NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malapetaka

Fajar menyelinap lebih cepat dari perkiraan, membawa sisa hawa dingin malam merambat masuk melalui celah ventilasi rumah tanah liat keluarga Vyora. Di dalam kamar, suasana masih sunyi senyap.

Vyora, Cate, dan Uchi masih terperangkap dalam buaian mimpi masing-masing. Mereka terlelap begitu dalam dengan ritme napas yang berat, seolah kelelahan hebat dari drama kemarin telah menguras seluruh cadangan energi hingga ke tetes terakhir.

Namun, ketenangan itu tidak berlaku bagi Takahiro. Di sudut lain rumah, pemuda itu tampak berantakan. Matanya merah dan sembap, wajahnya kusut, dengan rambut putih yang mencuat ke segala arah.

Ia memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, mati-matian menahan beban kantuk yang terasa seperti timah di kelopak matanya. Tidur semalam adalah siksaan baginya, pikirannya terlalu berisik untuk sekadar diistirahatkan.

"Takahiro-kun, kamu kenapa? Wajah kamu kelihatan pucat sekali?"

Suara lembut itu memecah lamunan Takahiro. Clyrie Byon, ibunda Vyora, berdiri tak jauh darinya dengan raut cemas. Sinar matahari pagi yang menembus pintu terbuka menyapu rambut hitam dan bola mata semu kuningnya, membuat wanita itu tampak jauh lebih berenergi dibanding Takahiro.

Clyrie baru saja menyelesaikan ritual paginya di dapur. Di tangannya, ia membawa ubi ungu rebus yang masih mengepulkan uap panas.

"Apa semalam kamu nggak tidur?" lanjutnya dengan nada menenangkan. Namun, Takahiro hanya bergeming, matanya menatap kosong ke lantai tanah di bawah kakinya.

Melihat tak ada respons, Clyrie mencoba mencairkan kecanggungan. Ia melangkah mendekat, menyodorkan piring tanah liat di tangannya.

"Sebelum kamu pergi ke ladang, silakan di makan dulu ubi rebusnya. Mumpung lagi hangat."

Aroma manis ubi rebus itu akhirnya berhasil membuyarkan lamunan Takahiro. Fokusnya kini terkunci pada satu objek—ubi ungu segar yang masih berasap.

Tiba-tiba, sebuah titik terang muncul di otaknya, menyambungkan potongan teka-teki yang sejak semalam ia susun.

"Bibi, ubi ungu ini kamu beli atau menanamnya sendiri?" tanya Takahiro, suaranya parau namun penuh selidik.

Clyrie sedikit tersentak, mengeluarkan gumaman lirih karena bingung dengan arah pertanyaan sang pemuda. Setelah duduk di seberang Takahiro, barulah ia menyahut.

"Seperti yang semalam Vyora katakan, kami tidak punya uang sepeserpun untuk beli makanan. Ubi ini hasil panen—"

"Di dekat sawah itu?" potong Takahiro cepat, matanya menajam.

Clyrie membeku seolah baru saja dihantam palu raksasa. Matanya berkedip cepat dengan bibir yang sedikit terbuka. Hanya dalam sekejap, keterkejutan itu berganti dengan anggukan singkat. Ia mengakui kebenaran ucapan Takahiro dalam diam.

"Sudah kuduga!"

Takahiro bangkit dengan gerakan mendadak. Ia menyambar satu buah ubi yang masih panas, mengabaikan rasa perih di ujung jarinya, lalu mengamati tekstur kulit ubi itu dengan saksama. Wajahnya berubah sangat serius, seolah sedang membedah data di laboratorium.

"Menurutku ini aneh! Tanaman ubi tumbuh di bawah tanah seperti singkong, tapi kenapa mereka tidak ikut terkontaminasi?"

Gumaman Takahiro terdengar jelas oleh Clyrie. Meski ia tak paham apa arti 'kontaminasi', wanita itu tetap menyimak setiap kata yang mengalir dari bibir Takahiro sebelum akhirnya mencoba menjelaskan semampunya.

