NovelToon NovelToon
MY HOT KILLER LECTURER

MY HOT KILLER LECTURER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."

Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.

Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.

Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DINDING ES YANG BELUM RETAK

Pagi itu, sinar matahari Jakarta menembus kaca-kaca besar gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan begitu terik. Namun, di dalam ruang kelas 4A, suasananya justru terasa seolah-olah pendingin ruangan disetel ke suhu paling minus. Atmosfernya begitu mencekam dan sunyi, bahkan suara jatuhnya selembar kertas pun akan terdengar seperti dentuman keras.

Arga Dirgantara berdiri di balik podium dosen dengan setelan kemeja abu-abu gelap yang terkancing rapi hingga ke leher, dipadukan dengan celana kain hitam mahal yang membungkus kaki panjangnya. Tidak ada lagi kancing terbuka, tidak ada lagi dasi yang longgar, dan tidak ada lagi sisa-sisa pria frustrasi yang semalam kehilangan kendali di club malam. Sosok di depan kelas ini adalah Pak Arga yang asli—sang Dosen Killer yang dingin, kaku, dan berwibawa.

Sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah lembar-lembar kertas kuis yang tersebar di atas meja mahasiswa. Jari-jemarinya yang kokoh sesekali mengetuk meja podium dengan ritme yang konstan, menciptakan ketegangan tersendiri bagi tiga puluh mahasiswa yang sedang memeras otak di hadapannya.

Namun, di balik topeng sedingin es itu, fokus Arga sebenarnya terbagi. Setiap beberapa menit, sudut matanya melirik ke arah barisan bangku tengah.

Di sana, duduk seorang gadis dengan rambut bergelombang yang digerai acuh tak acuh. Queen. Gadis berusia 20 tahun itu hari ini tampil sangat kontras dengan penampilannya semalam. Ia hanya mengenakan crop tee putih polos yang sedikit memamerkan pinggang rampingnya, dipadukan dengan celana denim berpinggang tinggi. Wajahnya yang baby face terlihat sangat manis tanpa riasan tebal, namun binar nakal di matanya sama sekali tidak bisa disembunyikan.

Sejak kuis dimulai tiga puluh menit yang lalu, Queen sama sekali tidak menyentuh pulpennya. Gadis itu justru menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap lurus ke arah Arga dengan pandangan lapar dan senyum tipis yang sarat akan provokasi. Ia sengaja membasahi bibir bawahnya sendiri dengan ujung lidah, seolah sengaja mengingatkan Arga pada memori ciuman brutal mereka beberapa jam yang lalu di club.

Arga mengetatkan rahangnya. Kilasan ingatan semalam di mana Queen duduk di pangkuannya dan menggigit cuping telinganya sempat melintas, membuat darahnya berdesir. Namun, ego dan rasa terluka akibat dikhianati istrinya segera mengambil alih. Arga mengingatkan dirinya sendiri: Semua wanita sama saja. Manipulatif dan hanya ingin memanfaatkan situasi. Sumpahnya untuk menutup hati kembali mengeras seperti baja.

"Waktu tinggal lima menit. Yang tidak selesai, kertas akan saya robek," suara bariton Arga menggema datar, dingin, namun menusuk, membuat seisi kelas langsung panik dan memacu pulpen mereka lebih cepat.

Hanya Queen yang tetap santai. Gadis bar-bar itu justru dengan sengaja menjatuhkan pulpennya ke lantai, lalu membungkuk dengan gerakan yang sangat lambat, sengaja memamerkan lekuk punggungnya yang seksi bak gitar spanyol di hadapan sang dosen. Namun, Arga langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, menolak mentah-mentah umpan visual tersebut.

Kringgg!

Bel tanda kelas berakhir berbunyi. Terdengar helaan napas lega yang serempak dari para mahasiswa, seolah-olah mereka baru saja lolos dari eksekusi mati. Satu per satu dari mereka mengumpulkan kertas kuis ke depan meja podium dan segera berhamburan keluar kelas, tidak ingin berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan Pak Arga.

