NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:52.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Batas yang Harus Dijaga

Pagi datang tanpa benar-benar memberi Alisha kesempatan untuk tidur.

Raka perlahan membuka mata. Pandangannya masih samar sebelum akhirnya menangkap sosok Alisha yang duduk di samping ranjang.

Kakaknya masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam. Rambutnya berantakan dan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya.

Raka langsung mengernyit. “Kak?”

Alisha tersentak kecil. “Kamu udah bangun?”

Raka mengangguk. Matanya masih tertuju pada wajah Alisha. “Kakak gak tidur?”

“Tidur,” jawab Alisha singkat.

Raka menyipitkan mata. “Berapa lama?”

Alisha tidak langsung menjawab.

Raka menghela napas kecil. “Berarti gak tidur.”

Alisha tersenyum tipis. “Cuma kurang tidur.”

“Karena biaya rumah sakit?” tanya Raka akhirnya.

Senyum itu menghilang. Alisha hendak menjawab, tetapi Raka lebih dulu berkata,

“Kalo emang terlalu berat buat Kakak...” Raka menggenggam selimutnya erat. “...jangan dipaksain, Kak.”

“Raka—”

“Aku bisa berhenti berobat,” potong Raka cepat.

Alisha langsung menggenggam tangannya. “Jangan ngomong kayak gitu.”

“Tapi Kakak sampai gak tidur gara-gara aku.” Sorot mata Raka menyiratkan rasa bersalah.

Alisha menggeleng. “Enggak. Bukan gara-gara kamu.”

“Terus karena apa?”

Alisha tak tahu harus beralasan apa. Bayangan map di dalam tasnya kembali muncul.

Lima puluh juta. Pengobatan Raka. Donor. Dan satu kewajiban yang tidak mungkin ia ceritakan kepada adiknya.

Raka menatap wajah kakaknya yang tiba-tiba berubah. “Kak?”

Alisha tersadar. Ia memaksakan senyum. “Nggak apa-apa. Kakak cuma lagi mikirin sesuatu.”

“Masalah?” tanya Raka pelan.

Alisha mengangguk pelan. "Dikit.”

“Bisa di selesain?” Raka menggenggam tangan kakaknya lebih erat.

Tatapan Alisha turun pada tangan mereka yang masih bertaut. Ia tidak tahu. Justru itulah masalahnya. Kalau bisa diselesaikan dengan uang, mungkin ia sudah menemukan jawabannya. Namun kali ini, uang yang ditawarkan kepadanya menuntut sesuatu yang jauh lebih mahal.

Alisha akhirnya mengusap rambut Raka. “Kamu jangan mikirin soal itu. Fokus aja sama pengobatanmu.”

Raka masih tampak ragu. “Kakak janji semuanya bakal baik-baik aja?”

Alisha terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Iya.”

Namun setelah Raka kembali memejamkan mata, senyum Alisha perlahan lenyap. Tangannya bergerak menuju tas yang terletak di atas kursi. Jarinya menyentuh map tipis di dalamnya. Ia belum menerima tawaran itu.

Belum.

Tetapi Alisha mulai takut karena menolaknya mungkin bukan lagi sekadar pilihan untuk mempertahankan harga diri.

Mungkin itu berarti mempertaruhkan satu-satunya orang yang masih ia miliki.

***

Siang itu, suasana ruang kerja Ares masih dipenuhi kesibukan. Beberapa dokumen terbuka di atas meja, sementara Reki baru saja selesai menjelaskan laporan yang membutuhkan persetujuan Ares.

Ares menutup salah satu berkas, lalu mengangkat pandangan. “Gimana sama perempuan itu?”

Reki langsung tahu siapa yang dimaksud. “Nona Alisha?”

Ares mengangguk.

“Belum ngasih jawaban, Tuan,” ujar Reki. “Orang kita juga belum dapet pesan atau panggilan darinya.”

Jari Ares yang semula hendak membuka berkas berikutnya berhenti. “Masih belum?”

Reki menjawab, “Mungkin dia masih mikirin tawaran itu.”

Ares menyandarkan tubuhnya ke kursi. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya sedikit menajam.

Ia sudah memberikan tawaran yang menurutnya cukup jelas. Biaya pengobatan Raka akan ditanggung, Alisha mendapat kompensasi lima puluh juta setiap bulan, pekerjaannya tetap berjalan, bahkan bantuan untuk mencari donor juga disediakan. Namun perempuan itu belum mengambil keputusan.

Ares mengalihkan pandangan ke layar laptop. “Kasih dia waktu sampai sore ini.”

Reki mengangkat alis. “Sore ini, Tuan?”

“Ya.” Ares mengambil pena dan kembali memeriksa dokumen di hadapannya. “Bilang ke dia penawaran itu cuma berlaku sampek sore. Habis itu, anggap aja gak pernah ada.”

Reki memerhatikan Ares beberapa detik. “Tuan yakin?”

Ares mengangkat wajah. “Kenapa?”

"Biasanya Tuan gak ngasih batas waktu buat sesuatu yang lagi Tuan butuhin.”

