Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19. Dadakan
Gia berdiri kaku di ambang pintu ruang tamu utama kediaman Kirana. Ruangan luas berlapis marmer murni itu kini dihiasi gelak tawa hangat. Di atas sofa kulit mewah, Nyonya Kirana tampak berbincang akrab dengan sepasang suami istri paruh baya berpenampilan sangat anggun dan berkelas.
Orang tua Elkan pemilik tunggal VK Group yang legendaris.
"Gia, ayo duduk di samping Elkan," panggil Nyonya Kirana ramah, memutus kebingungan putri tunggalnya.
Gia menelan ludah, berusaha menguasai rasa gugup yang jarang sekali hinggap di dadanya. Ia melangkah anggun mendekati sofa, disusul Elkan yang berjalan santai di belakangnya dengan senyum miring yang tak lekas dari bibirnya.
"Gia... cantik sekali kamu, Nak," puji Ibu Elkan, Nyonya Sophia, dengan binar mata penuh kekaguman saat menatap Gia. "Dua tahun lalu Elkan sempat pusing tujuh keliling waktu kamu 'menghilang'. Sekarang setelah melihatmu langsung, Tante paham kenapa anak ini ngebet banget mau buru-buru melamar."
Wajah Gia mendadak merona merah. Ia melirik Elkan tajam, namun pria di sebelahnya justru duduk makin mepet dan menyunggingkan senyum tanpa dosa.
"Mama jangan membocorkan rahasia Elkan dong," sahut Elkan santai, dengan santai meletakkan tangannya di belakang sandaran sofa tepat di belakang bahu Gia, seolah-olah mengklaim wanita itu sebagai miliknya.
"Bocorin apa?" potong Nyonya Kirana terkekeh. "Biarkan Gia tahu kalau Presdir VK Group yang dingin ini pernah hampir frustrasi sampai mau menyewa detektif swasta se-Asia cuma buat mencari keberadaan putri Ibu."
Gia tersentak kecil, menoleh menatap Elkan dari samping. *Jadi... Elkan benar-benar mencariku selama dua tahun aku menyamar?
"Jadi, bagaimana Gia?" tanya Ayah Elkan, Tuan Ardiansyah, membuka suara dengan nada wibawa yang hangat. "Keluarga kami sudah lama mengenal rekam jejakmu di dunia bisnis. Kami ke sini bukan cuma mau menyatukan dua keluarga besar, tapi juga mendukung penuh keputusanmu."
Gia menghela napas pelan. Kehangatan dan rasa hormat yang ditunjukkan keluarga Elkan sangat bertolak belakang dengan hinaan dan tekanan yang selama dua tahun ini ia terima dari keluarga Aldo. Di sini, ia dihargai sebagai seorang wanita utuh dan pemimpin.
"Terima kasih atas kepedulian Tuan dan Nyonya," balas Gia tulus dan sopan. "Tapi... saya baru saja menyelesaikan urusan hukum yang cukup rumit. Saya tidak ingin membawa beban masa lalu ke dalam hubungan baru."
Elkan meraih tangan Gia di atas pangkuan, menggenggamnya erat dengan jemari yang saling bertautan di depan kedua keluarga.
"Bebanmu itu sudah bersih malam ini, Gia," bisik Elkan tegas, menatap lurus ke dalam mata Gia tanpa ragu. "Mulai besok, yang ada cuma masa depan kita."
Nyonya Sophia dan Nyonya Kirana tersenyum penuh arti melihat interaksi kedua anak mereka. Atmosfer hangat menyelimuti jamuan makan malam itu.
Namun, ketenangan mereka mendadak terganggu saat seorang pengawal pribadi Nyonya Kirana melangkah masuk dengan terburu-buru, membawa sebuah tablet tebal.
"Mohon maaf memotong jamuan makan malam, Nyonya," bisik sang pengawal panik pada Nyonya Kirana. "Ada perkembangan darurat dari sel tahanan Pak Aldo."
Dahi Gia berkerut. Aldo lagi?
"Ada apa?" tanya Gia dingin.
Sang pengawal menggeser layar tablet dan menyerahkannya pada Gia. "Pak Aldo baru saja menggunakan hak panggilannya untuk menghubungi pers koran kuning dari dalam sel. Dia mengancam akan membocorkan rekaman rahasia proyek internal *VK Group* jika Nona Gia tidak mencabut semua gugatan dalam waktu dua puluh empat jam!"