Karin dan Alya berjalan beriringan menuju meja depan, meletakkan kertas mereka. Alya sempat melirik ke arah kakaknya, memberikan senyuman penuh arti yang sangat tipis sebelum menyenggol lengan Queen yang masih duduk di bangkunya.

"Gue sama Karin tunggu di kantin ya, Queen. Sukses buat 'bimbingan' lanjutannya," bisik Alya penuh maksud, mengira kakaknya akan mudah ditaklukkan lagi seperti semalam.

"Siap, tas Hermes jangan lupa disiapin di bagasi," balas Queen santai tanpa mengalihkan pandangannya dari Arga.

Setelah kelas benar-benar kosong dan pintu kayu ek itu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang tebal di antara mereka berdua, Arga meletakkan pulpennya. Ia tidak menyandarkan tubuhnya dengan santai, melainkan berdiri tegak dengan melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Queen yang kini berjalan mendekat ke arahnya dengan langkah lambat yang sensual.

"Kenapa lembar jawabanmu kosong, Queen?" tanya Arga, suaranya terdengar sangat datar, berat, dan tanpa riak emosi sedikit pun.

Queen berhenti tepat di depan Arga. Jarak mereka kini hanya berkisar beberapa sentimeter. Tanpa rasa takut sedikit pun pada sosok dosen killer yang ditakuti satu kampus, Queen mengangkat tangannya, jemari lentiknya dengan berani menyentuh dada bidang Arga, meraba kain kemeja abu-abu mahal itu dengan gerakan memutar yang menggoda.

"Habisnya... semalam ada yang bikin saya gak bisa tidur, Pak," jawab Queen dengan nada manja yang teramat seksi, mendongak menatap sepasang mata gelap Arga. "Otak saya penuh sama bayangan bibir seksi Pak Arga yang melumat punya saya. Gimana saya bisa fokus belajar buat kuis?"

Queen memajukan tubuhnya, berniat mengulang skenario semalam dengan menyandarkan tubuh seksinya pada dada bidang Arga. Ia mengira pria di depannya ini akan langsung goyah dan merengkuh pinggangnya seperti di club.

Namun, Queen salah besar.

Sebelum tubuhnya sempat menempel, tangan kokoh Arga bergerak dengan cepat dan tegas mencengkeram kedua pergelangan tangan Queen. Dengan gerakan kasar namun terukur, Arga menjauhkan tangan Queen dari dadanya, lalu mendorong tubuh gadis itu mundur satu langkah hingga jarak di antara mereka kembali tercipta.

"Jaga sikapmu, Queen," ucap Arga. Suaranya tidak lagi berat karena gairah, melainkan sedingin es batu yang mampu membekukan atmosfer ruangan. Mata elangnya menatap Queen dengan sorot tajam yang penuh dengan kilatan penolakan dan rasa muak.

Queen tersentak, senyum centil di bibirnya sedikit memudar. Ia tidak menyangka akan mendapat reaksi sekeras ini setelah apa yang mereka lalui semalam. "Pak Arga... kok galak banget? Semalam di club Bapak gak sedingin ini, bahkan Bapak membalas ciuman aku dengan—"

"Semalam adalah kesalahan," potong Arga cepat, suaranya naik satu oktav, memotong ucapan Queen dengan kejam. Pria itu menatap Queen dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Semalam saya sedang mabuk dan frustrasi, dan kamu hanya kebetulan berada di sana sebagai gadis bodoh yang menawarkan diri menjadi pemuas gratisan demi sebuah taruhan gila dengan teman-temanmu."

Plak!

Kata-kata Arga barusan terasa seperti tamparan tak kasat mata yang menghantam wajah manis Queen. Ego gadis konglomerat itu terusik hebat.

"Pak Arga bilang aku pemuas gratisan?!" suara Queen meninggi, matanya yang bulat kini menatap Arga dengan kilatan amarah yang membara. Sifat bar-bar dan keras kepalanya mulai tersulut. "Aku lakuin itu karena aku suka sama Bapak! Aku ngejar Bapak terang-terangan karena aku tertarik! Bukan karena taruhan sialan itu!"

