berbinar.

"Benar nih?"

Fikri mengangguk sambil tersenyum.

"Amplop sama isinya atau cuma amplopnya doang nih?" goda Kak Ruqayyah sambil mengamati amplop putih yang ada tulisan khatib di bagian luarnya itu.

Fikri tertawa ngakak.

"Amplop sama isinya, Kak. Jangan khawatir," ucapnya di sela derai tawanya.

Mereka pun tertawa bersama.

"Ya udah. Fikri pulang dulu ya Kak. Sore ini mau apel ke rumah Zahra," ucap Fikri.

Kak Ruqayyah menggelengkan kepala.

"Yeiyy, yang punya istri rasa pacar," goda Kak Ruqayyah.

"Daripada pacar rasa istri. Gak kuat nanggung dosanya, Kak." Fikri tertawa lagi.

Kak Ruqayyah memukul pelan lengan Fikri.

"Dasar."

Fikri melangkah menuju ruang depan di ikuti Kak Ruqayyah. Kulihat Rayhan dan Ahmad yang sedang asyik bermain mobil-mobilan di teras rumah.

"Paman." Rayhan berteriak melihat kemunculan Fikri.

Anak kecil itu berlari kepadanya. Dia menyambutnya dengan sebuah pelukan.

"Paman pulang dulu ya Rayhan. Lain kali Paman akan berkunjung kesini lagi."

Rayhan menganggukkan kepala.

"Janji ya Paman?" Laki-laki itu mengangguk.

"Paman janji." Fikri mengacungkan jempolnya.

Sampai di teras rumah, Fikri menurunkan Rayhan dari gendongannya.

"Kak, Fikri pamit ya. Assalamu alaikum."

Fikri menyalami kakaknya dan mencium tangannya. Tak lupa mencium Rayhan dan Ahmad, dua keponakannya.

"Wa Alaikum salam."

Dia pun meninggalkan rumah itu di iringi lambaian tangan Kak Ruqayyah dan anak-anaknya. Dipacunya kendaraannya melintasi jalanan yang ramai oleh kendaraan menuju rumah Zahra yang terletak di daerah batas kota Martapura.

Fikri tersenyum sendiri. Mengingat wajah cantik sang pemilik mata kejora dan senyum nan menggoda itu. Ahh.. Darah mudanya tiba-tiba kembali bergejolak.

Sementara hari beranjak sore.

1
𝙸𝚗𝚍𝚊𝚑 𝙵𝚊𝚝𝚒𝚖𝚊𝚑
resiko poligami.. kalo sanggup bertahan KLO ga tahan mundur...di dunia tidak ada yg mau di poligami
Noni Kartika Wati
kapan rukayah dipoligami Thor udah ga sabar nih
Nurmiati Aruan
nyesek amat thor....
Adiba Shakila Atmarini
critax baik.kada bosan mmbacax.sengat lah.d tunggu novel berikutx..sukss sllu💪💪💪
Adiba Shakila Atmarini
sduh mulai riak2 msalah dlm rumh tnggax fikri.ksian annisah..
senja indah
celup sana sini...mantap kri
Dewi Sri
Penulisan dari tubuhku kurang tepat ya…harusnya tubuhnya karena itu pov annisa
Eva Yunita
cerita nya waw ... masya Allah...🥰
Juan Sastra
agak janggal dengan kalimat tertawa terpingkal pingkal,,kalimat itu dlm artian sudah sangat begitu lucu dan lebih ke terbahak bahak..sementara dalam islam selucu apa pun harusnya hanya tersenyum , tersenyum lebar ). selebihnya bagus semuanya 🙏🙏🙏 maaf sebelumnya. memang tidak ada yg sempurna karena kesempurnaan hanya milik allah swt.
Juan Sastra
ini yg benar benar egois mama sama raqayah..apa lagi mama padahal kan nisa di justru di jodohkan sama fikri , karena mama fikri sahabatan sama mama nisa tapi kok kesannya ggak setuju gitu..selalunsaja memcari cari kesalahan nisa,, sedangkan itu jelas jelas tidaklah bemar menurut islam ,,, hadeeeehh...bikin emosi aja ini kisah..
Juan Sastra
La abah abah cari pamor rupanya..tega
Juan Sastra
ggak mungkin ada nisa yg kedua fikri yg mau menekan hatinya hanya untuk kesenangan suaminya..anisa sudah menolak tapi malah di bujuk mati matian..itulah balasanya..🙏🙏🙏 koment ku gini mulu,, yg jelas aku nyesek sendiri bacanya ggak ke bayang jadi nisa,,harus rela berbagi suami apa lagi wanita itu lebih cantik lebih muda dan jelas lebih fress..pastilah fikri takut kehilangan dapat di mana lagi coba ikan segar lagi frwss pula..
Juan Sastra
jangan bilang itu fitnah dari zahra yg menyuruh ifah..wahh zahra ggak banget kalo gitu percuma kelesantren hati juga ggak bersih bersih cocoklah iparan sama raqayah..
Juan Sastra
itulah akibatnya jika hanya menuruti hawa nafsu fikri..menyesal pun tidak berguna..yg jelas hati adek udah terpotek lotek..iklaskah nisa dan jawabannya tidak hanya berusaha menerima takdir itu yg di jalaninya sakit itu tetap menyertai setiap denyut nafasnya..
Juan Sastra
heran deh sama raqayah.. suka ngerecoki rumah tangga adeknya..dia iri apa gimana sih..
Juan Sastra
lebih nyesek tuh jadi nisa...aku yg baca aja nyesek mulu..
Juan Sastra
mulai ada tuh bayang bayang iri ..jangan sampai cburu jadi alasan ingin menguasai sendiri
Juan Sastra
apa perasaan aku aja yah kok beda yah mesranya fikri sama zahra dan mseranya fikri sama nisa..kalo sama zahra fikri kayak nafsuan banget yah..apa apa kebayang tapi sama nisa ggak padahal nisa lagi hamil loh..taulah kalo lagi hamilkan pengen di manja manjain di sayang sayang...kok aku perih sendiri yah...😁
Juan Sastra
kok aku yaa yg merasa sakit saat baca fikri ngenayangin zahra kayak gitu..dan raqayah semoga suamimu poligami biar tau rasa
Juan Sastra
yg madu sama baik eehh ipar yg jadi uletnye ngerecokin..hamil salah belum hamil di bilang mandul..emang ggak setuju dr awal kali tuh orang secara kan nisa bukan anak horang kayah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!