Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa Di Balik Kemudi
"Sabar, Sayang. Sabar." Adrian masih saja mencoba menenangkan istrinya.
"Duh, Om! Jangan sabar-sabar terus. Gimana aku bisa sabar. Rencana kita ke Jepang kan biar ngak ada yang mergokin kita di sini. Kok sama aja! Terus kita mesti lari ke mana sekarang?"
Adrian terdiam mendengar perkataan Rina kali ini.
Tidak dipungkiri perkataan istri mudanya ada benernya juga dan dia harus mulai memikirkan cara untuk keluar dari mata-mata mengerikan di kehidupan pernikahannya.
Ribuan kilometer dari Tokyo di dalam sebuah ruang kerja di Jakarta, Profesor Eliza duduk bersandar di kursi kerjanya.
Di tangannya, sebuah tablet menampilkan video singkat yang dikirimkan oleh seseorang yang berisi rekaman dari kejauhan yang memperlihatkan Adrian sedang panik memandangi lorong hotel sedangkan Rina, madunya sedang terduduk lemas di lantai sambil menangis sesenggukan.
"Hahahahaha! Puas kalian, ya!" geram Eliza dengan tatapan mata yang penuh kebencian. "Mereka pikir aku akan diam saja melihat mereka pergi liburan ke luar negeri. Sinting!"
Dua hari setelah kejadian itu Adrian jadi sering mengirim pesan pada istri sahnya. Tentu ini yang diinginkan Eliza sejak awal. Melihat rumah tangga mantan mahasiswi bimbingannya merasa menderita di dalam biduk rumah tangga yang dia bangun dengan suaminya.
Ting.
Ponsel Eliza di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Adrian.
“Eliza, bagaimana keadaan di Jakarta? Apakah lingkungan kampus atau rumah aman? Tolong kabari aku segera.”
Eliza tersenyum sinis. Ini sudah kali kelima dalam dua hari terakhir Adrian mengirimkan pesan serupa yang menanyakan kabarnya.
Adrian yang tadinya begitu perkasa merasa memegang kendali atas kesalahan Eliza yang mengirimkan Rina untuk menyusup ke ruang kerjanya mendadak berubah menjadi pengecut yang ketakutan.
Adrian tidak tau kalau semua drama menguntitan ini adalah atas perintah istri sahnya.
Eliza sengaja tidak membalas pesan Adrian agar suaminya itu tenggelam dalam rasa cemas yang diciptakannya sendiri.
Dua hari kemudian mata-mata Eliza melaporkan kalau Adrian dan Rina sudah pulang ke Indonesia.
Liburan yang sejatinya direncakan akan berjalan selama 10 hari hanya mereka lalui dalam hitungan kurang dari 7 hari saja.
Tanpa membuang waktunya begitu tiba di Jakarta, CEO Matakaki itu langsung menuju rumah Eliza berniat untuk mengibarkan bendera putih.
Saat tiba di rumah mewah Eliza di kawasan elit Jakarta, Eliza yang sudah dikabari Adrian akan pulang segera menyambut suaminya dengan wajah sedingin es.
Dia lalu melangkah mendekat meski Adrian masih saja menjaga jarak.
“Hai, Adrian. Kenapa wajahmu kaku gitu?” tanya Eliza berusaha terlihat lugu.
"Eliza... aku minta maaf," ucap Adrian parau. "Aku ceroboh. Aku tidak tahu bagaimana bisa ada orang yang mengendus keberadaan kami di Jepang dan mengambil foto-foto kami di sana."
Eliza berdiri sambil melipat tangannya di dada lalu menatap Adrian dengan tatapan tajam. “Apa? Hah! Bodoh!" bentak Eliza, berpura-pura murka. "Sudah aku katakan sejak awal, Adrian! Jika sampai ada satu saja mata yang tahu tentang jalang itu, reputasiku yang taruhannya! Kamu egois, kamu terlalu sibuk memanjakannya sampai lupa kalau posisi kita sedang di ujung tanduk!"
"Aku tahu, aku salah, Eliza. Aku akan lebih berhati-hati lagi setelah ini. Aku berjanji," ucap Adrian yang benar-benar ciut melihat kemarahan istrinya.
Eliza menghembuskan napas berat, seolah sedang menahan sabar yang teramat sangat. "Masuk ke kamarmu. Dan ingat mulai detik ini batasi semua gerakanmu dengan dia. Jangan sampai kecerobohanmu menghancurkan kita semua."
“Iya, Eliza. Maafkan aku dan Rina. Aku pikir liburan ke Jepang adalah rencana bagus. Tapi ternyata sama saja. Mata-mata itu ada di mana-mana.”
Selesai meminta maaf pada istri tuanya, dengan langkah gontai Adrian berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
Begitu sosok Adrian menghilang di balik pintu koridor, raut kemarahan di wajah Eliza lenyap seketika digantikan oleh senyuman penuh kemenangan. Ia mengambil ponselnya lalu men-dial sebuah nomor rahasia.
"Halo," ucap Eliza dingin begitu panggilan tersambung. "Target menuju rumah Ibu."
Eliza terkekeh pelan. "Ya, dia sudah di rumahku. Tapi ingat terus bayangi mereka berdua. Mulai hari ini, buat hidup mereka seperti dalam neraka. Awasi gerak-gerik keduanya. Kalau mereka pergi kemanapun ambil fotonya dan buat mereka merasa tidak nyaman. Aku tidak mau keduanya merasakan pembalasan dariku."
"Baik, Bu."
Saat Adrian terpaksa pulang ke rumah istri sahnya, Rina di dalam apartemen merasa ketakutan yang luar biasa.
Dia terus memperhatikan sekeliling memastikan tidak ada orang yang melihatnya.
"Hah! Ternyata sesusah ini jadi istri simpanan," ucapnya sambil menghela nafas berat. "Sekarang aku harus gimana? Mana Om Adrian harus pulang ke rumahnya.
Rina menatap ke seberang apartemen dimana sebuah rumah makan cepat saji kesukaannya baru dibuka. "Aku pingin makan ke sana. Aman ngak, ya?" Matanya terus tertuju pada rumah makan cepat saji itu lalu dia mulai merasa masa bodoh. "Ah, pergi aja, lah!"
Rina lalu meraih posel dan tas selempangnya berniat keluar apartemen. Tapi baru saja dia membuka pintu dari kejauhan nampak sepasang mata mengawasinya dengan tatapan yang begitu mengerikan.
"Aduh, siapa itu?" tanya Rina lalu kembali masuk ke dalam apartemen.