Tatapan Ares menajam. “Aku gak lagi butuh siapa pun.”

Reki langsung mengangguk. “Baik.”

Ia berbalik hendak pergi, tetapi suara Ares kembali menghentikannya.

“Jangan bikin dia merasa dipaksa.”

Reki menoleh.

Ares sudah kembali menundukkan pandangan pada dokumen. “Biarin dia milih dengan keputusannya sendiri.”

Reki tersenyum tipis. “Baik, Tuan.”

Setelah pintu tertutup, Ares kembali membaca berkas di depannya. Namun beberapa detik berlalu tanpa satu pun kalimat yang benar-benar masuk ke pikirannya.

Ujung penanya mengetuk meja dua kali sebelum akhirnya berhenti.

Ares meletakkan pena itu, lalu bersandar pada kursinya. Pandangannya jatuh ke layar ponsel di sudut meja. Masih tidak ada notifikasi baru.

***

Siang itu, ketika Alisha sedang menyelesaikan pekerjaannya, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tersimpan dari kartu nama pria yang datang ke rumah sakit semalam.

> Nona, penawaran kemarin itu cuma berlaku sampai sore ini aja. Lewat dari itu, kami anggap selesai.

Alisha membaca pesan itu tanpa bergerak. Ia sudah menduga mereka akan menagih jawaban. Namun tetap saja, dadanya terasa sesak ketika melihat batas waktu tersebut.

Sore.

Berarti ia hanya punya beberapa jam untuk memutuskan sesuatu yang mungkin akan mengubah seluruh hidupnya.

Alisha meletakkan ponselnya di meja dan berusaha kembali bekerja. Namun pikirannya tidak lagi berada di sana.

Angka-angka di laporan tak lagi berarti apa-apa. Yang terus muncul di kepalanya hanya nominal lima puluh juta, tagihan rumah sakit yang menumpuk, dan satu pasal dalam kontrak yang membuatnya ingin menutupnya rapat-rapat.

Alisha mengembuskan napas panjang. Ia tidak ingin melakukan ini. Namun ia juga tidak sanggup berpura-pura bahwa dirinya memiliki banyak pilihan.

.

Menjelang jam pulang kantor, Alisha masih belum memberikan jawaban.

Ponselnya kembali berada di tangannya. Waktu terus berjalan. Tinggal beberapa menit sebelum batas yang diberikan pihak Ares berakhir.

Alisha membuka percakapan dengan pria tersebut, lalu jarinya mulai mengetik.

Alisha:

> Maaf, saya gak bisa menerima tawaran itu.

Ia menatap kalimat tersebut. Benar. Itulah keputusan yang seharusnya ia ambil.

Alisha hendak menekan tombol kirim, tetapi jarinya berhenti. Ia menghapus kalimat tersebut. Mengetik lagi. Menghapusnya kembali.

Dadanya terasa semakin berat. Ia tidak bisa menerima perjanjian itu dalam bentuk yang ditawarkan. Tetapi ia juga belum sanggup melepaskan kesempatan yang mungkin menjadi satu-satunya jalan bagi Raka.

Pandangan Alisha jatuh pada bagian kontrak mengenai hubungan intim. Kemudian ia teringat sesuatu yang sejak kecil selalu diajarkan orang tuanya.

Ada hal-hal yang boleh dikorbankan. Tetapi ada batas yang harus tetap dijaga.

Alisha menarik napas perlahan. Mungkin ia memang tidak bisa mengubah tujuan dari perjanjian tersebut. Namun setidaknya, ia masih bisa menentukan bagaimana ia akan menjalaninya.

Jarinya kembali bergerak di atas layar. Kali ini, ia mulai mengetik dengan lebih perlahan.

. 

✨“Tidak semua pilihan sulit harus berakhir dengan menerima atau menolak. Terkadang, keberanian justru muncul ketika seseorang berusaha mencari jalan ketiga tanpa mengkhianati dirinya sendiri.”✨

.

To be continued

1
Cicih Sophiana
ahkir nya aq iket Lega Al... semoga gak ada gangguan lagi... ayo langsung ke dokter lg periksa baby nya😄
anonim
Alisha tidak mau menerima panggilan telepon dari Ares. Pesannya juga tidak dibalas. Salahmu sendiri Ares. Nikmati saja kegelisahanmu sekarang.

Panggilan telepon dari pak Darto juga tidak diangkat.

Ares semakin tidak tenang, tidak tahu di mana Alisha sekarang.

Ares tidak ingin kehilangan Alisha. Alisha mengerti kalau kehidupan bersamanya dipenuhi rahasia, aturan, dan penantian tanpa kepastian.

Namun permasalahannya malam ini Alisha sangat kecewa dengan Ares.
anonim
Masih saja di suruh menutup mata. Alisha bukannya menutup matanya, tapi kini menutup hatinya untuk mengabaikan pesan-pesan dari Ares.

Begitu kecewanya Alisha, sampai tidak mau mengangkat panggilan telepon dari Ares.