"Tidak semua ubi yang kita panen hasilnya bagus. Beberapa ada yang busuk sebelum tumbuh menjadi ubi, dan sisanya membusuk saat ubi itu tumbuh."

Takahiro melirik dari sudut matanya, membiarkan penjelasan Clyrie meresap ke dalam analisisnya. Detik berikutnya, otaknya memproses informasi itu menjadi sebuah kesimpulan yang menarik sekaligus mengerikan.

"Kalau ini bukan ulah seseorang seperti yang semalam aku katakan, maka besar kemungkinan penyebabnya ada pada kondisi tanah itu sendiri."

"Apa maksudnya, nak?"

Takahiro tak langsung menjawab. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Clyrie. Dengan sorot mata yang kembali dipenuhi rasa percaya diri yang meluap, ia memberikan perintah.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Tolong bangunkan yang lainnya sekarang. Bilang pada mereka, susul aku di ladang sawah!"

Tanpa menunggu balasan atau menjelaskan teorinya lebih lanjut, Takahiro melesat keluar rumah secepat kilat.

Clyrie hanya bisa terpaku menatap punggung Takahiro yang mulai menjauh dan menghilang di balik pepohonan. Ia mengedipkan mata berkali-kali, tubuhnya terasa kaku di tempat duduknya. Pemuda itu benar-benar sukses membuat pagi harinya diawali dengan rasa pusing yang luar biasa.

***

Napas Takahiro menderu hebat, memburu oksigen yang terasa tipis di paru-parunya. Jejak langkahnya menciptakan kepulan debu yang terbang ke segala arah ditiup angin. Meski fisiknya belum sepenuhnya pulih, ia terus memaksa kakinya mengentak tanah.

Perban yang melilit tubuhnya kini mulai kusam, kotor oleh debu dan rembesan keringat yang mengering. Sambil berlari, batinnya mulai bergejolak.

'Kenapa aku harus sejauh ini melakukan sesuatu yang tak ada manfaatnya bagiku? Aku yang sekarang... sangat bertolakbelakang dengan aku yang dulu.'

Pertanyaan itu terasa seperti tantangan bagi egonya. Ia terus bergulat dengan memori masa lalu, berlari dengan mata yang sesekali terpejam karena menahan penat, hingga ia kehilangan kewaspadaan terhadap jalan di depannya. Ada seseorang yang berdiri di sana.

'Sial! Aku harus—'

Bruk!!

Tabrakan keras tak terhindarkan. Takahiro tersungkur, bokongnya menghantam tanah dengan telak. Sementara itu, sosok yang ia tabrak hanya bergeser sedikit, menoleh perlahan dengan tatapan mata yang sangat tidak ramah.

Takahiro merintih, matanya masih terpejam menahan nyeri yang menjalar dari pipi hingga tulang ekornya.

"Aw! Sakit!" keluhnya sambil mengusap bagian yang sakit.

Di hadapannya berdiri seorang pemuda bertubuh kekar dengan kepala botak dan kulit gelap yang berkilau di bawah cahaya pagi. Tanpa memberi kesempatan bagi Takahiro untuk meminta maaf, pria itu memutar tubuhnya dengan cepat.

Gerakannya secepat kilat. Sebelum Takahiro sempat menyadari apa yang terjadi, pria itu sudah menerjangnya hingga Takahiro terlentang di atas tanah.

Takahiro tersentak, berusaha meronta untuk melepaskan diri. Namun, tenaga pemuda di atasnya jauh lebih besar. Kedua lutut pria itu mengunci lengan Takahiro ke tanah, sementara satu tangannya mencekik leher Takahiro dengan kuat.

Di udara, kepalan tangan kanan pria itu sudah terangkat tinggi, siap menghujam wajah Takahiro sebagai balasan atas tabrakan tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!