Arga terkekeh sinis, sebuah tawa hambar yang sama sekali tidak mencapai matanya. Pikiran kelamnya tentang sang istri yang selalu membohonginya kembali meracuni otaknya, membuat Arga memproyeksikan rasa benci itu pada Queen.

"Suka? Tertarik?" Arga melangkah satu kali ke depan, mencondongkan tubuh tegapnya hingga wajahnya sejajar dengan Queen, memberikan intimidasi mutlak seorang pria dewasa yang matang. "Jangan naif, Queen. Gadis usia dua puluh tahun seperti kamu tidak tahu apa itu arti suka. Kamu hanya gadis kaya raya, manja, dan egois yang bosan dengan hidupmu yang terlalu mudah, lalu mencari tantangan dengan menggoda dosenmu sendiri."

Arga mundur kembali, merapikan kerah kemejanya yang sama sekali tidak berantakan dengan gerakan kaku. "Semalam saya meladeni permainan kekanak-kanakanmu karena saya sedang butuh pelampiasan. Tapi di sini, di kampus ini, kamu tidak lebih dari seorang mahasiswa berotak pas-pasan yang baru saja mendapatkan nilai nol di kertas kuisnya."

Air mata kemarahan dan harga diri yang terluka mulai menggenang di pelupuk mata manis Queen. Selama hidupnya, tidak pernah ada satu pria pun yang berani menolak, menghina, dan mengoreksi dirinya sekejam ini.

"Pak Arga jahat ya," desis Queen, suaranya bergetar menahan tangis sekaligus amarah yang meluap-luap. "Bapak pikir Bapak hebat bisa memperlakukan aku kayak gini?!"

"Saya hanya menempatkanmu di posisi yang seharusnya, Queen," balas Arga tanpa belas kasihan sedikit pun. Wajah ketatnya tetap datar, seolah air mata gadis di depannya sama sekali tidak berharga. "Sekarang, ambil pulpenmu yang sengaja kamu jatuhkan tadi, perbaiki pakaian serumu yang tidak pantas dipakai ke kampus, dan keluar dari ruangan saya sebelum saya menggunakan hak saya untuk menskors kamu dari universitas milik keluargamu ini."

Queen mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Jiwa cegil-nya yang terluka parah bergejolak hebat di dalam dada. Ia menatap Arga dengan pandangan benci sekaligus penasaran yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.

"Oke! Hari ini Pak Arga menang!" seru Queen dengan nada bar-bar yang bergetar. Ia menyambar tas selempangnya di atas meja dengan kasar. Sebelum berbalik menuju pintu, ia menatap lurus ke dalam netra gelap Arga untuk terakhir kalinya. "Tapi ingat kata-kata aku, Pak. Dinding es Bapak ini... suatu hari nanti aku sendiri yang akan menghancurkannya sampai berkeping-keping. Dan saat hari itu tiba, Bapak yang akan berlutut di bawah kaki aku untuk memohon ciuman ini!"

Brak!

Queen melangkah pergi dan membanting pintu kayu kelas dengan sangat keras, meninggalkan keheningan yang kembali mencekam di dalam ruangan.

Setelah punggung gadis itu benar-benar hilang dari pandangan, Arga menghela napas panjang yang terasa sangat berat di dadanya. Ia melepaskan cengkeraman tangannya yang bergetar tipis di atas podium, lalu terduduk lemas di kursi dosennya. Pria berusia 30 tahun itu memejamkan matanya rapat-rapat, meraba dadanya yang berdegup sangat kencang. Penolakan dinginnya tadi bukanlah karena ia tidak tertarik, melainkan bentuk pertahanan diri terakhirnya agar tidak kembali jatuh ke dalam lubang pengkhianatan wanita yang sama. Arga tahu, ia telah berhasil mengusir Queen hari ini, namun peperangan batin di dalam dirinya sendiri baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!