NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Pengganti Demi Anak-anakku

Jadi Ibu Pengganti Demi Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Suami Tak Berguna / Selingkuh
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reaksi Rino

Sean kembali tertidur setelah semuanya selesai. Sedangkan mata Hanis justru terbuka lebar, menatap langit-langit.

Hanis merasa sangat bersalah dan berdosa. Ia telah memberikan dirinya kepada pria lain. Hari ini, ia telah resmi mengkhianati Rino. Melanggar janji suci pernikahannya.

Perlahan, Hanis meraih ponsel pemberian Jinny dari atas nakas. Ia melihat ada lima pesan baru dari Rino. Dua berisi laporan rincian biaya yang harus dikeluarkan untuk mendaftar sebagai warga baru di rumah itu, dan tiga menanyakan kapan Hanis bisa mengirim uang.

Nyatanya, Rino sama sekali tidak menanyakan keadaan Hanis. Tidak menanyakan kabar. Apalagi mengkhawatirkan Hanis.

Hanis menjawab seadanya, tidak memberikan janji apapun karena ia sendiri memang tidak memiliki kuasa untuk mengirim uang. Setelahnya, ia meletakkan ponsel dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Kembali dari kamar mandi, sudah tidak ada di atas ranjang. Sepertinya pria itu sudah belanja untuk sarapan atau membersihkan kamar mandi kamar utama.

Karena sekarang ia sendiri di kamar Hanis menelepon Rino.

“Halo, Mas,” sapa Hanis lirih.

“Halo, Han,” balas Rino. Terdengar suara riuh anak-anak di belakang. “Gimana? Kapan kamu bisa kirim uang? Ini token listrik sudah bunyi.”

Hanis menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Laki-laki itu, ketika Hanis menelepon yang ditanyakan adalah soal uang, bukan kondisinya terlebih dahulu.

“Ini aku baru aja ngelakuin itu, Mas. Biar hamil…” aku Hanis dengan suara bergetar, seolah ia sedang mengakui seluruh dosanya.

Bukannya marah, sedih atau bagaimana, Rino justru berseru, “ya bagus! Semoga cepat jadi ya, Nis. Gimana? Enak to? Lebih enak main sama orang kaya kan?”

Hampir menangis mendengarnya. Harga dirinya justru seolah diinjak-injak oleh suaminya sendiri.

“Mas…”

Hanis sesenggukan. Tangisnya perlahan pecah.

“Lho… lho? Kok malah nangis?” bingung Rino.

“Mas nggak sedih? Ini aku berkorban demi anak-anak, Mas. Kok Mas kayaknya biasa aja. Padahal aku disini merasa bersalah banget.”

Hanis menyeka air mata dengan punggung tangan secara kasar.

“Dino… itu adiknya dipegangin, jangan sampe lari keluar,” di seberang Rino berbicara pada anak keduanya, suaranya terdengar sedikit menjauh sebelum kembali lagi. “Nis… sudah, jangan sedih. Kamu kan kerja. Aku nggak apa-apa.”

“Ya sudah, Mas. Aku mau istirahat dulu.”

Hanis menyudahi panggilan telepon itu. Ia tidak kuat lagi. Respon sang suami sangat menyakitinya.

Sepuluh menit kemudian, saat Hanis tengah berbaring memandang langit-langit kamar, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, pintu kamar terbuka pelan. Sean masuk sudah dengan pakaian yang baru, kaos hitam dan celana panjang santai berwarna senada. Benar saja, Sean sudah mandi di kamar lain.

“Nis, ayo sarapan,” ajak Sean sembari berjalan mendekat. 

“Iya, tunggu sebentar.” Hanis bangkit, merapikan rambutnya menggunakan jari dan membasuh wajahnya kembali di wastafel kamar mandi.

“Suamimu barusan kirim pesan ke aku, minta uang,” lapor Sean saat Hanis tengah mengeringkan wajahnya menggunakan handuk.

“Oh iya… Tadi juga telepon saya,” jawab Hanis. “Maaf, Mas Rino ngerepotin terus.”

“Nggak apa-apa, Nis. Aku sudah kirim ya, tujuh ratus lima puluh ribu.”

Hanis keluar dari kamar mandi dengan kepala menunduk, malu karena suaminya terus merepotkan Sean, meski itu juga termasuk dalam kontrak tak tertulis mereka. “Makasih ya… Maaf terus-terusan.”

“Bukan apa-apa, Nis. Ayo sarapan.”

Keduanya turun untuk sarapan bersama, menyantap makanan yang telah disiapkan oleh asisten rumah tangga di bawah. Kali ini hanya mereka berdua, untuk kali pertama tanpa Jinny.

...****************...

1
falea sezi
sean ini bodoh mau ma jiny bekas gt🤣 mending bantuin haniscerai dr suami nya 🤣 trs elu ama hanis aja
Quoari: Eh nanti gelut dong sama Reno 😭
total 1 replies
falea sezi
egois ini sean🤣 dan lu masih mau ma istri yg bekas di obok2 mantan pcrnya menjijikkan
falea sezi
🤣goblok istri bekas aja mau
Quoari: Terlalu baik sih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!