Mata Elkan seketika menajam bagai elang, auranya membeku seketika. "Pria itu benar-benar tidak kenal kata kapok."
Gia justru tersenyum miring, menatap layar tablet dengan kilat amarah yang terkendali. "Memeras dari balik jeruji besi? Aldo... kamu benar-benar menggali kuburanmu sendiri makin dalam."
Tuan Ardiansyah meletakkan cangkir teh porselennya ke atas piring kecil dengan dentang halus yang memecah keheningan. Wajah tenang sang taipan bisnis kini diliputi ketegasan. "Pria dari keluarga medioker itu rupanya menyentuh aset rahasia *VK Group*. Elkan, apakah sistem keamanan server proyek utama kita sempat dibobol olehnya sewaktu Gia masih menyamar?"
"Sama sekali tidak, Papa," jawab Elkan dingin. Pria itu menyandarkan punggungnya, memutar-mutar gelas berisi air mineral di tangannya dengan pandangan tajam. "Dokumen yang ada di tangan Aldo hanyalah draf tiruan buatan tim intelijen kita dua tahun lalu. Itu umpan balik yang aku pasang sewaktu mendeteksi ada kebocoran kecil di divisi keuangan."
Nyonya Sophia tertawa kecil, melambaikan tangannya dengan anggun. "Astaga, jadi mantan suaminya Gia itu mengira draf palsu buatan Elkan sebagai dokumen asli? Sungguh pria yang sangat malang dan tidak berpendidikan."
Gia tertegun sejenak mendengarkan tanggapan keluarga Elkan. Tidak ada riak ketakutan atau keraguan sedikit pun dari orang tua Elkan. Mereka justru menanggapi gertakan Aldo seperti gurauan tidak bermutu. Sikap itu sangat berbanding terbalik dengan keluarga Aldo yang selalu panik dan saling tuduh setiap kali menghadapi masalah finansial kecil.
"Tapi kita tidak bisa membiarkan media sampah mempublikasikannya," kata Gia, pandangan matanya beralih ke Elkan. "Walaupun itu draf palsu, narasi yang dibangun bisa merusak harga saham VK Group saat pasar dibuka besok pagi."
"Kamu benar," sahut Elkan seraya menyunggingkan senyum misterius. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel tipis berbalut titanium, lalu menekan satu tombol panggilan cepat. "Dan itulah kenapa aku tidak akan membiarkan percakapan telepon Aldo sampai ke meja redaksi mana pun."
Panggilan tersambung dalam hitungan detik.
"Laporan siap, Pak Elkan," suara sekretaris pribadi Elkan menggema dari speaker ponsel. "Rekaman pembicaraan mantan suami Nona Gia sudah kami cegat di server pusat penyedia layanan telepon kepolisian. Kepala kepolisian daerah baru saja menandatangani surat isolasi total untuk Aldo atas tuduhan percobaan pemerasan susulan dan kejahatan siber."
"Bagus," balas Elkan singkat dan tak terbantahkan. "Pastikan semua pers yang sempat menerima draf itu mendapatkan surat peringatan resmi dari tim pengacara VK Group. Jika ada satu bait saja yang terbit besok pagi, beli seluruh saham media tersebut dan tutup operasinya sore itu juga."
"Dimengerti, Pak!"
Gia menatap Elkan tanpa kedip. Keputusan secepat kilat dan tanpa kompromi itu menunjukkan betapa besarnya kekuasaan yang digenggam pria di sebelahnya. Elkan bukan sekadar pria hangat yang mengejarnya selama dua tahun, melainkan seorang penguasa industri yang sanggup meratakan musuhnya hanya dalam satu kali panggilan telepon.
Nyonya Kirana tersenyum puas melihat cara Elkan menyelesaikan masalah tersebut. "Kerja yang sangat bersih, Elkan. Ibu tidak salah menyerahkan perlindungan Gia padamu."
"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Tante," ujar Elkan sopan, lalu menoleh menatap Gia dengan pendar lembut di matanya yang kontras dengan tindakan kejamnya barusan. "Aku tidak akan membiarkan seekor semut pun mengganggu ketenangan Gia lagi."
Nyonya Sophia berdehem pelan, mengalihkan perhatian semua orang kembali ke meja makan. "Nah, karena gangguan kecil tadi sudah selesai, bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan mengenai tanggal lamaran resmi? Saya sudah meminta perancang busana istana untuk menyiapkan tiga puluh opsi gaun untuk Gia."