Ares bingung sendiri. Dadanya sesak memikirkan bakal ditinggalkan Alisha.
anonim
Alisha hanya membaca pesan dari Ares. Tidak membalas pesan itu.

Terlambat. Ares datang, Alisha sudah pergi naik taksi.

Reki selalu menyadarkan Ares dengan kata-kata yang masuk akal.

Reki sampai berani berkata kepada Ares - Malam ini, anda melakukan kesalahan besar, Tuan.

Ares tidak bisa menghampiri Alisha karena tubuhnya tidak sanggup. Ares bisa memanggil Alisha, untuk datang. Masalahnya Ares masih belum mau wajahnya dilihat Alisha, Reki.

Reki terus mengucapkan kata-kata tentang kemungkinan-kemungkinan buruk.

Alisha berhenti berharap, dan memilih pergi dari Ares.
anonim
Reki saja panggil Alisha nyonya. Pria itu belum tahu siapa suami Alisha. Reki memberi ancaman pada pria itu.

Pria itu menganggap gurauan. Padahal dia jelas menghina Alisha.

Arga ini apa urusannya kalau Alisha istri Ares.

Alisha tidak menuruti kata Reki untuk tetap menunggu di mobil.
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana.. Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Yaaa, kalau kamu nggk mau kecewa sendirian, maka aja saja Ares, Alisha... 😂😂😂 Dengan begitu kan, kami kecewanya nggk sendirian Alisah... 😂😂😂 Ada yang menemani Ke Kecewaanmu... 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Iyaaa maka dari itulah Alisha... Kalau Raka tidak mengerti maka, kamu harus menjelaskan kepada Raka, sampai Rala mengerti Alisha... 😂😂😂 Kamu saja belum pernah menjelaskan kepada Raka, Alisha... Yaaa manalah Raka bisa mengerti Alisha... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Apa yang di kstakan Adikmu Raka itu ada benarnya Alisha... Kamu jangan keras kepala dong Alisha... 😁😁😁 Mau sampai kapan kamu terus menyiksa dirimu Alisha? ha? 😂😂😂
anonim
Ares yang tak berdaya dengan tubuh mulai kehilangan keseimbangan, hanya bisa menahan amarahnya.

Ares tidak kuat melangkah, pandangannya berkunang-kunang. Keinginannya menghajar pria itu tak kesampaian.

Reki menolong Alisha dengan mengambil taplak meja di dekatnya. Tidak peduli apa yang ada di atas meja itu berjatuhan. Berantakan.

Reki segera membentangkan taplak untuk menutupi tubuh Alisha. Reki berusaha menyelamatkan Alisha dari tatapan orang-orang.

Amarah Alisha sedikit mereda saat menyadari Reki sedang berusaha melindunginya dari tatapan orang-orang.

Reki berbalik menghadap pria yang menghina Alisha dan menatap tajam, pria itu keder tentunya.
anonim
Ini ada pria hidung belang melecehkan Alisha dengan kata-kata yang tak pantas didengar. Mata jalangnya tanpa sungkan mengamati tubuh Alisha.

Masih juga mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina Alisha.

Kapuoook kau pria hidung belang, tamparan dari tangan Alisha mendarat dengan keras di pipinya.

Malu juga tuh pria, dilihat para tamu yang berada di sekitar mereka.

Alisha tidak terima dihina sedemikian rupa. Pria itu pun nggak terima ditampar pipinya, padahal jelas kalimatnya penuh hinaan, pelecehan juga tuh.

Alisha nggak takut sedikitpun sama pria yang nggak tahu diri itu. Dia lawan pria itu .
anonim
Alisha memandang Ares yang juga sedang memandangnya. Alisha tahu Ares sedang tidak baik-baik saja kondisinya. Ares tampak menahan sakit, bahkan kesulitan bernapas.

Alisha dan Ares sama-sama saling mengkhawatirkan kondisi mereka.

Alisha mengkuatirkan Ares yang terlihat sakit, Ares juga mengkuatirkan keadaan Alisha yang pasti malu dengan gaun basah tampak garis tubuhnya.
anonim
Dalam kondisi tubuhnya yang kian memburuk Ares tak berdaya menghampiri Alisha untuk menolongnya.

Reki berjalan menuju Alisha. Ares hanya bisa memandang Alisha.

Arga kecewa tidak sesuai yang diharapkan. Ares tidak menghampiri Alisha sendiri, tapi menyuruh Reki untuk melindungi.

Arga melihat kondisi Ares yang tampak buruk, namun perhatiannya tetap tertuju kepada Alisha.
Oma Gavin
nah kan kalau saling jujur dan terbuka kan lebih enak sekarang baik" kalian berdua turunin ego masing" saling melengkapi saling percaya dan Inga musuh terbesar kalian arga yg pasti tidak akan menyerah setelah tau hubungan kalian berdua
Sri Kadek
lanjut
Septi Wijaya
bapak Ares, bagaimana tanggapan anda? atas kehamilan istri anda
Eka Burjo
terimakasih update nya, oke lanjut 👍👍
+1
noted🌚
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak... Ceritanya makin seru Kak 😁😁😁🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!