Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Beberapa menit berlalu, matahari berdiri tepat di atas kepala, membakar aspal hingga udara bergetar. Namun panas itu masih kalah dibanding kekacauan yang memenuhi kepala Kael.
Ia melirik Aurora yang masih terbaring lemah di kursi penumpang. Napas gadis itu terdengar pelan, wajahnya pucat, beberapa helai rambut menutupi pipinya.
Kael mengepalkan kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Sial..." desisnya lirih.
Kenangan tentang malam yang pernah menghubungkan mereka kembali menyeruak tanpa diundang. Bayangan itu mengusik pikirannya, membuat dadanya sesak oleh campuran rindu, marah, dan penyesalan.
Mobil melambat hingga akhirnya berhenti di bahu jalan yang sepi. Kael memejamkan mata beberapa detik, menarik napas panjang, berusaha mengendalikan gejolak yang hampir menguasainya.
Tatapannya kembali jatuh kepada Aurora.
Dengan gerakan hati-hati, ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah gadis itu. Jemarinya hanya menyentuh sekilas, memastikan Aurora masih bernapas dengan tenang.
"Kau benar-benar membuatku kehilangan kendali..." gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Aurora.
Untuk sesaat ia menundukkan kepala. Bibirnya mengecup lembut bibir Aurora—membasahi dahaga hasrat di dalam dadanya.
Kael segera menarik diri. Ia mengembuskan napas panjang, lalu kembali menggenggam kemudi.
"Bertahanlah. Setelah kau sadar, kita akan menyelesaikan semua ini."
Mesin mobil kembali menyala. Kali ini Kael memusatkan seluruh perhatiannya ke jalan, meninggalkan gejolak di dalam dadanya demi membawa Aurora ke tempat yang aman.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang terasa begitu panjang. Kael masih menggenggam kemudi dengan rahang mengeras. Pikirannya dipenuhi bayangan kejadian di klinik, namun setiap kali ia menoleh, seluruh amarah itu perlahan berubah menjadi kecemasan.
Aurora masih terlelap di kursi penumpang. Wajahnya yang pucat membuat dada Kael terasa sesak. Beberapa helai rambut menutupi pipinya, membuatnya tampak begitu rapuh.
Tanpa sadar, Kael mengulurkan tangan. Dengan sangat hati-hati ia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Aurora, seolah takut sentuhan sekecil apa pun akan membangunkan gadis itu.
"Dasar gadis keras kepala..." gumamnya pelan, sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang dipenuhi kelegaan.
Ia menatap Aurora cukup lama. Selama bertahun-tahun hidup di dunia yang dipenuhi darah dan pengkhianatan, baru kali ini ia merasa begitu takut kehilangan seseorang.
"Aku hampir terlambat..." bisiknya lirih.
Jemarinya menggenggam tangan Aurora perlahan. Tangan itu terasa dingin, membuat Kael spontan menghangatkannya dengan kedua telapak tangannya sendiri.
"Dengarkan aku, Aurora," ucapnya pelan meski tahu gadis itu belum tentu mendengar. "Selama aku masih hidup, tak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Seolah ingin menegaskan janjinya, Kael melepaskan jas yang dikenakannya lalu menyelimuti tubuh Aurora agar tetap hangat.
Tak lama kemudian, bulu mata Aurora bergerak pelan. Napasnya berubah lebih teratur sebelum akhirnya kedua matanya terbuka sedikit demi sedikit.
Pandangan gadis itu masih buram.
"Kael...?" suaranya lirih.
Pria itu langsung menoleh. Sorot matanya yang biasanya dingin seketika melembut.
"Akhirnya kau sadar."
Aurora mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha memahami keadaan di sekitarnya.
"Kita... di mana?"
"Sudah aman," jawab Kael singkat. "Jangan memaksakan diri mengingat apa pun sekarang."
Aurora mengangguk pelan meski kebingungan masih tergambar jelas di wajahnya.
Kael kembali menyalakan mesin mobil. Sebelum kendaraan itu melaju, ia sempat melirik Aurora sekali lagi.
"Kau tak perlu takut lagi," katanya dengan suara rendah namun penuh keyakinan. "Mulai hari ini, siapa pun yang mencoba menyentuh atau menyakitimu harus melewatiku lebih dulu."
Aurora hanya menatapnya dalam diam. Entah mengapa, untuk pertama kalinya, tatapan dingin pria itu tidak lagi terasa menakutkan, melainkan seperti benteng yang tak akan membiarkan siapa pun melukainya lagi.
"Apa yang sedang kau lakukan...?"
Suara Aurora terdengar lirih, nyaris tenggelam di tengah embusan napasnya yang masih belum teratur.
Kael terdiam.
Ia menatap mata gadis itu yang baru saja terbuka. Tatapan itu masih dipenuhi kebingungan, seolah Aurora belum sepenuhnya sadar dengan keadaan di sekelilingnya.
