SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Rumah tangga baru ?
BAB 19: "RUMAH TANGGA BARU & ANCAMAN DARI MASA LALU"
Satu bulan telah berlalu sejak insiden berdarah di Hutan Pinus Giri Kusuma. Suasana SMA Nusantara Mandiri perlahan kembali normal, meskipun nama Valerie kini hanya tinggal sejarah kelam yang dikirim ke lembaga pemasyarakatan anak atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana dan konspirasi kriminal.
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca sebuah penthouse mewah di lantai paling atas kawasan Jakarta Selatan. Di dapur berdesain minimalis modern berbalut marmer hitam, Aira berdiri mengenakan kaus oversized milik Langit yang kebesaran hingga menutupi separuh paha celana pendeknya. Bahu kanannya sudah sembuh total, hanya menyisakan bekas luka tipis yang makin menegaskan aura tangguhnya.
"Kanebo! Lu ngeracik bumbu nasi goreng ini porsinya buat sekampung apa gimana sih?!" teriak Aira seraya mengaduk wajan besar di atas kompor induksi.
Sret.
Sebuah pasang lengan kekar melingkar dari belakang, mengunci pinggang Aira dengan sempurna. Langit menyandarkan dagunya di bahu kiri Aira, menghirup aroma wangi sampo buah yang menyeruak dari rambut bergelombang cewek itu. Langit baru saja selesai mandi, hanya mengenakan celana kain santai dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya, memamerkan dada bidang dan otot perutnya yang basah terkena sisa tetesan air.
"Sengaja. Bimo sama Kenzo mau datang sejam lagi," bisik Langit, suaranya yang serak khas bangun tidur bergetar tepat di samping telinga Aira. Tangannya secara alami mempererat pelukan di pinggang Aira, menahan cewek itu agar tidak banyak bergerak.
"Lepasin gak! Gue lagi megang sodet panas nih, mau gue tempel ke muka lu?!" ancam Aira gala-galak gampang, walau tubuhnya sama sekali tidak menolak sandaran dada hangat Langit.
Sejak kasus keluarga Shena tuntas dan seluruh aset berharga resmi jatuh ke tangan Aira secara hukum, Aira memilih untuk keluar dari rumah lamanya yang penuh kenangan pahit. Tanpa terduga, Langit justru membeli Penthouse ini atas namanya sendiri dan memboyong Aira untuk tinggal bersama di bawah pengawasannya—tentu saja dengan persetujuan formal legalitas dan penjagaan super ketat dari tim internal Averus.
Langit bukannya melepas, dia justru mengecup ceruk leher Aira lembut sebelum akhirnya mundur satu langkah sambil tersenyum tipis. "Lu cantik kalau lagi masak, Shena."
"Dih, Gombalan lu makin murahan," dengkus Aira, memalingkan wajahnya yang mendadak bersemu merah demi menutup rasa canggung.
"Buruan pakai baju! Tar kalau Bimo datang terus ngeliat lu telanjang dada gini, mata dia bisa katarak!"
Pukul 10.00 WIB, bel pintu penthouse berbunyi nyaring.
Aira membukakan pintu dan langsung disuguhi wajah heboh Bimo yang membawa dua kantong plastik besar berisi camilan, disusul oleh Kenzo yang tampil rapi membawa laptop dan beberapa bundel dokumen tebal.
"Gila! Penthouse-nya Ketua OSIS mewah banget, Anjir!" seru Bimo takjub, matanya berbinar menatap pemandangan garis langit kota dari jendela kaca raksasa. "Ini mah bukan tempat tinggal anak SMA, ini sarang penguasa!"
"Masuk, jangan kampungan," cetus Aira santai sambil melempar kaleng soda dingin ke arah Bimo yang menangkapnya dengan sigap.
Mereka berempat akhirnya duduk di sofa empuk ruang tengah, menikmati nasi goreng buatan Aira sambil membuka topik perbincangan.
Namun, suasana santai itu mendadak berubah serius tatkala Kenzo membuka laptopnya dan menggeser layar ke arah Langit dan Aira.
"Langit, Ra... ada hal penting yang wajib kalian tahu," kata Kenzo dengan raut wajah tegang.
"Gue sama tim intel Averus baru aja nemuin kejanggalan dari aliran dana asing yang dipakai ibunya Valerie buat melunasi utang-utangnya sebelum ditangkap."
Aira menaikkan sebelah alisnya. "Aliran dana? Bukannya duitnya berasal dari pinjaman geng Black Cobra?"
