Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Batas yang Harus Dijaga
Pagi datang tanpa benar-benar memberi Alisha kesempatan untuk tidur.
Raka perlahan membuka mata. Pandangannya masih samar sebelum akhirnya menangkap sosok Alisha yang duduk di samping ranjang.
Kakaknya masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam. Rambutnya berantakan dan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya.
Raka langsung mengernyit. “Kak?”
Alisha tersentak kecil. “Kamu udah bangun?”
Raka mengangguk. Matanya masih tertuju pada wajah Alisha. “Kakak gak tidur?”
“Tidur,” jawab Alisha singkat.
Raka menyipitkan mata. “Berapa lama?”
Alisha tidak langsung menjawab.
Raka menghela napas kecil. “Berarti gak tidur.”
Alisha tersenyum tipis. “Cuma kurang tidur.”
“Karena biaya rumah sakit?” tanya Raka akhirnya.
Senyum itu menghilang. Alisha hendak menjawab, tetapi Raka lebih dulu berkata,
“Kalo emang terlalu berat buat Kakak...” Raka menggenggam selimutnya erat. “...jangan dipaksain, Kak.”
“Raka—”
“Aku bisa berhenti berobat,” potong Raka cepat.
Alisha langsung menggenggam tangannya. “Jangan ngomong kayak gitu.”
“Tapi Kakak sampai gak tidur gara-gara aku.” Sorot mata Raka menyiratkan rasa bersalah.
Alisha menggeleng. “Enggak. Bukan gara-gara kamu.”
“Terus karena apa?”
Alisha tak tahu harus beralasan apa. Bayangan map di dalam tasnya kembali muncul.
Lima puluh juta. Pengobatan Raka. Donor. Dan satu kewajiban yang tidak mungkin ia ceritakan kepada adiknya.
Raka menatap wajah kakaknya yang tiba-tiba berubah. “Kak?”
Alisha tersadar. Ia memaksakan senyum. “Nggak apa-apa. Kakak cuma lagi mikirin sesuatu.”
“Masalah?” tanya Raka pelan.
Alisha mengangguk pelan. "Dikit.”
“Bisa di selesain?” Raka menggenggam tangan kakaknya lebih erat.
Tatapan Alisha turun pada tangan mereka yang masih bertaut. Ia tidak tahu. Justru itulah masalahnya. Kalau bisa diselesaikan dengan uang, mungkin ia sudah menemukan jawabannya. Namun kali ini, uang yang ditawarkan kepadanya menuntut sesuatu yang jauh lebih mahal.
Alisha akhirnya mengusap rambut Raka. “Kamu jangan mikirin soal itu. Fokus aja sama pengobatanmu.”
Raka masih tampak ragu. “Kakak janji semuanya bakal baik-baik aja?”
Alisha terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Iya.”
Namun setelah Raka kembali memejamkan mata, senyum Alisha perlahan lenyap. Tangannya bergerak menuju tas yang terletak di atas kursi. Jarinya menyentuh map tipis di dalamnya. Ia belum menerima tawaran itu.
Belum.
Tetapi Alisha mulai takut karena menolaknya mungkin bukan lagi sekadar pilihan untuk mempertahankan harga diri.
Mungkin itu berarti mempertaruhkan satu-satunya orang yang masih ia miliki.
***
Siang itu, suasana ruang kerja Ares masih dipenuhi kesibukan. Beberapa dokumen terbuka di atas meja, sementara Reki baru saja selesai menjelaskan laporan yang membutuhkan persetujuan Ares.
Ares menutup salah satu berkas, lalu mengangkat pandangan. “Gimana sama perempuan itu?”
Reki langsung tahu siapa yang dimaksud. “Nona Alisha?”
Ares mengangguk.
“Belum ngasih jawaban, Tuan,” ujar Reki. “Orang kita juga belum dapet pesan atau panggilan darinya.”
Jari Ares yang semula hendak membuka berkas berikutnya berhenti. “Masih belum?”
Reki menjawab, “Mungkin dia masih mikirin tawaran itu.”
Ares menyandarkan tubuhnya ke kursi. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya sedikit menajam.
Ia sudah memberikan tawaran yang menurutnya cukup jelas. Biaya pengobatan Raka akan ditanggung, Alisha mendapat kompensasi lima puluh juta setiap bulan, pekerjaannya tetap berjalan, bahkan bantuan untuk mencari donor juga disediakan. Namun perempuan itu belum mengambil keputusan.
Ares mengalihkan pandangan ke layar laptop. “Kasih dia waktu sampai sore ini.”