Untuk sesaat, Kael hanya membalas tatapan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aurora perlahan menyadari dirinya berada di dalam mobil. Jas hitam milik Kael tersampir menutupi tubuhnya, sementara sabuk pengaman telah terpasang rapi.
"Kita... di mana?" bisiknya.
Kael mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Sudah aman."
Aurora mencoba mengingat apa yang terjadi, tetapi kepalanya terasa berat. Ingatan terakhirnya hanyalah ruangan putih, suara gaduh, lalu semuanya berubah gelap.
Kael memperhatikan perubahan ekspresi itu. Ia tahu Aurora sedang memaksa dirinya mengingat.
"Jangan dipikirkan sekarang," ucapnya dengan nada tegas namun jauh lebih lembut daripada biasanya. "Fokuslah untuk memulihkan tenaga."
Aurora kembali menatapnya.
"Kael... apa yang terjadi padaku?"
Pria itu mengepalkan tangan di atas kemudi. Rahangnya mengeras, menahan amarah yang kembali muncul saat mengingat apa yang hampir menimpa gadis itu.
"Aku datang sebelum semuanya terlambat."
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibirnya.
Aurora terdiam. Meski kepalanya masih dipenuhi tanda tanya, ia bisa melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya di mata Kael.
Rasa takut.
Takut kehilangan seseorang yang begitu berarti baginya.
Kael mengangkat tangan, lalu dengan sangat hati-hati merapikan rambut Aurora yang berantakan. Sentuhannya singkat, penuh kehati-hatian.
"Mulai sekarang," katanya pelan, "tak akan kubiarkan siapa pun menyentuhmu atau menyakitimu lagi."
Aurora tidak menjawab. Ia hanya menatap pria itu beberapa saat sebelum perlahan memejamkan mata kembali, kali ini bukan karena obat, melainkan karena kelelahan.
Kael menyalakan mesin mobil dan melajukannya meninggalkan jalan yang lengang. Di dalam hatinya, ia telah mengambil satu keputusan.
Apa pun yang harus ia korbankan, Aurora akan tetap berada dalam perlindungannya.
Kael menarik napas panjang sebelum menghidupkan kembali mesin mobil. Tatapannya masih terpaku pada Aurora yang terlelap tanpa menyadari badai yang baru saja berlalu.
Selama beberapa detik, pria itu hanya diam.
Jari-jarinya merapikan helaian rambut yang menutupi wajah Aurora, lalu membetulkan gaun gadis itu yang sedikit kusut akibat perjalanan tergesa tadi. Setelah itu, ia menyampirkan jas hitamnya ke tubuh Aurora hingga tak ada lagi bagian yang terbuka.
Tatapan Kael menggelap.
"Tak ada yang boleh melihatmu seperti ini."
Kalimat itu meluncur pelan, lebih terdengar seperti sebuah keputusan daripada ucapan.
Ia mengangkat dagu Aurora dengan sangat hati-hati. Wajah gadis itu begitu damai hingga bertolak belakang dengan kekacauan yang memenuhi pikirannya.
Untuk sesaat, Kael memejamkan mata.
Kemudian ia mengecup singkat kening Aurora, nyaris tak meninggalkan jejak. Ciuman itu bukan ungkapan kelembutan semata, melainkan cara aneh seorang pria yang terbiasa menguasai segalanya untuk menandai sesuatu yang dianggapnya berharga.
"Kau akan tetap di sisiku."
Nada suaranya rendah, dingin, namun tak memberi ruang untuk dibantah.
Mobil kembali melaju membelah jalanan yang lengang menuju rumah megah di tepi danau. Dari luar, bangunan itu tampak sederhana. Namun di balik gerbang besi yang menjulang, tempat itu berdiri bak benteng yang tak mudah ditembus siapa pun.
Kael mengeluarkan ponselnya dan menekan satu nomor.
"Cassian."
"Saya di sini, Tuan."
"Panggil Adrian ke rumah. Sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, sambungan langsung diputus.
Begitulah Kael. Ia tidak pernah mengulang perintah.
Sesampainya di rumah, Kael menggendong Aurora turun dari mobil dengan hati-hati. Langkahnya mantap memasuki kediaman yang didominasi warna abu-abu dan putih, sementara seluruh penghuni rumah menundukkan kepala ketika melihat sang tuan datang membawa seorang gadis dalam pelukannya.
Tak seorang pun berani bertanya.
Mereka tahu satu hal.
Jika Kael sendiri yang membawa seseorang melewati ambang pintu rumah itu, maka orang tersebut bukan lagi tamu biasa.
Ia telah berada di bawah perlindungan—dan sekaligus dalam wilayah kekuasaan—Kael Lucien Raventhorne.
maap,unfollow dan unsubscribe