Kenzo menggelengkan kepala. "Geng Black Cobra cuma perantara jalanan. Dana raksasa sebesar lima puluh miliar itu ditransfer langsung dari sebuah perusahaan cangkang di Singapura bernama Vanguard Holdings."
Langit yang sedang menyesap kopi hitamnya mendadak menghentikan cangkirnya di udara. Matanya yang dingin mendadak menyempit penuh ancaman. "Vanguard Holdings? Lu yakin, Nzo?"
"Seratus persen yakin," tegas Kenzo. "Dan pas gue retak data kepemilikan saham utamanya... nama pemilik rekening penampungnya adalah Bramantara Adhitama."
BAM!
Langit meletakkan cangkir kopinya ke meja kaca dengan sedikit hentakan keras hingga airnya memercik. Suasana ruangan mendadak membeku. Aura membunuh yang amat pekat mendadak memancar dari tubuh Langit.
Aira menatap Langit bingung. "Bramantara Adhitama? Siapa dia? Marga keluarganya sama kayak lu, Langit."
Langit terdiam cukup lama, mengepalkan tangannya rapat di atas paha sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan yang sangat gelap.
"Dia bapak kandung gue," jawab Langit dengan suara pelan namun terasa sangat dingin dan penuh kebencian.
Bimo yang sedang mengunyah keripik langsung tersedak, sementara Aira tertegun kaget.
"Bapak lu?" ulang Aira tak percaya. "Maksud lu... orang yang mendanai rencana penyerangan Valerie dan Black Cobra ke kita di hutan itu... bapak lu sendiri?!"
"Bramantara bukan cuma sekadar pengusaha biasa," potong Kenzo menjelaskan dengan nada prihatin. "Dia adalah pemimpin utama konsorsium bisnis gelap di Asia Tenggara. Lima tahun lalu, Langit milih kabur dan memutus hubungan keluarga sama dia karena menolak dijadiin alat politik bisnis. Dan dari intelijen yang baru gue dapet... Bramantara udah balik ke Indonesia kemarin malam."
Aira menyipitkan matanya, mengolah semua informasi rumit ini di dalam otaknya. Jadi, cerita dalam dunia novel ini belum benar-benar selesai. Hancurnya Valerie barulah lapisan luar. Musuh utama sesungguhnya—dalang di balik semua kekacauan dan konflik di dunia ini—baru saja memunculkan bayangannya dari balik tirai.
Tiba-tiba, telepon genggam milik Langit yang tergeletak di meja bergetar nyaring. Layar HP menampilkan nomor asing tanpa nama dari jalur enkripsi khusus.
Langit menatap layar HP tersebut selama beberapa detik sebelum menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. Dia memasang mode speakerphone.
BZZZZT...
"Halo, Putra Mahkotaku yang membangkang," suara pria paruh baya yang sangat berat, dominan, dan berwibawa menggema dari speaker HP. "Bagaimana rasanya bermain rumah-rumahan dengan cewek transmigran gembel itu?"
Aira mendengkus sinis begitu mendengar namanya disebut. Tangannya bergerak menyambar HP Langit dari meja, lalu menjawab dengan suara savage tanpa rasa takut sedikit pun:
"Heh, Pak Tua Bangsat! Ngomong yang sopan kalau gak mau mulut lu gue sumpal pake kompor induksi!"
"Menarik... cewek yang berani menggigit," desis Bramantara dari balik telepon. "Aira Shena, kamu pikir kamu sudah menang hanya karena menghancurkan remah-remah seperti Valerie? Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Langit adalah milik Adhitama, dan aku akan mengambil kembali milikku... walau harus meratakan kota ini menjadi abu."
TUT... TUT... TUT...
Panggilan diputus sepihak.
Ruang tengah penthouse mendadak diselimuti keheningan yang mencekam. Bimo menelan ludahnya ketakutan, sementara Kenzo memasang posisi siaga.
Langit berdiri dari duduknya, melangkah mendekati Aira. Dia meraih jemari tangan Aira yang memegang HP, menggenggamnya rapat-rapat.
"Gue gak bakal membiarkan siapa pun nyentuh lu," bisik Langit, matanya yang sehitam malam mengunci pandangan Aira. "Bahkan kalau orang itu adalah bapak gue sendiri."
Aira menyunggingkan senyuman savage yang paling berani, menepuk dada Langit pelan. "Gak usah sok heroik sendirian, Kanebo Kering. Kita hadapi Pak Tua gila itu berdua!"
Di seberang telepon, hening sejenak, disusul suara tawa terkekeh dingin yang penuh intimidasi dari Bramantara Adhitama.
see you next bab 20
jangan lupa like dan komen jika suka cerita ini
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?