Reki mengangkat alis. “Sore ini, Tuan?”
“Ya.” Ares mengambil pena dan kembali memeriksa dokumen di hadapannya. “Bilang ke dia penawaran itu cuma berlaku sampek sore. Habis itu, anggap aja gak pernah ada.”
Reki memerhatikan Ares beberapa detik. “Tuan yakin?”
Ares mengangkat wajah. “Kenapa?”
"Biasanya Tuan gak ngasih batas waktu buat sesuatu yang lagi Tuan butuhin.”
Tatapan Ares menajam. “Aku gak lagi butuh siapa pun.”
Reki langsung mengangguk. “Baik.”
Ia berbalik hendak pergi, tetapi suara Ares kembali menghentikannya.
“Jangan bikin dia merasa dipaksa.”
Reki menoleh.
Ares sudah kembali menundukkan pandangan pada dokumen. “Biarin dia milih dengan keputusannya sendiri.”
Reki tersenyum tipis. “Baik, Tuan.”
Setelah pintu tertutup, Ares kembali membaca berkas di depannya. Namun beberapa detik berlalu tanpa satu pun kalimat yang benar-benar masuk ke pikirannya.
Ujung penanya mengetuk meja dua kali sebelum akhirnya berhenti.
Ares meletakkan pena itu, lalu bersandar pada kursinya. Pandangannya jatuh ke layar ponsel di sudut meja. Masih tidak ada notifikasi baru.
***
Siang itu, ketika Alisha sedang menyelesaikan pekerjaannya, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tersimpan dari kartu nama pria yang datang ke rumah sakit semalam.
> Nona, penawaran kemarin itu cuma berlaku sampai sore ini aja. Lewat dari itu, kami anggap selesai.
Alisha membaca pesan itu tanpa bergerak. Ia sudah menduga mereka akan menagih jawaban. Namun tetap saja, dadanya terasa sesak ketika melihat batas waktu tersebut.
Sore.
Berarti ia hanya punya beberapa jam untuk memutuskan sesuatu yang mungkin akan mengubah seluruh hidupnya.
Alisha meletakkan ponselnya di meja dan berusaha kembali bekerja. Namun pikirannya tidak lagi berada di sana.
Angka-angka di laporan tak lagi berarti apa-apa. Yang terus muncul di kepalanya hanya nominal lima puluh juta, tagihan rumah sakit yang menumpuk, dan satu pasal dalam kontrak yang membuatnya ingin menutupnya rapat-rapat.
Alisha mengembuskan napas panjang. Ia tidak ingin melakukan ini. Namun ia juga tidak sanggup berpura-pura bahwa dirinya memiliki banyak pilihan.
.
Menjelang jam pulang kantor, Alisha masih belum memberikan jawaban.
Ponselnya kembali berada di tangannya. Waktu terus berjalan. Tinggal beberapa menit sebelum batas yang diberikan pihak Ares berakhir.
Alisha membuka percakapan dengan pria tersebut, lalu jarinya mulai mengetik.
Alisha:
> Maaf, saya gak bisa menerima tawaran itu.
Ia menatap kalimat tersebut. Benar. Itulah keputusan yang seharusnya ia ambil.
Alisha hendak menekan tombol kirim, tetapi jarinya berhenti. Ia menghapus kalimat tersebut. Mengetik lagi. Menghapusnya kembali.
Dadanya terasa semakin berat. Ia tidak bisa menerima perjanjian itu dalam bentuk yang ditawarkan. Tetapi ia juga belum sanggup melepaskan kesempatan yang mungkin menjadi satu-satunya jalan bagi Raka.
Pandangan Alisha jatuh pada bagian kontrak mengenai hubungan intim. Kemudian ia teringat sesuatu yang sejak kecil selalu diajarkan orang tuanya.
Ada hal-hal yang boleh dikorbankan. Tetapi ada batas yang harus tetap dijaga.
Alisha menarik napas perlahan. Mungkin ia memang tidak bisa mengubah tujuan dari perjanjian tersebut. Namun setidaknya, ia masih bisa menentukan bagaimana ia akan menjalaninya.
Jarinya kembali bergerak di atas layar. Kali ini, ia mulai mengetik dengan lebih perlahan.
.
✨“Tidak semua pilihan sulit harus berakhir dengan menerima atau menolak. Terkadang, keberanian justru muncul ketika seseorang berusaha mencari jalan ketiga tanpa mengkhianati dirinya sendiri.”✨
.
To be continued
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